Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Paling Tampan.


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Satu bulan kemudian. Hari ini Raya dan Arya sudah dalam perjalanan menuju rumah baru mereka yang dibeli oleh Tuan Yuda. Namun, rumah tersebut tidak jauh dari rumah utama keluarga Wijaya.


Semuanya atas persetujuan Tuan Arka dan Elvino juga. Sebelum Tuan Yuda membeli rumah tersebut beliau sudah meminta persetujuan dari orang tua dan saudara dari Raya menantunya.


Rumahnya tidak terlalu besar, karena Raya mengatakan bila rumahnya besar dia tidak mau. Sebab pasangan suami-istri itu hanya memakai satu orang jasa pembantu saja. Jadi mereka tidak mau memiliki rumah yang begitu besar.


Setelah kejadian hari itu. Raya dan Arya akhirnya sama-sama mencabut gugatan perceraian mereka. Sekarang hubungan keduanya sudah seperti dulu lagi.


Keduanya mulai sibuk menyelesaikan kuliahnya yang hanya tinggal menghitung hari. Setelah pulang dari kuliah, maka Arya akan disibukkan dengan pekerjaan di perusahaannya.


Terkadang Raya ikut ke perusahaan karena Arya tidak mau jauh dari istrinya. Ngidam Arya pun sampai saat ini belum juga hilang. Pemuda itu akan mengalami morning sickness secara tidak teratur.


Tidak menentu kapan dia mengalami morning sickness karena terkadang sampai dua hari Arya tidak pernah muntah-muntah.


Namun, terkadang sampai tiga hari dia tidak akan kuat bangun karena setiap membuka matanya selalu muntah-muntah.


Malam ini setelah selesai makan malam di rumah utama. Barulah mereka pulang ke rumah sendiri yang hanya sekitar sepuluh menit sudah sampai.


Keluarga mereka memang tidak mengantarkan keduanya. Karena Minggu lalu semuanya sudah datang ke sana untuk melakukan selamatan degan memanggil anak-anak panti untuk membaca do'a bersama.


"Sayang, apakah kamu mau membeli sesuatu?" tanya Arya saat mobilnya melewati berbagai pedagang kaki lima. Karena dia dan Raya sudah biasa membeli makanan yang dijual pada gerobak pinggir jalan.


"Tidak! Aku masih kenyang. Tapi jika kamu mau, maka beli saja," titah gadis itu karena yang mengalami ngidam adalah Arya, bukan dirinya.


"Aku juga sepertinya... tidak, kita langsung pulang saja, ya," ajak Arya karena jam juga sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Mereka tidak boleh pergi oleh Eza. Jadilah menunggu si kecil tidur dulu, baru setelahnya mereka pulang ke rumah sendiri yang sudah ada pembantu yang tinggal di sana sejak satu Minggu lalu.


Hanya sekitar lima menit kemudian. Mobil mewah Lamborghini Veneno yang baru dibeli oleh Elvino itu sudah memasuki pekarangan rumah mereka. Begitu keduanya turun bibi yang bekerja dengan mereka sudah membukakan pintu.


Lalu Arya dan Raya masuk dan langsung pergi ke lantai atas tempat kamar mereka. Karena rumah tersebut berlantai dua, hampir sama seperti rumah Elvino dan Adelia yang saat ini sudah ditinggalkan.


Soalnya si playboy cap kampak lebih memilih menemani kedua orang tuanya. Agar ada yang menemani mereka. Sama halnya dengan Raya dan Arya. Rencananya Arya dan Raya akan pindah ke rumah orang tua Arya, bila istrinya sudah melahirkan.


Hanya untuk sekarang keduanya mau belajar mandiri dulu. Apalagi mereka masih sama-sama mulai mendekatkan diri lagi, memulai semua dari awal.


Kleeek!


"Ayo masuk," ajak Arya setelah membuka pintu kamar mereka. Raya hanya mengangguk dan mengikuti Arya dari belakang.


"Duduklah! Biar aku yang siapkan pakaian mu," titah pemuda itu lagi karena tahu istrinya tidak mungkin tidur mengunakan dress.


