
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Setelah melalui beberapa pertanyaan dan janji. Akhirnya Arya dan Raya sudah sah menjadi pasangan suami-istri. Senyum sumringah selalu menghiasi wajah keduanya.
Dari sekian banyak orang. Hanya Afdhal yang mengetahui niat buruk sahabatnya. Arya yang akan balas dendam. Namun, dia yang merasa berdosa karena tidak memiliki kemampuan untuk menggagalkan niat Arya yang mau menjadikan Raya alat balas dendam pada kakak gadis itu.
Melihat senyum bahagia Raya dan keluarga Wijaya yang lainya. Membuat Afdhal semakin merasa bersalah. Sampai-sampai dia tidak mau melihat saat Arya mengucapkan kata-kata untuk menjadikan Raya pendamping hidupnya.
Sejak melangkah masuk kedalam hotel bintang lima itu. Afdhal memang sudah dihantui rasa bersalahnya. Dia sangat dekat dengan Raya, karena gadis itu sangat ramah dan tidak memilih saat berteman.
"Baiklah! Sekarang ayo tanda tangani buku nikah kalian berdua." ucap Paman Abraham yang ikut menjadi saksi pernikahan keduanya.
"Iya Paman," jawab Arya dan Raya secara bersamaan.
"Kakak, akhirnya aku berhasil menikahi adik kandung Elvino. Akan aku buat Elvino menyesal hidup di dunia. Setelah melihat seperti apa adiknya menderita di tanganku."
Gumam Arya didalam hatinya. Lalu diapun menandatangani dokumen sebagai bukti jika pernikahan mereka sah di Agama maupun negara.
Tidak berbeda jauh dari Arya. Raya juga ikut berbicara didalam hatinya. Gadis itu meneteskan air matanya seiring tanda tangan yang dia coret pada dokumen tersebut.
"Arya, hari ini kita sudah berjanji dihadapan semua orang. Dihadapan Tuhan. Akan menjadi pasangan suami-istri yang akan saling menyayangi satu sama lain. Berjanji untuk saling setia. Jadi aku harap bukan hanya aku saja yang memimpikan bisa memiliki keluarga kecil yang bahagia. Tapi juga dirimu."
Setelah acara penandatanganan selesai.
Langsung berlanjut acara meminta restu pada kedua orang tua mereka dan termasuk pada Elvino sebagai kakak laki-laki dari Raya. Setelahnya berlanjut meminta restu pada semua anggota keluarga yang ikut merasakan bahagia.
Begitu selesai mereka yang hadir dipersilahkan untuk menikmati semua jamuan makanan yang sudah tersedia. Termasuk kedua pengantin nya. Soalnya sebelum menyambut kedatangan para tamu-tamu terhormat. Raya dan Arya harus mengisi perut mereka juga.
Sampai malam harinya. Yaitu jam setengah sembilan malam. Acara pesta pernikahan mewah itu pun sudah berakhir. Sedangkan Elvino bersama keluarga kecilnya. Sudah pulang begitu acara pemotongan kue pernikahan selesai.
Anggota keluarga Wijaya pun juga ikut pulang ke rumah mereka masing-masing. Sekitar setengah jam yang lalu. Papi dan mami Arya juga pulang kerumah mereka karena keadaan Tuan Yuda tidak bisa bila berlama-lama berada di tempat acara seperti hari ini.
Begitu pula Tuan Arka. Jadinya yang menginap di hotel bintang lima tersebut hanya pengantinnya saja. Di sinilah mereka saat ini. Baru saja kembali ke kamar setelah orang tua mereka pulang.
Arya sudah selesai membersihkan tubuhnya. Sedangkan Raya masih mandi, karena gadis itu akan berendam di dalam Bathtub. Jadinya Raya menyuruh Arya yang mandi duluan. Setelah itu barulah dirinya.
Ting!
💌 Manda : "Apakah aku sudah mengaggu pengantin baru? Sepertinya kamu sangat bahagia sekali, Ar. Jujur aku sangat iri dan ingin berada di posisi Raya." satu buah pesan masuk ke ponsel Arya yang lagi bermain game sambil, menunggu istrinya selesai mandi.
