
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Bagaimana?" tanya Elvino pada Dokter Mirza yang baru keluar dari ruang ICU setelah memeriksa keadaan Raya.
"Keadaannya sangat baik dan sekarang sedang diurus untuk dibawa ke ruang perawatan. Tapi ini mau dipindahkan kamar baru atau kamar VIP tempat Nyonya kemaren?" tanya dokter tersebut sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Entahlah! Tunggu Saya tanya Arya dulu. Dia lagi mandi," jawab Elvino yang tidak mau mendahului adik iparnya karena walau bagaimanapun Arya adalah suami Raya dan lebih berhak atas adiknya.
Soalnya El yakin tidak mungkin Arya menempatkan adiknya di kamar kelas biasa. Tentunya akan dikamar VIP. Apabila Arya tidak bertanggung jawab dengan benar barulah Elvino bertindak.
"Oke baiklah. Kita tunggu sebentar," Dokter Mirza ikut duduk bersama Elvino. "Arya Wiguna mana?" tanyanya tidak melihat sepupu Elvino di sana.
"Dia sudah pulang sejak setengah enam tadi karena jam delapan ada rapat di perusahaannya. Jadi Saya suruh pulang lebih awal," jawab Elvino karena dialah yang menyuruh adiknya itu untuk pulang
Soalnya Elvino sudah diberitahu oleh Sekertaris Demian jika hari ini Arya Wiguna ada rapat di perusahaannya.
"Oh, pantas saja. Kalian sangat kompak. Saya benar-benar sangat kagum pada keluarga Wijaya. Saat Tuan Arka dirawat beberapa tahun lalu. Kalian juga sama seperti saat ini," puji sang dokter yang kagum pada kekompakan keluarga Wijaya.
"Itu semua karena kami saling menyayangi. Dengan bersatunya keluarga, saling dukung saat suka maupun duka. Bisa membantu meringankan beban pikiran saat kita tidak bisa berpikiran dengan jernih," jawab Elvino juga mengakui kekompakan keluarga mereka.
Bila ada masalah selalu diselesaikan bersama. Tidak ada yang namanya menghakimi satu sama lain. Tidak ada saling menjelekkan. Itulah yang membuat mereka saling rangkul antara keluarga maupun para iparnya.
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki Arya yang baru saja datang. Pemuda itu hanya memakai sandal bukan sepatu. Karena semalaman hanya bisa duduk di kursi tunggu depan ICU. Jadi mengunakan sandal sebagai alas kaki itu jauh lebih nyaman.
"Kak, Dokter Mirza. Ada apa? Raya baik-baik saja kan?" tanya pemuda itu degan perasaan takut bila terjadi sesuatu pada istrinya.
Padahal dia hanya meninggalkan tempat tersebut sekitar lima belas menit lalu. Keadaan istrinya juga dalam keadaan baik-baik saja.
"Duduklah! Tidak terjadi sesuatu pada adek. Dokter Mirza hanya mau bertanya adek mau dipindahin ke kamar VIP yang kita tempati sekarang, atau kamar baru lagi?" jawab Elvino sekaligus bertanya pada Arya.
"Jika menurutku kamar yang sekarang saja. Lagian pakaian kita sudah ada di sana. Tapi jika mau dipindahkan ke kamar rawat intensif yang baru terserah Kakak saja. Karena jika aku hanya ingin Raya sembuh, bukan masalah kamarnya," Arya malah mengembalikan keputusan pada kakak iparnya.
"Yasudah, kalau begitu ke kamar yang sekarang saja, Dok," putus Elvino yang sama saja hanya ingin adiknya sembuh. Bukan seberapa mahal kamar yang mereka tempati.
Sebab semuanya tidak penting lagi. Kesembuhan adalah nomor satu. Sama seperti banyak uang. Walaupun kaya raya, tapi sakit tidak bisa menikmatinya juga tidak ada gunanya.
"Oke, Saya akan masuk kedalam sekarang. Kalian berdua boleh menunggu saja di kamar rawat karena sekitar lima belas menit paling lama. Nona Raya akan kami pindahkan," Dokter Mirza kembali berdiri dan kembali lagi masuk kedalam ruang ICU.
