
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ
...HAPPY READING......
.
.
"Mau bertemu siapa?" tanya Elvino langsung menatap pada Raya yang saat ini lagi mengendong Eza.
"Kakak, itu mama sama papa sudah menunggu sejak tadi. Ayo kita sarapan dulu." Raya mencoba mengalihkan pembicaraan karena tadi dia salah berbicara.
"Raya... mulutmu kenapa lemas sekali. Kan Kakak El jadi tahu jika dirimu sudah memiliki pacar," gumam gadis itu merutuki dirinya sendiri.
"Adek mau pergi sama siapa?" El kembali mengulangi pertanyaan yang sama karena dia memang belum mengetahui jika adik kesayangannya sudah memiliki pacar.
"Eum... sama Arya, Kak," jawab Raya yang tidak bisa berbohong lagi. Bila tidak jujur, maka si kakak tampannya akan mencari tahu sendiri.
"Arya? Bukannya dia lagi pergi keluar kota?" El menatap adiknya semakin menyelidik.
"Astaga! Kakak ku yang tampan. Maksud Raya bukan Arya anaknya Tante Anita. Tapi Arya... eum!" Raya tidak melanjutkan lagi ucapannya dan dia malah mendekati kakak iparnya.
"Kak, tolong bilang Kak El, jika Raya sudah punya pacar dan namanya Arya," perkataan Raya tentu membuat Adelia menarik pipi gadis cantik itu karena merasa gemas.
Bagaimana mungkin Raya meminta dirinya berkata seperti itu pada Elvino. Sedangkan orangnya sudah ada disana.
Namun, tidak bagi ayah idaman itu. Dia kembali lagi mendesak adik perempuannya untuk menjelaskan secara detail.
"Raya," ucapnya hanya menyebutkan nama sang adik saja. Namun, Raya yang sangat menghormati kakaknya tentu tahu apa maksud panggilan tersebut.
"Eum... Kakak, ayo kita sarapan dulu. Setelah itu Raya berjanji akan menceritakan semuanya." ucap Raya yang tidak mungkin bercerita dalam keadaan seperti saat ini.
Selain sudah ditunggu oleh ke-dua orang tua, mereka juga lagi berdiri sambil menggendong Eza yang sibuk menunjuk ke arah dapur.
"Kakak maunya seka---"
"Sayang," Adelia yang sebetulnya tidak ingin ikut campur akhirnya mengelengkan kepalanya. Pertanda protesnya pada sang suami supaya tidak memaksa adik iparnya.
"Huh!" El menghembus nafas dalam-dalam dan berkata. "Yasudah! Ayo kita sarapan dulu. Tapi sebelum kamu menceritakan semuanya, maka Kakak tidak akan mengizinkan kamu pergi dengan pemuda manapun." ancam El yang masih berdiri belum juga jalan kearah dimana orang tua mereka menunggu.
"Iya, Raya berjanji akan menceritakan semuanya. Raya mana berani---"
"Onty au tulun, tepat tulunin Eda," pinta si kecil sudah kesal tidak kunjung berjalan ke dapur bersih. Padahal dia sudah tidak tahan untuk bertemu dengan opa dan omanya.
"Tu kan, jadi sibuk anak mu," ucap Adel pada suaminya.
"Yasudah, ayo," ajaknya berjalan sambil menuntun tangan sang putra, diikuti oleh Adelia dan Raya dari belakangnya.
"Kakak," ucap manja Raya pada kakak ipar yang seperti mana kakak kandungnya sendiri.
"Sudah tidak apa-apa! Kamu sudah besar. Nanti Kakak akan bantu menjelaskan pada Kak El," jawab Adelia yang tahu ketakutan adik iparnya.
"Terima kasih, Kak," Raya berkata dengan tulus karena dia yang belum pernah berpacaran memang takut bila Elvino melarang dia berpacaran. Padahal kedua orang tuanya sudah mengetahui karena Arya sudah beberapa kali main ke rumah mereka.
Tepatnya bukan main, melainkan menjemput Raya untuk diajak jalan, ataupun menjemput gadis itu untuk berangkat kuliah bersama.
"Tidak perlu berterima kasih, memang sudah sepatutnya Kak El memberimu izin buat berpacaran. jadi kamu jangan takut jika dia akan marah." Adelia tersenyum dan menepuk pelan bahu Raya untuk menenangkannya.
