
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Seakan-akan berat kaki Eza melangkah mendekati tempat dia dan Olivia mengucapkan janji suci pernikahan dihadapan sang pencipta dan juga orang-orang yang hadir di pesta mewah tersebut.
Ya, pernikahan Eza dan Olivia benar-benar sangat mewah. Setelah puluhan tahun lalu pernikahan kedua orang tuanya dan yang terakhir Onty Raya nya. Baru inilah Tuan Arka Wijaya membuat acara pesta. Soalnya saat ulang tahu para cucu Wijaya, mereka tidak pernah mewah-mewah. Hanya acara potong kue dan makan bersama keluarga besar mereka saja.
Eza yang merupakan anak tunggal dan CEO baru dari perusahaan Wijaya group. Tentu Tuan Arka melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan sang cucu. Sebab kejadian Eza yang tertangkap bersama seorang gadis di dalam kamar hotel, hanya diketahui oleh Elvino, Adelia dan keluarga terdekat saja. Tuan Arka Wijaya dan Nyonya Risa tidak diberitahu karena atas permintaan si calon pewaris sendiri.
Pemuda tampan itu tidak mau mengecewakan sang opa dan oma. Orang tua kedua bagi Eza yayang sejak bayi begitu dekat dengan kakeknya.
"Za, jangan gugup." bisik El yang mendampingi sendiri putranya. Sehingga membuat semua orang terpana melihat ketampanan kedua makhluk ciptaan Tuhan tersebut. Mereka sama-sama tampan dan terlihat kharisma sebagai seorang pemimpin perusahaan besar.
"Pa, kenapa kaki Eza terasa berat untuk melangkah ke depan? Apakah karena bagian diriku yang lain tidak mau Eza menikahi gadis jadi-jadian itu." Eza juga ikut-ikutan berbisik. Tanpa sadar ayah dan anak itu bobrok saat waktu yang tidak tepat.
Bisa-bisanya berbisik disaat berjalan di atas karpet merah menuju tempat sakral bagi kedua pengantin.
"Salah!"
"Hah? Salah? Lalu kenapa bisa berat seperti ini?" tanya Eza sedikit memelankan langkah kakinya. Sebab masih penasaran pada jawaban sang ayah.
"Kenapa bisa seperti itu? Bukannya Papa dan mama membuat pesta pernikahan setelah Eza lahir." kali ini Eza sampai berhenti melangkah, membuat Nyonya Risa dan Adelia mengelengkan kepalanya. Karena kedua wanita itu sudah bisa menebak apa yang terjadi.
"Karena kamu memegang kaki Papa minta digendong." El menggigit bibir bawahnya. Jika tidak dia sudah tertawa terbahak-bahak.
"Aah, Papa!" Eza mulai berjalan pelan. "Eza serius, Pa? Kenapa langkah kaki ku terasa berat sekali. Takutnya ini pertanda buruk." ungkap Eza karena dia benar-benar takut pertanda buruk untuk dirinya, bukan pada Olivia yang dia khawatirkan.
"Itu pertanda cintamu pada Oliv sangat besar. Berat bila berjauhan seperti mana langkah kakimu saat ini." seloroh El yang membuat putranya membuang nafas dalam-dalam.
"Sudahlah! Sepertinya Eza salah bertanya pada Papa." imbuh pemuda itu karena jengkel sendiri mendengar jawaban tidak ada yang benar. Sedangkan El hanya tersenyum tipis. Itulah yang membuat dia senang menggoda anaknya, jika El suka bergurau. Namun, Eza malah bicara yang serius-serius saja. Hampir sama seperti Adelia mamanya.
"Baiklah, sekarang mempelai wanitanya sudah boleh dipanggilkan. Agar acaranya kita mulai sekarang." kata Pak penghulu yang akan menikahkan Eza dan Olivia.
Tidak menunggu lama. Olivia yang tidak memiliki keluarga satupun masuk ke ballroom hotel di damping oleh Cica dan Raya. Ibu dan anak itu menuntun pelan tangan Olivia untuk mendekati Eza yang sudah duduk di samping papanya dan para saksi.
"Za... kenapa kamu mendekati aku, seakan-akan memberiku harapan. Namun, pada akhirnya kamu menikah tanpa memberitahuku sebelumnya, jika dirimu sudah memiliki kekasih."
Ezia menyeka cepat air matanya saat melihat seorang gadis cantik berjalan mendekati Eza sahabatnya. Gadis itu memang datang karena Adelia dan Elvino langsung yang mengundangnya.
Jika Eza hanya mengundang lewat telepon karena tidak mau gadis itu datang. Niatnya begitu berpisah dari Olivia, baru meneruskan niatnya untuk menyatakan perasaan pada Ezia. Gadis masa kecil yang Eza sukai.
...BERSAMBUNG......