Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Hanya Perkiraan Dokter.


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


"Sayang, tolong pakaikan dasi ku," ucap Elvino yang sudah mandi duluan. Sedangkan istrinya Barus selesai menganti pakainya.


Mungkin karena bawaan bayi yang dia kandung. Jadi saat tengah malam Adelia susah tidur karena pinggang nya terasa panas. Alhasil, dia bisa tidur saat jam lima pagi dan jam setengah tujuh barulah dia bangun.


Elvino memang dengan sengaja mematikan alarm begitu istrinya sudah kembali tidur. Agar Adelia bangunnya siang. Pemuda itu tidak mau sang istri sampai sakit hanya karena kurang tidur malam.


Jadi jangan heran kenapa Adelia bangunnya sampai jam setengah tujuh. Di saat Elvino sudah mandi dan bersiap-siap mau berangkat ke perusahaan. Barulah dia bangun itu pun karena ciuman dari suaminya.


"Maaf ya, aku kesiangan lagi. Mungkin karena terlalu mengantuk, jadinya aku sampai tidak mendengar jika alarm berbunyi jam enam. Padahal aku sudah mengaktifkan alarm seperti biasanya." ucap Adelia meminta maaf karena dia sudah tidak menyiapkan pakaian dan air hangat untuk mandi suaminya.


Cup!


"Kamu bukan pelayan, tapi istriku. Jadi kenapa harus meminta maaf. Jika bukan karena aku mau berangkat ke perusahaan. Maka tidak akan aku bangunkan. Tapi kamu kan tahu sendiri, bahwa aku tidak bisa berangkat sebelum mendapatkan ciuman dari istriku." El mengecup bibir istrinya.


"Tapi---"


Cup!


"Tidak ada tapi-tapian, buat apa aku berusaha untuk bisa bekerja dengan benar. Bila istriku harus bekerja. Aku sangat mencintaimu, Adelia. Jadi jangan pernah meminta maaf yang bukan seharusnya kamu lakukan," sela si tampan yang kembali lagi memberi kecupan. Sehingga Adel tidak bisa berkata-kata lagi.


"Bagaimana? Apakah masih mau membantah perkataan suamimu? Huem!" El tersenyum karena sang istri memanyunkan bibirnya.


"Jika seperti ini, aku jadi malas untuk berangkat ke perusahaan, karena berduaan dengan Istriku yang lagi marah sepertinya sangat menyenangkan, dan aku pasti akan untung banyak." goda Elvino yang membuat Adelia tersenyum.


"El, seperti apa aku bisa marah padamu coba," seru si ibu hamil yang sudah selesai memasangkan dasi pada leher suaminya.


Akan tetapi tubuhnya masih dipeluk oleh Elvino yang sangat senang apabila posisi mereka seperti saat ini, karena si tampan yang menyukai wajah istrinya yang berubah-ubah. Terkadang bersemu merah karena malu. Lalu memanyunkan bibirnya karena kesal digoda dan terkadang tersenyum apabila mendengar hal konyol dari sang suami.


"Suruh siapa kamu marah padaku. Aku kan tidak melakukan kesalahan," Elvino mendekatkan bibirnya dan bibir Adelia. Lalu dia menempelkan bibir mereka sehingga menjadi ciuman di pagi hari.


Adelia pun membalas ciuman tersebut. bahkan si ibu hamil ikut mengalunkan tangannya yang tadi berada di dada sang suami, sekarang sudah berpindah pada leher Elvino.


Cup!


"Aku mencintaimu," bisik El langsung menarik Adelia kedalam pelukannya setelah ciuman mereka terlepas.


"Aku sangat mencintaimu, sayang, jadi jangan pernah berpikiran aku akan marah karena kamu bangun siang." kata Elvino melepaskan pelukan mereka dan kembali berkata.