💌 Arya : "Belum mulai malam pertama, karena istriku lagi mandi. Kamu tidak usah iri, karena bukannya kamu sendiri yang bilang ingin menjadi kekasihku saja." balas Arya karena yang mengajaknya berpacaran lebih dulu memang Manda.
Di saat Arya yang lagi memikirkan cara-cara untuk menyakiti Raya. Manda yang mengikuti Instagram pemuda itu, kembali mengajak berpacaran.
Sehingga Arya langsung saja menerima Manda untuk dia jadikan kekasih. Anggap saja wanita itu sebagai senjata paling ampuh untuk membuat istrinya tersiksa dengan perlahan.
💌 Manda : "Tapi jika ada kesempatan untuk menjadi istrimu. Tentu aku mau, Ar. Aku sangat mencintaimu. Makanya mau walaupun hanya menjadi simpanan mu saja."
💌 Arya : "Kita lihat saja nanti. Sekarang aku baru saja menikah tadi siang dan aku juga sangat mencintai Raya. Jadi jangan pernah berharap lebih." balas Arya karena dia memang tidak memiliki perasaan apa-apa pada Manda.
Jika Arya tidak mengatakan bahwa dia sangat mencintai istrinya. Maka takutnya Manda semakin nekad.
💌 Manda : "Oke, baiklah! Jadi kapan kita bisa bertemu secara langsung? Bukannya katamu tunggu kalian menikah."
💌 Arya : "Nanti akan aku kabari lagi, jangan sekarang. Bukannya aku sudah bilang jika aku baru saja menikah tadi siang." setelah membalas pesan Manda. Pemuda itu langsung saja menonaktifkan ponselnya.
Arya tidak mau bila Raya mengetahui jika dia berbalas pesan dengan Manda. Gadis yang satu kampus dengan mereka berdua.
Mana mungkin Arya membiarkan rencanannya hancur berantakan. Hanya gara-gara pesan dari Manda. Sekarang mereka baru saja menikah. Jadi apa jadinya bila malam pertama yang seharusnya bisa bahagia. Ini justru malah bertengkar karena dia ketahuan selingkuh.
Tok!
Tok!
Arya mengetuk pintu kamar mandi karena istrinya yang ditunggu sejak tadi belum juga keluar dari sana.
"Ray, kamu tidur atau mandi?" panggil Arya sambil melihat jam pada pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tujuh belas.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" kembali berteriak karena istrinya belum juga menjawab panggilan nya. Arya merasa khawatir takutnya gadis itu pingsan didalam kamar mandi.
Gara-gara kelelahan sudah berdiri menyambut tamu dari keluarga. Maupun tamu dari teman-teman satu kampus mereka berdua.
"Ray, kamu tidak kenapa-kenapa, kan? Jika pintunya tidak dibuka juga. Maka aku akan mendobrak pin---"
Kleeek!
"Raya! Kenapa kamu tidak menjawab saat a---"
"Kan aku tidak mendengarnya. Ada apa?" tanya Raya karena dia memang tidak mendengar jika Arya memanggil namanya.
Soalnya di luar baru saja turun hujan. Makanya Raya juga langsung menyudahi mandinya. Terlalu asik berendam, membuat gadis itu lupa jika sekarang telah menikah dan suaminya menunggu diluar sejak tadi.
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja aku khawatir padamu." jawab Arya mengikuti Raya dari belakang.
"Kenapa mengikuti ku? Aku mau berganti pakaian." Raya membalikkan tubuhnya dan belum jadi membuka lemari untuk mengambil baju gantinya.
Di lantai paling atas gedung tersebut. Raya dan keluarganya memiliki satu ruangan yang khusus untuk keluarga mereka. Jadi tidak ubahnya seperti rumah sendiri saja. Semua keperluan sudah tersedia.
"Kenapa harus berganti pakaian? Jika akhirnya akan dibuka juga." ucap Arya semakin melangkah maju dan Raya melangkah mundur sampai tubuhnya menabrak pintu lemari.
"Kenapa malah mundur? Aku benarkan. Buat apa memakai pakaian, jika akhirnya akan dibuka juga." sekarang satu tangan Arya dia tempelkan pada lemari. Sehingga bisa mengurung tubuh Raya. Supaya tidak bisa pergi kemana-mana.
