
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Tunggu sebentar, ya. Aku akan menutup pintunya." ucap Elvino setelah tidak ada siapa-siapa lagi di rumah mereka. Semua tamu dan keluarga sudah pulang. Sedangkan ada asisten rumah tangga besok pagi baru mulai bekerja karena Elvino ingin istri dari tukang kebun yang bekerja dengan mereka.
Agar tidak seperti cerita di film-film atau cerita novel. Dimana para asisten rumah tangga yang merayu majikannya saat istrinya melahirkan.
Si tampan Elvino tidak mau bila hal seperti itu sampai terjadi. Makanya dia lebih baik malam ini mengurus istrinya sendiri. Lagian bila hanya memasak, dia juga bisa.
"Pergilah! Aku akan menunggu di sini," jawab Adelia yang masih memangku si kecil.
Dengan langkah panjang Elvino berjalan kearah pintu untuk mengunci pintunya. Sedangkan pagar depan rumah mereka sudah ada penjaga keamanan Wijaya yang di rekrut oleh Elvino untuk menjaga rumahnya.
Dengan kariernya yang semakin meningkat pesat. Sudah pasti akan ada banyak yang tidak menyukainya. Sebagai bentuk penjagaan keluarganya. Elvino menugaskan dua orang pengawal khusus, bukan satpam biasa seperti di rumah orang tuanya.
"Ayo kita kekamar. Untuk sementara kita tidur kamar bawah saja. Nanti bila kamu sudah sembuh seratus persen. Baru kita pindah ke lantai atas." ucapnya yang diangguki saja oleh Adelia.
Wanita itu mana ada protes mau tinggal di mana saja. Asalkan bersama suaminya, maka dia tidak akan pernah menolak.
"Apakah bisa sambil menggendong seperti itu?" tanya El sudah membantu istrinya berdiri dengan pelan.
"Tentu saja bisa, anak kita bukan karung beras yang tidak bisa kuangkat." Adelia tersenyum karena Elvino terlalu berlebihan mengaggap dia keberatan mengedong Baby Eza.
"Aku takutnya kamu kelelahan, Sayang."
"Tentu saja tidak, lagian kita kan bukan menaiki tangga." sambil berjalan kearah kamar yang ternyata hanya sekitar sepuluh meter dari ruang keluarga. Pasangan suami-istri itu terus mengobrol.
Soalnya Adelia hanya bisa berjalan pelan. Itupun Elvino memeluk lengan istrinya. Takut apabila Adelia kelelahan karena ada putra mereka dalam gendongan sang istri.
Ceklek!
Suara pintu dibuka oleh Elvino pelan.
"Selamat datang Tuan Putri dan pangeran kecilku. Ini adalah kamar kita untuk saat ini. Semoga kalian berdua betah dan cocok dengan ruangannya."
Ucap Elvino begitu pintu kamar ia buka lebar. Sama seperti senyum Adelia yang bahagia.
"Bagaimana, apakah kamu suka?"
"Elvino suamiku, dimanapun asalkan bersamamu. Tentu aku sangat suka." jawab Adelia tersenyum berjalan masuk ke kamar mereka.
"Baby Eza tidurkan saja di tempatnya, Sayang. Kamu juga harus istrirhat." ucap El mengambil Alih putra mereka karena dia yang akan memindahkan Baby Eza dari gendongan ke box bayi yang tidak jauh dari tempat tidur mereka.
"Tidurnya nyenyak sekali, padahal ini sudah sore." Adelia menatap putranya yang tidur dengan nyenyak tanpa terusik meskipun sudah dipindahkan oleh papanya.
"Tidak apa-apa, bila nanti malam dia rewel, kamu tidak sendirian karena ada aku yang membantu menjaganya." El tersenyum karena tadi dia sempat mendengar Tante Mona mengatakan takutnya malam ini Baby Eza rewel karena sore harinya baru tidur.