"Ayo kita sarapan, hari ini kamu jangan terlalu lelah dan tidak boleh naik ke atas. Aku akan berangkat bekerja. Tapi sebelum berangkat ke perusahaan aku akan menjenguk papa terlebih dahulu." pesan seperti biasanya yang sudah dihapal oleh si ibu hamil.


"Iya, Pa. Kami akan ingat pesan Papa idaman," jawab Adelia yang membuat El mengacak rambut istrinya karena gemas pada panggilan yang disematkan untuknya.


"Aku sudah tidak sabar sayang, menunggu kelahiran buah hati kita," kata si calon ayah idaman sambil merangkul istrinya keluar dari kamar mereka.


"Aku pun sama," jawab Adel karena dia juga sangat penasaran nanti anaknya itu adalah benar-benar benih Elvino atau bukan.


Soalnya Elvino memang belum memberitahunya tentang kejadian malam itu yang sebenarnya. Si tampan bukan tidak mau memberitahu. Hanya saja dia lagi mengumpulkan bukti-bukti bahwa yang melakukan perbuatan bejat tersebut hanyalah dirinya.


Akankah tetapi meskipun sedang mengumpulkan bukti-bukti. Elvino sangat sudah yakin bahwa yang memperkosa Adelia malam itu hanya dia sendiri.


Semua bukti yang didapatkan oleh para orang-orang suruhannya adalah. Mengarah pada Elvino semua. Termasuk rekaman CCTV yang berada di klub malam tempat dia mabuk-mabukan. Sebelum memperkosa Adelia di saat pulangnya.


Namun, otak dari orang yang memberinya minuman yang sudah dicampur dengan obat perangsang belum bisa diketahui. Soalnya wanita yang mengantar minuman tersebut sudah tidak bekerja di sana lagi dan tidak tahu identitas lengkapnya.


Pantas saja Elvino sampai memperkosa Adelia. Ternyata dia bukan hanya mabuk karena minuman keras saja. Akan tetapi juga dipengaruhi oleh obat perangsang yang berdosis rendah. Jadi terlihat tenang agar si korban tidak merasa curiga.


"Duduklah! Aku yang akan menyuapi mu," tidak ada bantahan seperti biasa. Lagi-lagi Adelia harus makan disuapi suaminya lagi.


Sehingga asisten rumah tangga yang melihat kemesraan dua majikannya hanya tersenyum-senyum sendiri. Adelia dan Elvino adalah pasangan yang sangat serasi. Di mana yang satunya cantik, sedangkan Elvino begitu tampan.


"Aaa... ini, makan yang banyak! Ingat pesan dokter kandunganmu yang mengatakan bahwa ibu hamil harus banyak makan dan mengkonsumsi buah-buahan segar. Agar bayi kita tumbuh dengan sehat. Begitupun dengan ibunya." ucap Elvino mulai menyuapi sang istri.


Seperti mana seorang ayah yang lagi menyuapi putrinya. Maka Elvino seumpama itu. Dia tidak perduli menjadi perhatian orang-orang di sekitarnya.


Jangankan saat di rumah, ketika mereka mengadakan makan malam di Restoran mewah. Ataupun tempat lainnya. Elvino juga selalu menyuapi Adelia. Gara-gara awal di rumah sakit, menjadi kebiasaan pemuda itu ingin menyuapi sang istri.


Padahal Adelia sudah menolak karena malu menjadi tontonan atau memang dia ingin makan sendiri. Namun, karena Elvino adalah suami yang bucin akut. Maka lebih baik diam, karena protes pun tidak ada gunanya.


"Kamu juga makan yang banyak. Bukannya katamu hari ini ada banyak pekerjaan. Aku tidak ingin kamu sampai kenapa-kenapa karena jujur. Aku dan calon anak kita sangat membutuhkan dirimu." ungkap Adel yang tidak bisa memungkiri bahwa dia selalu bergantung pada suami siaganya.


