
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"El... ini kamu---" Adelia tidak melanjutkan lagi ucapannya karena si ibu muda itu malah memeluk pelan tubuh Elvino yang masih menggendong baby Eza.
"Selamat datang Istri dan anakku," jawab Elvino kembali mengucapakan kata selamat datang.
"Terima kasih, karena kamu selalu menyiapkan yang terbaik untuk kami berdua." jawab Adel tersenyum bahagia.
"Sudah-sudah! Kalau mau bermesraan nya nanti saja karena sekarang adalah waktunya kita syukuran buat penyambutan si tampan Eza." ucap Tante Anita berjalan mendekati pasangan suami-istri tersebut.
Lalu beliau mengambil alih untuk menggendong si bayi tampan yang matanya terbuka melihat orang-orang di sekitarnya.
"Ugh! Cucunya Nenek kenapa tampan sekali. Kamu sudah berhasil mengalahkan ketampanan papa Elvino mu, sayang." ucap wanita setengah baya itu tersenyum pada baby Eza.
"Aku juga berpikiran seperti itu," timpal Tante Mona ikut mendekati Adelia. Lalu memeluk keponakan suaminya yang sudah beliau anggap seperti putrinya sendiri.
"Selamat datang dirumah baru kalian, Nak. Sehat selalu ya, dan semoga kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga kalian sampai tua seperti kami." do'a beliau memberikan pelukan hangat untuk Adelia maupun Elvino.
Ya, Elvino orangnya sangat hangat dengan keluarga. Baik itu keluarga sendiri, maupun keluarga istrinya. Dia menganggap bahwa Paman Hasan dan Tante Mona sebagai orang tua istrinya.
"Ayo duduklah! Sebentar lagi para anak-anak dari panti akan datang. Kita akan merayakannya bersama mereka saja." ucap Tuan Arka yang sudah tidak sabar mau mengendong cucunya.
Si baby Eza yayang selama ini mereka nantikan. Walaupun bukan anak kandung Elvino dan bukan keturunan dari keluarga Wijaya. Mereka menerimanya dengan kedua tangan yang terbuka lebar.
Namun, sebuah kejutan besar. Ternyata yang memperkosa Adelia hanya Elvino sendiri dan Alfariel Feeza Wijaya adalah anak kandung Elvino Atma Wijaya. Jadi sudah pasti bahwa Baby Eza adalah calon pewaris perusahaan Wijaya group berikutnya.
"Apakah kita mengundang para anak-anak panti, Ma?" tanya Adelia setelah duduk berdampingan dengan ibu mertuanya.
Sedangkan Elvino duduk bersebelahan dengan Paman Hasan. Soalnya bayi mereka sudah berada Tuan Arka yang selama tiga malam ini selalu menginap di rumah sakit, karena beliau juga takutnya sang cucu rewel.
Sama seperti Elvino saat bayi. Namun, ternyata tidak sama. Si Baby Eza adalah bayi yang sangat jarang menangis saat malam hari. Dia menagis bila haus saja, setelah kenyang, maka akan tidur lagi.
"Iya, Nak! Kita mengundang anak-anak panti saja. Soalnya jika selamatan besarnya nanti, sekalian pesta pernikahan kalian." jawaban Nyonya Risa tentu membuat Adelia menoleh kearah suaminya.
"Apakah El belum menceriterakan padamu?" Tante Anita yang juga berkumpul di ruang tengah rumah tersebut.
"Menceritakan apa, Tan?" tanya si ibu muda semakin penasaran.
"Menceritakan bahwa tidak sampai dua bulan lagi. Kalian akan mengadakan resepsi pernikahan di hotel bintang lima milik keluarga kita." sambung Nyonya Risa seraya mengenggam tangan sang menantu.
Gadis sederhana yang tidak pernah menuntut ini dan itu pada putranya. Padahal seperti sekarang Elvino adalah Presdir perusahaan Wijaya group. Namun, setahu beliau menantunya tetap seperti biasanya. Akan berbelanja barang-barang yang sekiranya diperlukan saja.
"Benarkah? Kena---"
"Karena tadinya mau membuat sebuah kejutan. Namun, tidak jadi." sahut Elvino pindah tempat duduk bersama istrinya.
"El, berapa banyak lagi kamu membuat kejutan yang selalu dirahasiakan terlebih dahulu? Rasanya kebahagiaan ku mengetahui kenyataan yang sebenar-benarnya tidak bisa ku ucapkan dengan kata-kata." ungkap Adelia dengan mata berkaca-kaca.
