Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Model Dadakan.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


...HAPPY READING......


.


.


"Saya rasa model bernama Riko ragu bahwa produk kita akan laku, Tuan Muda," jawab Pak Romi setelah mereka berdua berada di dalam lift menuju ke lantai tempat kantor Presdir perusahaan Wijaya group berada.


"Bukan! Ini semua pasti ulah Manuel. Apakah Alisa nya ada?" bantah Elvino karena pasti orang-orang yang sudah khianat akan melakukan berbagai macam cara untuk menggagalkan rencana Elvino.


"Ada, dia sudah melakukan pemotretan sebentar. Namun, setelah mendapatkan kabar bahwa Riko tidak datang dan mengundurkan diri. Tim studio mulai heboh dan untuk sementara pun sedang dihentikan."'


"Lalu apakah Pak Ari tidak ada menghubungi kita lagi?"


"Sudah Tuan Muda, Pak Ari pun sangat kecewa pada modelnya itu. Sekarang beliau sedang mengusahakan mencari model lain. Mana tahu ada yang tidak memiliki jadwal pemotretan di tempat lain hari ini.


"kalau begitu bantu Pak Ari mencarikan model. Dari mana saja yang jelas hari ini pemotretan harus selesai. Sehingga besok pagi kita mulai mempromosikan produk Wijaya Group." sambil berjalan keluar dari lift albino langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Ttttddd!


Ttttddd!


πŸ“± Elvino : "kenapa kamu lama sekali mengangkatnya? Apakah tidak tahu jika ini sangat penting." tanya Elvino begitu sambungan tersebut sudah terhubung.


πŸ“± Aiden : "Ck, setelah dua hari tidak ada kabarnya. Lalu begitu menelpon ingin cepat-cepat diangkat, dasar mantan Playboy." decak Adriel sambil mengejek sahabatnya.


πŸ“± Elvino : "Sudahlah, nanti saja jika ingin mengejekku. Sekarang tolong hubungi Dea kekasihmu. Apakah dia memiliki teman model laki-laki yang tidak bekerja hari. Jika ada maka suruh datang ke perusahaan Wijaya group sekarang juga. Aku tidak memiliki banyak waktu."


πŸ“± Aiden : "Ada apa? Bukannya katamu kemarin akan memakai jasa dari agensi Pak Ari. Lalu kenapa mencari model lain?"


πŸ“± Elvino : "Pokoknya ceritanya panjang, nanti saja akan aku jelaskan, yang jelas katakan pada Dea bahwa perusahaan Wijaya group akan membayar model tersebut di muka. Bukan sistem kontrak, karena kami akan mengontraknya apabila produk tersebut laris di pasaran."


πŸ“± Aiden : "Oh, baiklah! kalau begitu tunggu aku menghubungi kekasihku dulu. nanti aku akan menghubungimu lagi," setelah berkata demikian Aiden pun memutuskan sambungan telepon mereka terlebih dahulu, karena dia tahu bahwa Elvino benar-benar lagi serius.


"Pak Romi tolong beri perintah pada petinggi perusahaan kita. Untuk membantu mencari kenalan model yang bisa kita pakai hari ini. Saya juga akan membantu mencarinya sendiri." ujar Elvino sebelum masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Sedangkan Pak Romi juga kembali ke ruangan kerjanya. Untuk menghubungi para petinggi perusahaan Wijaya Group. Namun, yang jelas bukanlah orang-orang Manuel atau para pengkhianat perusahaan.


"Selamat pagi Tuan Muda. Apakah Anda membutuhkan kopi?" tanya Sekretaris Eris yang biasa berjaga di samping pintu masuk ruangan presdir.


"Pagi juga, Eris. Iya, tolong buatkan Saya kopi seperti biasanya dan nanti kamu langsung masuk saja antarkan ke dalam." jawab si tampan. Soalnya dia memang merasakan kantuk karena kurang tidur. Gara-gara istri tercintanya merasakan panas di pinggang.


