
💝💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Selamat pagi Tuan Muda," sapa para karyawan dan karyawati. Begitu melihat kedatangan Elvino.
Meskipun si pemalas tidak pernah datang ke perusahaan. Walaupun ayahnya sampai kehilangan kerjasama yang sangat penting. Ternyata si tampan tersebut sangat terkenal.
"Iya, selamat pagi juga," jawab Elvino ramah, karena dia memang tidak terlalu dingin. Apalagi bila degan para pekerja mereka.
Soalnya El dan adiknya sudah di didik oleh Nyonya Risa. Wanita hebat yang selalu sabar menghadapi kelakuan putranya selama ini.
Supaya tidak semena-mena pada orang yang jauh dibawah mereka. Namun, jika untuk memiliki kekasih. Tentu Elvino tidak mau sama orang miskin. Akan tetapi takdir malah membuatnya menikahi Adelia.
Si gadis yatim piatu dan hanya lulusan sekolah menengah atas. Mungkinkah itu semua sebagai tantangan dalam hidupnya? Entahlah!
Semua mata karyawan menatap Elvino penuh damba. Seolah-olah pemuda itu adalah makanan lezat yang menari-nari minta segera di santap sebagai makanan penutup.
"Aaaaa... aku mau menemui bagian HRD agar di pindahkan ke ruang Staf pemasaran juga," teriak para gadis maupun wanita yang sudah berkepala tiga.
"Tolong, tolong... Aku, aku mau pingsan," seru dari karyawan yang satu nya lagi.
Padahal Elvino hanya lewat sambil mengecek ponselnya. Mana tahu si ibu hamilnya ada mengirim pesan.
"Aku sedang bermimpi kah? Erna, tolong cubit pipiku. Apakah ini mimpi? Kenapa pangeran El datang ke perusahaan." berbagai ucapan mengiring langkah Elvino.
Padahal si tampan yang sibuk mereka bicarakan. Tidak menoleh sama sekali. Dia hanya fokus pada ponselnya saja. Namun, hal tersebut malah membuat kesan istimewa di mata para fansnya.
"Jika tidak sayang dengan gaji ku saat ini. Maka aku rela turun jabatan. Asalkan bisa bekerja satu Tim degan tuan muda," bukan hanya satu orang yang mendadak menyesal tidak berada di Staf pemasaran.
Agar bisa bekerjasama dengan Elvino. Si malaikat tak bersayap. Begitulah menurut mereka yang hanya menilai dari wajah tampan dan kekayaan saja.
Ting!
💌 Bumilku : "Semagat!" ternyata Adelia seperti memiliki ikatan batin saja dengan suaminya. Tahu saja bahwa El sedang melihat ponselnya. Mana tahu istrinya ada mengirimkan pesan.
"Aaagh... aku ingin menjerit! Adel menyemangati ku lagi." gumam Elvino tersenyum membaca pesan dari Adel, yang saat ini sudah dia ubah namanya Bumilku. Bukan Istriku seperti biasanya.
💌 Elvino : "Terima kasih! Ini aku baru sampai di perusahaan. Nanti bila ada waktu luang aku akan menelepon mu." bunyi pesan yang dibalas oleh si tampan.
💌 Bumilku : "Iya, jika kamu sibuk tidak apa-apa bila tidak menelepon. Asalkan jangan lupa makan siang tepat waktu." tak berbeda jauh dari Elvino. Si ibu hamil juga tersenyum-senyum sendiri saat membalas pesan dari sang suami.
Sehingga Nyonya Risa yang melihat pun ikut tersenyum. Sebab beliau tahu bahwa Adel lagi berbalas pesan dengan putranya.
💌 Elvino : "Eum... iya. Kamu juga jangan telat makan, sama tidak boleh kelelahan juga. Jangan melakukan pekerjaan apapun." rentetan pesan pun langsung dikirimkan oleh si tampan. Karena meskipun ada sang mama yang menemani Adelia di rumah. Tetap saja dia merasa takut terjadi sesuatu pada istri dan juga anaknya.
💌 Bumilku : "Asiiap, suamiku! Selamat bekerja. Kami menantimu pulang," Adelia yang sangat ingin Elvino bisa membanggakan kedua mertuanya pun.
Dengan sengaja menyelipkan kata suamiku. Mana tahu bisa menyemangati Elvino agar lebih percaya diri pada dirinya sendiri.