Jadi Elvino tahu kekhawatiran istrinya yang sama seperti dia belum pernah mengurus bayi.
"Pangeran ku, terima kasih karena dirimu sudah menjadi suami dan ayah terbaik untuk kami berdua. Aku sangat bahagia, dan tidak ingin hal lain lagi selain keutuhan rumah tangga kita." ucap Adelia menghadap kearah sang suami yang berdiri didepan box bayi putra mereka.
Cup!
"Aku pun juga berterima kasih kepada mu, karena sudah mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." El langsung mengecup bibir sang istri sekilas, karena dia tahu harus berpuasa sampai waktu yang ditentukan oleh dokter.
"Kalau begitu kita tidak usah saling mengucapkan terima kasih, karena kamu ataupun aku sama-sama membutuhkan." Adelia tersenyum menatap suaminya penuh cinta.
Bagitu pula dengan Elvino. Si mantan playboy cap kampak itu juga menatap Adelia penuh cinta.
"Ayo istirahat di atas ranjang. Aku mau mandi dulu," ajak Elvino karena dia tadi sibuk membantu membereskan bekas acara di rumah mereka.
"Iya, mandilah! Biar aku yang... astaga! Apakah pakaian kita sudah ada di sini?" tanya Adel baru ingat jika mereka datang ke rumah itu tanpa membawa barang apapun.
"Tenang saja, semua keperluan kita sudah ada di sini. Gemes banget melihat wajahmu yang kaget," ucap Elvino menarik kedua pipi istrinya yang masih terlihat chubby.
"Haa... ha... aku lupa bahwa suamiku adalah suami siaga yang tidak mungkin melupakan hal penting." tawa Adelia pelan karena tidak berani bersuara besar. Takutnya luka jahitan bekas operasi Caesar nya terasa sakit.
"Aku mandi sebentar, ya. Kamu duduk diatas ranjang, tidak usah menyiapkan pakaian untukku. Sampai keadaanmu benar-benar pulih." karena takut dia khilaf. Elvino kembali menyuruh istrinya untuk istirahat diatas tempat tidur.
"Ya Tuhan! Terima kasih, aku bahagia sekali. Ternyata yang memperkosaku malam itu hanya Elvino suamiku sendiri. Bukan ke-dua sahabatanya juga." gumam Adelia tersenyum kearah box bayi sang putra.
Selama suaminya mandi, Adelia hanya duduk diatas ranjang. Namun, kakinya dia selonjor agar terasa nyaman. Seperti mana wanita yang habis melahirkan pada umumnya.
Kleeek!
Suara pintu yang dibuka oleh si tampan Elvino. Dia sudah selesai membersihkan tubuhnya. Lalu pemuda itu pun langsung saja mengambil bajunya di dalam lemari pakaian.
Soalnya malam ini katanya Hendra dan Aiden akan datang untuk meminta maaf kepada Adelia atas apa yang pernah mereka lakukan dan juga melihat baby Eza yang ketampanannya mengalahkan Elvino sang papa siaga.
"Nanti kamu keluar sebentar ya, kan tidak mungkin Hendra dan Aiden meminta maafnya masuk kedalam kamar kita." ucap Elvino yang sudah selesai memakai pakaian lengkapnya.
Si tampan Elvino mengenakan baju kaos putih dan juga celana jeans panjang. Jadi dia masih tetap saja seperti pemuda yang belum memiliki istri dan anak.
"Adel," setelah menutup pintu lemari pakaian. Elvino berjalan kearah ranjang karena istrinya hanya diam tidak menyahuti perkataannya tentang Hendra dan Aiden yang mau meminta maaf.
Fiuuuh!
"Kamu kenapa, huem?" El meniup muka istrinya dengan tersenyum yang mampu membuat Adelia tersipu malu dan semakin takut pula kehilangan suaminya.
