Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Harus Kuat.


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


"El, tenangkan dirimu, Nak." ucap Tante Anita menarik keponakannya agar menjauh dari Arya. Hal serupa juga dilakukan oleh anak dan suami tante Anita. Mereka memisahkan Elvino dan Arya agar berhenti berkelahi.


Jadi saat ini mereka sudah kembali duduk setelah dibentak oleh Tuan Arka sebelum beliau masuk kedalam untuk menemui putri bungsunya, yang saat ini masih kritis tidak ada perubahan sama sekali.


"Tan, tolong maafkan El," jawab Elvino menunduk degan pikiran berkecamuk ingin menghabisi Arya. Namun, El tidak bisa marah sekarang, karena setelah Arya balas memukulnya dan mengatakan semua itu dilakukan gara-gara dendam atas kematian kakak dari adik iparnya itu.


Membuat El berpikir Cica mantan kekasihnya yang mana kakak dari Arya. Sebab mantan Elvino sangat banyak jadi tidak tahu yang mana. Mau bertanya sekarang mereka masih sama-sama emosi.


Tidak akan baik bila diselesaikan sekarang karena keadaan Raya jauh lebih penting. Maka dari itu semuanya hanya diam tidak ada yang mengintrogasi Arya maupun Elvino.


Yaitu apa yang telah El lakukan sehingga kakak perempuan Arya nekad mengakhiri hidupnya sendiri. Itulah yang sedang dipikirkan oleh adik-adik Tuan Arka.


Namun, karena memiliki kesabaran dan kekompakan dalam menyelesaikan masalah. Jadinya tidak ada yang namanya saling menghakimi.


"Sudahlah! Semuanya sudah terjadi. Tapi jika dengan cara kamu menghajar Arya bisa mengembalikan Raya kita. Maka lakukanlah. Namun, semua itu tidak ada gunanya, Nak," nasehat Tante Anita menarik tubuh El agar masuk kedalam pelukannya.


"Bukan hanya dirimu yang kesal pada Arya. Tapi kita semua. Akan tetapi kita tidak tahu ada masalah apa dibalik semua ini. Jadi jangan memperkeruh masalah. Arya sudah menerima hukuman atas perbuatannya," lanjut wanita setengah baya itu lagi.


"El akan menyelesaikan semuanya, Tan. Tapi tunggu keadaaan adek membaik," jawab Elvino yang mengerti nasehat sang tante.


"Iya, kamu dan Arya memang harus menyelesaikan masalah kalian. Bicarakan baik-baik. Apakah benar karena dirimu kakaknya bunuh diri. Atau disebabkan oleh hal lain," lanjut wanita itu lagi yang penuh kesabaran menasehati keponakannya.


Sekitar sepuluh meter dari Elvino dan Tante Anita. Ada Arya Wiguna, Om Ari dan Arya. Duo Arya lagi duduk bersama. Melihat Arya suami Raya duduk diatas lantai karena menyesali semua yang telah terjadi. Membuat Om Ari dan Arya putranya membawa pemuda itu menjauh dari Elvino. Agar tidak terjadinya perkelahian antara kakak dan adik ipar.


"Ar, ini minum dulu. Tenangkan dirimu. Meskipun jujur aku sangat kecewa dengan niat mu menikahi saudariku. Namun, aku sangat yakin bahwa kamu melakukan ini semua karena sangat menyayangi kakakmu," Arya Wiguna putra sulung Tante Anita memberikan Arya air minum.


"Terima kasih," jawab Arya singkat. Entah mengapa setelah memukul wajah Elvino dan meluapkan amarahnya. Rasa dendam di hati Arya langsung hilang.


Wajah tampan Elvino maupun Arya sama-sama sudah lebam. Sudut bibir mereka juga sama-sama pecah. Pokoknya kedua pemuda itu akan terus saling pukul bila Tuan Arka tidak membentak keduanya.


"Aku minta maaf," lanjut Arya setelah meneguk air mineral yang diberikan oleh sepupu istrinya itu.


"Kamu tidak bersalah pada kami, tapi bersalah pada Raya karena melukai hatinya. Apakah Raya sudah tahu apa alasanmu menikahinya?" tanya Arya Wiguna menatap lekat pada Arya.


"Tidak! Aku rasa tidak, karena aku tidak pernah menyakitinya. Aku tidak tega dan tidak bisa melihatnya bersedih," Arya menjawab sambil menunduk penuh penyesalan.


"Lalu jika kamu tidak mau menyakitinya kenapa berselingkuh dengan gadis yang satu kampus dengan kalian?" tuding Arya Wiguna karena saat Sekertaris Demian melaporkan pada Elvino tadi. Dia juga ada di sana dan ikut mendengarkan apa sebenarnya yang terjadi sampai-sampai Raya membawa mobil dengan sangat kencang di saat hujan besar.