💌 Elvino : "Wah, wah! Kamu mengakui juga bahwa aku suamimu? Kalau begitu nanti saat di rumah. Aku ingin mendengar kamu mengatakannya secara langsung,"
Gara-gara membaca pesan terakhir dari sang istri. Membuat senyuman Elvino semakin merekah. Tidak tahu saja dia jika para karyawan ayahnya sudah tepar karena melihat senyuman tuan muda mereka.
"Selamat pagi, Tuan El," sapa Sekertaris Demian yang sudah menunggu tuan mudanya sejak tadi.
"Ya, selamat pagi juga, Demian. ruangan kerjaku sebelah mana?" tanya Elvino menyimpan kembali ponsel ke dalam saku celananya.
"Mari ikut Saya Tuan Muda, Saya akan mengantarkan Anda ke ruangan staf pemasaran," jawab Sekretaris Demian yang tidak bisa menyebut Elvino dengan sebutan nama, atau biasa saja.
Padahal itu sudah perintah dari Tuan Arka langsung. Agar mereka semua di perusahaan tersebut memperlakukan Elvino seperti karyawan biasa.
Namun, tetap saja tidak ada yang mau menyebut Elvino dengan namanya saja. Melainkan dengan embel-embel Tuan mudanya.
"Benar Tuan Muda, mari silakan masuk," jawab Sekretaris Demian membukakan lebar pintu ruangan tersebut. Lalu begitu melihat kedatangan mereka berdua. Semua karyawan yang ada di sana menunduk hormat.
"Selamat pagi Tuan Muda, selamat pagi Tuan Sekertaris," sapa si ketua Tim mendekati mereka berdua.
"Iya, pagi juga," jawab Sekertaris Demian. Sedangkan Elvino hanya mengangguk kan kepalanya sedikit.
"Ini Saya serahkan Tuan muda padamu. Apa yang belum dia ketahui, adalah tugas kalian semua untuk mengajarinya. Apa kalian paham?" ucap sekretaris pribadi tersebut yang bagaikan perintah dari Tuan Arka langsung. Mana berani mereka untuk membantahnya.
"Paham Tuan, kami semua akan bekerja sama untuk mengajari Tuan Muda Elvino," mereka semua menjawab serempak yang penuh semangat.
"Oke, silahkan kalian kembali bekerja dan Anda, Pak Pram. Tolong pagi ini tunjuk tempat tuan muda bekerja dan apa saja pekerjaannya."
"Baik Tuan," kata laki-laki bernama Pram tersebut. Beliau sudah berumur empat puluh tahunan dan dia merupakan ketua Tim di bagian Staf pemasaran.
"Tuan Muda, Saya mau kembali keruangan Saya sendiri. Apabila masih ada yang belum Anda pahami, jika Pak Pram tidak bisa. Maka tanyakan saja kepada Saya langsung," ucap sekretaris Demian sebelum berpamitan pergi, karena dia juga memiliki pekerjaan yang tak kalah menumpuknya.
"Iya, terima kasih," Elvino menjawab singkat.
Setelah kepergian sekretaris pribadi ayahnya. Elvino pun langsung diajak oleh Pak Pram berjalan mendekati meja kerjanya, yang berada di tengah-tengah meja para staf yang lain.
Semua itu sengaja diatur agar posisi Elvino berada di tengah-tengah. Tujuannya adalah, supaya di saat si tuan muda membutuhkan bantuan mereka. Semua Tim bisa ikut andil membantunya.
"Tuan Muda, ini adalah tempat kerja Anda. Bila ada yang tidak paham, nanti bisa tanyakan pada mereka semua." ucap Pak Pram mengantar Elvino pada meja kerja yang sudah dirapikan. Agar si tuan muda merasa nyaman.
"Huem, baiklah! Kalau begitu kita semua boleh berkenalan terlebih dahulu. Agar Saya tidak bingung akan meminta bantuan pada siapa," ujar Elvino yang langsung disambut gembira oleh Farah karyawati.
Akhirnya mereka pun mulai berkenalan satu persatu, karena Elvino lah yang tidak tahu siapa mereka.
"Tuan Muda, perkenalkan saya Erin Saya bekerja di bagian TU. jika Anda perlu bantu panggil saja." ucap wanita yang mungkin masih seumuran dengan Elvino.