"Ayo kita menunggu di kamar rawat saja. Biarkan dokter yang mengurus semuanya. Bila kita duduk disini mereka merasa kita mendesak agar adek segera dipindahkan," ajak Elvino karena dia ingin merebahkan tubuhnya terlebih dahulu.
Semalaman mereka hanya duduk di kursi tunggu rumah sakit. Setelah kepergian Dokter Rani tadi malam. Elvino di ledek oleh kedua Arya untuk menghilangkan rasa kantuk mereka yang hanya bertiga.
Elvino yang diejek malah sibuk berbalas pesan pada Adelia. Agar pagi ini datang ke rumah sakit bersama orang tuanya dan si buah hati.
Dia mau memperkenalkan sang istri pada Dokter Rani. Agar suatu saat nanti tidak menjadi kesalah pahaman. Takutnya tiba-tiba saja mantan kekasihnya itu kembali menjenguk Raya atau memang sengaja mencarinya.
Bukan Elvino tidak mau mengakui bahwa dia sudah menikah. Namun, ingin langsung menunjukan buktinya. Soalnya dari mantan-mantan pacarnya selama ini. Apabila dia mengaku sudah menikah, kecuali yang mengetahui pesta mewah pernikahannya bersama Adelia. Tidak ada yang percaya jika sang Playboy cap kampak bisa menikah dengan satu wanita.
"Iya," jawab Arya menurut saja. Ke-dua pemuda itu kembali ke ruang perawatan. Sambil menunggu kedatangan keluarga mereka dan juga Raya.
Setibanya di dalam kamar tersebut Elvino langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur khusus bagi keluarga yang menunggu.
Sedangkan Arya hanya duduk di sofa sambil mengeluarkan ponselnya untuk mengecek pekerjaan yang sudah dikirim oleh sekertaris ayahnya sejak tadi malam.
"Ar, jika adek sudah dipindahkan. Tolong bangunkan aku ya. Mataku seperti kena lem, sangat mengantuk," pesan Elvino yang sudah memejamkan matanya sambil memeluk bantal guling.
"Iya, Kakak tidur saja. Ada aku yang akan menjaga Raya," jawab Arya karena merasa kasihan juga pada kakak iparnya.
Tidak ada jawaban lagi dari si mantan playboy cap kampak, karena pemuda tampan itu sudah tidur dengan nyenyak.
"Semoga istriku cepat sadarnya. Aku ingin meminta maaf karena sudah membuatnya menderita seperti ini," do'a Arya yang menyimpan kembali ponselnya ke atas meja lalu dia ikut baring diatas sofa.
Mata Arya juga sangat mengantuk. Jadi mengurungkan niat untuk memeriksa pekerjaannya.
Namun, baru saja dia hampir tertidur. Pintu ruangan tersebut sudah dibuka dari luar. Ternyata Tim dokter terpilih sudah datang bersamaan dengan Raya yang baring diatas ranjang pasien.
"Maaf, Tuan Muda. Kami sudah menganggu waktunya," kara Dokter Febi ikut bersama dokter lainya.
"Iya tidak apa-apa," jawab Arya langsung berdiri menyambut penuh rasa bahagia istrinya. Setibanya di dalam para dokter itupun mulai memperbaiki posisi Raya. Begitu pula dengan infus pada tangan gadis itu yang masih terlihat pucat.
"Tuan Muda, sekarang keadaan Nona Raya sudah stabil dan kita tinggal menunggunya siuman. Semoga saja hari ini nona sudah bangun dari tidur panjangnya," terang Dokter Mirza sebagai dokter yang bertanggung jawab penuh atas perawatan Raya.
"Namun, apabila dia sudah sadar nanti, kalian harus memberi tahu kami secepatnya. Cukup tekan saja tombol berwarna hijau itu, karena salah satu dari kami akan segera datang ke sini," ucapnya lagi karena mereka juga ada pasien lainnya.
Jadi berhubung keadaan si putri bungsu sudah melewati masa kritisnya. Mereka semua ada waktu untuk pasien yang lain.
