Dia Juga Anakku

Dia Juga Anakku
Oh My God!


💝💝💝💝💝💝


...HAPPY READING......


.


.


Setelah berpamitan seperti orang mau pergi perang. Yaitu menghabiskan waktu hampir setengah jam. Akhirnya si tampan Elvino sudah tiba di perusahaan Wijaya group, tepat waktu.


Dia adalah presdirnya. Jadi ya tidak ada yang berani berkomentar dia terlambat atau tidak. Hanya saja sebagai CEO, tentu tidak baik bila terus-terusan seperti itu.


Akan tetapi untungnya semua orang sudah tahu bahwa nona mereka baru saja dibawa pulang dari rumah sakit kemarin sore. Alhasil pasti si tuan muda akan datang terlambat, atau bisa juga tidak akan berangkat ke perusahaan sama sekali.


"Selamat pagi, Tuan Muda," sambut Sekertaris Demian sudah membukakan pintu mobil untuk sang bos.


"Pagi juga, apakah semuanya sudah siap?" tanya Elvino sambil berjalan masuk perusahaan dengan beriringan dengan sekertaris pribadinya.


"Sudah Tuan, Muda. Hanya tinggal menunggu Anda menganti pakaian saja. Setelah itu kita sudah bisa melakukan pemotretan." jawab si sekertaris yang lebih dingin daripada sang CEO itu sendiri.


"Aku tidak perlu menganti pakaian, cukup buka jasnya saja." apabila El sudah memutuskan seperti itu. Maka siapa lagi yang bisa membantahnya.


"Iya," hanya tiga kata saja yang bisa dijawab oleh Sekertaris Demian. Lalu mereka berdua langsung masuk kedalam lift menuju lantai tempat dilakukannya pemotretan. Yaitu dilantai yang sama dengan tempat kantor Elvino.


"Rapat hari ini tidak ada kan?" tanya di tampan lagi.


"Tidak ada, Tuan Muda. Hanya ada dua belas dokumen yang harus Anda periksa dan tanda tangani setelahnya." menjawab santai.


Padahal Elvino langsung menatap kearah nya tajam. "Jagan bilang jika kamu sudah menerima pengajuan dari perusahaan yang ingin bekerja sama dengan Wijaya group, ya?" El menatap Sekertaris Demian penuh selidik dan yang ditatap hanya tersenyum kecil, karena dia memang bersalah.


"Benar, Tuan Muda. Mohon maafkan Saya, karena salah prediksi waktu," ujarnya mengakui kesalahan langsung.


"Huh! Untung kamu sekertaris ku, jika tidak sudah aku buang ke kompleks perumahan yang dimana tempatnya hanya para ibu-ibu memakai daster lagi berkumpul." seru Elvino yang dijawab oleh Sekertaris Demian.


"Tuan Muda, biasanya bila seorang CEO lagi marah pada bawahannya. Maka akan dibuang ke kutub Utara atau keluar pulau. Ini kenapa malah mau dibuang ke kompleks perumahan?"


"Kerena bila dibuang ke-tempat yang kamu sebutkan tadi. Tentu tempat itu sudah dipenuhi oleh sekertaris sepertimu. Jadi aku ubah saja tujuannya, agar kamu menjadi santapan ibu-ibu memakai daster yang jelas lebih ganas daripada seekor Singa kelaparan. Sangat menyeramkan," jawab Elvino degan wajah seriusnya.


Siapapun yang mendengarnya, tentu akan mengira bahwa perkataan Elvino sangat serius.


"Apakah Tuan Muda ingin curhat?" tanya Sekertaris Demian tersenyum yang nyaris tak terlihat oleh Elvino.


"Hei... istriku tidak seperti para ibu-ibu kompleks. Berani bicara seperti itu lagi, maka gaji mu selama dua bulan aku potong." ancam El yang tidak membuat Sekertaris Demian takut pada ancaman sang bos.


"Tuan Muda, jangankan gaji selama dua bulan. Tidak digaji pun Saya tak masalah, karena Saya sudah digaji oleh Tuan Arka." jawab Sekertaris Demian keluar dari lift lebih dulu.


"Kamu..." El tidak jadi lagi mengajak sekretaris pribadinya berdebat. Soalnya mereka sudah keluar dari lift dan berjalan menuju ruang khusus pemotretan setiap ada produk baru.


"Hei, lihat tuan muda kita sudah datang, pasti dia mau melakukan pemotretan." ucap salah satu karyawati yang melihat Elvino berjalan begitu tampannya.


"Tentu saja, bagaimana produknya tidak laku, keponakan ku saja. Membeli parfum yang ada gambar tuan muda langsung membeli empat, katanya takut dihabisi oleh orang lain." jawab wanita yang diajak bicara.


"Iya, kamu benar, aku juga pernah mendengar saat di supermarket. Katanya semua produk dari perusahaan Wijaya group adalah yang diincar oleh konsumen," timpal rekan satunya lagi.


"Tapi menurutku yang menarik itu tentu Tuan Muda Elvino, bukan produknya karena masih banyak produk berbeda merk saja, tapi mereka tidak mau membelinya, walaupun lebih murah." sahut seorang laki-laki yang merupakan satu Tim dengan para wanita yang tergila-gila pada Elvino.