"Wah-wah! Jagoan Opa, si tampan Eza sudah datang," ucap Tuan Arka begitu beliau melihat kedatangan cucunya.
"Ayo salaman sama opa dan oma dulu," titah Elvino yang langsung dituruti oleh Eza yang berjalan pelan.
"Bagiamana ngomongnya?" El kembali mengingatkan sang putra.
"Padi opa, tama padi Oma, tan?" Eza yang cadel kembali bertanya pada papanya. Untuk memastikan ucapannya benar atau salah.
"Iya, bilangnya selamat pagi opa, selamat pagi oma." ucap Elvino membenarkan.
"Telamat padi opa, telamat padi Oma," ucap Eza yang membuat mereka semua tertawa.
"Sudah sekarang ayo kita sarapan! Sebagai hadiah karena Eza sudah mengucapkan kata selamat pagi. Jadi Eza akan duduk disampingnya Opa," ujar Tuan Arka yang membuat Eza tertawa bahagia. Si kecil sangat senang sudah mendapatkan hadiah karena dia berhasil mengucapkan kata selamat pagi.
Kata sederhana bagi orang lain. Namun, untuk anak seusianya yang baru bisa berjalan dan bicara sangat bahagia bila berhasil mengucapkan kata-kata yang agak panjang.
"Adek kenapa mukanya tegang gitu?" tanya Nyonya Risa karena tidak biasanya sang putri seperti itu. Apalagi bila ada si kecil Eza.
"Tidak kenapa-kenapa, Ma," jawab Raya tersenyum kecil, sedangkan Elvino hanya diam tidak bicara apa-apa.
El bukan tidak boleh adiknya memiliki kekasih. Namun, dia hanya takut apabila adiknya juga dipermainkan. Sebagaimana dia mempermainkan para gadis yang menyukainya.
Semua itu baru sekarang El pikirkan, karena jika dulu dia hanya berpikiran hanya ingin menikmati masa mudanya. Tanpa berpikir bahwa ada karma setiap perbuatan baik ataupun buruk.
Perbuatan baik, maka disaat kita membutuhkan bantuan. Pasti akan ada yang menolong juga. Namun, jika perlakuan buruk pasti akan ada balasan atas segalanya.
Selama mereka sarapan. Tidak ada yang berbicara kecuali Eza dan Tuan Arka. Cucu dan kakek itu sangat klop meskipun terpaut usianya puluhan tahun.
"Sayang, aku duluan," ucap Elvino sudah menghabiskan sarapannya. Lalu dia menoleh kearah Raya dan berkata. "Kakak tunggu di ruang kerja," ucapnya yang entah hendak berkata apa.
"Iya, Kak, ini Raya sebentar lagi akan selesai," jawab Raya mengangguk mengerti.
"Adel, ada apa, Nak?" tanya Nyonya Risa langsung bertanya pada menantunya, karena jika bertanya pada Raya. Sudah pasti anak gadisnya bila sudah melakukan kesalahan, tidak akan menjawab jujur.
"Soal adek yang sudah punya pacar, Ma," jawab Adel menatap pada adik iparnya yang sedikit menundukkan kepalanya.
"Oh, pantas saja terlihat murung seperti itu. Lagian tidak biasanya dia cuek pada Eza," imbuh Nyonya Risa degan helaan nafas panjang.
Beliau mengerti kenapa Elvino sangat berhati-hati pada adiknya. Soalnya Nyonya Risa dan Tuan Arka juga sebetulnya sangat takut bila sang putri juga dipermainkan. Untungnya Elvino walaupun nakal, tidak pernah meniduri para kekasihnya.
Jika dia benar-benar menjadi buaya darat. Mungkin sudah banyak memiliki keturunan Wijaya. Namun, Elvino tidak seberengsek itu. Dia memperkosa Adelia juga dalam keadaan mabuk berat dan dipengaruhi obat perangsang.
"Adek, jelaskan pada kakakmu seperti apa Arya. Jika perlu bawa dia menemui Kakak El," kata Tuan Arka yang sudah jarang ikut mengurus masalah yang membuat kesehatan beliau terganggu.
Soalnya gara-gara kecelakaan waktu itu. Kesehatan beliau tidak sama seperti dulu lagi. Sekarang Tuan Arka bisa sehat-sehat saja karena ingin menikmati masa tuanya bersama anak dan cucunya.
