
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Iya, Ar. Apakah polisi tidak menemukan kejanggalan pada pemeriksaan kondisi Almarhumah kakakmu?" tanya Arya Wiguna ikut berjalan mendekati sofa dan duduk disebelah Paman Hasan.
Mereka ini seluruh keluarga Wijaya tidak pernah menganggap Paman Hasan dan keluarganya seperti orang lain. Melainkan seperti saudara sendiri.
Adik-adik Tuan Arka dan keponakannya sangat menghormati Paman Hasan. Setiap ada acara keluarga Wijaya. Maka beliau dan keluarganya selalu diundang.
Bahkan Arya Wiguna sangat dekat dengan beliau. Seperti mana pada pamannya sendiri. Itulah yang membuat keluarga mereka sangat akrab satu sama lain. Bila ada musibah dan masalah selalu menyelesaikan degan kepala dingin dan bersatu untuk saling memberikan dukungan. Bukannya saling menyalahkan.
"Sudah, Paman. Tapi polis tidak menemukan hal yang janggal. Kakak ku hanya bilang dia tidak mau menikah dengan pemuda lain. Bila bukan degan... Kak Elvino," jawab Arya agak canggung sudah memangil El dengan sebutan kakak lagi.
"Ck, berani-beraninya memanggilku kakak setelah merusak wajah tampanku," decak Elvino yang membuat Arya Wiguna tertawa.
"Ha... ha... kalian satu sama, Kak. Coba Kakak lihat, wajah Arya juga sudah bonyok gara-gara kakak pukul," tawa pemuda itu yang membuat Tante Anita, Paman Hasan dan Tuan Arka ikut tersenyum.
"Biarkan saja! Mereka berdua pantas menerimanya. Suruh siapa menyakiti kedua putriku," ujar Nyonya Risa yang sudah tidak menangis lagi. Namun, wajah putihnya dan mata beliau masih memerah karena terlalu banyak menangis.
"Mama, maaf," jawab Elvino dan Arya secara bersamaan. Lalu mereka saling pandang dan membuang arah pandangan matanya masing-masing.
"Jika tidak ditemukan kejanggalan berarti salah kakakmu sendiri yang mencintai Elvino, Ar. Kamu tidak berhak menghakimi El karena hal itu. Jika seumpamanya Manda bunuh diri ataupun melakukan hal lainya lagi dan itu semua karena kesalahanmu. Apakah kamu akan menerima bila disalahkan oleh kakak atau adiknya?" Paman Hasan menatap pada Arya yang mengelengkan kepalanya dan menjawab.
"Tidak Paman," jawabnya singkat.
"Jika kamu tidak mau. Maka balikkan lagi posisi ini pada Elvino. Jadi lain kali berpikir dulu bila mau membalas dendam apapun itu. Kita saja sakit hati karena sudah disakiti. Apalagi orang lain," lanjut Paman Hasan sambil menasehati.
"Seharusnya jadi pelajaran untuk diri sendiri. Jangan ikutan berbuat seperti itu. Kamu saja tidak mau kakakmu tersakiti. Jadi tentu El tidak mau juga adiknya kamu sakiti," saat Paman Hasan berbicara tidak ada diantara mereka yang berbicara.
"Kamu juga El, lain kali jangan asal pukul saja. Begini kan jadinya, wajahmu juga kena pukul. Anggap saja semua ini adalah karma, karena kamu sudah banyak menyakiti hati anak orang.' Bukannya begitu Ar?" tanya beliau pada Tuan Arka.
Sudah dari satu bulan umur pernikahan Adelia dan Elvino. Paman Hasan memangil Tuan Arka hanya dengan nama saja. Sebab atas permintaan Tuan Arka sendiri. Mereka berdua hanya berbeda dua tahun lebih tua Tuan Arka. Jadi sekarang mereka bersahabat baik.
