Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Mendengkur.


💝💝💝💝💝💝


... HAPPY READING... ...


.


.


"Oke!" tiga kata yang diucapkan oleh Olivia. Gadis itu mengambil selimut dari atas ranjang dan dibawa ke sofa yang ada dalam kamar tersebut.


"Hei, kenapa kau lancang sekali. Itu---"


"Aku sudah mengalah mau tidur di sofa ini. Jadi biarkan aku memakai selimut dan kau pikirkan sendiri untuk menyelimuti dirimu dari rasa dingin." jawab gadis itu tersenyum cuek dan tidak mau lagi berdebat yang tidak kunjung usai.


"Kurang ajar! Kenapa ada gadis tidak tahu malu sepertinya." Eza bergumam karena melihat Olivia terlihat santai dan tidur diatas sofa.


Tidak membutuhkan waktu yang lama. Kurang dari sepuluh menit sudah terdengar suara Olivia yang tidur mendengkur. Membuat mata Eza yang baru mau terpejam terbuka lagi.


Hook!


Hook!


Suara dengkuran Olivia. Mulutnya menganga lebar. Membuat Eza melempar kan satu bantal ke arah istrinya. Akan tetapi tidak sampai dan malah terjatuh dilantai.


"Astaga!" seru Eza mengusap wajahnya kasar. Dia kembali duduk dan menatap kearah istrinya yang tidur dalam posisi miring. "Sudahlah jelek, tidur pun mendengkur," kesal Eza mengerutuk yang tidak ada gunanya karena Olivia tidur


Hook!


Hook!


"Ya Tuhan! Kenapa mulutnya tidak mau diam," si calon pewaris Wijaya group turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati sofa.


"Kau enak saja bisa tidur." ucapnya sebelum melakukan sesuatu pada gadis itu. Begitu selesai dan merasa nyaman. Eza pun naik lagi ke atas tempat tidur dengan tersenyum bahagia.


"Nah, jika seperti ini kan aku bisa tidur." Eza yang mengantuk ikut tidur karena sekarang dia tidak terganggu oleh dengkuran istrinya. Sampai pagi, tepatnya pukul setengah enam.


"Aku ada dimana? Ini kamar sia---"


Olivia tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat keberadaan Eza di sampingnya.


Wanita itu terus bertanya-tanya di dalam hatinya. Sebelum ide licik untuk mengerjai Eza muncul.


"Suruh siapa kau berbicara sesukamu. Jika bisa memilih aku juga tidak mau menjadi istri dari pria sombong sepertimu."


Olivia turun dengan pergerakan pelan karena takut membangunkan suaminya. Setelah melilitkan kaki Eza mengunakan selimut, dia mendekati pemuda itu dan berteriak...


Aaaaaaaaaaa!


Suara melengking Olivia membuat Eza terbangun dan menutup kedua telinganya.


"Olivia, apa kau mau---"


Aaaaaaaaaaa!


"Ada ular!" begitu mendengar ada ular Eza terperanjat mau berlari karena dia memang sangat takut pada ular. Namun, yang terjadi adalah.


Bruuuk!


"Aduh! Pinggang ku," keluh Eza mengaduh kesakitan. Akan tetapi berbeda dengan Oliv, gadis itu justru tertawa terbahak-bahak.


"Haaa... ha..." tawanya karena berhasil mengerjai suaminya sendiri.


"Aduh! Aduh! Sakit ya? Sini aku bantu!" masih dalam keadaan tertawa Olivia mengulurkan tangannya untuk membantu Eza berdiri. Namun, pada saat Eza mau mengulurkan tangannya, Olivia justru berjalan mundur.


"Oliv!" seru Eza membuka selimut yang melilit kakinya. "Kau sengaja mau mengerjai ku,"


"Ya, aku sengaja! Memangnya kenapa? Kau tidak terima?" dengan keberanian dia yang bar-bar Olivia menjulurkan lidahnya.


"Anggap saja sebagai perpisahan kita karena sekarang aku mau pulang ke kontrakan ku."


"Hei! Kau pikir bisa pergi begitu saja setelah mengerjai ku," si calon pewaris berdiri dari lantai dan menghalagi Olivia yang baru tiba di depan pintu kamar.


"Mau apa kau?"


"Menurutmu? Aku akan melakukan sesuatu yang membuat mu menyesal seumur hidup mu," tatapan tajam diberikan oleh Eza. Dia terus berjalan semakin mendekat.


... BERSAMBUNG... ...