Anggap saja Eza adalah penyemangat beliau untuk tetap sehat. Maka dari itu, El selalu membiarkan anaknya di tahan oleh kedua orang tuanya.
"Iya, Pa, nanti Raya akan bilang pada kakak," jawab si cantik Raya sudah selesai menghabiskan sarapannya.
"Iya, Ma," Raya yang sudah selesai sarapan langsung saja menyusul Elvino ke ruang kerja kakaknya.
Ceklek!
Suara pintu yang Raya buka dan dia tutup kembali. Lalu gadis itu berjalan kearah sofa dan duduk dihadapan kakaknya.
Dulu, saat Elvino masih nakal. Maka yang paling sering menasehati kakaknya adalah Raya. Namun, setelah pemuda itu berubah menjadi pemimpin mengantikan ayah mereka. Maka rasa takut Raya pada sang kakak datang dengan sendirinya.
"Ceritakan?" ucap Elvino yang duduk sambil bersilang kaki. Sedangkan tangannya memeluk tubuhnya sendiri.
"Kakak... sebetulnya Raya sudah punya pacar," aku gadis itu menunduk takut. Tidak berani mengangkat kepala untuk menatap muka kakaknya.
"Sejak kapan? Sama siapa? Kenal dimana?" bukan seperti bertanya kakak pada adiknya lagi. Namun, Elvino bertanya seperti seorang penyidik kasus pembunuhan saja.
Raya sudah seperti diintrogasi oleh sang kakak hanya karena perihal sudah punya pacar, tidak berani untuk protes.
"Se--sejak empat bu--bulan lalu," jawab Raya terbata-bata. "Namanya Arya, kami kenal di kampus. Dia anak pindahan dari luar negeri. Tapi dia kerja di perusahaan juga, mengantikan papanya." meskipun terbata-bata. Raya menjawab dengan jujur dan tidak ada yang dia sembunyikan dari sang kakak.
"Memangnya orang tuanya kemana?" tanya Elvino degan serius.
"Arya dulu punya kakak perempuan, tapi sudah meninggal dunia sejak satu tahun lalu. Semenjak itulah papanya jatuh sakit dan sekarang keadaan beliau semakin parah."
"Apakah dia tidak memiliki saudara lain lagi?"
"Tidak! Arya hanya berdua dengan Almarhumah kakanya. Namun, dia bukan anak pertama seperti kakak." jawab si cantik Raya tidak ketakutan lagi setelah mendengar suara kakaknya tidak dingin seperti tadi.
"Lalu kenapa Adek tidak pernah memberitahu Kakak? Apakah Mama dan papa mengetahui hal ini?" pemuda tampan itu kembali menanyai adiknya.
"Raya takut Kakak tidak boleh pacaran. Mama sama papa mengetahuinya, karena Arya sudah pernah beberapa kali datang ke sini. Namun, ini semua bukan kesalahan mama dan papa yang ikut tidak memberitahu Kakak. Akan tetapi Raya yang meminta untuk diam saja, sampai Raya siapa memberitahu kakak." papar Raya akhirnya mengungkapkan semuanya.
"Huh!" Elvino menghela nafas dalam-dalam dan dia hembusan dengan suara berat.
"Raya, Kakak tidak pernah melarang kamu untuk pacaran," mendengar ucapan Elvino. Membuat adiknya mengangkat kepala untuk saling bertatap muka.
"Namun, Kakak hanya tidak ingin kamu disakiti oleh laki-laki lain karena mungkin saja atas perbuatan kakak sebelum mencintai kakak iparmu. Banyak yang sakit hati dan kamu yang kena imbasnya," lanjut El juga mengungkapkan perasaan takutnya bila sang adik ada yang menyakiti.
"Kakak..." Raya berdiri dari duduknya untuk berpindah disamping Elvino dan langsung memeluk kakaknya.
"Kakak tidak perlu khawatir, Arya orangnya sangat baik dan dia mencintai Raya juga. Tidak akan ada yang berani menyakiti adik dari Presdir Wijaya Group." ujar gadis itu berusaha meluluhkan hati sang kakak.