Lagian Paman Hasan adalah penganti orang tua Adel. Jadi masa' sama besan harus memanggil dengan sebutan tuan.
"Iya, kamu benar. Jadi karena Elvino. Raya yang kena karmanya," jawab Tuan Arka membenarkan. Soalnya jika putranya tidak mempermainkan hati perempuan, maka mana mungkin tiba-tiba Arya balas dendam atas kematian kakaknya.
"Jadi Ar, bagaimana? Apakah kamu masih mau balas dendam juga?" tanya Tante Anita pada suami keponakan tersayangnya.
"Tidak Tan, sekarang aku hanya ingin Raya sembuh," jawab Arya dengan suara sendunya. Mengigat sang istri hati Arya kembali terasa dicabik-cabik dan menyesal.
"Semuanya juga berharap seperti itu," imbuh Tante Anita sama merasakan sedih.
Ceklek!
Saat mereka masih mengobrol. Pintu ruangan itu dibuka dari luar. Sehingga membuat semuanya menoleh kearah pintu tersebut.
"Selamat pagi semuanya," ucap maminya Arya yang datang bersama suaminya. Papi Arya juga datang mengunakan kursi roda yang didorong oleh asisten pribadi beliau.
"Iya, selamat pagi juga dan selamat datang," jawab mereka yang ada dalam ruangan itu. Hanya Arya yang tidak menjawab karena dia langsung berdiri untuk menyambut kedua orang tuanya.
"Mami, papi. Bukannya---"
Plaaak!
Plaaak!
Dua tamparan gratis langsung mendarat di pipi kira dan kanan Arya.
Sehingga bibir Arya yang luka bekas pukulan Elvino. Kembali mengeluarkan darah segar. Arya yang tahu maminya sedang marah hanya diam tidak berani berbicara apa-apa.
"Anak tidak tahu diri. Berani sekali kamu berniat buruk pada putriku. Sudah berapa kali Mami bilang, jangan pernah menyalahkan orang lain atas kematian kakakmu. Dia sendiri yang salah memilih untuk membuat malu kelurga kita dan kamu..." seru wanita itu menangis kecewa pada anaknya.
"Mi, tolong maafkan Arya. Ar---"
"Enak sekali kamu meminta maaf. Apakah kamu pikir dengan meminta maaf keadaan putri Mami akan langsung sembuh? Apakah kamu kira cucu Mami akan baik-baik saja," Nyonya Fanya menunjuk-nunjuk muka anaknya.
"Kenapa aku bisa melahirkan anak seperti mu, Arya. Bersusah payah aku didik agar bisa menjadi anak yang baik dan bertangungjawab. Tapi kamu malah berani-beraninya menyakiti hati istrimu sendiri," beliau semakin marah untuk meluapkan emosinya.
"Bagiamana bila yang disakiti adalah kakak atau adikmu? Apakah kamu akan terima? Apakah kamu tidak akan sakit hati? Dasar laki-laki! Menurun siapa kelakuanmu ini? Sudah menikah masih berpacaran. Apakah Papi mu juga seperti ini saat mudanya?" ucap Nyonya Fanya membuat Arya Wiguna membuang arah pandangan matanya karena tidak kuat menahan tawa.
Tadi Tuan Arka dan Paman Hasan sudah dibuat tersinggung dan sekarang Tuan Yuda papinya Arya juga kena tuduh tanpa sebab. Padahal beliau sudah duduk di kursi roda malah kena sasaran dari maminya Arya.
"Kenapa malah bawa-bawa Papi? Memangnya kapan Papi selingkuh? Ini semua salah Arya," jawab Tuan Yuda tidak terima bila ikut disalahkan.
Sebab beliau tentu sangat malu di hadapan besannya. Takutnya jika Tuan Arka maupun yang lainya percaya pada ucapan spontan sang istri. Padahal tidak tahu saja beliau bahwa Tuan Arka dan Paman Hasan juga sudah kena imbasnya.