Apabila Adelia tidak bisa tidur di saat malam hari. Meskipun dia tidak membangunkan suaminya karena kasihan Elvino sudah lelah bekerja. Akan tetapi begitu merasakan pergerakan pada tempat tidur. El akan bangun sendiri karena tahu istrinya merasakan panas pada pinggangnya lagi.


Elvino seakan memiliki kontak batin yang kuat dan pendengaran yang tajam. Sehingga Adelia tidak bisa berbohong, bahwa dia baik-baik saja.


Makanya si ibu hamil, sangat bergantung pada suami hebatnya. Laki-laki yang seperti memiliki duplikat lain.


Di awal menikah dengan Adelia. Pemuda itu selalu membuat istrinya menahan geram atas tindakan Elvino yang hanya bisa bermain game di dalam Apartemen tempat tinggal mereka dan membuat sampah di mana-mana.


Berbeda dengan sekarang yang selalu membereskan bekas dia makan sesuatu, bekerja ataupun membuat masakan yang diinginkan oleh istrinya.


"Ini aku juga sambil makan. Adel, dengarkan aku baik-baik. Justru akulah yang sangat membutuhkan dirimu. Aku begitu bergantung pada dirimu untuk bisa melewati semua ini. Kamu dan calon anak kita penyemangatku saat lelah bekerja dan saat aku tidak bisa berpikir dengan benar, karena terlalu banyaknya masalah di perusahaan." sekarang bergantian Elvino yang mengungkapkan perasaannya.


Dari sini bisa disimpulkan bahwa mereka berdua adalah pasangan yang sama-sama saling membutuhkan, karena hal itulah hubungan mereka semakin hari semakin membaik.


"Aku dan calon anak kita, juga sangat membutuhkan dirimu. Aku juga sangat mencintaimu, suamiku," kali ini Adelia yang berbicara mesra.


Makan sambil saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Tidak terasa perut mereka berdua pun sama-sama sudah kenyang.


Lalu Elvino memberikan air putih untuk istrinya minum, yang sudah diisi oleh asisten rumah tangga mereka. Setelah itu barulah si tampan memberikan satu gelas susu ibu hamil. Agar dia tenang meninggalkan istrinya dalam keadaan kenyang.


Biasanya sebelum Tuan Arka sang mertua masuk rumah sakit. Adelia tidak sendirian, dia bersama Nyonya Risa Ibu mertuanya. Mereka akan sama-sama menghabiskan waktu di taman belakang.


"Iya, pergilah! Tapi jika sudah panas lewat dari jam sembilan. Kembalilah masuk ke dalam rumah. Aku tidak ingin nanti gara-gara kamu ingin sehat. Tahu-tahunya malah menjadi demam." bukan Elvino namanya bila dia tidak posesif dengan apa yang akan dilakukan oleh istrinya.


"Siap Pak, Anda tenang saja. Saya Adelia putri. Akan melaksanakan peraturan degan benar," jawab Adel sambil mengikuti suaminya berdiri dari kursi meja makan, karena sekarang sudah saatnya Elvino berangkat ke perusahaan Wijaya group.


"Awas kamu, ya! berani-raninya menggodaku di saat sudah mau berangkat ke perusahaan seperti ini." El hanya bisa menahan rasa gemas pada istrinya.


Sambil berjalan ke arah garasi mobil, mereka berdua kembali berbincang. Dari saling mengungkapkan perasaan masing-masing ataupun membicarakan hal apa saja.


Cup!


"Aku mencintaimu!" setelah membuka pintu mobil dan menaruh tas kerjanya. Elvino mencium kening dan kedua pipi Adelia. Lalu yang terakhir bibir sang istri.


"Aku berangkat, ya. Kamu kembali masuk dan ingat pesanku yang tidak boleh ke---"


"Tidak boleh kelelahan, menaiki tangga ke lantai atas lalu jangan lupa untuk makan dan istirahat tepat waktu." sela Adelia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh suaminya.


"Anak pintar!" seru pemuda itu mengacak rambut panjang istrinya yang terurai karena Adelia memang sangat jarang mengikatnya.