"Iya, Dok. Terima kasih karena kalian semua yang sudah bersusah payah membantu kami," jawab Arya mengagguk mengerti. Arya memang tidak membangunkan Elvino karena tidak mau menganggu tidurnya.
"Sama-sama Tuan Muda. Ini semua sudah menjadi tangung jawab kami. Anda tidak perlu sungkan. Kalau begitu kami tinggal dulu, ya. Selamat pagi," kata Dokter Mirza diikuti oleh dokter lainya, dan hanya tinggal Arya saja yang memilih duduk di sisi ranjang. Yaitu pada kursi yang sudah tersedia di sana.
Cup!
"Cepat sembuh ya, ibu hamil ku," ucap Arya mengecup tangan Raya yang tidak di infus. "Aku sangat bahagia karena keadaan mu dan calon anak kita baik-baik saja," lanjutnya merasa lega karena akhirnya bukan hanya Raya yang melewati masa kritis. Namun, juga si calon buah hati.
Walaupun setelah bangun nanti entah seperti apa reaksi istrinya. Arya tidak perduli yang penting sekarang Raya dan anaknya baik-baik saja.
Raya memang berhak marah karena Arya sadar bahwa dia pantas untuk dibenci. Namun, jika untuk berpisah dari sang istri tentu Arya tidak akan pernah melepas gadis itu mau sampai kapanpun. Itulah janjinya pada diri sendiri.
Arya akan berusaha untuk mendapatkan hati Raya. Agar bisa percaya bahwa dia sangat mencintai istrinya.
Sementara itu. Di lobby rumah sakit. Adelia baru saja datang bersama dengan ibu dan ayah mertuanya. Jangan lupakan jika di tampan Eza juga ikut ke rumah sakit.
Namun, Nyonya Risa dan Tuan Arka sudah berjalan lebih dulu sambil membawa makanan untuk Arya dan Elvino. Jadi tinggal Adel yang harus sabar karena Eza tidak mau digendong. Maunya berjalan sendiri.
Akan tetapi bila si tampan berjalan sendiri. Mereka akan lama baru tiba ke tempat yang dituju. Maka dari itu Adel menyuruh kedua mertuanya duluan saja.
"Hai tampan," sapa para perawat degan gemas pada si kecil.
Siapa yang tidak tahu si kecil. Bayi paling lucu, pintar dan tampan seperti papanya. Jangan lupakan satu hal. Eza juga suka tebar pesona.
Itulah yang membuat Adel dan mertuanya khawatir. Karena takut bila si kecil akan mengikuti jejak si papa tampannya, yang telah pensiun menjadi Playboy cap kampak.
"Hai tate tantik," jawab Eza memuji perawat yang memujinya cantik. Sehingga membuat Adel mengelengkan kepalanya.
Semua wanita yang menyapa pasti Eza akan bilang jika orangnya cantik. Padahal kenyataannya terkadang orang tersebut biasa-biasa saja.
Mendengar jawaban Eza lah yang membuat orang-orang semakin senang menggoda si calon pewaris Wijaya group itu.
"Maaf ya sus, anak Saya kadang memang seperti ini," ucap Adelia merasa tidak enak sambil menuntun tangan Eza kerah lift.
"Iya, Nona Muda. Kami sangat gemas pada tuan muda kecil. Jadi bukan salahnya bila balik menggoda kami," jawab perawat tersenyum melihat kepergian ibu dan anak itu.
Namun, baru saja pintu lift mau tertutup. Ada seseorang yang menahannya karena dia juga mau masuk kedalam kotak besi tersebut.
"Maaf, Saya juga mau keatas karena ada barang yang tertinggal," ucap wanita tersebut tersenyum kearah Adelia dan si ibu muda itu juga balas tersenyum. Sebagai bentuk bahwa dia tidak masalah.
"Mama, Eda mau dendong," pinta si kecil merentangkan kedua tangan agar sang mama segera menggendongnya.
"Oh, oke-oke. Baiklah! Ayo Mama gendong," jawab Adelia tersenyum seraya mengendong putranya.
"Hai... Tate tantik," seru Eza tersenyum pada wanita yang satu lift dengan mereka. "Tate Lani, kan?"tebaknya lagi setelah membaca nama tag pada baju dinas wanita itu.