"Kalau begitu Arya harus dicoret dari kartu keluarga kita. Mami tidak mau memiliki anak yang tidak tahu---"
"Kak, sudahlah! Tolong jangan marahi Arya lagi. Ini kami semua lagi menyelesaikan masalahnya. Arya juga tidak sepenuhnya bersalah karena Raya kecelakaan sendiri. Walaupun disebabkan oleh Arya yang selingkuh," ujar Tante Anita menenangkan besan kakaknya.
"Anita, tolong maafkan aku. Aku sangat menyesal menikahkan mereka. Jika tahu akan seperti ini. Aku sangat menyanyangi Raya seperti mana pada putriku sendiri," tangis Nyonya Fanya setelah dia dipeluk oleh Tante Anita.
"Iya-iya! Kami sudah memaafkan Arya. Jadi Kakak tenanglah. Dengan marah-marah keadaan keponakanku tidak akan ada perubahan," Tante Anita merenggangkan pelukan mereka.
"Ayo silahkan duduk dan kita bicarakan masalahnya dengan tenang," ajaknya lagi.
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang. Sedangkan keadaan putri dan cucuku masih kritis," jawab beliau sebelum melihat kearah Nyonya Risa besannya.
"Risa... tolong ampuni aku. Aku bersalah telah melamar Raya untuk anakku yang tidak tahu diri ini. Jika tahu seperti ini maka aku akan menyuruh polisi memenjarakan Arya," kata Nyonya Fanya mendekati Nyonya Risa yang juga menangis menatap padanya. Lalu mereka sama-sama berpelukan sambil menangis.
"Maafkan aku, sudah gagal mendidik Arya untuk menjadi anak yang bertanggung jawab. Aku benar-benar tidak tahu jika dia selingkuh dan berniat menyakiti Raya. Aku sangat menyayangi putrimu seperti pada putri ku sendiri. Jadi aku---"
"Iya-iya! Aku sudah memaafkan mu. Maafkan aku juga yang sudah gagal mendidik Elvino. Aku tidak tahu jika putraku selingkuh dengan putrimu. Padahal dia sudah menikah," jawab Nyonya Risa ikut meminta maaf.
Beliau juga seorang ibu. Tentu sangat tahu rasanya kehilangan anak. Raya yang kritis saja mereka bersedih seperti ini. Apalagi Nyonya Fanya yang anaknya meninggal dunia hanya gara-gara seorang laki-laki.
Sialnya laki-laki itu adalah Elvino. Mungkin bila El tidak memberikan harapan pada gadis itu. Maka tidak mungkin Cica begitu mencintai Elvino sampai-sampai memilih untuk mati.
Mau jadi pelakor Cica bukanlah gadis yang buruk. Karena dia dilahirkan oleh kedua orang tua yang baik juga. Jadi satu-satunya jalan adalah mengakhiri hidupnya dengan meminum obat tidur sebanyak mungkin.
Sehingga menyebabkan overdosis dan meningal dalam keadaan tidur. Yaitu di Apartemen nya sendiri.
"Apa! Ja--jadi kamu juga gagal mendidik anak mu?" seru Nyonya Fanya setelah melepaskan pelukan mereka berdua.
"Iya," jawab Nyonya Risa sama seperti besannya. Masih menangis karena merasa gagal menjadi orang tua.
"Jadi ini semua bukan salah kita sebagai ibu. Tapi salah para laki-laki yang tidak bisa dipercaya," ucap kedua wanita itu menatap tajam pada suaminya masing-masing.
Sedangkan yang ditatap justru saling pandang karena lagi-lagi kena imbasnya. Padahal sudah jelas yang bersalah dalam hal ini adalah si mantan playboy cap kampak dan Arya.
Namun, karena sebagian sesama laki-laki dan seorang ayah. Jadinya ikut terkena dampak dari kesalahan putra mereka.
...BERSAMBUNG......
.
.