"Ar..." panggil Raya menahan pergelangan tangan suaminya. Sehingga membuat Arya berhenti dan menoleh kearah istrinya.


"Ada apa sayang?" tanyanya dengan lembut. Arya berjalan beberapa langkah dan duduk di samping istrinya yang lagi berada di pinggir ranjang tempat tidur.


"Apa? Apakah kau mau sesuatu?" tanya Arya karena Raya hanya diam saja.


"Eum... tidak jadi," Raya tersenyum dan tidak jadi melanjutkan ucapannya.


"Kamu mau apa? Atau mau mengatakan sesuatu? Ayo katakan! Bukannya kita sudah sepakat tidak akan menyembunyikan masalah apapun,"


"Baiklah!" Raya terdiam sejenak sebelum menyebutkan apa yang mau ia bicarakan.


"Apakah Manda masih ada menghubungimu?" mendengar pertanyaan Raya. Pemuda itu tersenyum kecil sebelum menjawabnya.


"Tidak lagi, karena aku sudah menghapus aplikasinya. Jadi dia mau menghubungiku lewat apa. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Untuk mendapatkan mu sangatlah susah," jawab Arya yang telah menganti nomor kontak ponsel maupun menghapus semua aplikasi sosial medianya.


Semua itu ia lakukan agar tidak ada lagi yang menghubunginya. Arya tidak mau lagi menyakiti hati Raya. Arya dan Elvino tidak sama. Jika si playboy cap kampak dia adalah suhunya. Jadi tidak akan pernah terkena sandungan gadis mana pun.


Elvino adalah senior. Tidak pernah meladeni para mantan pacarnya dan Arya takut bila dia tidak bisa amanah seperti kakak iparnya. Atau bisa saja Raya salah paham. Karena sifat Raya dan Adelia tidak sama. Adel orangnya lebih sabar.


"Aku sudah menghapus semuanya. Nomor ponsel wanita yang ada di kontak ku juga hanya nomor ponsel mu, nomor mama dan mami. Kak Adel dan kedua tante mu. Sudah tidak ada lagi," jelas pemuda itu seraya merogoh saku celananya.


"Ini, kamu periksa semuanya. Aku selalu menaruh ponselku dimana pun. Tapi kamu sendiri yang tidak mau membukanya. Kita kan juga sudah sepakat, tidak ada privasi apapun dengan ponsel ataupun barang yang lainnya," Arya menyerahkan ponselnya pada tangan Raya.


"Tapi---"


"Manda tadi menemuimu dan mengatakan jika aku masih menghubunginya?" tebak pemuda itu yang dianguki oleh Raya.


Tadi siang, saat Raya sedang menunggu Arya di parkiran mobil mereka. Manda datang menemuinya dan mengatakan jika Arya masih terus menghubunginya.


"Kamu tahu darimana jika dia menemui ku?"


"Aku tidak sengaja melihat dia saat mau berjalan kearah parkiran,"


"Apapun yang orang lain katakan, tolong jangan pernah percaya. Cintaku hanya untukmu, jadi percayalah. Aku bukan orang bodoh yang akan mengorbankan istri dan anakku untuk perempuan lain," Arya membelai pipi mulus Raya yang terlihat chubby.


Apalagi selain hamil, rambut Raya juga masih pendek. Jadi pipinya semakin terlihat berisi. Akan tetapi di mata Arya tetaplah istrinya sangat cantik tidak ada duanya.


"Apakah kau tidak percaya padaku?" tanya Arya karena Raya masih diam saja.


"Tidak! Aku percaya, hanya aku---"


"Maaf sudah pernah membuatmu kecewa. Jadinya kamu sulit untuk percaya padaku lagi. Sudahlah, tunggu aku ambil baju tidur untuk mu. Ingat kata dokter, kamu tidak boleh tidur malam-malam," Arya yang tidak mau membuat Raya memiliki beban pikiran kembali berdiri untuk mengambil pakaian istrinya yang sudah ada di dalam lemari sejak satu Minggu.


Walaupun malam ini mereka pindah. Akan tetapi untuk barang lainya sudah ada sejak awal mereka ke sana.