"Brengsek berani-beraninya mereka mencoba ingin menggagalkan rencana ku. Tidak akan aku biarkan keinginan kalian tercapai. Apabila produk ini laku di pasaran. Maka tamatlah riwayat kalian semua, karena aku akan menendang kalian dari perusahaan Wijaya Group." gumam kecil Elvino saat masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Lalu dia pun langsung menuju ke meja kerja dan duduk di kursi kebesaran perusahaan tersebut.


"Hendra, iya! Kalau tidak salah dia juga memiliki kenalan agensi yang bekerja sama dengan perusahaannya." membuang-buang waktu lagi Elvino pun langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Hendra sang sahabat.


Ttttddd!


πŸ“± Hendra : "Iya, selamat pagi sayang! Ada apa? Aku kira kamu sudah melupakanku." goda Hendra yang langsung mengangkat panggilan tersebut karena kebetulan sekali Dia baru saja mau menghubungi Elvino.


Yaitu untuk membicarakan tentang masalah model yang dibutuhkan perusahaan Wijaya Group. Soalnya Aiden juga sudah memberi tahu dirinya.


πŸ“± Elvino : "Agh, lebih baik aku menjadi jomblo daripada aku menjadi kasihmu. Lagian aku juga sudah memiliki istri yang lebih dari kata sempurna." jawab Elvino yang membuat Hendra menjadi tertawa.


πŸ“± Hendra : "Ha.. haa.. iya, iya! Si Playboy yang sudah bertemu pawangnya. Yaitu si bidadari cantik yang baru pulang bekerja."


πŸ“± Elvino : "Dra, aku membicarakan sesuatu yang penting kenapa kamu malah bercanda."


πŸ“± Hendra : "Maaf-maaf! Aku jadi lupa gara-gara membicarakan Playboy yang sudah tobat. Sekarang ayo katakan, apakah kalian sudah menemukan model pengganti dari Agensi Pak Ari?"


πŸ“± Elvino : "Nah itu dia masalahnya, makanya aku menelpon dirimu. Apakah Aiden yang memberitahumu? cepat sekali!


πŸ“± Hendra : "Iya, setelah kamu menelpon dirinya. Aiden pun menelpon diriku lagi. Ketahuilah El, kami ini adalah sahabat terbaikmu. Jadi mana mungkin akan diam saja saat perusahaan Wijaya Group berada dalam masalah."


πŸ“± Elvino :" Huem, aku tahu itu. Jadi bagaimana? Apakah kamu sudah mencari tahu model yang bisa dipakai oleh perusahaan ku?"


πŸ“± Hendra : ""El, aku sudah menelepon salah satu agensi yang bekerjasama dengan perusahaan ku. Apa kamu tahu berita apa yang aku dapatkan saat menanyakan model untuk perusahaan Wijaya Group?"


πŸ“± Elvino : "Tidak! Mana aku tahu, karena kamu saja belum memberitahuku."


πŸ“± Hendra : "Setelah mengetahui bahwa perusahaan Wijaya group sedang berada dalam masalah, karena harga saham yang menurun. Hampir dua puluh persen perusahaan saingan kalian meluncurkan produk baru juga. Namun, entah dari jenis apanya aku juga tidak diberitahu."


πŸ“± Elvino : "Apa! Benarkah seperti itu? itu berarti para model dari berbagai agensi sedang melakukan pemotretan juga?" tebak si tampan tanpa harus dijelaskan oleh Hendra sahabatnya.


πŸ“± Hendra : "Iya, benar sekali. Mereka memakai jasa kontrak langsung. Jadi kamu sudah tahu kan bahwa tidak ada harapan untuk bisa merekomendasikan model dari agensi-agensi yang kukenal."


Elvino : "Huh! Elvino menghembuskan nafas kasarnya. "Baiklah! Tidak apa-apa! Semoga saja orang-orang Wijaya bisa menemukan model pengganti secepatnya. Soalnya jika memang perusahaan lain juga mengeluarkan produk terbaru. Maka terlambat sedikit saja, maka produk dari perusahaan Wijaya group akan langsung tenggelam tidak sempat berada di pasaran lagi."


πŸ“±Hendar : "Itulah masalahnya.Tapi El, Apakah kamu tidak curiga dengan pengunduran Riko? Seharusnya apabila mereka dari agensi seperti perusahaan besar. Tentu tidak akan segampang itu mengundurkan diri. Walaupun hanya gara-gara masalah kontrak atau tidaknya."