Satu hari setelah dia dioperasi. Elvino memberikan kejutan tentang hasil tes DNA antara Elvino dan Eza yang menunjukkan sembilan puluh sembilan persen positif anak kandung Elvino.
Bukan hanya itu saja, fakta yang memperkosa Adelia juga di tunjukan oleh Elvino. Agara istrinya tidak pernah merasa trauma dan membenci ke-dua sahabatanya yang tidak bersalah sama sekali.
"Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kalian berdua dan buat semua keluarga kita. Hanya itu saja, karena aku sangat membutuhkan dukungan kalian di saat aku terpuruk dan ada masa---"
"Jika mau bermesraan nanti saja. Kasihan yang sudah tua dan yang jomblo seperti Raya, Eca sama Sisil." sela Arya yang baru saja datang menyusul bersama papanya dari perusahaan, karena tahu acaranya jam tiga sore sampai jam lima.
"Lagian kami semua sudah bayar kontrakan. Jadi Dunia ini bukan milik kalian berdua." seloroh Arya yang membuat mereka semua tertawa.
"Kak, diluar sudah ada tamu, sepertinya para tetangga sekitar sini." ucap suami Tante Anita pada Tuan Arka, kakak iparnya.
"El, ayo ke depan. Kamu, Paman Hasan dan Papa yang akan menyambut mereka." Tuan Arka berdiri sambil menggendong cucunya. Lalu beliau memberikan Baby Eza pada istrinya.
"Sama Oma dulu, ya. Opa mau menyambut tamu." ucapnya pada sang cucu yang seakan mengerti saja perkataan kakeknya.
"Iya, Opa. Biar si Eza sama sama Oma," Nyonya Risa yang menjawab yang membuat mereka semua tersenyum bahagia.
Kelahiran baby Eza bagaikan sebuah anugerah kebahagiaan bagi semua orang yang menyanyangi nya. Si kecil bagaikan memiliki daya tarik yang kuat, sehingga siapa saja yang melihatnya selalu mengatakan ingin mengendong walaupun hanya sebentar saja.
"Hasan, ayo kita temani Elvino menyambut tamu-tamunya." ajak Tuan Arka pada besannya.
Para keluarga memang tidak masak karena yang mengurus makanannya adalah Manejer dari perusahaan milik suami Om Ari. Suami Tante Anita.
"Selamat ya, El. Paman ikut bahagia mendengar berita ini dari Demian." jawab beliau tersenyum setelah melepaskan pelukan mereka.
"Terima kasih, Paman. Sekarang ayo ajak Tante Yasmin masuk. Mama dan keluarga lainya menunggu di dalam." kata Elvino juga menyalimi tangan istri Paman Abraham.
Hal serupa juga dilakukan oleh Paman Hasan dan Tuan Arka. Mereka sebagai mana keluarga besar.
"Baiklah! Kami masuk dulu," Paman Abraham pun masuk bersama istrinya dan ada juga beberapa orang tamu yang merupakan tetangga Elvino dan Adelia.
Ternyata semakin maju sore, para tamu juga semakin berdatangan. Pantas saja dari rumah sakit Elvino sudah memakai baju kameja putih yang rapi. Seperti mana mau berangkat ke perusahaan saja.
Soalnya beberapa orang tamu sekitar rumahnya adalah rekan bisnisnya sendiri. Jadi tidak mungkin dia menyambut dengan baju kaos biasa.
"Pa, apakah itu mobil anak-anak dari panti?" tanya Elvino saat ada beberapa mobil minibus berhenti di jalan depan rumahnya.
"Iya, itu mereka. Papa dan Paman Hasan mu yang mengundang langsung ke panti asuhannya." jawab beliau tersenyum kearah pasangan suami-istri yang merupakan orang yang memiliki panti asuhan tersebut.
"Selamat datang, Pak. Ibu." Elvino langsung menyalami ke-dua pasangan suami-istri itu dengan sangat ramah.
Sama seperti Paman Hasan dan papanya yang menyambut sopan.
"Terima kasih Tuan Muda Elvino, kami juga sangat berterima kasih karena sudah diundang dalam acara tasyakuran baby Eza." jawab laki-laki tersebut.
Setelah bersalaman mereka semua langsung diajak masuk, karena acaranya memang akan dimulai setelah anak-anak panti datang.
Begitu sudah masuk kedalam rumah mewah yang baru mulai di tempati hari ini. Acara demi acara pun langsung saja dimulai. Do'a-do'a yang baik pun langsung diucapkan oleh mereka.
