Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Mungkinkah, Sudah Jatuh Cinta?


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


...HAPPY READING......


.


.


Setelah disuruh mandi olehnya, barulah Adelia mau mandi. Entah mengapa gadis itu tiba-tiba menjadi malas mandi. Padahal sebelumnya dia adalah sosok yang sangat rajin dan pembersih. Adelia memang tidak sadar bahwa itu semua adalah bawaan ngidamnya.


Berbeda dengan si suami siaga, Elvino malah lebih tahu bahwa perubahan pada sang istri karena bawaan si baby yang belum diketahui jenis kelaminnya.


Entah itu laki-laki atau perempuan. Namun, menurut tebakan Elvino sendiri, anaknya adalah laki-laki. Sama seperti tebakan salah satu pasien paruh baya yang mereka temui di Taman rumah sakit.


Kleeek!


"Kenapa mandinya lama sekali?" tanya Elvino melihat Adelia sudah keluar dengan Bathrobe dan handuk kecil membungkus rambutnya yang basah.


"Airnya sangat dingin, jadi aku main busa sabun dulu," Adelia menjawab santai. Sambil berjalan kearah pakainya yang sudah dibawakan oleh El dari kamar Adel sebelumnya. Namun, hanya beberapa saja.


Soalnya hari ini akan datang lemari pakaian baru. Nyonya Risa sudah memesan lagi agar tidak menggangu lemari di kamar gadis itu sebelumnya. Buat jaga-jaga, mana tahu Adel tidak mau satu kamar sama Elvino lagi.


"Astaga! Ternyata istriku bisa bersikap seperti anak kecil. Apakah si bayi takut tidak diakui olehku? Sehingga apa-apa selalu ikut seperti mama hamil diriku," gumam si tampan El menatap punggung sang istri yang masuk kedalam ruang ganti.


Ttttddd!


Ttttddd!


πŸ“± Elvino : "Huem! Ada apa, pagi-pagi sudah menelepon?" tanya pemuda itu begitu mengangkat panggilan tersebut.


πŸ“±Aiden : "Apakah hari ini kamu tidak masuk kuliah lagi? Bukannya Adel sudah dibawa pulang?" sekarang bergantian Aiden yang bertanya.


πŸ“± Elvino : "Hari ini hari pertama aku bekerja. Jadi akan masuk pagi, biar paham masalah pekerjaan yang akan dijelaskan oleh atasanku," jawab El sambil menoleh kearah istrinya yang sudah keluar dari ruang ganti.


πŸ“± Aiden : "El, kamu serius mau bekerja di perusahaan papamu sendiri sebagai Staf pemasaran?" padahal sudah beberapa kali El menjelaskan pada kedua sahabat, bahwa dia akan bekerja. Akan tetapi tetap saja masih bertanya ragu padanya.


πŸ“± Elvino : "Tentu saja aku serius, aku kan banyak belum bisanya. Bila langsung menjadi direktur maka perusahaan Wijaya akan bangkrut dalam waktu satu Minggu," tergelak sendiri memikirkan kebodohannya yang hakiki.


πŸ“± Aiden : "Baiklah! Kalau begitu selamat menjadi suami dan ayah idaman, temanku. Jujur kenapa aku merasa iri padamu," tawa Aiden yang juga tengah bersiap-siap mau berangkat ke perusahaan.


πŸ“±Elvino : "Terima kasih! Aku rasa sekarang aku menjadi bersyukur karena dipaksa oleh papa untuk bertanggung jawab," senyum El tidak pernah lepas.


πŸ“± Elvino : "Ai, sudah dulu ya, soalnya aku juga mau sarapan sebelum berangkat bekerja," tanpa menunggu jawaban dari Aiden. El sudah memutuskan panggilan tersebut dengan cepat.


Soalnya Adel berjalan kearahnya. El tidak mau bila sang istri merasa tidak nyaman begitu mendengar suara Aiden. Meskipun dia sendiri belum tahu, setakut apa Adelia pada kedua sahabatnya.


"El, kamu habis menelepon siapa? Kenapa cepat-cepat dimatikan setelah melihat ku?" tanya si ibu hamil penuh selidik.


"Bukan siapa-siapa, hanya teman kuliahku. Ayo kita turun. Eh, tapi kamu mau sarapan dimana? Jika malas turun kita sarapan disini saja?" tanya El menahan tangan Adelia.


Sehingga tanpa sengaja gadis itu berbalik arah dan...


Deg!


Adelia menabrak dada bidang Elvino. Satu tangannya masih dicekal oleh El dan satunya lagi menempel pada dada bidangnya.


"Jantungku... semakin hari kenapa sering berdebar-debar seperti ini. Apakah aku sudah jatuh cinta pada istriku sendiri?" gumam Elvino menatap berkat wajah istrinya.


Tidak berbeda jauh dari Elvino. Si ibu hamil juga menatap lekat pada suaminya. Namun, tidak lama setelah itu Adelia cepat-cepat menundukkan kepalanya.


"Eum... El, ayo kita turun. Nanti kamu akan terlambat," ajak si ibu hamil karena dia mendengar jantung Elvino bergemuruh di dalam sana.