πŸ“± Elvino : "Tentu saja karena para pengkhianat Wijaya Group. Namun, sekarang aku tidak memiliki kekuatan buat menghancurkan mereka. Makanya aku berharap besar supaya produk kali ini bisa masuk pasaran jual beli."


πŸ“± Hendra : "El, kenapa kamu tidak langsung bertindak saja? Bukankah katamu hasil penyelidikan dari Pak Pram. Juga para polisi telah memegang bukti-bukti kuat untuk menjerat mereka dengan hukum pasal berlapis.


πŸ“± Elvino : "Hendra, sekarang perusahaan Wijaya group sedang terkena guncangan yang cukup besar. Namun, tidak dapat dilihat oleh sebagian orang lain dari luar. Apabila aku memasukkan mereka semua ke penjara sekarang. Dalam posisi perusahaan tidak stabil. Maka sudah pasti harga saham ku akan semakin turun. Lalu dari mana aku mendapatkan uang? Agar bisa tetap berjalan setidaknya bisa bertahan untuk sementara waktu." terang Elvino karena dia sudah memikirkan apa dampak apabila melaporkan Manuel sekarang juga.


πŸ“±Elvino : "Jika aku bisa melakukannya sekarang, maka buat apa harus diam dan bersantai. Sekarang begitu banyak masalah yang harus aku hadapi. Selain perusahaan Wijaya group aku juga harus memantau terus keadaan papa. Begitupun juga dengan istriku," ungkap si tampan dengan suara beratnya.


πŸ“± Hendra : 'Iya, aku mulai mengerti sekarang bersabarlah. Aku dan Aiden pun tidak akan tinggal diam. Apalagi membiarkan dirimu melewati semuanya sendiri. Jika kamu membutuhkan dana untuk saat ini, katakan saja. Karena papaku sudah bilang bahwa kami akan mengajukan kerjasama dengan kalian."


πŸ“± Elvino : "Iya, sekali lagi terima kasih Maaf sudah merepotkan kalian. Sekarang aku tutup dulu teleponnya, karena ada yang datang ke ruangan ku."


πŸ“± Hendra : 'Oke, matikan saja, karena aku juga masih berusaha menghubungi yang lainnya. Mana tahu bisa membantu dirimu." jawab Hendra mengiyakan.


Lalu Elvino yang mendengar pintu ruangannya diketuk sejak tadi pun, langsung memutuskan sambungan telepon mereka.


"Masuk!" titah Elvino pada orang yang berada di luar ruangannya.


Pintu ruangan itu pun terbuka lebar. Ternyata yang datang adalah Sekretaris Eris yang mau mengantarkan kopi. Namun, dibelakangnya ada Pak Andes diikuti juga oleh Pak Romi.


"Maaf, sudah mengganggu waktunya Tuan Muda. Tapi sekarang kita berada dalam masalah baru." Pak Andes langsung saja mengatakan maksud kedatangannya.


"Iya, tidak apa-apa. Mari silakan duduk dan katakan pada Saya, apa masalahnya?" El berdiri dari tempat duduknya, karena dia akan pindah ke sofa bersama dua orang petinggi perusahaan Wijaya Group.


"Maaf, Tuan Muda. Saya mau mengantarkan ini." ucap Sekertaris Eris meletakkan kopi di atas meja yang akan diduduki oleh Elvino


"Letakan saja," El hanya bicara singkat. "Pak Romi, Pak Andes. Apakah mau memesan kopi juga? Biar sekalian dipesankan oleh Sekretaris Eris?" tanyanya Elvino pada kedua orang yang seumuran dengan ayahnya.


"Tidak, terima kasih," tolak kedua laki-laki tersebut. Setelah Sekertaris Eris keluar dari sana Pak Andes langsung saja berbicara.


"Tuan Muda, kami sudah berusaha untuk mendapatkan model pengganti. Namun, semuanya tidak ada yang mau melakukan kerjasama. Yaitu dengan alasan bayar dimuka, karena mereka meminta sistem kontrak semua." ucap Pak Andes karena dia belum tahu bahwa Elvino sudah mengetahui hal tersebut.


