Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Tidak Ingin Disepelekan.


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Hari begitu cepat berputar. Sudah lewat jam makan siang. Tapi Elvino masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Dia yang sudah mulai bisa berpikir dewasa, bertekad akan bekerja dengan bersungguh-sungguh.


Untuk bisa membantu sang ayah yang ternyata dikhianati oleh orang-orang terdekatnya. Namun, siapa otak dari semuanya belum diketahui oleh Tuan Arka, ayahnya Elvino.


Jika tadi Elvino tidak bertanya pada Sekertaris ayahnya dan memaksa agar pemuda itu jujur padanya. Maka Elvino tidak akan tahu jika ada konspirasi besar di perusahaan Wijaya group.


Akan tetapi mereka berdua berjanji tidak akan memberitahu siapapun. Intinya, sekertaris Demian dan El sama-sama harus merahasiakan hal permasalahan itu.


Setelah dijelaskan oleh sekertaris tersebut. Elvino benar-benar emosi mendengarnya. Sehingga semua Staf yang satu ruangan dengannya dia curigai semuanya.


Akan tetapi dengan kemampuannya yang tidak bisa bekerja dengan benar. Tentu membuat ruang geraknya terbatas. El tidak memiliki kekuasaan untuk bertindak karena sebaik apapun niatnya ingin membantu sang ayah.


Sudah pasti Tuan Arka tidak akan percaya begitu saja. Beliau sangat hapal sifat putranya yang rajin sebentar, setelah itu hanya tukang main game dan bermalas-malasan.


Ketahuilah, sekarang El baru mengerti kenapa selama ini papanya suka marah-marah karena Elvino tidak mau ikut bersamanya ke perusahaan. Agar bisa belajar terlebih dahulu.


Akan tetapi yang namanya penyesalan pasti berada dibelakang. Menyesal pun sudah tidak ada gunanya, karena sekarang dia hanya seorang Staf pemasaran. Itupun dibawah kendali Pak Pram.


Salah seorang kepercayaan Tuan Arka, akan tetapi sekarang juga orang yang dicurigai. Perusahaan Wijaya sangatlah maju daripada perusahaan lainya. Jadi sudah pasti musuh akan melakukan berbagai cara buat menjatuhkan perusahaan tersebut.


"Huh! Ayo El, semagat!" ucap Elvino menyemangati dirinya sendiri. Soalnya rasa laparnya langsung hilang bila mengigat perkataan Sekertaris Demian.


Ternyata sudah dua bulan belakangan perusahaan Wijaya diserang. Akan tetapi sejauh ini Tuan Arka bisa mengatasi masalah tersebut.


Namun, setelah dua kali kebocoran ide perusahaan mereka di bulan yang sama. Membuat beliau mencurigai orang dalam. Lalu Tuan Arka pun tidak asal mencurigai juga, bila tidak ada pemicu yang mengarah ke sana.


"Aku harus menelepon Adel dulu, hanya dia yang bisa menyemangati aku," ucap Elvino berdiri dari tempat duduknya karena dia akan pergi ke Restoran yang terletak di lantai dasar perusahaan yang di khususkan hanya untuk karyawan Wijaya group saja.


"Tuan El, Anda mau kemana?" tanya Pak Pram yang kebetulan baru masuk yang entah darimana nya.


"Saya mau mencari kopi, agar tidak mengantuk. ada apa?" El balik bertanya. Jangan lupakan si playboy sekarang lebih terlihat dingin pada siapapun, karena dia tidak ingin orang-orang menganggap dia sepele. Hanya karena dia tidak bisa bekerja dan cuma seorang Staf pemasaran.


"Haa... ha..." Pak Pram tertawa sumbang lalu bicara lagi. "Tidak ada apa-apa, hanya saja jika ingin kopi Anda tinggal menelepon bagian Barista kita. Mereka siapa mengantar kapanpun para karyawan memint---"


"Saya tahu itu, Pak Pram. Tapi Saya ingin meregangkan otot-otot yang terasa kaku juga. Apakah tidak boleh?"


"Tidak, tidak ada! Silahkan kalau begitu. Anda boleh mencari kopi di tempat lain," Pak Pram menggeser tubuhnya yang menghalagi jalan Elvino.


"Huem," jawab Elvino hanya berdehem. Begitulah sipatnya, jika tidak menyukai seseorang. Dia akan bersikap dingin.


"Anda tidak perlu buru-buru buat kembali Tuan Muda, biarkan Ariel yang membantu menyelesaikan bagian yang belum selesai." perkataan Pak Pram langsung membuat si tampan Elvino berhenti di tempatnya berdiri. Lalu menoleh kearah belakang dan berkata.