"Iya, Erin. Semoga kita bisa menjadi satu Tim yang baik." jawab Elvino mulai tahu nama mereka dan juga apa jabatannya di sana.
"Semoga kita menjadi Tim yang kompak untuk kedepannya, Tuan Muda. Kenalkan nama Saya Aldo. Saya bekerja di bagian pemeriksaan berkas terakhir."
"Hai, Aldo... iya! Semoga kita bisa menjadi Tim yang kompak dan tolong ajari Saya, karena di sini Saya juga sebagai karyawan biasa. Sama seperti kalian semua, dan jujur Saya belum pernah bekerja sama sekali." Elvino menjabat baik tangan laki-laki bernama Aldo yang ternyata juga seumuran dengannya.
Hanya saja perbedaannya Elvino belum juga lulus kuliah. Namun, apabila ingin menanyakan berapa banyak jumlah mantan pacar. Maka sudah pasti si tampan Elvino lah yang akan menjadi pemenangnya.
"Oke, oke! karena kita semua sudah saling berkenalan. Jadi mari lanjutkan pekerjaan kalian masing-masing, sampai jam makan siang tiba," ucap Pak Pram yang juga kembali pada meja kerjanya sendiri.
"Huh! ternyata seperti ini orang bekerja harus mematuhi jam tepat waktu." gumam Elvino yang sudah duduk pada kursi kerjanya.
El yang telah diberi tahu sedikit-sedikit oleh Sekretaris Demian pun, tidak terlalu menonjol bahwa dirinya tidak tahu apa-apa sama sekali. Setidaknya dengan begitu dia tidak mempermalukan dirinya sendiri maupun sang ayah, yang saat ini lagi melihat putranya melalui pantauan CCTV dalam ruangan Presdir.
"Demian, apakah El belajar dengan serius? Makanya dia langsung bekerja dan tidak bertanya pada Pak Pram lagi?" tanya Tuan Arka kurang yakin pada kemampuan putra sulungnya.
Sebab beliau tahu bahwa Elvino memiliki otak yang sangat bebal. Dalam hal yang menyangkut dengan pelajarannya.
Sudah Tuan, sewaktu pulang dari mengantar formulir lamaran hari itu Tuan El meminta saya untuk mengajarinya secara online. Tapi belajarnya tengah malam, setelah Nona Adel tidur katanya," jawab Demian mendongak kepalanya ke atas karena saat ini posisi pemuda itu, sedang duduk di sofa yang ada di sana. Sambil mengerjakan sesuatu pada laptop.
"Apakah ada masalah, Tuan?" tanyanya karena sang bos terlihat sangat serius menonton putranya sendiri.
"Tidak! Tidak ada! Hanya saja nanti saat jam makan siang, suruh Pak Pram memeriksa semua pekerjaannya hari ini. Jangan sampai kita semua dibikin kacau olehnya," titah beliau takutnya El bukannya pemeriksa pekerjaan perusahaan. Tapi malah mengetik nama para mantan pacarnya. Begitulah kiranya yang ada di dalam pemikiran Tuan Arka.
"Baik Tuan, nanti Saya akan menyuruh Pak Pram memeriksa pekerjaan Tuan El hari ini," Sekretaris Demian kembali lagi lanjutkan pekerjaannya. Namun, sesekali masih menatap ke arah Tuan Arka. Apabila beliau bertanya padanya.
"Oya, tadi kamu bilang dia minta diajarkan secara online. Apakah itu benar? Atau kamu sudah mendapat uang tutup mulut darinya?" tuduh Tuan Arka karena Elvino anaknya sangat pintar dalam berbohong.
"Benar Tuan, Saya tidak menerima apapun dari tuan muda. Ini semua murni karena dia yang ingin belajar sendiri." Sekretaris Demian menjawab santai, karena dia tidak merasa sudah menerima uang suap dari tuan mudanya.
"Wah, bagus sekali! Ini pasti pengaruh baik dari istri dan anaknya. Mamanya saja kemarin menyuruh Saya membawakan Dokter buat memeriksa kesehatannya." seru Tuan Arka tergelak kecil.
Gara-gara selama ini Elvino begitu nakal. Nyonya Risa mamanya, sampai-sampai menyuruh sang suami membawakan dokter ke rumah mereka. Takutnya Elvino sedang sakit.
...BERSAMBUNG......