"Iya, Saya tahu itulah yang menjadi alasan mereka. Lalu masalah barunya apa?" si tampan kembali bertanya.


"Masalah barunya produk lama kita yang dikirim ke luar negeri, yaitu ke perusahaan tuan Ameer. Mendadak di stop dulu. Mereka beralasan yang di sana belum habis terjual." Pak Romi yang menjawab.


"Astaga! Manuel benar-benar keterlaluan. Pantas saja putranya berangkat ke luar negeri kemarin siang." El mengusap wajahnya kasar.


"Apa? Jadi Anaknya tidak masuk bekerja karena mau menemui Tuan Ameer?" seru dua laki-laki tersebut karena mereka memang tidak mengetahui hal itu.


"Huem, iya," Elvino menjawab singkat sambil berpikir sesuatu.


"Anda minum saja kopinya, Tuan Muda. Kita memang dalam keadaan terjepit. Namun, ketenangan Anda adalah nomor satu saat ini, karena perusahaan Wijaya Group benar-benar bergantung pada Anda, Tuan Muda." kata Pak Andes merasa tidak tega melihat El sudah bersusah payah untuk menyelamatkan harga saham mereka semuanya.


"Iya, baiklah! Saya memang sangat mengantuk karena istri Saya susah tidur bila malam hari." Elvino pun langsung minum kopinya dengan pelan.


"Jika produk kita tidak bisa dipromosikan. Maka untuk masuk ke pasaran itu sangat tidak mungkin." lanjut Pak Romi setelah El meletakan kembali gelas kopinya.


"Sekarang Tim pemotretan apakah masih berada di ruangan?" tanya Elvino sambil melirik jam tangannya yang ternyata sudah saatnya makan siang.


"Masih Tuan Muda, mereka masih memberikan kita waktu sampai setelah jam makan. Apabila memang tidak ada penggantinya. Barulah Pak Ari menarik kembali timnya." jawab Pak Andes yang sama merasakan pusing gara-gara ulah manual dan sekutunya.


Perbedaannya apabila perusahaan Wijaya group bangkrut. Mereka tidak mengalami kerugian seperti Tuan Arka.


"Kalau begitu kita tunggu sampai setelah jam makan siang. Mana tahu ada yang berhasil mendapatkan modelnya, karena kedua sahabat Saya pun juga sedang mencari orang yang bisa menggantikan Riko."


"Baiklah! Kalau begitu kami akan menemui mereka dan sekalian untuk makan siang." kedua laki-laki setengah baya itupun meninggalkan ruangan Elvino, karena mereka harus menemui Tim dari perusahaan Pak Ari yang mempunyai model tersebut.


"Apa yang harus aku lakukan? Ya Tuhan! Aku benar-benar sedang bingung menghadapi masalah ini." si tampan Elvino memijit pelipisnya. Lalu karena dia belum mengabari sang istri sejak berangkat tadi pagi. El pun langsung saja menelpon Adelia.


Dalam keadaan seperti sekarang, hanya ibu hamilnya itulah yang bisa membuat Elvino tenang.


Ttttddd!


πŸ“± Adelia : "Sayang, apakah pemotretan untuk promo produk kalian tidak berjalan lancar?" Sebelum Elvino mengatakan sesuatu. Adelia ternyata sudah bisa menebak dari raut wajah suaminya.


πŸ“± Elvino : "Huem, iya, sayang! Aku benar-benar sangat pusing. Model dari perusahaan Pak Ari mengundurkan diri satu orang, yang laki-lakinya. Sementara itu mencari model lain tidak ada yang bersedia bekerjasama dengan perusahaan Wijaya Group. Hanya beralasan dengan pembayaran di muka, bukan sistem kontrak."


πŸ“± Adelia : "Oh, begitu! Semagat lah suami tampanku. Bila kamu tidak bisa berpikir dengan tenang, maka masalahnya tidak akan selesai. Aku percaya bahwa Elvino ku pasti bisa menyelesaikan masalah ini. Soalnya dia adalah suami dan ayah terhebat yang kami miliki." ucapan Adelia itu membuat Elvino no langsung tersenyum.