"Hei juga tampan. Wah kamu sudah bisa membaca. Pintar sekali," jawab Dokter Rani tersenyum lebar karena tidak menyangka bahwa anak kecil sebesar Eza sudah bisa membaca dan memiliki wajah yang sangat tampan.
"Iya, Eda dah becal. Ya kan, Ma?"
"Iya, anak Mama sudah besar. Jadi sudah bisa membaca," Adelia tersenyum pada putranya. Sekarang dia tahu kenapa anaknya tiba-tiba minta digendong. Ternyata karena ingin tahu wanita yang ada bersama mereka.
"Da boleh gendong Eda. Tama mama aja," tolaknya malah semakin memeluk leher mamanya.
Si calon pewaris memang seperti itu. Dia sangat ramah dan suka tebar pesona. Akan tetapi tidak mau digendong oleh siapapun. Jika bukan keluarga Wijaya ataupun keluarga dari mamanya.
"Oke-oke! Tante tidak akan mengendong mu. Tapi mau kan jadi keponakan Tante?" Dokter Rani yang sangat menyukai anak kecil terus saja menawarkan Eza agar mau menjadi keponakannya.
"Mau," jawab Eza tersenyum menatap Dokter Rani lalu melihat muka mamanya lagi. "Mama, boyeh kan?"
"Iya, boleh," Adel mengungguk pelan. Soalnya ini bukan hal pertama orang-orang yang baru bertemu ingin menjadi paman atau Tante dari anaknya.
"Kenalkan namaku Rani," setelah mendengar jawaban Adelia dokter muda itu pun langsung memperkenalkan dirinya tanpa berbicara dengan formal.
"Aku Adel," ibu muda itu hanya menjawab singkat.
"Nama yang sangat cantik seperti orangnya. pantas saja anaknya sangat tampan ternyata mamanya pun begitu cantik," puji dokter tersebut.
"Haa... ha... kamu juga sangat cantik," tawa Adelia karena menurutnya Dokter Rani memang sangat cantik.
"Tama-tama tantik, Ma," ucap Eza membetulkan.
"Agh! Eza benar jika kita sama-sama cantik," ucap Adel semakin tersenyum kearah sang putra.
"Hai tampan, sekarang kamu menjadi keponakan Tante ya," sapa Dokter Rani ikut menatap kearah Eza.
"Iya, tapi da boyeh peyuk-peyuk," jawab si kecil tutup poin. Dia jika sudah bicara tidak akan direm lagi. Terserah orang yang mendengarnya mau tersinggung atau tidak.
"Baiklah! Cukup menjadi keponakan saja. Tidak perlu peluk-peluk dan gendong," untungnya dokter muda itu mengerti bahasa Eza. Sehingga Adelia tidak perlu menjadi penerjemah antara putranya dan wanita itu.
"Apakah Eza anak pertama mu? Aku sangat menyukainya. Kita berteman ya, agar bila ada waktu kita bisa jalan-jalan. Supaya bisa lebih dekat lagi," tanya wanita itu yang terlihat begitu girang setiap kali membahas Eza.
"Boleh," jawab Adel berhenti sebelum kembali berkata. "Iya, Eza adalah anak pertamaku. Apakah kamu belum menikah? Atau memiliki keponakan?" sekarang bergantian Adel yang bertanya karena sejak tadi, dokter Rani yang selalu sibuk berbicara.
"Aku belum menikah dan juga tidak memiliki keponakan karena aku adalah anak tertua," saat mereka masih berbicara pintu lift terbuka karena sudah tiba di tempat yang dituju.
"Pantas saja kamu begitu menyukai anak kecil," kata Adel kembali menurunkan putranya yang mau berjalan sendiri lagi.
"Iya, aku benar-benar sangat menyukai anak kecil. Apalagi jika seperti anakmu. Dia sangat menggemaskan. Sumpah demi apapun rasanya pengen aku culik saja," ungkap Dokter Rani apa adanya.
"Papa..." seru Eza berteriak melihat papanya yang berjalan ke arah mereka. Karena Elvino khawatir anak dan istrinya tak kunjung datang. Akhirnya pemuda tampan itu memilih untuk menyusul kebawah. Akan tetapi ternyata baru tiba di depan lift, anaknya sudah berteriak.