"Sebelumnya terima kasih, Pak. Tapi mulai hari ini pekerjaan Saya tidak boleh di bantu oleh siapapun. Termasuk Anda. Oya, Saya hampir lupa! Rapat kemarin siang ada membahas hasil penjualan bulan lalu. Katanya Semua hasil dari perusahaan kita sangat jauh dari penanam saham lainnya," El menjeda ucapannya sejenak.


"Bisa tolong kirimkan semua datangnya ke Emeil Saya hari ini juga, karena Saya akan mengeceknya ulang," lanjut El sambil melihat raut wajah Pak Pram yang terlihat terkejut dengan perkataannya.


"Selama ini aku bodoh dalam bekerja karena memang tidak pernah memulainya. Akan tetapi sekarang tidak lagi. Akan aku buat kalian menua dipenjara, bila terbukti sudah mengkhianati papa." gumam Elvino di dalam hatinya.


"Pak Pram... apakah Anda tidak bisa mengirim data lengkapnya pada Saya?" tanya Elvino sengaja karena dia tahu bahwa Pak Pram sudah melakukan sesuatu. Jika tidak, maka akan biasa-biasa saja.


"Oh, iya-iya! Tuan Muda tidak perlu khawatir. Saya akan mengirimkan sekarang juga. Jadi Anda lanjutkan saja pergi ke Restoran nya," jawab Pak Pram mempersilahkan.


"Iya baiklah! Kalau begitu Saya pergi dulu," kata Elvino tersenyum menyeringai begitu tubuhnya berbalik arah dan berjalan dari ruangan staf pemasaran.


"Haaa... ha... Anda ingin menjadi pahlawan kesiangan, Tuan Elvino. Baiklah! Saya akan mengirimkan datanya. Mari kita lihat, siapa yang lebih pintar," tawa jahat Pak Pram sambil berjalan menuju meja kerjanya sendiri.


"Ariel, kamu kirim data bulan kemaren, pada Emeil Tuan Muda Elvino sekarang juga," perintahnya pada orang kepercayaannya.


"Tapi Pak---"


"Tapi Pak, kenapa Tuan El memintanya? Apakah dia sudah tahu jika ada yang tidak beres?" tanya Ariel sambil mengerjakan perintah atasannya.


"Entahlah! Mungkin dia penasaran saja bagaimana rumitnya mengurus uang banyak, biasanya dia hanya tahu menghambur-hamburkan uang. Tanpa tahu cara mendapatkan nya," jawab Pak Pram tidak ambil pusing, karena baginya Elvino bukanlah ancaman.


Terkecuali Sekertaris Demian ataupun Tuan Arka sendiri.


"Tapi Pak, bagiamana bila Tuan El benar-benar akan menyelidikinya degan serius. Apakah ini tidak beresiko? Atau Saya ganti saja datanya dengan yang kita serahkan ke Sekertaris Demian?" usul pemuda bernama Ariel tersebut.


"Tidak! Kirim data aslinya saja. Apakah kamu pikir, Tuan Arka atau Sekertaris Demian akan melibatkan dia dalam masalah ini? Kamu tahu sendiri kan, seperti apa kemampuan Tuan Muda Elvino," tolak Pak Pram tegas.


Beliau tetap pada pendiriannya yang mengira jika Elvino tidak akan mampu melakukan penyelidikan atas apa yang mereka perbuat.


"Kerjakan saja sesuai perintah Saya, semuanya akan baik-baik saja. Asalkan kita terus berhati-hati dan... kamu ingat perkataan Pak Handoko, dia akan memberimu tiga puluh persen untuk bulan ini. Jadi bekerjalah dengan baik," kata Pak Pram sedikit mengecilkan nada bicaranya.


Takut bila ada karyawan yang tahu akan hal tersebut, karena yang berkhianat di dalam bagian Staf pemasaran hanyalah dia dan Ariel.


"Iya, Saya masih ingat, Pak. Kalau begitu bapak silahkan saja lanjutkan pekerjaannya, karena Saya akan mengirimkan datangnya ke Emeil Tuan Muda Elvino," tidak ada pembicaraan lagi, karena selanjutnya.


Ariel pun langsung mengirimkan data-data tersebut pada Emeli Elvino yang saat ini lagi menunggu pesanan makanannya datang.


Ttttddd!


📱 Adelia : "Iya sayang! Apakah kamu sudah makan siang?" begitu sambungan telepon tersambung. Si ibu hamil langsung tersenyum dan bertanya tentang suaminya.