πŸ“± Elvino : "Sayang, terima kasih karena kamu sudah percaya padaku. kalau begitu sudah dulu, ya. Aku memiliki ide untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi mau aku bicarakan dulu pada Tim yang berada di ruangan pemotretan."


Seperti mendapatkan energi baru Elvino tiba-tiba memiliki pikiran untuk masalah yang mereka hadapi saat ini. pujian dari istrinya tadi yang mengatakan bahwa elvino pasti bisa menyelesaikan masalahnya membuat pemuda tampan itu ingin menjadi model pengganti.


πŸ“± Adelia : "Baiklah! Tapi jangan lupa untuk makan siang. Aku mencintaimu." sebelum Elvino membalas kata cintanya. Si ibu hamil sudah mematikan panggilan tersebut.


"Aaa... kenapa tidak dari tadi saja aku menelpon istriku. Jadinya tidak perlu pusing seperti ini, mencari model ke sana kemari." gumam Elvino karena dia sudah menemukan solusinya. Yaitu El sendirilah yang akan menjadi model pengganti.


Setelah menghabiskan kopinya Elvino pun langsung pergi ke ruangan tempat di mana mereka biasa melakukan pemotretan untuk promo produk-produk perusahaan Wijaya Group.


"Tuan Muda, apakah Anda ingin memesan makan siang?" tanya Sekretaris Eris melihat sang bos keluar dari dalam ruangannya.


"Tidak! Nanti saja, setelah minum kopi satu gelas. Saya sudah kenyang." jawab El sambil berjalan ke tempat Tim Pak Ari lagi berkumpul.


"Sudahlah! Saya sangat yakin bahwa tidak akan ada model yang mau menggantikan Riko. Sekarang lebih baik kami bersiap-siap untuk pulang. Sekalian makan siang di luar." Ternyata Elvino datang tepat waktu, karena begitu dia hampir sampai. Sudah mendengar perdebatan di dalam ruangan tersebut.


"Kami memang tidak akan pernah mendapatkan model pengganti. Akan tetapi Saya sendiri yang akan menjadi model laki-lakinya. Sekarang ayo ambil pemotretan pertama. Saya sudah siap." ucap Elvino membuat mereka semua tercengang.


Termasuk Pak Andes dan Pak Romi yang masih berada di sana.


"Tuan Muda, apakah Anda serius?" tanya Pak Andes kurang yakin.


"Tentu saja serius! Saya sendiri yang akan menjadi modelnya. Bukankah wajah Saya tidak kalah tampannya dari model yang mengundurkan diri itu." tingkat kepercayaan diri Elvino kembali setelah mendengar ucapan istrinya tadi.


"Baga---"


"Baiklah! Saya sangat setuju bahwa tuan muda sendirilah yang akan menjadi modelnya." sela pria yang akan menjadi fotografer


"Oke, Untuk semua Tim, kita siap semuanya. Lakukan sekarang, selagi tuan muda belum berubah pikiran." tidak mau mendengar bantahan lagi. Para Tim tersebut langsung bersiap-siap untuk melakukan pemotretan terhadap presdir Wijaya Group.


Di dalam pemikiran fotografer sudah dibanjiri oleh larisnya dia. Apa bila produk yang akan mereka promosikan laku di pasaran. Sang fotografer lah yang banyak dicarikan oleh para perusahaan agensi.


Padahal yang menjadi masalahnya adalah kualitas orang yang akan mereka ambil gambarnya yaitu Elvino. Seorang CEO perusahaan ternama.



"Apakah seperti ini?" si tampan Elvino memperagakan seperti mana para model yang lagi melakukan pemotretan.


"Waw! Inilah dia, model baru kita. Anda sangat cocok menjadi seorang model profesional tuan muda." seru fotografer itu sudah membidik satu gambar Elvino memegang produk yang akan mereka luncurkan.


"Benarkah? Kalau begitu ayo lanjutkan. Kalian tinggal memberi kontruksi gayanya seperti apa." jawab Elvino tersenyum.


Dengan ketampanannya yang sangat langka. Mau bergaya seperti apa saja, akan tetap terlihat cocok. Jadi sudah pasti tidak akan susah untuk menyesuaikan seperti mana model aslinya.


...BERSAMBUNG......