
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Wah-wah! Si tampan kita sudah datang." seru sahabat Eza melihat kedatangannya.
"Kalian kenapa berdiri disini? Apakah mau pergi?" Eza balik bertanya.
"Iya, ayo kita pergi keluar. Daripada disini hanya bermain game. Lebih baik ke kafe yang lagi trend di internet. Kan kita bisa sekalian cuci mata." kata Riki Yanuar yang paling pecicilan diantara mereka berempat.
"Mau cuci mata kenapa jauh-jauh ke kafe. Itu ada air kran tinggal duduk biar aku semprotkan." decak Eza yang membuat ketiga sahabatnya tertawa, karena calon pewaris Wijaya itu paling anti pada gadis.
"Za, kamu belum pernah merasakan jatuh cinta, jadi ya gini deh." sahut Leo dan diiyakan oleh Riki.
"Sudahlah, Eza tidak membutuhkan cinta karena dia masih setia untuk menemukan gadis yang memberinya anak kucing. Benar kan, Za?" timpal Marvel teman Eza yayang satunya lagi.
"Ck!" Eza berdecak karena para sahabatnya sok tahu sekali. "Mau jadi pergi apa tidak? Kalau nggak jadi aku mau pulang lagi karena ada adikku yang baru datang." lanjutnya masih berdiri disamping mobilnya.
"Eh-eh! Jadi dong. Tapi pakai mobil kamu ya, Za." Riki berlari kearah mobil Eza dan masuk duluan.
"Kamu mau kemana?" Eza menahan jaket yang dipakai Leo.
"Mau masuk lah! Memangnya mau kemana lagi," jawab pemuda itu binggung.
"Bawa mobil! Aku mau duduk dibelakang." kata Eza membuat Leo berdecak kesal. Soalnya mau pergi kemanapun pasti dia yang menjadi sopir.
"Jalan, Le!" titah Marvel yang duduk disebelah bangku kemudian. Dengan suara canda tawa keempat pemuda dari kalangan orang berada itupun berangkat menuju sebuah kafe yang saat ini lagi pada ramai dibicarakan.
Hampir empat puluh menit mereka baru sampai ke tempat tersebut. Soalnya letaknya di daerah pegunungan dan pemandangan disekitarnya begitu indah.
Begitu selesai dari kamar mandi pria. Eza pun mencari meja tempat ketiga sahabatnya. Akan tetapi baru saja dia mau mendekat sudah di tabrak oleh seorang gadis.
Praaank!
Suara gelas minuman pecah, karena yang menabraknya adalah pelayan di sana.
"Ma--maaf, Saya tidak sengaja." ucap gadis itu seraya menundukkan kepalanya.
"Lain kali perhatikan jalan sekitar mu. Jangan asal melangkah." jawab Eza dengan suara dingin.
"I--i--iya, sekali lagi maafkan Saya. Tadi Saya hampir tersandung ole---"
"Cukup akui kesalahan dan tidak perlu menyalahkan orang lain atau mencari alasan lainnya karena aku tahu seperti apa gadis jaman sekarang." perkataan Eza membuat gadis itu menatap nyalang padanya.
"Jaga bicara, Anda! Saya sudah meminta maaf tapi kenapa Anda masih menuduh Saya yang bukan-bukan? Dasar orang kaya! Sukanya hanya menindas orang miskin!" gadis itu balik marah dan langsung cepat-cepat membereskan pecahan gelas kosong yang dibawahnya tadi.
Lalu dia pergi meninggalkan Eza. Jangan lupakan gadis tersebut dengan sengaja menginjak sepatu Eza.
"Astaga! Kenapa dia yang marah? Kan aku adalah pembeli disini. Awas kau ya, berani sekali." ancam Eza yang belum pernah bertemu gadis seperti itu.
"Za, ada apa?" tanya Riki menyusul sahabatnya.
"Agh... tidak ada apa-apa. Ayo!" ajak Eza yang masih melihat kearah gadis tadi pergi.
Begitu sudah berkumpul. Keempat pemuda itupun memesan makanan dan minuman yang ada di tempat tersebut. Sialnya! Kali ini baju Eza malah tersiram oleh minuman jus yang ia pesan.
"Maaf, Saya tidak sengaja."
"Astaga! Kau lagi?" seru Eza marah karena baju kaos yang dia pakai sudah basah.
...BERSAMBUNG......