"Aku..." tidak jadi lagi melanjutkan ucapnya karena percuma saja. Adelia sudah ketahuan jika sudah terpana pada ketampanan suaminya sendiri.
"Aku apa?" inilah yang El senangi melihat istrinya lagi salting. Ke-dua pipi Adelia akan memerah seperti kepiting rebus.
"Aku apa, Adelia istriku? Ayo katakan jangan membuatku penasaran." desak Elvino sudah duduk di sisi ranjang.
"Aku---"
Cup!
"Aku sangat mencintaimu! Jadi jangan pernah memiliki pemikiran buruk tentangku, ya. Teruslah seperti ini karena kamu tidak akan pernah bisa digeser oleh bayangan sekalipun." sela Elvino mengecup bibir ranum istrinya.
"El... aku hanya---"
"Tidak apa-apa, aku ini memang tampan. Jadi dirimu tidak salah bila berpikiran bahwa aku akan diambil oleh orang---"
"Augh! Ini ibu-ibu yang sudah melahirkan kenapa cubitannya sakit sekali." El mengaduh kesakitan karena Adelia sudah mencubit perutnya.
Namun, setelah itu dia tertawa sembari menarik Adelia agar masuk kedalam pelukannya.
"Haaa... ha... kamu kalau lagi kesal dan tersipu kenapa terlihat semakin menggemaskan. Aku jadi ingin memakan mu bila seperti ini." tawa si mantan playboy cap kampak.
"El, aku lagi serius. Tidak mau bercanda." seru Adelia memanyunkan bibirnya.
"Sayang, dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan pernah berani macam-macam. Karena aku jauh lebih takut kehilanganmu dan putra kita. Jadi jangan pernah memiliki pikiran yang aneh-aneh." ungkap pemuda itu yang bisa menebak bahwa istrinya pasti berpikiran yang aneh-aneh tentang dia yang berselingkuh.
"Be--benarkah! Kamu tidak berbohong, kan? Kenapa kamu semakin terlihat tampan saja. Ini kan tidak adil namanya." akhirnya Adelia pun mengakui tentang ketakutannya apabila Elvino akan tergoda oleh gadis lain.
Melihat suaminya semakin tampan, tiba-tiba wanita itu berpikiran tentang Riska saat dia mau melahirkan empat hari lalu.
Apalagi sekarang wajah tampan Elvino sudah memenuhi produk kosmetik dari perusahaan Wijaya group. Jadi CEO perusahaan itu sendiri yang menjadi modelnya.
"Aku tidak bisa menyembunyikan wajah tampan ini agar tidak bisa dilihat oleh siapapun. Mereka boleh menatap wajahku dimana pun dan kapan saja. Namun, perlu kamu ketahui jika hatiku ini hanya buat istriku. Tidak akan aku biarkan ada yang mendekatinya." jawab Elvino merenggangkan pelukannya dan menatap mata istrinya.
"El, aku percaya padamu. Namun, jujur saja melihat seperti apa Riska memelukmu hari itu. Aku manjadi takut jika kamu akan tertarik pada gadis yang modis dan seksi. Sedangkan aku, coba saja kamu lihat. Tubuhku semakin jelek karena sudah---"
"Karena sudah melahirkan harta paling berharga bagiku. Coba kamu lihat anak kita! Baby Eza adalah buah hati kita yang akan mengikat agar hubungan ini semakin kuat lagi. Jadi tolong buang jauh-jauh pemikiran seperti itu, ya. Karena aku sangat mencintaimu." saat kedua orang tuanya lagi berbicara serius.
Si Elvino kecil sudah bangun disertai tangisnya.
Ooee!
Oooee!
Suara baby Eza menangis karena belum diangkat oleh kedua orang tuanya.
"El, anak kita men---'
"Duduk saja, biar aku yang menggendong si tampan dan membawa nya padamu." ucap Elvino seraya mendekati box bayi putranya.
...BERSAMBUNG......