"Itu dia yang aku bilang tidak bisa melakukanya. Aku memang berpacaran dengan Manda. Namun, bertemu diluar dengannya hanya tadi malam. Itupun karena aku mau mengakhiri semuanya. Aku tidak ingin menduakan cinta Raya," ungkap Arya tanpa menyembunyikan hal apapun


Plaaak!


"Bodoh! Itu karena kamu mencintai saudaraku. Kenapa kamu bodoh sekali?"


Arya Wiguna yang kesal langsung memukul kepala suami sepupunya. "Lalu setelah kamu mengakhiri hubunganmu dan wanita itu, apa lagi yang kamu rencanakan? Sedangkan katamu tidak mau membuat Raya bersedih?"


"Huh!" Arya tidak langsung menjawab. Pemuda itu malah menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan perlahan . "Aku juga tidak tahu, yang jelas aku tidak mau Raya mengira bahwa aku mengkhianati cintanya," jawab jujur Arya.


Sekarang keluarga Wijaya atau semua keluarga inti mertuanya. Sudah tahu niatnya menikahi Raya karena mau balas dendam pada Elvino.


"Arya-Arya! Kenapa kamu ini bodoh sekali. Jika kamu tidak mau menyakiti Raya kenapa harus memiliki dendam pada Kak Elvino. Setelah mengetahui semua ini, apakah kamu pikir Raya masih mau hidup bersamamu? Aku rasa tidak, karena dia pasti merasa ditipu dan tidak akan pernah percaya padamu lagi," seru Arya Wiguna mengelengkan kepala tidak habis pikir degan cara Arya balas dendam.


Entah dendam seperti apa yang mau dibalaskan oleh saudara iparnya itu. Sebab Arya menikahi Raya untuk membalaskan atas kematian kakaknya. Namun, untuk menyakiti Raya, pemuda itu tidak tega karena sudah mencintai si putri bungsu Wijaya. Tapi tidak sadar pada perasaannya sendiri.


"Semoga setelah mengetahui kenyataan ini. Raya mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku benar-benar menyesal. Jika tahu akan seperti ini, maka aku tidak mau balas dendam pada siapapun."


Gumam Arya penuh sesal yang tidak ada gunanya lagi. Sebab keadaan Raya sangat parah dan ada calon anak mereka dalam kandungan gadis itu yang saat ini lagi diajak bicara oleh Tuan Arka Papanya.


"Sayang, ayo bangunlah, Nak. Jangan seperti ini," ucap Tuan Arka menggenggam lembut tangan sang putri yang terlihat begitu pucat. Seperti tidak ada darah yang mengalir. Belum lagi luka-luka kecil yang tidak dibaluti perban. Sehingga terlihat dengan sangat jelas karena Raya memiliki kulit putih mulus.


"Maafkan Papa tidak bisa menjagamu dengan baik. Sehingga mendapat jodoh yang memiliki dendam pada kakakmu," lanjut beliau lagi yang terus mengajak Raya berbicara sesuai perkataan dokter.


"Apa kamu tahu gara-gara melihat keadaanmu seperti ini. Mama kalian juga jatuh sakit. Jadi Papa mohon bertahanlah. Kamu harus sembuh. Setelah ini baru kita pikirkan langkah selanjutnya," Tuan Arka yang tegas, sejak tadi malam terus menangis. Karena tidak kuat melihat keadaan putri sulungnya yang sekarat.


"Papa berjanji, Nak. Apapun keputusanmu. Papa tidak akan pernah menghalanginya. Asalkan kamu harus sehat bisa berkumpul dengan keluarga kita seperti biasanya. Papa tidak ingin kamu hidup menderita lagi," meskipun Raya tidak ada merespon perkataannya. Beliau terus saja mengajak sang putri berbicara.


"Kamu harus kuat ya, Nak. Papa bisa sehat seperti sekarang hanya demi kalian. Lalu apabila terjadi hal buruk padamu. Bagaimana mungkin Papa akan baik-baik saja, begitupun dengan mamamu," ujar beliau lagi.


"Permisi Tuan, mohon maaf waktu besuknya sudah habis. Jadi sekarang mari kita keluar dari sini," ucap Dokter Febi karena Tuan Arka berada di dalam sana sudah lebih dari lima belas menit.


"Iya, baiklah?" Tuan Arka ikut berdiri dari kursi yang dia duduki. Namun, sebelum benar-benar pergi beliau kembali berucap pada putrinya.


"Raya, Papa keluar dulu, ya. Kami akan menunggumu di luar,? jadi cepatlah sembuh. Kamu harus kuat. Semuanya belum berakhir. Ada Papa bersamamu, Nak. Jadi demi bayi yang kamu kandung, demi keluarga kita. Maka papa mohon bertahan," pesan beliau sebelum benar-benar keluar dari ruang ICU.


