
ππππππ
...HAPPY READING......
.
.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh lima menit. Mobil mewah milik Elvino sudah tiba di perusahaan Wijaya group.
Begitu sampai Elvino tidak langsung keluar karena melihat begitu banyaknya wartawan dari berbagai saluran televisi.
Perusahaan Wijaya group adalah perusahaan induk di kota tersebut. Puluhan perusahaan lain ikut menanam saham disana, karena ingin ikut maju juga.
Namun, dari sekian banyaknya penanam saham tersebut, ada segerombolan pengkhianat. Mereka yang merupakan numpang hidup di sana. Sekarang menyerang Tuan Arka karena ingin keuntungan lebih besar lagi.
"Ternyata sudah banyak yang datang. Ck, mereka bersemangat sekali mau menjatuhkan Tuan Arka Wijaya. Ini adalah putranya, jangan harap kalian lepas dariku, Manuel." gumam Elvino tersenyum kecil di sudut bibir atasnya.
"Huh! Aku pasti bisa," ucapnya lagi langsung turun dari mobil dengan penampilan yang berbeda, karena hari ini Elvino datang bukan sebagai staf pemasaran. Melainkan sebagai pewaris Wijaya group.
Meskipun belum diwariskan secara resmi. Akan tetapi semua orang tahu bahwa dia adalah putra sulung dan satu-satunya dari Tuan Arka Wijaya.
Jadi Elvino sudah bisa menduduki kursi Presdir, degan persetujuan para penanam saham, ataupun tanpa mereka. Akan tetapi yang menjadi kendala bila yang menolak dirinya lebih banyak.
Sehingga mereka menarik saham secara serentak. Maka sudah pasti Wijaya group yang degan susah payah dibesarkan oleh Tuan Arka akan langsung gulung tikar.
Soalnya untuk menutupi kebocoran rahasia perusahaan Wijaya group beberapa bulan belakangan ini. Semua uang pribadi Tuan Arka ia gunakan, karena beliau tidak ingin menjadikan perusahaan kecil kena imbasnya.
Alhasil sekarang semua siasat yang dia lakukan tidak berjalan sesuai rencana. Biasanya bila ada masalah keuangan, beliau juga mengunakan uang pribadinya dan hanya dalam waktu satu Minggu dana tersebut bisa tergantikan lagi.
Namun, ini sudah dua bulan perusahaan Wijaya group bukannya bisa mengembalikan dana miliknya. Akan tetapi justru hanya bertahan di tempat.
"Selamat pagi Tuan Muda Elvino," sapa beberapa petinggi perusahaan yang bertemu dengan si tampan di depan lobby perusahaan.
"Selamat pagi juga," jawab Elvino singkat. Para wartawan yang ingin mewawancarai dirinya sudah di halangi oleh Tim keamanan yang diperintahkan oleh Tuan Abraham.
Soalnya beliau sudah tahu hal seperti ini akan terjadi. Dia yang lebih berpengalaman langsung bertindak sendiri. Dia juga ternyata berangkat lebih awal daripada Elvino.
"Kami semua turut berdukacita atas kecelakaan Tuan Arka. Semoga beliau cepat pulih lagi seperti semula," ucap salah satu laki-laki yang tuanya sama seperti Tuan Arka.
"Huem, terima kasih! Papa Saya akan baik-baik saja. Hanya saja sekarang dia harus dirawat intensif lebih dulu," jawab Elvino yang memang sengaja merahasiakan bahwa ayahnya berada dalam ruangan ICU.
Semua itu untuk berjaga kemungkinan buruk dari pergerakan musuh-musuh mereka. Maka dari itu rumah sakit Hospital Center sudah tidak menerima pasien baru untuk sementara waktu.
Sekarang rumah sakit hanya merawat pasien lama saja. Itupun siapa saja yang mau menjeguk keluarganya harus melewati beberapa kali pemeriksaan oleh para orang-orang Wijaya.
"Jadi Tuan Arka hanya dirawat intensif? Agh... maksud Saya syukurlah Tuan Arka baik-baik saja dan hanya mendapatkan perawatan intensif." ujar satu pria dewasa yang terlihat grogi saat salah bicara, karena Elvino langsung menatap tajam kearahnya.
