
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Malam sudah berganti pagi. Di kediaman mewah Elvino dan Adelia. Pasangan suami-istri itu baru saja selesai membersihkan diri secara bergantian. Setelah hampir semalaman begada tidak bisa tidur karena Baby Eza tidak mau mau tidur.
Alhasil kedua orang tuanya harus begadang. Sebetulnya bukan Adelia yang paling banyak begadang. Melainkan si papa idaman dan suami dambaan para ibu-ibu Raeder semuanya.
Soalnya jika Nona Muda Adelia Putri bisa tidur karena Elvino rela dia yang kurang tidur daripada istrinya harus kenapa-kenapa.
Berhubung hari ini Elvino mau berangkat ke perusahaan buat melakukan pemotretan pada produk kosmetik yang baru mereka keluarkan dan akan diluncurkan setelah satu hari dipromosikan.
Jadinya karena hal itu, jam setengah lima pagi. Si tampan Elvino sudah kedapur untuk membuatkan sarapan. Walaupun bermodal menonton YouTube. Yaitu melihat tutorial memasak. Akan tetapi rasanya jangan diragukan lagi. Sudah pasti agak keasinan, karena El lupa masakannya sudah diberikan garam atau belum.
Jadinya agak asin, tapi demi menjaga perasaan suami tercintanya. Adelia tetap mengatakan bahwa masakan tersebut sangat enak.
Selama Elvino memasak, sambil menunggu putranya yang tidur setelah lewat jam empat. Adelia membereskan kamar mereka yang cukup berantakan karena segala sesuatu yang terlihat lucu. Oleh Elvino dijadikan mainan buat menghibur si baby Eza yang belum mengerti apa-apa.
Gara-gara tidak adanya permainan bayi. Jadi hari ini papa Elvino juga akan membeli permainan untuk sang putra. Akan tetapi setelah dia pulang dari perusahaan.
Benar-benar keluarga yang sangat kompak. Mereka berdua bisa bekerja sama demi kenyamanan bersama dan si buah hati.
Setelah selesai memasak. El membawa masakannya masuk kedalam kamar. Lalu mereka berdua langsung saja sarapan. Setelahnya barulah bergantian mandi, agar si kecil ada yang menemani.
Seakan mengerti pada keadaan. Setelah kedua mama dan papanya mandi. Si Baby Eza langsung bangun dan inilah dia sekarang.
Menjadi mainan papanya yang sudah lengkap dengan pakaian kantornya. Namun, tidak memakai jasa kantor.
"Ini kenapa tadi malam tidak mau tidur, heum? Mau Papa bawa bekerja ya, sebagai hukuman," ucap Elvino yang disuruh oleh istrinya menjaga Baby Eza.
Soalnya Adelia lagi menyiapkan baju dan popok bayi untuk putra mereka. Anak laki-laki yang membuat Elvino semakin bertekad ingin membahagiakan keluarganya.
"Sayang, boleh ya, aku gigit saja pipinya." ucap Elvino memangil sang istri seraya menoel pipi Baby Eza yang mulutnya terbuka dengan celotehnya yang entah bicara apa.
"Berani mengigit Anakku, maka kamu harus berurusan dengan mamanya." jawab Adel yang sejak tadi hanya tersenyum mendengar El mengajak putra mereka mengobrol.
"Aduh, Eza sudah mengambil hati mama, ya? Sehingga dibela oleh mama dan Papa mana berani menghadapi nya." ucap Elvino pada sang putra yang langsung membuat Baby Eza tersenyum.
Seperti mengerti saja apa yang dikatakan oleh sang ayah. Sehingga saat diajak bicara dia terus ikut berceloteh.
"Jika nanti malam tidak tidur lagi, maka besok pagi, pipi ini akan Papa gigit, ya." ucap Elvino tergelak sendiri.
"Aaaaa... Eza, Papa tidak tahan bila terus seperti ini. Nanti pipimu benar-benar akan Papa gigit," seru pemuda itu berteriak gemas.
"El, kamu apa-apa sih, nanti dikira tetangga ada kejadian apa. Pagi-pagi sudah berteriak tidak karuan." ucap Adelia yang sudah selesai menyiapkan perlengkapan bayinya.
"Sayang, aku gema si tampan ini. Aaa.. kan, tersenyum lagi." seru Elvino yang sangat gemas pada anaknya.