Meskipun sangat berat untuk meninggalkan sang putri seorang diri. Namun, karena sudah peraturan di rumah sakit tersebut dan demi kesehatan anaknya. Mau tidak mau Tuan Arka Wijaya pun menuruti peraturan dokter.


Kleeek!


"Huh! Keadaan adikmu masih belum ada perubahan, El," jawab Tuan Arka dengan helaan nafas beratnya.


Sejauh ini memang belum ada perubahan sama sekali pada keadaan si putri bungsu. Raya masih tetap kritis padahal setengah jam lalu pendonoran darah sudah selesai dilakukan.


"El, jika mau menemui adikmu maka temuilah sekarang. Setelah itu kita perlu berbicara masalahmu dan Arya. Papa ingin menyelesaikannya hari ini juga, jangan dinanti-nantikan lagi," ucap Tuan Arka menoleh ke arah menantunya yang hanya menunduk sambil menutup muka dengan tangannya sendiri ditemani oleh Arya Wiguna dan Om Ari.


Sebab mau seburuk apapun niat Arya menikahi Raya. Tetap saja pemuda itu adalah menantu beliau. Apalagi jika benar Arya memiliki dendam pada Elvino. Jadi beliau tidak ingin memihak di salah satunya.


"Iya, Pa, kalau begitu El akan masuk sekarang," tidak banyak bicara lagi si playboy cap kampak pun langsung masuk. Yaitu ke ruangan tempat memakai baju khusus yang telah disterilkan sebelum menemui adiknya.


"Terima kasih, Dok," ucap Elvino setelah dibantu oleh Dokter Febi memakai baju khusus tersebut beserta masker penutup wajah.


"Iya, sama-sama Tuan Muda. Sekarang silakan Anda temui Nona Raya l, karena setelah ini selama 3 jam kalian tidak boleh membesuknya," jelas si dokter muda itu yang bertugas hanya menjaga Raya saja.


Elvino tidak menjawab lagi. Dia hanya mengangguk dan langsung berjalan ke arah ranjang tempat tubuh adiknya terbujur kaku, yang sudah dipenuhi oleh berbagai macam alat melekat pada bagian dada, mulut, kaki bahkan tangan dan boleh dibilang tidak ada yang terlewatkan.


Seluruh bagian tubuh Raya sudah terpasang alat yang terhubung dengan monitor pada dinding di atas tempat kepala gadis itu. Sehingga membuat tubuh Elvino langsung terasa lemah.


Sungguh tidak disangka jika candaan mereka tadi malam akan berakhir seperti sekarang. Satu jam sebelum kejadian naas itu terjadi. Raya dan Elvino masih sempat berebut mau duduk di dekat Tuan Arka, Papa mereka.


Namun, keduanya adik dan kakak itu tidak ada yang menang, karena Tuan Arka sudah di label oleh si baby Eza. Tidak ada orang lain yang boleh mendekat karena menurut si kecil sang opa adalah miliknya.


Lalu karena hari semakin malam dan takut Arya pulang lebih dulu. Si putri bungsu pun berpamitan pada keluarganya untuk kembali ke Apartemen. Akan tetapi baru sekitar sepuluh menit setelah sopir pribadi mereka sampai di rumah. Elvino mendapat telepon dari pihak polisi yang mengabarkan bahwa adiknya bernama Raya Wijaya mengalami kecelakaan tunggal.


"Adek, ini Kakak..." lirih El tidak kuasa menahan air matanya setelah melihat keadaan sang adik.


"Maafkan Kakak, Ray. Tolong maafkan Kakak karena tidak bisa melindungimu. Kakak pikir dengan kekuasaan yang sudah Kakak miliki, bisa melindungimu dan tidak ada orang yang berani menyakiti keluarga kita. Namun, Kakak salah besar karena justru kamu dilukai gara-gara perbuatan Kakak di masa lalu," lanjut Elvino menyentuh pelan tangan adiknya.


Tanpa si playboy cap kampak sadari. Bahwa Raya meneteskan air matanya begitu jari tangan mereka bersentuhan. Walaupun tidak banyak dan hanya beberapa tetes saja. Namun, sudah ada perubahan pada keadaan gadis itu.


Tidak seperti tadi saat kedatangan Arya maupun Tuan Arka papanya sendiri. Raya belum memberi respon apa-apa.


"Bertahanlah Dek, kakak mohon! Kakak berjanji akan menyelesaikan masalah ini sampai tuntas," lanjut El terus mengajak adiknya berbicara.


"Kakak akan mencari dokter terbaik supaya bisa menyembuhkanmu seperti semula. Jadi kamu harus kuat ya, demi anakmu. Demi papa dan mama. kedua orang tua kita benar-benar sangat terpukul karena melihat keadaanmu seperti ini. Jadi kakak mohon sembuhlah," imbuh Elvino yang telah berhenti menangis.