"Ayo pergi sana! Apabila kita terus seperti ini, maka kamu akan telat datang ke perusahaan. Lalu bagaimana tanggapan para anak buahmu. Jika melihat Presdir mereka datangnya terlambat." Adelia sedikit mendorong tubuh suami bucinnya agar segera masuk ke dalam mobil.


Soalnya apabila tidak seperti itu, maka Elvino akan terus bermesraan ataupun mengungkapkan cintanya yang tidak pernah surut. Justru yang ada semakin hari semakin membesar. Mengikuti kehamilan istrinya yang sudah mau menginjak delapan bulan.


"Baiklah-baiklah! Kalau begitu aku berangkat sekarang, ya. Baik-baik di rumah, aku mencintaimu," sebelum masuk ke dalam mobilnya si tampan masih menyempatkan untuk bibir istrinya sekilas.


Soalnya apabila berlama-lama, si ibu hamilnya akan marah, karena para penjaga keamanan ataupun tukang kebun di rumah tersebut. Akan melihat mereka berciuman.


"Haa... haa.." Elvino tertawa sambil menggelengkan kepala dan mulai menjalankan kendaraan mewahnya, karena apabila di pagi hari. Mobilnya ataupun mobil yang lainya. Sudah dipanaskan oleh salah satu pelayan pria. Agar di saat Elvino dan keluarganya mau cepat-cepat berangkat ke perusahaan. Mobilnya tinggal dinyalakan saja.


Tiiiin!


Tiiin!


El membunyikan klakson mobil sebagai bapaknya pada para penjaga keamanan yang sudah membukakan pintu pagar untuknya.


"Kenapa semakin hari cintaku kepada Adelia semakin besar saja. Sepertinya aku tidak akan sanggup berpisah darinya. Walaupun hanya hitungan hari." gumam kecil Elvino yang masih tersenyum bahagia.


"Semoga keadaan papa juga semakin membaik. Agar bisa merasakan mengendong anakku. Aku belum sempat membahagiakan papa. Selama ini aku selalu membuatnya malu dan menyusahkan nya. Jadi aku ingin papa merasakan bangga memiliki anak seperti itu." tekad Elvino yang ternyata hanya ingin membahagiakan istrinya. Namun, juga sang ayah yang selama ini selalu dia bikin susah.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tujuh belas menit. Mobil mewah Elvino sudah sampai di depan lobby rumah sakit Hospital Center. Begitu melihat kedatangan si tampan, para pengawal yang di tugaskan oleh Paman Abraham langsung membuka pintu mobil buatnya.


"Selamat pagi, Tuan Muda," sambut pengawal yang membuka pintu mobil.


"Terima kasih," ucap El sopan karena dia hanya nakal suka mabuk-mabukan saja. Akan tetapi tidak pernah sombong.


Pengawal tersebut tidak bicara lagi. Namun, menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, karena tahu bahwa tuan muda mereka tidak ada waktu untuk berbicara dengan hal tidak penting.


Dengan langkah panjangnya. Si tampan berjalan masuk rumah sakit dan langsung masuk kedalam lift yang akan membawanya ke lantai tempat sang ayah dirawat.


Ting!


Bunyi pintu lift terbuka lebar. El pun keluar dari sana untuk melihat keadaan ayahnya lebih dulu. Setelah itu dia juga akan menjenguk keadaan Sekertaris Demian yang sudah jauh lebih baik daripada Tuan Arka.


Ceklek!


"Kakak!" seru Raya melihat pintu ruangan rawat inap sang ayah dibuka dari luar.


"Iya, Mama mana, Dek?" tanya Elvino karena hanya ada adiknya. Sedangkan papa mereka lagi tidur.


"Mama sedang mandi, tapi sebentar lagi pasti akan selesai. Jika papa baru tidur setelah jam setengah enam, karena katanya bekas operasi yang ada di kepalanya bagian belakang tiba-tiba sakit." jelas si gadis Wijaya sebelum sang Kakak bertanya.