"Iya, syukurlah beliau baik-baik saja. Saya kemarin sore begitu mendengar Tuan Arka mengalami kecelakaan. Sudah mau berangkat ke rumah sakit untuk menjeguknya. Tapi kata Pak Andes, orang lain dilarang datang, selain keluarga inti Wijaya," ucap pria yang tadi menyapa Elvino lebih dulu.
"Iya Pak Romi, terima kasih atas niat baiknya. Untuk saat ini kami memang tidak menerima siapapun menjeguk papa Saya. Sebelum Saya berhasil menendang para pengkhianat di perusahaan Wijaya, karena yang ingin melenyapkan nyawanya adalah mereka yang mau menghilangkan bukti," kata pemuda itu yang keluar dari lift lebih dulu, karena tadi mereka mengobrol di dalam kotak besi yang mengantar ke lantai tempat mereka bekerja.
"Apa yang bisa Anda lakukan, ingin menendang kami? Haa... ha... sangat tidak mungkin." gumam pria yang tadi salah bicara.
Dia adalah orang-orang yang sekutu dengan Manuel. Makanya juga Elvino berbicara seperti itu.
"Selamat pagi Tuan Muda," sambut Sekertaris perusahaan.
"Huem! Apakah Paman Abraham sudah ada di dalam?" tanya Elvino sudah berdiri di depan pintu ruangan ayahnya.
"Belum Tuan Muda, sekarang Tuan Abraham sedang ke ruang rapat bersama Pak Rendi," jawab sekertaris wanita itu sopan.
"Baiklah! Jika dia sudah kembali, bilang kalau Saya sudah datang," Elvino masuk kedalam ruangan sang ayah yang hari ini akan dia kendalikan sendiri.
"Baik, Tuan!" si sekertaris hanya mengangguk mengerti karena dia juga sedang sibuk memeriksa data bulan lalu yang mendadak akan dikeluarkan saat rapat jam sepuluh nanti siang. Berarti waktunya hanya tiga jam dari sekarang.
Kleeek!
"Selamat datang El, mari kita bekerja dan selesaikan semuanya." ucap pemuda itu pada dirinya sendiri.
Lalu setelah menutup pintunya kembali. Elvino langsung berjalan menuju kursi tertinggi perusahaan Wijaya group dan duduk disana.
"Baiklah! Untuk pertama kita kerjakan data untuk rapat hari ini." ucapnya mulai menyalakan laptop dan Elvino pun langsung bekerja dengan teliti.
Satu data kecil pun, tidak ada yang tidak pemuda itu periksa. Demi melindungi keluarganya. Dia benar-benar bekerja dengan sangat baik.
Ttttddd!
Tttddd!
Hampir satu jam kemudian. Ponsel Elvino berdering. Dilihat olehnya ternyata yang menelepon adalah Raya sang adik.
"Raya, ada apa? Tumben sekali," gumam Elvino langsung menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
π± Raya : "Kak, apakah Kakak sudah berada di perusahaan?" tanya si cantik yang saat ini lagi duduk di kursi tunggu di depan ruang ICU.
π± Elvino : "Iya, Kakak sudah ada di perusahaan. Ada apa? Papa baik-baik saja, kan?" tanya Elvino degan jantung berdebar-debar.
Takut bila mendapatkan telepon yang hanya mau menyampaikan berita buruk tentang keluarganya. Soalnya bukan hanya papanya yang kritis, tapi mamanya juga dirawat, dan Elvino juga memiliki istri yang lagi hamil besar.
π± Raya : "Papa baik-baik saja, Kak. Begitu pula dengan mama dan kakak iparnya. Raya menelepon hanya khawatir pada Kakak saja," jawab Raya karena memang itulah dia menelpon kakaknya.
π± Elvino : "Aaaa manisnya! Kakak jadi terharu. Terima kasih karena kalian sudah mengkhawatirkan Kakak." Elvino yang tersenyum mendengar ucapan adiknya.
Namun, matanya masih terus menatap lekat pada layar laptop. Hanya mulutnya saja yang berbicara dengan adiknya.
π± Elvino : "Iya, ini Kakak lagi duduk di kursi direktur. Kenapa? Apa Adek mau menjadi pengusaha juga?" godanya pada sang adik.
π±Raya : "Eh, tidak-tidak! Raya hanya ingin mengatakan jika beberapa malam lalu, Raya tidak sengaja mendengar papa berbicara dengan seseorang dan membahas masalah video Kakak dan kak Adel." jelas Raya baru mengigat hal tersebut setelah melihat berita miring tentang kakaknya hari ini.