"Gemas juga bukan berarti kamu mengigitnya. Aku jadi was-was mau menitipkan anakku padamu. Bisa-bisa nanti pipi Eza sudah kamu gigit hanya karena gemas." jawab Adelia duduk di sisi suaminya.
Ibu muda itu ikut memperhatikan sang putra yang memang terlihat sangat tampan. Bagaimana tidak tampan! Mama dan papanya saja saja sangat cantik dan tampan.
"Sayang, Eza juga anakku." protes El tidak mau dibilang anak istrinya saja.
"Iya, dia memang anakmu. Coba lihat Eza lebih mirip denganmu." ujar Adelia tidak bisa mengelak juga.
"Itu karena gen putra kita lebih banyak punyaku, daripada punyamu." jawab Elvino tersenyum bahagia.
"Iya-iya! Baby Eza memang anaknya Papa Elvino, ya kan sayang," ucap Adel pada si buah hati. Sambil melepaskan bajunya karena akan dimandikan.
Cup!
"Bukan anakku saja, tapi juga anak Mama Adel, wanita istimewaku." si tampan Elvino mengecup pipi istrinya sekilas.
"Sayang, apakah bisa memandikannya sendiri? Apakah tidak mau menunggu mama da Tante Mona saja?" El bertanya khawatir. Padahal sejak tadi dia menanyakan hal tersebut.
"Aku bisa, kan tempatnya sudah ada, airnya pun sudah kamu siapkan. Lagian buat apa kita ikut kelas ibu hamil, bila memandikan anakku saja tidak bisa." tidak ingin banyak berdebat dengan sang suami. Adelia langsung saja memandikan putranya di dalam kamar mandi.
Tidak ingin membiarkan istrinya ke kesusahan sendiri. Si tampan Elvin pun ikut menyusul masuk ke dalam kamar mandi. Untuk melihat istrinya memandikan Baby Eza.
Oooee!
Oooee!
Suara Baby Eza menangis begitu tubuhnya terkena air hangat yang dicampur dengan air dingin, yang sudah disiapkan oleh ayahnya tadi.
Oooee!
Oooee!
Oooee!
Oooee!
Suara bayi tampan itu terus menagis.
"Sayang, jangan menagis, ya. Ini ada Papa juga yang akan menemani." ucap Elvino mengajak anaknya bicara dan alangkah ajaibnya, karena si bayi tampan itupun langsung diam. Sambil menatap pada papanya.
"El, dia akhirnya diam," seru Adelia yang tadinya sempat merasa ketakutan.
Ini adalah kali pertama Adelia memandikan bayi secara langsung. Biasanya di saat mengikuti kelas pelajaran ibu hamil. Wanita itu hanya memandikan boneka yang sudah disiapkan oleh para dokter tempatnya belajar.
"Iya, teruslah dimandikan, biar aku yang mengajaknya berbicara. Agar tidak menangis lagi," jawab Elvino yang juga merasa heran karena bayinya tidak menangis setelah mendengar suaranya.
Lalu begitu si kecil sudah diam, Adelia pun mulai memberikan sampo khusus untuk bayi begitupun dengan sabunnya.
Tidak lama, hanya beberapa menit kemudian. Pasangan suami istri itu pun sudah selesai memandikan anak mereka dan sudah dibawa kembali masuk ke dalam kamar. Lalu dibaringkan di atas tempat tidur dengan posisi Baby Eza dibalut oleh handuk mandi.
"Huh! El, anakmu benar-benar membuatku merasa takut." seru Adelia merasa lega karena bisa memandikan putranya. Meskipun dengan keadaan menahan rasa takut apabila si buah hati tidak berhenti menagis.
"Entahlah sayang, aku juga tidak tahu kenapa si kecil kita bisa menangis seperti tadi, dan diam setelah aku ajak bicara," ujar Elvino juga tidak menyangka bahwa buah hatinya akan dia segampang itu.
"Sayang, lain kali, Eza tidak boleh menangis seperti tadi ya, Nak. Kasihan mamamu apabila hanya sendirian. Tidak ada Oma dan nenek yang menemani mama mu. Soalnya hari ini Papa mau berangkat ke perusahaan kita. Jadi Eza tidak boleh rewel." saat mendengar papanya bicara. Baby Eza diam menatap lekat dengan mata memerah karena habis menangis.
