Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Uang Bisa Dicari.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


...HAPPY READING......


.


.


"Apakah kamu---"


"Iya, aku tadi ditelepon Kak Elvino. Katanya kamu sakit dan dibawa ke sini," sela Arya seraya melepaskan pelukannya.


"Sekarang ayo telepon Paman Abraham dan katakan bahwa kita tidak jadi berpisah," pintanya sesuai ucapan Raya tadi.


"Tapi---"


Cup!


"Jangan menyiksa dirimu sendiri, jika kamu memang masih mencintaiku kenapa kita harus berpisah? Kenapa yang sekiranya mudah harus dipersulit?" Arya lagi-lagi memotong ucapan Raya dan kali ini degan cara ia kecup sekilas bibir Raya.


Sehingga membuat gadis itu benar-benar diam dan menatap lekat padanya.


"Aku mengaku bersalah sudah membuatmu kecewa. Maka tolong beri aku kesempatan untuk terakhir kalinya. Mari kita mulai semuanya dari awal. Bukannya kamu sendiri tadi yang bilang tidak mau anak kita hidup tanpa seorang ayah. Kalau begitu, cabut gugatannya, kita mulai semuanya mulai dari rumah sakit ini," ucap Arya karena Raya masih diam saja.


"Percayalah, walaupun aku pernah berpacaran dengan Manda. Tapi aku belum pernah memeluk ataupun sekedar memegang tangannya. Kecuali malam itu. Jadi jangan cemburu lagi, karena aku tahu kamu bukan hanya kecewa padaku. Tapi... lebih tepatnya kamu masih cemburu karena aku dipeluk oleh wanita lain," imbuh pemuda itu menyeka sisa air mata di pipi Raya.


"Karena aku hanya mencintaimu dan bodohnya aku tidak menyadari perasaan tersebut. Jadi sudah ya, marah nya," mendengar Arya berbicara panjang kali lebar.


Raya yang tahu bahwa semua yang dikatakan oleh suaminya adalah benar. Bahwa dia sebetulnya begitu cemburu pada Manda. Makanya tidak mau memberi Arya kesempatan. Akhirnya mengangguk setuju.


Sebagai jawaban bahwa dia mau memberi Arya kesempatan. Karena dia pun masih mencintai pemuda itu. Hanya saja keegoisan yang telah disakiti, membuat Raya menjadi keras kepala tidak mau mendengar saran dari siapapun.


"Terima kasih!" Arya menarik Raya untuk dia peluk lagi. "Aku berjanji tidak akan mengecewakan mu lagi," janjinya dan hanya dianguki oleh Raya.


Lama mereka berada dalam ruangan VIP yang seharusnya tempat menyembuhkan pasien. Namun, hari ini justru menjadi ruangan menyatukan dua insan yang hendak mengakhiri pernikahan mereka.


Semua itu bisa terjadi atas rencana Elvino. Si mantan playboy cap kampak tidak akan membiarkan adiknya berpisah karena tahu semua itu adalah hasil dari perbuatanya juga.


"Ayo kita pulang, untuk apa diam disini. Tapi temani aku ke perusahaan kakak dulu, ya," ajak Arya setelah melepaskan pelukannya dan Raya juga sudah berhenti menangis.


"Mau apa? Kenapa tidak langsung pulang saja?"


"Mobilku hilang. Aku harus tahu dulu kemana perginya, karena dari rekaman CCTV parkiran perusahaan. Mobilku belum ada keluar dari kawasan itu," jawab Arya.


Saat ini mereka sudah keluar dan berjalan menuju lift. Soalnya Elvino dan sekertaris pribadinya tidak ada di kursi tunggu.


"Bukannya mobilmu sudah mengalami kecelakaan dan langsung meledak?"


"Hah? Siapa yang membawanya? Kuncinya juga ada disini?" Arya merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci mobilnya.


"Sedangkan kunci satunya bukankah kamu yang menyimpan di Apartemen?" bukan hanya Arya yang binggung. Namun, juga Raya yang langsung membuat gadis itu mengeluarkan ponselnya untuk melihat foto mobil Arya yang sudah hangus dimakan si jago merah.


"Ini, bukannya adalah mobilmu dan sisa barang yang terbakar ini adalah milikmu yang tadi pagi kamu masukan kedalam koper?"


"Astaga! Iya, ini mobilku? Kenapa bisa meledak? Siapa yang memb---" Arya tidak melanjutkan ucapannya.


"Kak Elvino, pasti dia pelakunya," seru Arya yang membuat Raya tersenyum dibuatnya.


"Apakah Kakak mengorbankan mobilnya agar kita tidak berpisah?" tebak Raya yang tidak menyangka bahwa kakaknya akan bertindak sejauh itu.


"Sepertinya," Arya hanya mengangkat bahu sebagai jawaban bahwa dia kurang tahu juga.


"Tunggu! Ini Kakak menelepon," Raya menahan tangan Arya karena sekarang mereka sudah keluar dari lift.


"Angkat saja," Arya berdiri disamping istrinya.


