Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Laki-laki Kebanggaan.


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Dua bulan sudah berlalu. Kerjasama yang dilakukan oleh Eza dan Ezia sudah berlangsung sengat baik. Hampir satu bulan belakangan rumah tempat tinggal kucing sudah ditempati oleh beberapa ratus ekor kucing.


Yaitu, kucing liar ataupun yang tersesat tidak tahu pemiliknya ada di mana. Ada lima orang pekerja yang mengurus tempat tersebut. Seperti mana panti asuhan dan panti jompo. Kucing-kucing tersebut diberi makan empat kali sehari.


Tidak hanya itu saja, tapi juga ada dokter hewan yang datang setiap tiga kali dalam satu Minggu. Agar tidak ada kucing yang sakit dan menular ke yang lainnya. Mereka memberi vitamin khusus dan perawatan bagi anak dan si induk kucing.


Sejauh ini Eza juga belum berani mengatakan pada Ezia bahwa dia menyukai gadis cantik tersebut. Walaupun tahu jika Ezia belum memiliki kekasih.


"El, nanti malam jalan yuk!" ajak Leo yang berjalan keluar dari kampus.


"Sorry, jangan nanti malam deh, soalnya perusahaan opa mau mengadakan ulang tahun yang ke 42." jawab Eza yang harus hadir kerena acara tersebut bukan hanya ulang tahun perusahaan. Namun, juga acara penyerahan jabatan kepada dirinya.


Walaupun Elvino masih muda. Si mantan playboy cap kampak itu mau menyerahkan kepada putranya yang hebat. El mau pensiun untuk menikmati waktu bersama Adelia istrinya.


"Astaga! Kenapa aku bisa lupa." seru Leo karena dia dan kedua sahabatnya yang lain juga diundang khusus oleh Elvino langsung.


"Pertanda jika dirimu sudah tua," seloroh Eza disertai senyuman kecil.


"Kau dan aku seumuran, jadi kita sama-sama sudah tua." cibir Leo. "Za, kapan kamu mau menembak Ezia? Ingatlah jangan lama-lama nanti dia diambil orang."


Kedua pemuda tampan itu memang pulang paling belakangan. Karena Riki dan Marvel ada acara masing-masing.


"Baguslah! Dia adalah gadis yang cantik dan baik hati. Sangat jarang bisa menemukan gadis sepertinya. Tapi... jika wanita jadi-jadian yang menyiram mu waktu itu masih banyak." Leo tergelak karena masih mengingat kejadian dimana Eza disiram mengunakan jus jeruk.


"Brengsek! Sudahlah ayo pulang. Aku mau istirahat, agar nanti malam tidak mengantuk." Eza masuk kedalam mobilnya lebih dulu dan diikuti oleh Leo.


Selama dalam perjalanan pulang. Pikiran Eza tertuju pada Ezia. Gadis cantik itu benar-benar sudah membuatnya jatuh cinta.


Begitu tiba di kediaman Wijaya. Eza langsung beristirahat di kamarnya yang berada dilantai atas. Sebab tahu jika saat ini anggota keluarganya yang lain sudah pergi ke hotel milik sang kakek. Tempat acaranya akan berlangsung.


Sedangkan Eza memang mau berangkat dari rumah saja. Pemuda itu malas bila menunggu di hotel terlalu lama.


Pada saat jam setengah enam petang, Eza pun bangun dan mandi. Dia berjanji pada mamanya akan menyusul sebelum jam tujuh malam.



"Zi, tunggu acara malam ini selesai, aku akan menyatakan perasaanku padamu. Jika perlu aku akan melamar mu langsung." gumam Eza yang berbicara pada pantulan dirinya dari cermin.


Satu kata yaitu... sangatlah tampan seperti mana Elvino papanya saat muda. Namun, mereka berdua berbeda karakter.


Namun, keduamya tetaplah kedua laki-laki yang menjadi kebanggaan keluarga Wijaya.


... BERSAMBUNG... ...