"Raya, kamu tidak boleh percaya begitu saja jika dia mencintaimu. Kakak juga pernah muda dan me---"
"Tidak! Arya tidak sama seperti Kak El yang nakal. Tapi dia sama seperti kakak Elvino yang menjadi papanya Eza." sela Raya sambil melepaskan pelukannya untuk menatap muka sang kakak dan masih berusaha menyakinkan nya.
"Kak, Raya mohon percayalah! Arya pemuda yang baik. Nanti bila Kakak ada waktu senggang untuk menemuinya. Raya akan mempertemukan kalian berdua, karena Arya sebetulnya sudah sering berkata mau bertemu Kakak. Hanya saja Raya yang belum berani memperkenalkan dia sebagai pacar,"
"Baiklah! Kalau begitu pertemukan dia bertemu Kakak hari ini. Bukannya katamu pemuda itu sudah pernah bertemu papa dan mama. Jadi suruh dia datang kesini dan jangan katakan padanya jika ada Kakak disini." tidak ingin kecolongan lagi mengawasi sang adik Elvino langsung saja memanfaatkan waktu weekend nya untuk bertemu pemuda bernama Arya.
"Oke, kalau begitu Raya akan menelepon nya sekarang juga. Tunggu sebentar!" Raya langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Arya.
Ttttttddd!
Tttttddd!
"Tunggu sebentar, Kak," ucap Raya agar Elvino mau bersabar karena dia lagi berusaha menghubungi kekasihnya.
"Iya," jawab Elvino singkat.
Ttttddd!
π± Raya : "Halo... Ar, kamu lagi dimana?" tanya Raya yang menelepon duduk bersebelahan dengan kakaknya.
π± Arya : "Aku lagi di Apartemen, ada apa, Sayang?" jawab Arya yang tidak berbohong karena dia memang lagi berada di Apartemen.
π± Raya : "Eum... bisakah kamu datang ke rumahku hari ini? Soalnya ada Kakak ku dan dia ingin bertemu dengan mu karena sekarang dia sudah tahu jika aku mempunyai kekasih,"
π± Arya : "Tentu saja bisa, aku akan datang ke sana untuk bertemu dengan calon kakak ipar ku."
π± Raya : "Hei, apa yang kamu katakan! Aku belum tentu mau menikah denganmu," seru gadis itu yang sebetulnya ingin tertawa lebar.
Namun, karena dia lagi berada di samping Elvino. Jadinya hanya tersenyum simpul. Sedangkan El yang mendengar hal tersebut hanya diam saja, karena namanya anak muda.
Sudah sewajarnya saling mengucapkan kata cinta, sayang ataupun kata-kata romantis lainya. Sebab Elvino sendiri juga tidak pernah mengenal tempat untuk mengungkapkan perasaannya pada Adelia.
π± Arya : "Jika kamu tidak mau, maka aku tidak akan pergi dari depan pintu rumahmu." jawab Arya sembari tersenyum. Padahal Raya tidak bisa melihat wajahnya.
π± Raya : "Yasudah! Kamu datang saja ke sini, sebelum kakakku berubah pikiran dan tidak mengizinkan kamu datang ke sini,"
π± Arya : "Baiklah! Kalau begitu matikan saja sambungannya karena aku mau bersiap-siap dulu dan setelahnya akan langsung berangkat ke sana."
π±Raya : "Iya, aku tunggu!" setelah itu si cantik Raya langsung memutuskan sambungan telepon mereka.
"Jika didegar dari telepon mungkin pemuda ini adalah anak baik. Semoga saja dia benar-benar tulus mencintai adikku, karena aku tidak mau Raya yang menuai atas perbuatan masa laluku." gumam Elvino di dalam hatinya.
"Namun, aku tetap harus menyelidiki latar belakang dan juga kepribadiannya. Agar tidak ada kesalahan. Jadi Arya yang sering kerumah ini. Bukanlah Arya anaknya Tante Anita." pemuda itu kembali larut dalam pemikirannya.
Soalnya anak buah Elvino memang sudah memberikan laporan. Bahwa ada Arya yang datang ke rumah utama. Namun, El mengira itu adalah Arya, adik sepupunya.
"Kak, Kakak kenapa?" tanya Raya melihat kakaknya hanya diam saja.
...BERSAMBUNG......
.
Bonus Visual Arya dan Raya, yaπ₯° Mak author merindukan bbg Arsya. Jadi sekarang buat visualnya kita gunakan foto yang sama.
Arya.
Raya.