"Ini," Arya menyerahkan baju yang ia ambil. Lalu dia membantu istrinya berganti pakaian. Namun, saat baru melepas baju bagian atas. Arya sudah menelan Saliva nya sendiri.


Soalnya semenjak berbaikan baru satu kali mereka melakukan hubungan suami-istri lagi. Itu pun tidak lama gara-gara Arya merasakan morning sickness disaat waktu yang tidak tepat.


"Kenapa?" Raya yang tahu jika Arya tergoda pada kemolekan tubuhnya malah dengan sengaja melingkarkan kedua tangannya pada leher pemuda itu.


"Apakah kamu sedang menggoda ku?" Arya ikut tersenyum seraya memegang dagu istrinya.


Ralat! Bukan kecupan saja. Akan tetapi sudah bersilaturahmi dengan begitu sopan. Bahkan satu tangannya ia gunakan untuk menahan tengkuk gadis itu agar memperdalam ciuman mereka.


Augh!


Suara merdu Raya keluar begitu saja. Saat merasakan tangan suaminya sudah merayap seperti cicak-buaya yang suka diam di darat maupun air.


"Aku menginginkan dirimu," bisik Arya dan Raya yang mau menghilangkan pikiran tentang Manda. Tentu dengan senang hati melayani suaminya.


"Arya hanya milikku, Manda." gumamnya dalam hati sambil merasakan setiap sentuhan lembut dari suaminya.


Hampir selama sepuluh menit Arya melakukan pemanasan. Begitu melihat Raya sudah tidak tahan. Barulah dia melakukan acara penjegukan pada si bayi mereka yang saat ini sudah berumur hampir tiga bulan.


"Aaahh! Lenguh keduanya yang terus saling memberikan kepuasan satu sama lainnya.


"Aku mencintaimu, sayang," kata-kata cinta terus Arya bisikkan saat tubuhnya berpacu untuk mendapatkan pelepasan atau puncak dari permainan mereka.


Raya yang lagi merasakan nikmat surga dunia degan mata terpejam. Hanya mengangguk kecil tidak berkata apa-apa. Selain melenguh karena merasakan sensasi nikmat dari penyatuan tubuh bagian inti keduanya


"Sayang... aku mau keluar," ucap Raya untuk kedua kalinya.


"Baiklah! Tahan ya, aku akan menyelesaikan sekarang," jawab Arya seraya memaju mundurkan pinggulnya maju mundur cantik. Tidak lama, kurang dari lima menit mereka berdua sudah mengerang nikmat secara bersamaan.


Aaaggkh!


Erang panjang keduanya.


Arya terlukai lemas diatas tubuh Raya yang juga langsung memejamkan matanya. Gadis itu langsung tertidur karena sudah kelelahan. Padahal mereka bertempur tidak sampai dua jam.


Dengan nafas terengah-engah. Arya pun bangkit dari tubuh istrinya karena tidak mau menyakiti Raya dan anaknya.


"Tidurlah! Maaf sudah membuat mu kelelahan," bisik Arya ikut tidur disamping istrinya. Dia menarik Raya untuk dipeluk dan bersama-sama tidur tanpa memakai sehelai benangpun. Tubuh mereka yang polos hanya ditutupi oleh selimut bad caver.


*


*


Pagi harinya.


Di kediaman keluarga Wijaya. Tepatnya rumah utama.


"Sayang..." panggil si playboy cap kampak pada si pemilik hatinya. Adelia Putri yang saat ini lagi membersihkan tubuhnya.


Sebetulnya ini adalah mandi kedua kali bagi ibu muda itu. Gara-gara Elvino meminta jatah seperti biasanya.


Tadi malam saat menidurkan Eza, Adel ikut tertidur. Jadi El tidak bisa berpetualang naik-naik kepuncak gunung dan memasuki hutan belantara.


Padahal sudah lima hari El berpuasa. Karena sang istri lagi datang bulan. Namun, pada saat harus berbuka puasa. Malah istrinya ketiduran. Jadilah pagi ini dia meminta hak nya.


Kleeek!


Suara pintu kamar mandi dibuka oleh Adelia yang keluar mengunakan Bathrobe membalut tubuh polosnya dan handuk kecil membungkus rambutnya yang basah.