"Ugh, sayangnya Papa kenapa lama sekali, huem? Apakah tadi Eza membawa mama berhenti dimana-mana?" tanya Elvino berjongkok untuk mensejajarkan dengan tubuh putranya.
Setelah memberikan ciuman pada pipi kiri dan kanan sang putra. Pemuda itu berdiri lagi sambil menggendong Eza.
"Papa ada tante balu. Namanya Tante Lani," lain yang ditanyakan oleh Papanya. Maka lain pula jawaban si kecil. Dia malah memperkenalkan Dokter Rani pada papanya. Sehingga langsung membuat Elvino mengikuti arah telunjuk tangan kecil Eza.
"Rani," seru Elvino kaget.
"Elvino! Jadi Eza adalah putramu? Pantas saja dia sangat tampan," dokter tersebut juga ikut kaget setelah mengetahui jika Eza adalah anak dari mantan kekasihnya.
"Iya, Eza adalah putraku dan ini Adelia istriku," tidak berbasa-basi lagi Elvino yang takut istrinya mengetahui bahwa Dokter Rani adalah mantan pacarnya langsung saja memperkenalkan keduanya.
"Haha... kami sudah saling kenal dan sekarang kami juga sudah menjadi teman," tawa Dokter Rani karena dia bisa menebak bahwa Elvino pasti takut pada istrinya.
"Iya kan, Adel?" ucapnya lagi meminta persetujuan Adelia.
"Iya, benar sekali. Sekarang kami adalah teman,"
"Kenapa bisa begitu? Kamu---"
"Tentu saja bisa karena kami kan hanya ingin berteman. Bukan mau berpacaran," sela Adel dan dianguki cepat oleh dokter muda tersebut.
"Eum... sayang. Rani ini adalah mantan pa--pacarku," ucap El yang langsung saja memberitahu istrinya.
"Benarkah!" seru Adel kaget dan Elvino hanya mengangguk kecil.
"Iya Adel, aku dan Elvino pernah berpacaran sekitar satu bulan setengah. Namun, setelah putus kami baru bertemu lagi tadi malam. Soalnya aku pindah melanjutkan kuliah di kota asal ayahku," jawab Dokter Rani membenarkan.
"Tapi kamu tidak perlu takut jika aku akan menjadi pelakor, karena aku adalah tantenya Eza," lanjut wanita tersebut karena dia memang tidak mau merebut siapapun apabila sudah menjadi milik orang lain.
"Eza, mau kan jadi keponakan Tante Rani?" entah mengapa begitu melihat si calon pewaris Wijaya group. Rani sangat ingin menjadi tante dari anak laki-laki itu.
"Boyeh," Eza menjawab cepat. Tanpa meminta persetujuan dari kedua orang tuanya lagi. Jika Adel memang sudah mengatakan boleh. Namun, jika papanya belum berkata apapun.
"Papa, boyeh kan?" tanyanya pada sang ayah.
"Iya, boleh," El menjawab singkat. "Rani kami duluan ya, soalnya sudah ditunggu oleh keluargaku," pamit pemuda itu sudah mengandeng mesra tangan istrinya dan satu tangannya mengendong Eza.
"Iya, pergilah karena aku juga mau mengambil sesuatu di ruangan kerjaku. Tapi lain kali kita bisa mengobrol lagi," jawab Dokter Rani yang sama ingin cepat-cepat karena sopirnya sudah menunggu di Lobby rumah sakit.
"Sayang, ayo," ajak Elvino menarik lembut tangan istrinya.
"El, dia mantan pacarmu yang keberapa?" tanya Adelia sambil mengikuti langkah suaminya.
"Entahlah! Jangan tanyakan padaku dan tidak usah membahas mantan pacar yang telah menjadi masa lalu, sayang. Kerena kamu adalah masa depanku," jawab Elvino melepaskan genggaman tangannya karena harus membuka pintu ruang rawat intensif adiknya.