Guna menahan agar Adelia tidak pergi dari sana. Entah mengapa El ingin berlama-lama menatap wajah cantik Adel yang alami tanpa make up.


"Adel," panggilnya singkat.


"Heum," si ibu hamil hanya berdehem saja. Soalnya sekarang dia juga merasakan bahwa jantungnya sudah tidak sehat lagi.


"Apakah kamu ingin pesan sesuatu? Nanti biar aku belikan?" lain yang ingin dikatakan. Namun, sialnya mulut El telah berkhianat padanya.


"Tidak, untuk sekarang. Tapi belum tahu jika nanti," jawab Adel tersenyum kecil mendengar pertanyaan suaminya.


"Ternyata El sangat perhatian padaku. Jika saja aku menjadi wanita yang dia cintai. Pasti sangat beruntung sekali, karena El tidak seburuk sifatnya yang suka berbohong." bukan hanya El yang berbicara di dalam hatinya. Akan tetapi juga Adelia.


"Huem... El, jangan seperti ini..Ayo kita turun sekarang. Mama, papa dan Raya pasti sudah menunggu kita,"


"Iya, ayo," El mengangguk setuju dan tangannya yang berada di pinggang Adel. Sekarang menarik lembut tangan istrinya.


Adelia yang sudah biasa bersentuhan kulit dari semenjak berada dirumah sakit. Membiarkan apa yang dilakukan oleh suaminya. Apalagi ini bukanlah hal aneh. Hanya sekedar menarik tangannya saja.


"Nanti jika mau istirahat di kamar bawah saja. Tunggu aku pulang kalau mau kembali ke kamar kita," pesan si tampan saat mereka menuruni tangga.


"Kenapa? Apakah kamu takut jika barang-barang berharga milikmu hilang?" mata Adel sudah berkaca-kaca mau menangis.


Begitu pula dengan suaranya yang berubah dalam seketika. Dia sangat tersinggung mendengar Elvino melarang dia kembali ke kamar atas.


"Hei... aku tidak pernah punya pikiran seperti itu. Aku melarang mu naik karena takut kamu jatuh saat menaiki tangga," sentak El seraya menghela nafas panjang.


Dia tidak habis pikir kenapa Adelia memiliki pemikiran seperti itu. Padahal El mana pernah punya prasangka buruk pada istrinya.


Akan tetapi karena bentakan Elvino yang tidak dia sengaja. Membuat air mata Adel keluar dengan sendirinya.


Ya Tuhan! Aku sudah membuatnya takut," rutuk El mengusap wajahnya kasar.


"Adel, aku bukan takut ada yang hilang, tapi aku takut kamu dan si kecil kenapa-kenapa saat menaiki tangga. Coba kamu lihat kebawah, ini sangat tinggi. Lagian diatas juga tidak ada temannya," El yang sempat bernada tinggi sekarang berbicara dengan suara lembut.


"Bukan menuduhku menjadi pencuri, kan?" tanya si ibu hamil sudah berhenti menagis.


"Tentu saja bukan, aku memang tukang bohong dan selalu menyusahkan mama dan papa. Tapi aku tidak pernah memiliki pemikiran jelek tentang mu," jelas El dengan sabar.


Soalnya dia tahu ini bukanlah sifat istrinya. Mungkin pengaruh hamil anak mereka. Ya, mulai hari ini El benar-benar sangat yakin bahwa bayi yang dikandung Adelia adalah bibit kecebong nya.


El masih ingat seperti apa galaknya Adelia saat mereka baru menikah. Namun, apabila dia ingin sesuatu bagaikan anak kecil yang tidak bisa dibilang besok. Meskipun tengah malam, soalnya Adel benar-benar menangis bila belum dituruti.


"Jangan menangis lagi, ya. Nanti aku bisa terlambat bila terus seperti ini," ucap El menyeka sisa air mata istrinya.


Namun, ketika sudah selesai, mata El menatap bola mata hitam pekat miliki Adel.


"Dia semakin menggemaskan. Ya Tuhan! Aku rasa memang sudah jatuh cinta pada istriku sendiri." batinnya sebelum mendengar suara cempreng Raya.


"Kak El, Kak Adel... Kalian kenap malah bermesraan di atas tangga. Bagaimana bila terjatuh," omel gadis itu menatap marah pada kakak laki-lakinya.


"Kakak nih yang sembarangan. Bagaimana jika kakak ipar kenapa-kenapa," lanjutnya lagi yang langsung mengandeng tangan Adelia.


Sedangkan Adel hanya bisa tersenyum mendengar ucapan adik iparnya. Namun, sebelum melangkah turun dia melihat kearah El yang membeku karena pemuda itu lagi memikirkan perasaan yang ia rasakan terhadap istrinya.


Setelah Adel dan adiknya tiba dibawah, barulah Elvino menyusul. Soalnya tadi mereka berada dipertengahan tangga. Makanya Raya marah pada kakaknya.


"Jika aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya, maka tidak akan pernah aku biarkan dia pergi dari sisiku," gumam pemuda itu sambil berjalan.


...BERSAMBUNG......