"Arya tidak mungkin mau melakukan malam pertama sekarang, kan? Bukannya tadi dia bilang sangat lelah."
Batin Raya berbicara didalam hatinya dengan menelan Saliva nya sendiri. Dengan menahan jantungnya yang terus berdegup kencang. Si cantik putri bungsu Wijaya itu bukanlah anak kecil yang belum mengerti apa. Jadi sudah bisa menebak kemana arah ucapan suaminya.
"Ray," panggil Arya karena istrinya malah terdiam seperti habis dihipnotis.
Cup!
Arya mengecup bibir ranum istrinya sebelum menjawab. "Aku ingin memiliki mu seutuhnya. Apakah kamu sudah siap memberikan padaku malam ini?"
"Bagaimana ini? Jika aku tidak memberikan sekarang. Arya pasti akan kecewa padaku. Ini adalah malam pertama kami. Namun, bila diberikan sekarang, aku takut." dilema Raya dengan berbagai pikiran takutnya.
"Jika kamu memang belum siap. Maka tidak apa-apa. Aku hanya ingin kita melakukannya, bila kamu sendiri yang memberikan padaku." ucap Arya diam sejenak melihat raut khawatir di wajah istrinya. Lalu kembali berkata.
"Pakailah bajunya. Nanti kamu bisa masuk angin. Apalagi di luar lagi hujan besar" ucapnya lagi mengelus pipi Raya mengunakan tangannya yang menempel pada pintu lemari.
Setelah itu Arya pun berbalik arah mau naik keatas tempat tidur yang masih dirias indah oleh kelopak bunga mawar merah. Seperti kamar pengantin pada umumnya. Akan tetapi ini sangat mewah dari yang biasa.
"Arya," seru Raya menahan pergelangan tangan pemuda itu. Sehingga membuat Arya menghadap kearahnya lagi.
"Apa sayang?" tanya Arya singkat.
"Aku... sudah siap kita melakukannya sekarang." jawab Raya yakin.
"Benarkah? Kamu tidak terpaksa kan?" seru Arya memastikan.
"Tidak! Aku sangat yakin karena aku mencintaimu. Aku hanya akan memberikan kehormatan ku pada laki-laki yang aku cintai." si cantik Raya kembali menjawab tanpa ada keraguan.
Sehingga membuat Arya tersenyum dan langsung menarik pinggang Raya dan menyambar bibir ranum gadis itu. Untuk dia nikmati sebagai makanan pembuka.
Meskipun sudah biasa berciuman. Namun, kali ini Arya melakukannya sangat berbeda. Sekarang pemuda itu melakukannya sangat menuntut untuk lebih dari sekedar ciuman biasa.
Augh!
Raya yang merasakan tidak tahan mendapatkan sentuhan dari suaminya langsung melenguh.
"Keluarkan saja. Ini adalah malam pertama kita. Jadi sudah hal wajar bila kamu melenguh nikmat." ucap Arya sebelum dia mengangkat tubuh istrinya ala bridal style. Lalu setibanya di atas ranjang, Arya membaringkan tubuh Raya degan pelan.
Mata gadis itu sama saja seperti Arya. Sama-sama sudah berkabut oleh gairah.
"Jangan takut karena aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya akan memberimu kenikmatan malam ini." Arya berbicara dengan suara semakin berat.
Apalagi saat dia mengedong Raya. Paha mulus gadis itu terpampang jelas di depan matanya, karena Raya hanya memakai Bathrobe berwarna putih dan panjangnya pun hanya sebatas lutut gadis itu.
Jadi saat Arya mengedong nya. Kain tersebut tentu akan tersibak keatas. Walaupun hanya sebatas paha. Tetap saja Arya yang merupakan pria normal. Akan semakin tergoda.
Cup!
Arya kembali lagi mengecup bibir ranum gadis itu. Namun, kali ini lidahnya pun tak tinggal diam. Lama mereka berciuman dan saling bersilat lidah. Barulah Arya merayap turun dan memberikan tanda kepemilikannya pada leher jengah Raya.
"Eum... Augh! Arya," si cantik Raya kembali melenguh sambil menikmati sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Aaagh!