Ternyata buat menarik pendukung Elvino. Mereka mulai mengeluarkan berita tentang kelakuan Elvino selama ini. Agar tidak ada yang berpihak padanya. Benar-benar permainan yang licik.
π± Elvino : "Apakah adek tahu siapa orang yang menelpon papa?" tanya Elvino terkejut karena setelah sekian lama dia menikah dengan istrinya.
Papanya masih membahas tentang video saat Elvino memperkosa Adelia. Jadi dia bisa menebak bahwa semua masalah yang mereka hadapi sekarang, semuanya saling berhubungan.
π± Raya : "Tidak, Kak. Hanya saja Raya pikir orang itu jugalah yang mengkhianati papa kita. Coba Kakak selidiki, karena hari ini sosial media lagi memberitakan kejelekan Kakak. Ada juga yang mengatakan jika Kakak menghamili beberapa orang wanita" jelas Raya tidak percaya jika kakaknya menghamili banyak gadis.
π± Elvino : "Benarkah? Kakak belum melihat ponsel sejak tadi." seru Elvino kaget mendengarnya. Dia tidak takut pada berita miring apapun.
Akan tetapi Elvino takut bila istrinya melihat berita tersebut dan percaya pada beritanya. Jika berita tentang Elvino yang tukang mabuk dan pemalas, itu bukan masalah. Namun, ada berita tentang Elvino yang bergonta-ganti pasangan masuk kedalam hotel-hotel mewah.
π± Raya : "Benar Kak, coba Kakak cek saja sendiri. Ini Raya juga lagi mau menanyakan keadaan papa. Soalnya dokter baru saja memeriksanya lagi." jawab gadis itu langsung memutuskan sabung telepon mereka.
"Adel, semoga dia belum melihat berita tentang ku." gumam si tampan langsung membuka pesan dari istrinya yang sepertinya dikirim beberapa menit lalu.
Hanya saja Elvino terlalu sibuk dan fokus bekerja. Jadi belum sempat mengecek ponselnya.
π Adelia : "Sayang... aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat dan aku rasakan. Apapun masa lalu mu, bukan masalah untukku. Jadi jangan khawatirkan aku akan marah padamu. Bekerja saja degan tenang, aku mencintaimu!"
Diluar dugaan, Adelia bukannya marah. Tapi malah mengirim pesan semagat dan ungkapan cintanya.
"Ini aku tidak salah lihat kan? Adel, bagaimana aku tidak semakin mencintaimu. Kamu benar-benar malaikat ku Aku lebih mencintaimu." Elvino tersenyum setelah membaca pesan dari istrinya.
π Elvino : "Terima kasih karena kamu lebih percaya padaku. Aku sangat mencintaimu istriku. Nanti setelah aku pulang kita bicara lagi. Ini aku lagi bekerja." balas Elvino binggung mau mengatakan apalagi, karena istrinya sangat sempurna.
Tidak akan cukup waktu satu hari, bila membahas ibu hamilnya. Wanita yang selalu menjadi penyemangat untuk suaminya.
Setelah menyimpan kembali ponselnya pada meja kerja. Si tampan kembali menyelesaikan pekerjaannya. Sampai kedatangan Paman Abraham baru dia mengalihkan pandangan matanya.
"Elvino, bagaimana apakah sudah kamu selesaikan?" tanya Paman Abraham yang langsung duduk di atas sofa dan disusul oleh Elvino.
"Sudah Paman, baru saja Elvino memeriksa ulang karena takut ada yang salah." jawab El sambil melirik jam tangannya, yang ternyata sudah hampir jam sepuluh.
"Baguslah! Tadi Paman sudah memeriksa di ruang rapat. Agar semuanya berjalan lancar." Paman Abraham berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Hari ini kamu harus bisa menyakinkan mereka, bahwa berita di luar yang sedang beredar tidaklah benar. Kamu pasti tahu kan, jika berita tentangmu hari ini, sudah menarik pendukung kita lebih dari lima puluh persen." lanjut beliau menyesali tidak bisa mencegahnya sebelum terjadi.
"Iya, El sudah tahu Paman. Tapi kata orang-orang kita, beritanya sudah dalam penghapusan. Hanya saja jika hari ini pasti skandal Elvino yang ada di beranda,"
"Huem, itu masalahnya! Mereka sungguh cepat. Karena disaat kita sibuk dirumah sakit. Skandal lama mu langsung muncul di publik," terdengar suara Paman Abraham sangat berat. Seberat masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.