"Apa? Kenapa bisa seperti itu? Bukannya sejak kemarin baik-baik saja," seru Elvino langsung duduk di samping sang ayah. Namun, dia dan adiknya bicara dengan suara kecil.


"Entahlah! Hasil pemeriksaannya nanti jam sepuluh baru keluar. Jika ada darah beku yang tertinggal pada luka bagian lainya. Maka papa harus melakukan operasi lagi." suara Raya terdengar begitu sedih saat menyebutkan jika ayah mereka kemungkinan harus dioperasi lagi.


Lalu Elvino berdiri dari duduknya dan langsung memeluk sang adik yang berdiri dibelakangnya.


"Tenanglah! Walaupun dioperasi lagi. Papa pasti akan baik-baik saja. Papa pasti akan sembuh." ucapannya menenangkan adik satu-satunya yang rela libur sekolah demi menemani papa dan mama mereka.


"Tapi Kak, Raya takut. Papa terlihat sangat kesakitan. Untungnya dokter cepat bertindak, sehingga langsung diberikan obat pereda nyeri." Raya yang selalu berpura-pura tegar. Akhirnya menangis juga setelah berada dalam pelukan kakaknya.


"Nanti Kakak akan menemui Dokter Mirza untuk menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Adek tenang, ya. Kakak tidak akan tinggal diam bila terjadi sesuatu pada papa." Elvino mendekap dengan perasaan tidak menentu melihat kearah sang ayah yang tidur begitu nyenyak karena sudah diberikan obat tidur.


"Baiklah! Raya tahu, jika Kakak pasti tidak akan membiarkan papa menahan sakitnya." saat adik dan kakak itu masih berpelukan.


Nyonya Risa, yaitu ibu mereka sudah keluar dari kamar mandi dan sudah menganti bajunya dengan pakaian bersih.


"Nak, kamu sudah datang," seru beliau yang mendekati kedua buah hatinya.


"Iya, Ma! Maaf ya, karena El tidak tahu jika papa sakit lagi," ucap Elvino memeluk mamanya juga. Tubuhnya yang kekar tentu tidak ada masalah bila memeluk adik dan sang mama sekaligus.


"Kamu tidak perlu minta maaf, karena ini bukan salahmu. Lagian papa mulai merasakan sakit yang parahnya setelah jam setengah empat. Sebelum itu dia hanya tidak bisa tidur." jawab ibu dua anak itu melepaskan pelukan mereka bertiga.


"Sebentar lagi El akan menemui Dokter Mirza. Mama sama adek tenang saja, yang penting kalian jangan sampai sakit. El binggung bila melihat Mama harus dirawat juga."


"Astaga! Mama lupa menanyakan keadaan istrimu bagaimana, Nak. Mama benar-benar tidak tenang memikirkannya, karena takut tau-tau malah mau melahirkan tengah malam." seru Nyonya Risa sambil duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjang tempat suaminya dirawat dan diikuti oleh Elvino dan Raya.


"Adel baik, Ma. Mana mungkin Adel melahirkan sekarang, karena perkiraan dokter masih dua bulan lagi." El tersenyum mendengar kekhwatiran sang mama.


"Adelia tidak bisa kesini karena El, khawatir saat dia di jalan menuju ke rumah sakit. Sekarang orang-orang Manuel, pasti akan mencari kelemahan kita." lanjut Elvino sudah dapat laporan dari anak buahnya. Bahwa di luar kediaman keluarga Wijaya ada yang mencurigakan.


"Kan itu hanya perkiraan, Nak. Mama takut bila prediksi dokter salah." Nyonya Risa ikut tersenyum kecil. "Huem, iya! Mama juga berpikiran seperti itu." imbuh wanita setengah baya itu yang mengerti bahwa keluarga mereka belum bisa hidup tenang seperti biasanya. Sebelum masalah pengkhianat di perusahaan tertangkap.


...BERSAMBUNG......