Mendengar suara merdu istrinya. Arya bukannya berhenti. Namun, satu tangannya sudah menyelinap masuk di celah Bathrobe yang dipakai istrinya dan telah memberikan pijatan kecil pada salah satu gunung kembar Raya yang terbilang cukup besar daripada gadis lain.
Raya memang memiliki bentuk tubuh yang sangat indah. Makanya gadis itu tidak pernah mengumbar apa yang dia punya.
Dengan pelan, tapi pasti. Tangan kanan Arya sudah menurunkan Bathrobe yang dipakai oleh Raya. Sehingga begitu terlepas sempurna. Keinginan Arya untuk memiliki Raya seutuhnya semakin meningkat.
Melihat dua gundukan gunung kembar Raya dan juga bagian inti gadis itu yang tidak memakai sehelai benang lagi, karena Raya baru saja selesai mandi.
Tidak banyak berbicara. Arya yang telah berkabut oleh gairah. Langsung saja kembali meneruskan kegiatannya yang sempat tertunda.
Aauhh!
Aauhh!
"Arya..." seru Raya degan mata terpejam dan tangan menahan kepala Arya agar terus melakukan apa yang sedang pemuda itu perbuat.
"Aku sangat menyukainya," bisik Arya setelah kembali ke atas untuk menyambar bibir Raya yang sudah menjadi tebal karena terus-menerus mendapatkan serangan tanpa bisa membalas.
Namun, disela persilatan lidah. Satu tangan Arya sudah melakukan gladi resik pada sawah yang sudah mulai terkena air pasang. Arya tidak perduli dengan de sa han istrinya. Justru hal itu membuatnya semakin bersemangat.
"Aaagh! Ar, aku tidak tahan," ucap Raya yang langsung membuat Arya berhenti melahap gunung kembar gadis itu.
"Baiklah! Kita mulai sekarang," setelah berkata baiklah Arya langsung melepas pakaiannya sendiri sampai tidak ada yang tersisa sehelai benangpun.
Akan tetapi karena telah dipenuhi oleh gairah. Raya tidak merasa malu lagi jika tubuhnya dan Arya telah telan jang.
Sedangkan Arya yang sama tidak tahan lagi. Langsung mengarahkan rudal milik raja api kearah terowongan yang basah. Akan tetapi belum memiliki celah untuk melewatinya begitu saja.
"Eum... aah!" Raya yang masih perawan langsung meringis menahan sakit. Padahal baru ujung dari senjata ampuh suaminya yang masuk di permukaan sawah
"Tahan ya, sakitnya tidak akan lama. Setelah itu hanya akan ada kenikmatan." ucap Arya sambil tangan membantu rudal milik raja api agar bisa melewati terowongan tersebut.
Namun, arahan matanya menatap pada Raya yang kesakitan. Akan tetapi peperangan itu sudah tidak bisa dibatalkan lagi.
Raya tidak menjawab perkataan suaminya. Tapi hanya menganggukkan kepalanya. Sehingga membuat Arya kembali mencoba mendorong rudalnya untuk masuk.
Percobaan beberapa kali setelah nya. Barulah Arya berhasil membobol selaput dara istrinya yang langsung menjerit kesakitan. Sampai-sampai membuat Raya menangis karenanya.
"Aaaaghkkk! Arya... ini sakit sekali," rintih Raya mencengkam kuat ke-dua lengan Arya yang kebetulan berada disamping tubuhnya yang telah dikungkung dari atas.
Cup!
"Maafkan aku," jawab Arya dengan nafas naik turun karena merasa lega bisa memiliki Raya seutuhnya dan merasa bahagia juga. Setelah melihat darah perawan istrinya mengalir dicelah rudal si raja api dan menetes pada sepray putih yang sudah berantakan sejak tadi.
"Iya, tapi aku tidak tahan. Punyaku sangat perih." rintih Raya yang saat ini tubuhnya dipeluk dari atas oleh Arya yang tidak tega melihat istrinya menangis saku, karena penyetuan tubuh mereka.
"Nanti juga akan hilang sakitnya. Jadi tahan, ya. Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan." ujar Arya mulai mengerakkan pinggulnya maju mundu cantik . Raya yang, awalnya kesakitan. Namun, lama kelamaan melenguh nikmat.
...BERSAMBUNG......
.
.