Anak-anak panti terlihat sangat menikmati acaranya, karena memang dikhususkan untuk mereka semua. Saat mengundang mereka agar mau datang untuk mendo'kan baby Eza. Tuan Arka dan Elvino telah mengirim enam mobil box yang isinya berbagai macam kebutuhan panti asuhan.
Yaitu mulai sembako, pakaian, susu dan juga mainan untuk berbagai usia. Semua itu karena si tampan ingin anak-anak tersebut ikut merasakan kebahagiaan yang keluarganya rasakan.
Supaya anaknya kelak juga menjadi anak yang baik. Tidak sama seperti dirinya yang nakalnya pake' banget.
Setelah acara makan-makan selesai. Sebelum pulang, para anak-anak panti berdiri menyalami keluarga Wijaya, keluarga Paman Hasan dan juga keluarga Paman Abraham.
Anak-anak itu tidak hanya diberikan oleh-oleh untuk temannya yang tidak bisa hadir saja. Namun, juga amplop yang berisi beberapa lembar uang.
"Kakak terima kasih karena kami sudah diberikan begitu banyak rezekinya dari kelahiran Baby Eza." ucap salah satu anak laki-laki yang kira-kira. Umurnya sudah tujuh tahunan.
"Kakak yang harus berterima kasih pada kalian semua, sayang." jawab Adel dengan mata berkaca-kaca karena merasa nasib dirinya jauh lebih beruntung daripada anak-anak panti yang kebanyakan dari mereka. Tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua.
"Nanti jika Baby Eza sudah bisa dibawa pergi jalan-jalan. Maka Kak Adelia akan datang untuk mengunjungi kalian." ucap Elvino mengelus kepala setiap anak-anak yang dia salami. Sambil memberikan amplop satu persatu.
Dia tahu istrinya pasti akan bersedih makanya Elvino berkata akan mengunjungi panti asuhan lagi.
"Sayang... benarkah kita akan---"
"Iya, kita akan mengunjungi mereka lagi setelah putra kita bisa dibawa bepergian. Jadi jangan bersedih, ya." Elvino tulus bahu istrinya.
"Iya, baiklah!" Adelia langsung tersenyum penuh cinta menatap si mantan playboy cap kampak yang sekarang sudah hijrah.
Setelah semua para tamu pulang, yang tersisa hanya tinggal para Keluarga inti saja. Itu pun sudah mulai berpamitan untuk pulang ke rumahnya masing-masing. termasuk juga Tuan Arka beserta ibu dan adiknya Elvino. Mereka juga sudah mau pulang karena sudah hampir jam enam sore.
"Sayang, jika baby Eza rewel. Segera hubungi Mama. Kami akan datang ke sini untuk membantu menjaganya." ucap Nyonya Risa yang sangat berat mau meninggalkan sang cucu.
"Iya, Ma! Jika dia rewel, tentu kami akan menelepon Mama. Soalnya Adel juga belum bisa bila terlalu banyak bergerak." jawab Adelia tersenyum kearah sang putra yang saat ini sudah tidur dalam pangkuannya.
"Oke, kalau begitu mama bisa sedikit tenang untuk pulang ke rumah. Tapi apabila kamu tidak betah tinggal di rumah ini, maka kembalilah ke rumah kita, Nak," ujar beliau yang langsung membuat Raya tertawa sambil berkata.
"Sebetulnya Oma yang tidak betah tinggal di rumah, karena harus berpisah sama Eza." tawa gadis itu yang membuat mereka ikut tertawa kecil.
"Lagian siapa orangnya yang tidak akan merindukan keponakanmu ini, Dek." sahut Nyonya Risa masih menatap sang cucu yang tidur dengan nyenyak.
"Baby Eza sangat tampan, yang akan menjadi pewaris Wijaya berikutnya. Papa akan membawanya pulang ke rumah utama. Disaat dia bisa berpisah dari orang tuanya." setelah berkata seperti itu Tuan Arka langsung saja cepat-cepat keluar dari rumah putranya.
Sebelum si ayah siaga mengajaknya berdebat gara-gara tidak boleh anaknya dibawa ke rumah utama. Sebab bukan kalian ini saja Tuan Arka berkata seperti itu dan selalu saja menjadi perdebatan panjang untuk beliau dan Elvino.
...BERSAMBUNG... ...
.
.
.
Mohon maaf, ya. Buat novel yang lainnya tidak bisa update, karena keadaan Mak Author lagi sakit. Ini saja bisa nulis karena maksain. Terima kasih,🙏😘😘😘