Akan tetapi tetap saja dadanya terasa sakit karena tidak dapat respon dari sang adik yang biasanya cerewet dan selalu riang. Walaupun lagi memiliki banyak masalah.


"Adek sekarang lagi hamil. Jadi harus berjuang untuk sembuh. Agar anak kalian juga bisa bertahan. Apakah kamu tidak ingin melihat anak-anak kita saling bertengkar? Si Baby Eza pasti akan marah pada anakmu karena dia telah melabel papa kita. Menjadi opanya sendiri," El tergelak disertai air matanya lagi.


"Raya kakak mohon, Dek. Kamu harus kuat ya, kamu harus sembuh. Kakak mohon," pinta si tampan benar-benar sangat takut kehilangan adiknya.


"Maafkan Kakak, karena kamu harus terluka karena perbuatan Kakak di masa lalu. Walaupun Kakak tidak tahu kesalahan Kakak yang mana yang membuat saudari Arya mengakhiri hidupnya. Namun, apapun itu Kakak tetap akan membalasnya karena sudah berani menyakitimu,"


"Apa... jadi Kakak sudah tahu jika Arya menikahiku hanya untuk balas dendam atas kematian kakaknya? Dan anakku ternyata selamat, tidak kenapa-napa?"


Ucap Raya yang hanya bisa berbicara di dalam hatinya. Ingin rasanya gadis itu menjawab dan memeluk sang kakak. Namun, seluruh tubuh, mata maupun mulutnya tidak mampu untuk digerakkan.


Ya, begitu jari tangan mereka bersatu dan mendengar suara Elvino. Raya sudah terbangun dari tidur panjangnya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa hanya sekedar bisa mendengar ucapan dari kakaknya saja.


"Adek harus sembuh ya, harus kuat dan berusaha untuk baik-baik saja. Setelah keluar dari sini. Kakak akan menemui suamimu dan berbicara baik-baik padanya. Karena Kakak memang tidak tahu bahwa saudarinya mati bunuh diri gara-gara Kakak," papar Elvino yang tidak sadar juga bahwa tadi adiknya sempat meneteskan air mata.


"Mohon maaf Tuan Muda, waktu berkunjungnya sudah habis. Sampai tiga jam ke depan. Kalian tidak diizinkan untuk bertemu dengan Nona Raya," ucap dokter Febi kembali menyuruh Elvino keluar dari sana.


"Iya, Dok. Saya akan keluar sekarang," jawab si playboy cap kampak mendorong pelan kursi khusus tempat keluarga yang berkunjung.


"Ray, Kakak keluar dulu ya, adek harus sembuh," pamit Elvino pada adiknya.


Setelah mengelus jari tangan adiknya pelan karena hanya bagian itulah yang bisa mereka sentuh. Sedangkan yang lain termasuk di kepala sudah dipenuhi oleh alat-alat supaya Raya bisa bertahan untuk hidup.


"El," seru Tante Anis karena Tante Anita bergantian untuk mandi dan sarapan di ruang VIP tempat Nyonya Risa dirawat. Sekarang jam sudah menunjukan pukul enam pagi.


Untungnya asisten rumah tangga sudah datang mengantarkan pakaian ganti dan juga sarapan untuk seluruh keluarga. Jadinya mereka bisa mandi dan sarapan.


Walaupun rasanya tidak enak tetap saja yang sehat harus mengisi perutnya masing-masing, karena jika sudah sakit semua. Maka siapa yang akan menjaga Raya.


"Iya, Tan. Mana Papa?" tanya Elvino karena yang ada di depan ruang ICU hanya Arya adik iparnya, Tante Anis dan Sisil, adik sepupu Elvino.


"Papamu sudah kembali ke ruangan tempat mama kalian dirawat. Untuk mandi sekaligus sarapan," jawab Tante Anis yang akan bergantian untuk menjaga keponakannya.


"Kata Dokter Mirza selama tiga jam ke depan, kita tidak boleh bertemu Raya. Jadi kamu dan Arya pergilah ke ruangan mamamu. Bicarakan masalahnya dengan cara baik-baik. Bukannya saling pukul seperti ini,"


"Arya, cepat pergilah ke ruangan Mama Risa. Kamu dan Elvino sudah ditunggu di sana," sebelum kedua pemuda itu ada yang menjawab Tante Anis kembali memberikan perintah. Agar keduanya segera menyelesaikan masalah di antara mereka.


"Iya, Tan," jawab Arya saling tatap dengan Elvino. Lalu mereka berdua sama-sama membuang arah pandangan matanya masing-masing.


...BERSAMBUNG......


.


.