"Sepertinya Eza lebih mendengarkan ucapanmu, El. Jujur, tadi aku benar-benar sangat takut apabila dia tidak mau diam." ungkap Adelia membiarkan saja Elvino yang memakai pakaian pada putra mereka.
Si ibu muda itu hanya duduk di samping suaminya. Sambil memperhatikan cara Elvino memakaikan popok dan baju pada Baby Eza.
"Sudah tidak apa-apa! Hanya saja lain kali apabila dirimu lagi sendiri. Maka Eza tidak usah dimandikan, tunggulah aku pulang." sambil mengobrol tidak terasa anak mereka pun sudah selesai didandani.
Setelah itu mereka berdua pun hanya mengobrol sambil menemani Baby Eza. Sampai mendengar suara bel dari luar, pertanda jika ada tamu yang datang.
"El, itu siapa?" tanya Adelia pada suaminya. "Mungkinkah mama atau Tante?" tanyanya lagi.
"Itu mungkin pelayan yang akan membantu kita. Tunggu di sini ya, biar aku lihat sebentar." El pun pergi keluar dari kamar untuk melihat siapakah tamu yang datang di saat masih pagi seperti sekarang.
"Ugh! Sayang anak Mama yang tampan, Eza minum susu dulu ya, papa lagi melihat tamu kita." ucap Adelia pada putranya yang terlihat gelisah setelah tidak mendengar suara papanya lagi.
Lalu setelah berada dalam pangkuannya. Adelia pun memberikan ASI nya pada sang putra. Mungkin karena hampir semalaman tidak tidur. Bayi kecil itu pun langsung terlelap dalam pelukan ibunya.
Kleeek!
Suara pintu yang dibuka oleh Elvino. Pemuda tampan itu sudah kembali lagi ke kamar mereka.
"Sayang, itu yang datang adalah asisten rumah tangga kita. Jadi menjelang mama atau Tante Mona datang. Kamu ditemani oleh Bibi Asri dulu, ya. Soalnya aku akan melakukan pemotretan dari jam sembilan sampai kira-kira jam seoul siang." ucap Elvino karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat tujuh belas menit.
"Iya, tidak apa-apa! Pergilah dan hati-hati saat di jalan." jawab Adelia sambil menutup kembali bajunya, karena Baby Eza sudah tertidur dengan sangat pulas.
"Apakah Eza bobo lagi?" El ikut duduk disamping istrinya.
"Iya, mungkin Eza baru terasa mengantuk nya sekarang."
"Iya, tidak apa-apa kalau dia tidur, kasihan juga bila anak kita menahan rasa kantuknya." El berhenti sejenak, lalu kembali bicara lagi.
"Kamu tidak apa-apa kan bila aku tinggal dulu? Nanti sebelum jam makan siang, aku usahakan sudah pulang."
"Tidak apa-apa, El. Bukankah kita sudah membahas hal ini. Jadi pergilah, karena pekerjaanmu juga sangat penting. Jangan sampai usahamu selama ini akan sia-sia. Hanya karena tidak bisa konsisten pada waktu. Walaupun kamu adalah presdirnya." jawab Adel yang tidak ingin El berat meninggalkan dia dan anaknya.
"Lagian mama sudah menelpon, jika sebentar lagi akan datang. Jadi kamu tidak perlu khawatir." lanjut Adelia kembali menyakinkan sang suami bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Eum... baiklah! Kalau begitu aku pergi bekerja dulu, ya. Tapi sini Eza aku tidurkan pada box nya." dengan gerakan pelan Elvino pun mengambil alih sang putra. Untuk dipindahkan ke dalam tempat tidurnya sendiri.
Cup!
"Jagan rewel, ya. Papa mau berangkat bekerja dulu." ucap Elvino setelah menidurkan putranya pada box bayi karena dia tidak bisa berangkat lebih siang lagi.
"Kamu juga jangan lupa istirahat, ya. Jangan melakukan pekerjaan apapun karena ada Bibi Asih yang mengerjakan semua pekerjaan rumah." pesan si tampan.
"Iya-iya! Kamu tidak perlu khawatir." Adelia tersenyum sambil memperbaiki dasi suaminya.
"Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-napa, sayang. Andai pemotretan ini tidak penting. Maka aku tidak akan meninggalkan mu bekerja." sesal pemuda itu yang sangat menghawatirkan keadaan istri dan anaknya.
... BERSAMBUNG... ...