πŸ“± Raya : "Iya, kak? Kami baru keluar dari lift. Ada apa?" tanya gadis itu setelah sambungan telepon mereka terhubung.


πŸ“±Elvino : Oh, Kakak kira kalian masih menangis di ruang VIP. Langsung pulang ke rumah utama dengan pengawal yang ada di luar," jawab El yang sudah mengejek adiknya lebih dulu.


πŸ“± Raya : "Awas ya, berani sekali Kakak membohongi kami. Iya, ini Raya sama Arya akan pulang ke rumah," setelah itu Raya menutup teleponnya dan menoleh pada Arya.


"Ayo kita pulang ke rumah utama. Kakak sudah menunggu di rumah," ajaknya yang dianguki oleh Arya.


Mereka tidak akan jadi berpisah. Jadi tentu dengan senang hati dia mengikuti kemanapun istrinya mengajak.


Setibanya di luar mereka langsung masuk kedalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh pengawal. Selama dalam perjalanan Arya terus memeluk Raya dari samping. Bila sejak awal ada pilihan harus kehilangan mobil mewahnya jika mau berbaikan dengan Raya.


Tentu dia sudah melakukan hal tersebut. Arya rela kehilangan perusahaan sekalipun. Daripada harus berpisah dengan istrinya dan anaknya.


Kurang dari dua puluh menit. Mobil yang membawa mereka sudah tiba di rumah mewah keluarga Wijaya. Arya turun lebih dulu untuk membantu istrinya.


"Ar, ini mobil siapa? Bukan mobilmu, kan?" tanya Raya pada sebuah mobil Lamborghini Veneno yang berwarna sama dengan mobil Arya.



"Bukan! Mungkin ini mobil tamu kakak," jawab Arya sudah mengandeng mesra tangan Raya masuk kedalam.


Saat tiba diruang tamu ternyata tidak ada siapa-siapa. Padahal ada mobil adik-adik Tuan Arka juga. Akan tetapi begitu sampai di ruang tengah, mereka lagi berkumpul di sana semua.


Termasuk Nyonya Risa yang masih lemas karena beliau hampir drob setelah mendengar Arya mengalami kecelakaan.


"Selamat siang semuanya," ucap pasangan suami-istri itu serempak.


"Iya, siang juga. Wah sepertinya rencana Kak Elvino berhasil," ucap Arya Wiguna yang baru datang melihat keadaan tantenya yang drob.


"Adek kenapa?" El berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.


"Kakak..." dikira semuanya Raya akan marah. Tapi justru malah berjalan mendekati kakaknya yang lagi duduk disamping mama mereka dan memeluknya.


"Kenapa Kakak melakukannya? Kenap Kakak harus berbohong seperti ini?" tanya Raya menagis.


Bukan hanya Raya yang berjalan mendekati sang mantan Playboy cap kampak. Tapi juga Arya. Pemuda itu juga berjalan mendekati istri dan kakak iparnya.


"Jika tidak seperti ini, maka kamu tidak akan mencabut gugatannya, kan?" jawab Elvino tersenyum seraya melonggarkan pelukan mereka karena adik iparnya juga mendekat.


"Kak," seru Arya karena sekarang Elvino memeluk kedua adiknya.


"Kakak yang membuatmu melakukan semuanya. Sehingga rumah tangga kalian jadi berantakan. Maka Kakak akan memperbaikinya, karena Kakak tidak mau anak kalian lahir tanpa orang tua yang lengkap," ucap Elvino mengelus punggung Arya dan Raya.


"Semua orang pernah melakukan kesalahan. Lebih baik hitam dulu, baru putih. Daripada sudah benar sejak awal, lalu ujung-ujungnya tidak benar," lanjutnya lagi yang sudah menjelma duplikat Tuan Arka.


"Iya Kak, terima kasih sudah mau memberiku kesempatan," jawab Arya setelah melepaskan pelukan mereka bertiga.


"Ar, jika kalian tidak bisa berbaikan juga. Kak El ruginya banyak. karena sudah meledakan uang tujuh milyar dan harus menggantinya dengan harga delapan milyar," timpal Arya Wiguna tertawa diikuti oleh keluarga yang lainya.


"Asalkan keponakan ku memiliki orang tua lengkap, maka tidak masalah habis sepuluh milyar sekalipun. Karena bila uangku kurang, aku akan minjam sama papa atau pada Om Ari," jawab Elvino santai.


"Tidak punya modal," cibir Raya duduk disamping mamanya. Sedangkan Arya duduk di samping Arya Wiguna.


"Ck, Kakak bukan tidak punya modal, tapi uangnya yang tidak ada," jawab El yang sebetulnya tidak akan pernah kekurangan uang karena perusahaan Wijaya group sudah berada di puncak kejayaan.


"Mama... maafkan Raya," ucap si putri bungsu merasa bersalah pada ibunya yang kembali drop karena masalah dia dan Arya.


"Iya, tidak apa-apa. Mama hanya tidak ingin kamu menyesali keputusan mu sendiri, Nak. Mama tahu bahwa kamu masih mencintai Arya," Nyonya Risa tersenyum mengelus kepala putrinya.


