Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Sama-sama Menguatkan.


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Cup!


"Aku mencintaimu," bisik Elvino setelah mengecup kening istrinya dan langsung melepaskan pelukan mereka.


"Ayo duduk sini, kamu tidak boleh kelelahan," lanjut si tampan yang tetap memperhatikan kesehatan Adelia. Padahal pikirannya saat ini tengah kacau.


Namun, seperti itulah cinta yang dimiliki si mantan playboy cap kampak. Dia benar-benar meratukan istrinya. Sehingga Adelia tidak pernah meneteskan air mata, kecuali air mata bahagia.


"Huem, iya!" Adelia yang tidak ingin menyulitkan suaminya menurut saja. Saat di suruh duduk di kursi ruang tunggu.


"Mama, ayo duduklah! Kita tunggu sambil berdo'a. Semoga saja papa dan Sekertaris Demian baik-baik saja." karena Elvino satu-satunya laki-laki yang bisa melindungi keluarganya.


Kembali memberikan perhatian pada sang mama. Soalnya keadaan Nyonya Risa terlihat begitu syok.


"Tidak, Nak! Mama mau berdiri saja, agar saat dokter keluar. Bisa menanyakan keadaan papa kalian," tolak Nyonya Risa kembali menangis.


"Pa, Mama mohon, tahanlah demi anak-anak dan cucu kita. Papa tidak boleh meninggalkan kami dalam keadaan seperti ini. Kasihan Elvino, bila dia harus menghadapi masalah ini sendirian."


Gumam Nyonya Risa menatap kearah pintu ruangan operasi dan pada putranya. Nyonya Risa sudah tahu tadi malam, jika saat ini perusahaan mereka lagi ada masalah.


Mungkin Tuan Arka sudah memiliki pirasat bahwa akan terjadi sesuatu padanya. Sehingga rahasia yang beliau sembunyikan dari istrinya selama beberapa bulan terakhir. Tadi malam dia ceritakan sendiri pada wanita yang dia cintai.


Makanya Nyonya Risa bisa tahu dan sangat takut bila terjadi sesuatu pada suaminya. Soalnya beliau belum mengetahui bahwa Elvino putra sulung mereka sudah bisa menjadi pemimpin Wijaya group.


Tadi malam Tuan Arka hanya menceritakan perihal musuh mereka di Perusahaan Wijaya group saja. Tidak mengatakan bahwa sang putra yang dulunya bodoh, pemalas dan tukang mabuk. Sekarang sudah menjelma menjadi duplikat ketika Tuan Arka masih muda.


"Mama, benar kata kakak, lebih baik Mama duduk dulu bersama kakak ipar. Jangan seperti ini, papa pasti akan baik-baik saja." kata Raya memberikan pelukan pada ibunya.


Seperti perkataan kakaknya, bahwa mereka berdua harus kuat. Selain Raya dan Elvino, maka siapa lagi yang menguatkan mereka semua.


"Tapi, Nak! Mama takut, Mama takut terjadi sesuatu pada papa kalian," tangis Nyonya Risa kembali pecah.


"Tidak akan pernah terjadi apa-apa, Ma. Papa adalah pahlawan kita, Papa pasti akan baik-baik saja. Raya tidak akan memaafkan papa bila dia sampai tidak melihat anaknya Kak Elvino." ucap si cantik Raya terlihat marah.


Padahal di balik wajah tegar nya, ada air mata yang dia bendung. Hanya saja agar keadaan mama dan kakak iparnya baik-baik saja. Raya memaksakan untuk menguatkan dirinya sendiri.


"Papa... Raya mohon bertahan! Jangan tinggalkan kami, kasihan mama dan kakak. Kami semua sangat membutuhkan papa. Meskipun Kak Elvino terlihat kuat menghadapi ujian ini. Namun, Raya tahu jika saat ini kakak sedang tidak baik-baik saja."


Gumam gadis itu yang tahu jika saat ini pasti keadaan ayah mereka sangat parah.


Soalnya bila hanya terluka biasa. Mana mungkin harus berada di dalam ruangan Operasi. Padahal sudah ada satu jam mereka menunggu.


"Sayang!" lirih wanita itu yang langsung duduk seperti perkataan kedua anaknya.


Mereka saling menguatkan satu sama lain. Degan di dalam hati terus berdo'a agar semuanya baik-baik saja.


Tap!


Tap!


Sedangkan orang tuan Sekertaris Demian. Lagi dalam perjalanan karena mereka lagi berada di luar negeri. Alhasil Elvino yang menandatangani semua berkas saat mau dilakukan operasi. Untuk menyelamatkan nyawa papanya dan si sekertaris pribadi beliau.