"Ada apa, El? Kamu ini berisik sekali. Bagaimana bila Eza bangun," tegur Adel karena suaminya itu terkadang membuat heboh seisi rumah.


"Aku belum punya dasinya," jawab Elvino tersenyum. Jika pekerjaan yang lain Elvino, tidak pernah mau menyusahkan Adelia. Akan tetapi bila masalah urusan dasi dia selalu meminta bantuan sang istri.


"Astaga! El... ini hanya soal memilih dasi. Tapi kenapa malah begitu heboh," seru Adel langsung kearah lemari khusus penyimpanan dasi suaminya. Lalu ia ambil kira-kira pas untuk dipakai suaminya hari ini.


"Jagan marah," tergelak karena Adel memanyunkan bibirnya.


"Aku bukan marah, hanya lagi kesal. Dirimu ini benar-benar---"


"Adel cukup!" sela Elvino cepat. "Aku memang tampan. Jadi tolong jangan dipuji lagi," lanjutnya membuat Adelia tersenyum dan mengelengkan kepalanya.


"Siapa bilang dirimu tampan? Percaya diri sekali," jawab si ibu muda sudah ditarik pinggang ramping nya. Karena saat ini Adel lagi memasang dasi suaminya.


"Aku memang tampan dan tidak ada saingannya. Hanya aku---"


"Eda paying tampan," sela si kecil Eza sudah duduk sambil menguap karena masih mengantuk.


Namun, gara-gara mendengar suara berisik papanya. membuatnya terbangun.


"Astaga! Kacau ini. Kenapa aku lupa bahwa hari ini ada rapat penting. Jika seperti ini Eza pasti mau ikut keperusaan juga," keluh Elvino sudah menyandarkan kepalanya pada pundak sang istri.


"Ini kan salahmu sendiri. Padahal tadi aku sudah bilang, jangan berisik," Adel hanya tersenyum karena dia tidak boleh Eza bangun sekarang bukan tanpa sebab.


Melainkan si tampan akan meminta ikut keperusaan. Bila tidak ada rapat maka El selalu membawa putranya. Namun, pagi ini ada rapat antar perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Wijaya group.


"Sayang bagaimana ini, dia sudah turun dari tempat tidur dan pasti langsung mandi," bisik El karena melihat Eza sudah berusaha turun dari atas ranjang.


"Yasudah, kamu awas dulu. Aku akan memandikannya," Adel mendorong pelan tubuh suaminya agar menjauh.


Eza apabila dia mau ikut ke perusahaan. Begitu bangun tidur maka si tampan akan langsung masuk kedalam kamar mandi. Seolah-olah dia orang dewasa yang bisa mandi sendiri.


"Huh! Ya, pergilah! Aku akan menyiapkan bajunya. Daripada terlambat, tapi kamu ikut ya, sayang. Aku tidak bisa membawanya ke ruang rapat,"


"Iya, aku akan ikut," Adelia tersenyum mengiyakan karena tahu jika putranya akan menggangu pekerjaan sang suami bila dia tidak ikut.


"Wah, sudah main mandi saja," ucap Adel karena melihat Eza menyiram tubuhnya mengunakan shower kecil yang sengaja El buat untuk sang putra.


Soalnya Eza begitu pintar. Apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Maka dia juga mau. Sehingga El membuat renovasi ulang pada kamar mandi di kamarnya.


Akan tetapi sampai saat ini Eza memang masih tidur bersama kedua orang tuanya. Karena Elvino dan Adel sama-sama tidak tega bila sudah tidur terpisah. Meskipun mereka yang harus mengalah berhubungan di kamar mandi, ataupun kamar sebelah yang sebetulnya kamar tidur Eza.


"Eda mau telja tama papa," jawab Eza menerima sikat gigi yang diberikan oleh mamanya.


"Iya, mama juga akan ikut keperusaan. Tapi hanya untuk menemani Eza. Papa nanti ada Rapat penting. Jadi anak kecil tidak boleh---"


"Tapi Eda dah becal. Mau ikut lapat," sela si kecil cepat.


...BERSAMBUNG......