"Paman tidak perlu khawatir, jika pun nanti yang mendukung Manuel lebih banyak. Elvino pasti bisa mempertahankan perusahaan Wijaya group agar tetap berdiri." ucap Elvino seraya berdiri kearah meja kerjanya.
Lalu dia mencabut flash disk dari laptop untuk dibawakan ke ruang rapat. Tidak lupa Elvino juga membawa ponselnya.
"Sayang, do'akan semoga aku berhasil. Demi keluarga kita." gumam Elvino di dalam hatinya.
"Ayo Paman, sepertinya sudah saatnya kita ke ruang rapat." ajaknya pada lelaki paruh baya yang sudah Elvino anggap seperti pamannya sendiri.
"Ayo, Paman percaya kamu bisa mengatasinya, Nak. Meskipun papamu tidak sadarkan diri. Tapi dia pasti tahu apa yang terjadi saat ini dan juga pasti do'anya akan mempermudah usaha kita." Paman Abraham memeluk Elvino sebentar sebelum mereka keluar dari ruangan tersebut.
"Tuan Muda, Tuan Abraham," seru sekertaris di depan, yang juga mau bersiap-siap ke ruang rapat untuk mengantarkan beberapa dokumen.
"Apa semuanya sudah selesai?" tanya Elvino karena tadi malam dia yang menghubungi wanti itu untuk memeriksa data hasil rapat bulan lalu.
"Sudah Tuan Muda, ini Saya baru mau---"
"Biar Saya sendiri yang membawanya dan kamu tunggu saja di sini. Jangan biarkan siapapun masuk kedalam." sela si tampan mengambil alih dokumen tersebut.
"Paman, duluan saja. Elvino akan menyusul," ucapnya pada Paman Abraham dan diiyakan oleh lelaki paruh baya itu.
"Mereka pikir dengan menyebarkan berita tentang ku. Maka aku dan Adelia akan bertengkar, lalu pikiranku akan kacau dan tidak akan fokus saat menyelesaikan masalah ini." Elvino tersenyum kecil sambil berjalan menuju ke ruang rapat.
"Jika soal pemegang saham yang tidak mau mendukung ku, itu jelas nomor satu alasan mereka membuka tentang skandal lamaku." gumamnya sebelum masuk kedalam.
Yaitu tempat mereka berkumpul untuk menyelesaikan semuanya.
"Selamat datang Tuan Muda," siapa mereka semua secara serempak, baik itu musuh ataupun bukan.
"Huem, silakan kembali duduk pada tempat masing-masing," jawab Elvino dengan suara dinginnya. Sangat berbeda sebelum dia masuk ke ruangan tersebut.
"Semuanya kembali duduk!" titah pria bernama Rendi. Dia adalah orang-orang yang masih setia pada Tuan Arka.
Sehingga membuat yang hadir di rapat tersebut, kembali duduk tenang seperti semula. Sebelum acara inti nya dimulai.
"Selamat pagi menjelang siang semuanya. Saya rasa tanpa dijelaskan kalian semua sudah tahu apa yang terjadi pada pemimpin kalian." ucap Elvino tanpa berbasa-basi lagi.
"Seharusnya rapat hari ini adalah masih membahas masalah kebocoran ide perusahaan selama ini. Akan tetapi nampaknya ada pihak yang ingin mengambil kesempatan dalam musibah yang terjadi pada papa Saya." lanjut El tanpa ada yang berani menyela.
"Dan Sepertinya kalian semua sangat bersemangat sekali membuat rapat pemegang saham secara serentak seperti hari ini. Oke! Tidak masalah jika memang itu pilihan kalian. Namun, sebelumnya biarkan Saya menyelesaikan masalah data-data yang katanya tertukar dua hari lalu. Setelah itu baru kita selesaikan masalah pemegang saham berikutnya."
Mendengar perkataan Elvino, mata Manuel dan sekutunya langsung membola, seakan mau keluar dari tempatnya.
Terkejut, Ya! mereka terkejut karena ternyata Elvino tetap membahas masalah tersebut dan mengesampingkan rapat pemegang saham.
rencana yang sudah mereka susun ternyata berjalan tidak sesuai rencana. Elvino tidak bisa mereka anggap remeh karena pemuda itu memiliki taktik cara bermainnya sendiri.
...BERSAMBUNG......