Padahal tadi sore, tepatnya setengah jam sebelum peristiwa naas itu terjadi. Elvino masih bicara dengan Sekertaris Demian. Mereka sudah membuat rencana jika malam ini akan menyusun rencana untuk melawan Manuel dan sekutunya.


Akan tetapi mereka telat, karena para musuh bertindak satu langkah lebih cepat. Soalnya bila dalam waktu dua hari Pak Pram tidak bisa menunjukkan bukti kebocoran tersebut.


Maka Elvino akan melakukan sesuatu pada mereka. Jadi sudah pasti mereka bertindak lebih cepat. Supaya bisa menghindari tuduhan tersebut.


Begitulah menurut tebakan Elvino dan Tuan Abraham. Ayah Sekertaris Demian. Beliau pensiun karena ada putranya yang mengantikan nya sebagai Sekertaris pribadi Tuan Arka.


"Kakak, bagaimana keadaan Kak Arka!" tanya Tante Anita langsung memeluk kakak iparnya. Mereka sama-sama menangis. Takut hal buruk terjadi pada keduanya.


"Entahlah! Kakak mu masih berada di dalam. Begitu pula dengan Sekertaris Demian. Tolong do'akan agar mereka baik-baik saja," jawab Nyonya Risa tidak bisa tenang sebelum mengetahui keadaan suaminya.


"Tentu Kak, tentu kita semua akan mendoakan yang terbaik buat Kak Arka dan Sekertaris Demian." sahut Tante Anita. Dia adalah adik bungsu dari Tuan Arka dan paling dekat juga dengan beliau.


Sedangkan dua orang adik Tuan Arka masih dalam perjalanan. Mereka juga baru diberi kabar oleh Tante Anita, karena jika Elvino dan Raya mana sempat memberi kabar tersebut.


"Elvino, kamu yang sabar! Papa kalian pasti akan baik-baik saja," ucap Pendi, dia adalah suami Tante Anita.


"Huem, iya Om. Aku akan sabar," jawab El memaksakan untuk tersenyum. Lalu karena pintu ruangan operasi belum juga terbuka.


Pemuda tampan itu duduk di samping istrinya. Dia genggaman tangan istrinya yang terasa dingin karena Adelia benar-benar lagi merasa khawatir.


Cup!


"Tenanglah! Papa pasti akan baik-baik saja," ucap El mencium tangan istrinya.


"El, aku... aku takut," jawab si ibu hamil yang akhirnya menangis juga. Sejak tadi dia berusaha menahan air matanya agar tidak menangis.


Akan tetapi melihat Tante Anita, beserta anak-anaknya menangis. Tentu dia tidak tahan juga melihatnya.


"Jangan takut, papa pasti akan baik-baik saja. Dia tidak akan pergi meninggalkan kita karena belum melihat cucunya," Elvino tersenyum getir, karena cita-cita sang ayah akan pensiun setelah masalah yang mereka hadapi sekarang selesai.


Tuan Arka ingin pensiun dari urusan pekerjaan. Dia akan menjadikan putranya sebagai Direktur Wijaya group. Beliau berangan-angan mau mengasuh anak Elvino.


Adelia akan dia masukan kuliah. Agar sang menantu bisa meneruskan cita-citanya. Tapi setelah kejadian ini, belum ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Setelah hampir dua jam kemudian. Pintu ruangan operasi terbuka lebar. Lalu mereka semua berdiri mendekati pintu tersebut.


Elvino langsung mendekati dokter yang masih memegang pintu agar tetap terbuka lebar.


"Dokter, bagaimana keadaan papa Saya?" tanya Elvino degan jantung berdebar-debar. Takut! Ya, si tampan sangat takut papanya kenapa-kenapa. Jujur, meskipun dia mampu mengendalikan perusahaan Wijaya group. Elvino tetap butuh waktu, tidak langsung seperti hari ini. Semuanya tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat.


"Tuan Arka masih menjalani operasi untuk mengeluarkan darah beku pada bagian belakang kepalanya, Tuan Muda." jawab dokter muda tersebut.


"Lalu bagaimana---" Elvino tidak melanjutkan lagi ucapannya, karena tadi dia mau menanyakan keadaan Sekertaris Demian.


Namun, ternyata Sekertaris Demian sudah di dorong keluar dari ruangan operasi. Tapi dalam keadaan tidak sadarkan diri juga. Dia dan Tuan Arka sama-sama terluka parah.


"Ya Tuhan! Demian, Nak bertahanlah!" seru Nyonya Risa yang sudah menganggap Sekertaris Demian sama seperti putranya sendiri.


...BERSAMBUNG......