Sebab sebagai orang tua, tentu mereka tahu Raya sangat mencintai Arya. Apabila perpisahan tersebut terjadi. Pasti Raya juga akan tetap tersiksa.


"Ar, ini kunci mobilmu yang baru. Tapi jika barang-barangnya yang terbakar Kakak tidak bisa menggantinya. Kamu modal sendiri saja untuk membeli yang baru. Karena untuk menganti mobilmu, Kakak sudah tekor satu milyar," Elvino melempar kunci mobil pada Arya yang langsung ditangkap oleh pemuda itu karena kebetulan tempat duduk mereka tidak berjauhan.


"Apakah mobil diluar adalah mobil Arya yang Kakak ganti?" Raya yang bertanya.


"Iya, yang warna seperti mobil Arya hanya ada satu dan itupun pesanan orang. Namun, karena Kakak berani membayar delapan milyar, jadi bisa membelinya hari ini," jawab Elvino tersenyum.


"Namanya sudah melakukan kesalahan, jadi itu adalah resiko mu. Kamu yang salah sudah memiliki banyak pacar, jadi inilah akibatnya," ucap Tante Anita yang dibenarkan oleh Tante Anis juga.


"Haa... haa... Om Arka harus menjaga Eza tu. Si bayi kan sukanya tebar pesona," tawa Arya yang membuat Eza menangis karena dia tidak suka bila dibilang bayi tebar pesona.



"Eda, bukan bayi, tapi dah becal," tagis si tampan Eza yang begitu tampan meskipun masih kecil.


"Haa... ha... baru kali ini ada bayi, tapi menolak dipanggil bayi," sekarang Raya yang mengejek keponakannya. Hal yang sudah jarang ia lakukan karena begitu pusing dengan masalahnya dan Arya.


"Onty duga nangis dah becal," jawab Eza tidak mau kalah. Namanya juga anak si playboy cap kampak.


"Onty menangis gara-gara papa mu, ya. Agh! Onty lupa jika anak bayi kan memang tidak tahu kenapa orang dewasa bisa menagis," Raya kembali mengejek Eza sebagai bayi.


Sehingga ruangan tersebut menjadi ramai karena Eza menangis degan suara kencang. Selain tidak mau dipanggil bayi, dia juga sudah mengantuk.


"Adek, awas ya, nanti anak kalian kakak suruh Eza mengaggu nya," ancam Elvino sudah berdiri untuk mengendong putranya.


Adel memang membiarkan anaknya menangis karena bila bukan Elvino atau Tuan Arka yang mengendong nya. Maka Eza tidak akan mau diam. Eza begitu manja pada opa dan papanya.


"Cup-cup! Sudah ya, sayang. Nanti bayinya Onty kita buat dia menangis juga," ucap Elvino menggendong Eza karena dia juga tahu jika putranya mengantuk mau tidur siang.


"Sayang, ayo kita ke kamar. Eza mau tidur," ajaknya pada Adelia dan langsung diiyakan oleh wanita itu.


"Mama istirahat, jangan banyak pikirkan. Om, Tante, kami ke kamar dulu," pemit El pada keluarganya.


"Agh! Bilang saja Kakak mau berduaan sama Kakak ipar," ejek Raya yang membuat El hanya menjulurkan lidah.


"Sudah-sudah! Seperti anak kecil saja. Kapan kalian besarnya," Tuan Arka yang sejak tadi diam. Sekarang menjadi penegah untuk kedua anaknya.


"Haa... ha... adek tu yang seperti anak kecil," jawab Elvino yang sudah ditarik oleh Adel karena Elvino, Raya dan Eza. Itu tidak ada bedanya. Mereka akan terus saling ejek.


Kleeek!


"Sudah tidur," tanya Adel sambil membuka pintu kamar mereka yang masih belum pindah ke lantai atas.


"Iya, perbaiki bantalnya. Eza menangis seperti tadi karena dia sudah mengantuk," jawab si playboy cap kampak menidurkan pelan anaknya.


"Sepertinya iya," Adel hanya membeberkan.


"El, terima kasih," ucap wanita itu menatap pada Elvino yang berjalan mendekatinya karena putra mereka sudah tidur.


"Buat?"


"Buat pengorbanan mu untuk menyatukan hubungan Raya dan Arya,"


"Sudah tugasku untuk memastikan agar keluargaku selalu bahagia. Karena jika harta bisa dicari lagi," jawab Elvino sudah menarik pinggang ramping istrinya. Hal yang selalu ia lakukan apabila lagi bersama.


Soalnya Elvino adalah merupakan suami romantis dan ayah idaman di dunia halu. Dia bisa menjelma menjadi sosok yang menjengkelkan dan bisa tegas bila sedang menyelesaikan masalah.


Makanya di perusahaan Wijaya group maupun orang-orang yang bekerjasama dengannya. Semuanya segan pada si playboy cap kampak yang dulunya adalah anak pemalas yang selalu bergonta-ganti pasangan.


... BERSAMBUNG... ...