📱 Elvino : "Wah, wah! Semagat sekali memangil sayangnya. Membuatku ingin segera pulang saja," El tersenyum melihat wajah sang istri yang memenuhi layar ponselnya.


📱 Adelia : "Eh, tidak boleh pulang sekarang! Kerjanya jangan ditinggalkan begitu saja. Apakah kamu sudah makan siang?" cegah Adel yang kembali mengulangi pertanyaan yang sama pula.


📱 Elvino : "Ini aku lagi di resto perusahaan sayang. Lalu apakah kamu dan anak kita sudah makan?" tersenyum lebar saat menyebutkan anak kita. Ternyata istri dan calon anaknya benar-benar membuat Elvino semagat untuk bekerja.


📱 Adelia : "Sudah, aku dan anak kita sudah makan dengan makanan yang dibeli oleh mama," jawab Adelia yang juga tersenyum bahagia.


📱 Elvino : "Syukurlah! Jadi calon oma sudah pulang. Tumben sekali, biasanya bila pergi arisan seperti itu mama akan pulang sore," ujar Elvino yang langsung mendengar suara cempreng sang ibu yang ternyata ada di samping istrinya.


📱 Nyonya Risa : "Bukannya tumben, tapi mama harus menjaga putri mama dan calon anak kalian. " sela beliau mengambil ponsel dari Adelia. Akan tetapi setelah berbicara seperti itu. Nyonya Risa menyerahkan kembali ponsel tersebut pada Adelia, karena dia mau kedapur bersih.


Sedangkan Elvino hanya tersenyum bahagia, karena mamanya sangat menyayangi Adel seperti pada putrinya sendiri.


📱 Adelia : "El, jadi kamu baru mau makan siang?" tanya Adel, melihat ada pelayan yang berjalan membawa nampan makanan di belakang tempat duduk suaminya, karena mereka lagi melakukan panggilan video call. Via WhatsApp.


📱 Elvino : "Iya, aku baru mau makan siang, karena tadi ada beberapa pekerjaan yang tanggung bila aku tinggalkan." jawab Elvino jujur.


📱 Elvino : "Aku sedang melakukan penyelidikan terkait masalah yang aku ceritakan tadi pagi. Jadi agak sibuk, maaf---"


📱 Adelia : "Semagat-semagat! Suamiku pasti bisa menyelesaikan semuanya. Aku percaya itu, dan kamu tidak perlu minta maaf karena tidak bisa memberiku kabar. Bagiku kamu cukup berhati-hati, itu saja sudah cukup," sela si ibu hamil yang sudah hafal bahwa suaminya ingin meminta maaf karena telat memberinya kabar.


Sehingga perkataan istrinya membuat Elvino semakin tersenyum lebar. Rasanya selain bisa membantu pekerjaan papanya. Agar bisa membanggakan kedua orang tuanya.


El hanya ingin membahagiakan istri dan anaknya saja. Sekarang dia sudah bahagia tanpa harus pergi ke Club malam bersama teman-temannya.


📱 Elvino : "Terima kasih! Aku memang membutuhkan dukungan darimu. Soalnya setelah hari ini, mungkin pekerjaan ku akan semakin berat. Oya sayang, nanti malam aku ingin membawamu pergi makan malam diluar, jadi bersiap-siaplah. Hari ini aku akan pulang lebih awal daripada biasanya," ucap Elvino yang sudah meminta seseorang menyiapkan makan malam romantis di Restoran anak muda yang dulu sering dia datangi bersama para mantannya yang meresahkan.


📱 Adelia :"Baiklah! Kalau begitu kerjanya yang semagat. Makan siang dulu, aku tidak mau kamu sampai sakit. Nanti aku akan bersiap-siap sebelum kamu pulang." setelah itu Adelia pun mengakhiri panggilan mereka.


Soalnya dia tidak mau mengaggu suaminya saat makan. Perhatian yang sederhana, tapi sangat istimewa bagi Elvino. Mungkin itulah yang membuat dia jatuh cinta pada istrinya.


Ting!


"Jadi Pak Pram benar-benar mengirimkan datanya." El tersenyum menyeringai melihat ada notif di ponselnya. "Mari kita lihat, benarkah data ini yang kalian serahkan pada papaku dan Sekertaris Demian." gumamnya lagi sebelum mulai menghabiskan makanan dan minuman yang dia pesan.


Sejauh ini Elvino memang tidak sombong. Dia berbaur dengan para karyawan Wijaya group. Sama seperti karyawan lainnya. Namun, bila degan orang-orang yang dicurigai sebagai dalang yang berkhianat. Dia mulai menunjukkan siapa dirinya.


...BERSAMBUNG... ...