"Ya-ya! Anda pemenangnya, Tuan Muda Elvino," imbuh Adel karena dia sangat tahu bahwa suaminya itu tidak akan pernah mengkhianati pernikahan mereka lagi.
"Pagi, Ar. Bagiamana keadaan mu?" sapa Adel pada adik iparnya yang kebetulan baru mau jalan ke arah supa untuk sarapan. Dengan makanan yang dibawakan oleh mertuanya.
"Pagi juga, Kak. Keadaanku jauh lebih baik karena Raya juga benar-benar sudah melewati masa kritisnya," jawab Arya dengan begitu sopan.
"Syukurlah, karena inilah yang kita harapkan. Agar dia bisa pulih seperti biasanya," kata Adel yang sama khawatir dengan keluarga yang lainnya. Karena dia benar-benar menyayangi Raya seperti mana pada adiknya sendiri.
"Adel, sayang. kamu dan Eza Kenapa lama sekali? Apakah sekecil ini membawamu mutar-mutar di lobby rumah sakit?" tanya Nyonya Risa yang duduk di samping tempat putrinya.
"Bukannya muter-muter, Ma. Tapi Eza suka mengajak berhenti untuk melihat sesuatu yang menurutnya aneh," jawab Adel tersenyum.
"Agh, tidak heran. Saat Mama dan papa membawanya ke mall waktu itu juga sama. Apalagi bila dibiarkan berjalan sendiri," ujar beliau sudah bisa tersenyum seperti hari-hari biasanya. Karena tadi Arya sudah menjelaskan seperti apa keadaan putrinya yang hanya tinggal menunggu siuman dan pemulihan selanjutnya.
"Kak, ayo makan," ajak Arya pada kakak iparnya. Namun, dia sendiri belum jadi makan karena malah menarik pelan tangan Eza agar duduk di pahanya.
"Iya, ini juga mau makan," jawab Elvino ikut duduk. Sedangkan Adel langsung berjalan mendekati ibu dan adik iparnya.
"Eza, jangan mengganggu om Arya mau sarapan. Sini makannya sama Papa saja," ucap si playboy cap kampak agar putranya tidak mengaggu Arya.
Soalnya setelah makan nasi goreng yang dibeli olehnya tadi malam. Mereka berdua tidak ada memakan makanan lainnya. Padahal ada berbagai cemilan maupun roti apabila mereka mau.
"Eda mau tama Om Alya," tolak Eza tetap duduk dipangkuan Arya yang dipanggil Om Alya. Karena sampai saat ini Eza juga belum bisa menyebut huruf R.
"Sudah, Kakak makan saja. Eza biar makan denganku," ucap Arya mulai menyuapi makanan ke dalam mulutnya dan Eza. Soalnya si kecil memang tidak banyak pilih makanan.
"Om Alya, tadi ada Tate Lani yang tantik," tunjuk Eza kearah pintu keluar. Sehingga membuat Elvino tersedak makanannya sendiri.
Uhuuk!
Uhuuk!
"El, pelan-pelan makanya. Kenapa seperti anak kecil," tegur Nyonya Risa yang mengira kalau Elvino makannya buru-buru.
"I--iya, Ma," jawab Elvino meminum air mineral yang ada di botol.
"Eza, tidak boleh bicara Tante Rani lagi. Nanti mamamu bisa-bisa marah pada Papa," si playboy cap kampak memperingati putranya yang hanya tersenyum tampan.
"Kak, kenapa Eza bisa kenal Rani? Dokter Rani tadi malam, atau Rani yang lainnya lagi?" tanya Arya mengerti ucapan Eza.
"Iya, Rani tadi malam. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Namun, saat aku menyusul mereka. Tepatnya di depan lift. Di sana ada Rani juga dan ternyata dia dan kakak iparmu sudah saling berkenalan,"
"Hah! Kok bisa? Jangan bilang jika ini pasti gara-gara..." tebak Arya yang tidak melanjutkan lagi ucapnya. Karena Elvino sudah mengangguk bahwa dugaan Arya benar.
"Iya, ini pasti gara-gara Eza yang tebar pesona pada tante-tante," keluh Elvino yang membuat Tuan Arka tertawa mendengarnya.
... BERSAMBUNG... ...