
💝💝💝💝💝💝
... HAPPY READING... ...
.
.
"Kenalkan namaku Eza," ucap si calon pewaris langsung memperkenalkan dirinya. Gara-gara bertemu gadis itu membuat Eza lupa akan ke tiga sahabatanya yang menunggu di kafe.
"Namaku... Ezia Maharani." jawab gadis cantik itu tersenyum kecil karena ternyata nama mereka hampir sama.
"Ayu kita duduk di sana!" ajak Eza yang tetap menampakan wajah cool. Walaupun dia sangat penasaran siapakah gerangan gadis itu? Mungkinkah gadis kecil yang pernah memberinya kucing saat masih anak-anak? Atau gadis yang berbeda? Entahlah! Untuk itu Eza mencoba lebih dekat dengannya.
"Ada apa? Aku tidak memiliki banyak waktu karena harus pulang sekarang." jawab gadis tersebut saat mereka sudah duduk di bangku yang tidak jauh dari jalan.
"Oh, sorry!" imbuh Eza merasa tak enak.
"It's oke oke! Katakan saja ada apa?" kata gadis itu tetap tersenyum kecil. Menandakan jika dia adalah gadis baik-baik dan begitu sopan. Tidak seperti gadis yang sudah berani menyiram Eza dengan jus jeruk beberapa waktu lalu.
"Maukah kau bekerjasama denganku? Aku juga salah satu pecinta kucing dan rencananya aku mau membangun sebuah rumah khusus untuk tempat tinggal kucing jalanan yang tidak memiliki tuanya." tanya Eza tiba-tiba memiliki niat tersebut. Padahal semua itu refleks dia katakan karena untuk mendekati gadis yang dia cari selama ini.
"Eum... niat yang bagus dan aku sangat menyukainya dan jujur aku sudah lama memiliki niat untuk membangun sebuah rumah untuk mereka. Namun, karena tidak memiliki teman yang satu frekuensi, jadi belum terlaksana." jawab Ezia berhenti sejenak dan kembali berbicara lagi. "Tapi... aku tidak bisa mengambil keputusan sekarang. Aku harus meminta izin pada kedua orang tuaku dan Kak Sam."
"Tidak apa-apa. Kamu memang harus meminta izin pada keluargamu karena aku juga akan melakukan hal yang sama. Yang terpenting kita sudah sama-sama memiliki niat untuk menolong para kucing."
"Baiklah! Tunggu saja, nanti akan aku kabari lagi. Tapi---"
"Bawa sini ponselmu, nanti hubungi aku melalui telepon atau via pesan." Eza menadahkan tangannya. Membuat Ezia memberikan ponselnya dan membiarkan Eza menukar nomor mereka masing-masing.
"Ternyata dia memang pecinta kucing. wallpaper ponselnya pun juga gambar kucing."
"Ini, nanti bila dirimu mendapatkan izin hubungi saja aku." kata Eza menyerahkan kembali ponsel Ezia.
"Iya, terima kasih! Kalau begitu aku pulang dulu ya, sampai bertemu lagi." pamit gadis itu sudah berdiri dan langsung melambaikan tangannya kearah mobil taksi yang lewat.
"Aku sangat yakin jika dia adalah gadis kecil itu. Akhirnya setelah bertahun-tahun aku menemukannya juga."
Eza menatap kepergian Ezia. Setelah taksi tersebut tidak terlihat lagi barulah dia kembali ke mobilnya. Namun, baru sekitar tiga puluh meter mobilnya berjalan sudah melihat gadis yang menyiramnya saat di kafe.
"Ini dia gadis gila yang sudah berani menyiram ku." Eza langsung memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan keluar dari roda besi tersebut untuk mendekati gadis yang menyiramnya.
"Hei, apakah kau tidak merasa kasihan pada kucing itu. Kenapa kau tidak mau membagi sedikit makanan untuknya?" suara Eza membuat gadis itu mencari sumber suara. Biasanya si calon pewaris Wijaya tidak mengunakan kata kau. Tapi hari ini dia gunakan untuk berbicara dengan seorang gadis. Mungkinkah karena dia dendam padanya?
"Aku tidak suka kucing dan takut padanya. Jika kau kasihan, maka beri dia makan. Kau sepertinya juga orang kaya. Atau hanya gayanya saja yang berlagak orang kaya." jawaban gadis itu benar-benar membuat Eza mengeram kesal.
"Eh, tunggu-tunggu! Kau adalah laki-laki yang di kafe tadi kan? Pantas saja sombong sekali. Aku rasa kau sengaja ya mencari gara-gara dengan ku karena memiliki niat jahat?" tuding gadis itu seakan-akan mengibarkan bendera perang diantara mereka.
"Kau... Agh! Susah memang berbicara dengan orang yang tidak berpendidikan sepertimu. Mulutmu selalu berbicara kotor." Eza yang malas berdebat kembali lagi ke mobilnya. Namun, sebelum benar-benar pergi dia merebut nasi bungkus yang dimakan si gadis dan diberikan pada kucing.
"Hei, itu nasi ku kenapa kau berikan pada kucing?" si gadis berteriak marah.
"Rasain, suruh siapa kau selalu mencari gara-gara denganku." Eza menjalankan kendaraannya sambil tertawa puas.
...BERSAMBUNG......
.
.
...Maaf ya, kadang Mak Author tidak bisa update karena sakit. Terima kasih atas pengertiannya.🙏😘😘😘...