"Iya, wajah tuan muda kita siapa yang tidak akan tertarik padanya. Hanya saja sayang sudah menjadi milik Nona Muda Adelia. Kita mana mungkin bisa menggeser posisinya." begitulah berbagai komentar dari para karyawan perusahaan Wijaya group setiap kali melihat Elvino.


"Tuan Muda, Anda sudah datang!" seru seorang fotografer yang akan mengambil gambar Elvino untuk dijadikan promo pada produk yang akan mereka promosikan.


"Iya, apakah sudah siap?" tanya Elvino berbasa-basi karena si model perempuan terus menatap kearahnya.


"Sudah Tuan Muda, kita bisa mulai mengambil gambar. Namun, Anda harus berganti baju kaos terlebih dahulu karena ini produk untuk para anak muda." ucap laki-laki lemah gemulai itu tersenyum menatap wajah tampan Elvino.


Mungkin bila tidak takut, dia sudah memeluk si CEO yang bisa melakukan pekerjaan. Termasuk memasak makanan, walaupun rasanya keasinan.


"Saya bisa pakai kameja saja, nanti bila berganti pakaian dengan baju kaos. Maka yang akan tergila-gila pada Saya semakin banyak." jawab El sambil melepas jas yang dia pakai.


Lalu diberikan pada Sekertaris Demian, yang pagi ini sudah diancam akan dibuang ke kompleks perumahan. Yaitu tempat para ibu-ibu berkumpul saat membeli sayuran.


Namun, meskipun memakai baju kemeja panjang. Elvino yang sudah biasa tampil sempurna. Tentu sangat mengetahui cara membuat penampilannya agar tetap terlihat keren.


Si tampan Elvino menggulung lengan baju kameja putih yang dia pakai sampai sebatas siku. Sehingga membuat ketampanannya menjadi berkali-kali lipat. Tidak ada duanya lagi.


"Oh, Anda benar juga Tuan Elvino mau memakai pakaian seperti apa, tentu akan tetap terlihat tampan." kata laki-laki itu setelah melihat Elvino menggulung lengan kemejanya.


Setelah itu pria tersebut mulai memberikan arahan pada timnya untuk mulai bersiap-siap karena pemotretan akan segera dilakukan.


Tidak lama, hanya sekitar sepuluh menit kemudian. El dan modeling perempuan yang mereka kontrak. Sudah mulai berdiri pada tempat yang sudah atur.


"Baiklah! Tuan Muda, Anda bersiap-siap, ya. Keluarkan gaya Playboy nya. Agar terlihat sangat menggoda.." ucap laki-laki itu yang biasa di panggil Patrick oleh rekannya.


"Hitungan mundur kita mulai," lanjutnya lagi.


"Lima, empat, tiga, dua, satu... mulai!" setelah hitungan mundur, Elvino mulai di potret dengan berbagai macam gaya.


Padahal jangankan dia bergaya yang menggoda. Hanya sekedar duduk diam saja, sudah membuat para gadis kelimpungan hampir lupa jalan pulang.



"Oh my God! Ini terlalu sempurna. Saya serasa tidak rela bila wajah Anda disebar luaskan." ucap Patrik yang membuat El hanya tersenyum kecil di sela melakukan berbagai pose.


"Biar pun aku di bilang mantan Playboy cap kampak. Tetap saja aku sekarang sudah setiap pada istriku. Bisa-bisa aku gila bila jauh dari Adel dan Eza." gumam si tampan Elvino yang masih mengingat istri dan anaknya dirumah.


"Tuan Muda, tolong wajahnya menatap pada kamera. Biar seluruh dunia halu mengetahui jika Anda adalah model paling tampan yang menjabat sebagai CEO dari Perusahaan Wijaya group." titah seorang pemandu setiap pose yang dilakukan oleh Elvino, karena dia memang bukan seorang model.


Berbeda dengan wanita yang juga melakukan pemotretan. Dia memang sudah bekerja sebagai model sejak beberapa tahun terakhir.


"Apakah seperti ini?" tanya El sambil memperagakan langsung dan...


"Oh my God! God-god Tuan Muda. Anda benar-benar orang yang tepat untuk dijadikan model." seru Patrik dan rekannya. Bahkan Sekertaris Demian langsung bertepuk tangan.


"Apakah bagus? Coba aku lihat,," Elvino turun dari tempat pemotretan dan melihat hasil fotonya sendiri.



Ttttddd!


Tttddd!


Setelah dua kali getaran, sambungan pun langsung terhubung.


📱 Adelia : "Iya, Papa El, ada apa? Bukannya sekarang kamu lagi melakukan pemotretan?" tanya Adel dari sebrang sana yang masih bisa didengar oleh mereka semua.


📱 Elvino : "Tidak ada apa-apa, sayang. Aku hanya ingin mengatakan padamu, jika besok pagi melihat gambar ku berada di banner utama. Kamu jangan marah, ya." jawab Elvino tersenyum pada arah ponselnya.


📱 Adelia : "Haa... ha... asalkan tidak bersama wanita. Aku tidak akan marah," tawa Adel karena suaminya itu memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Walaupun semuanya benar apa adanya.


📱 Elvino : "Meskipun aku berfoto bersama sepuluh wanita sekalipun. Namun, di hatiku hanya ada dirimu seorang," jawab Elvino yang membuat ruangan itu menjadi dipenuhi gelak tawa dan bagi wanita yang mendengarnya, seakan langsung ingin menculik Elvino.


📱 Adelia : ",Kalau begitu aku adalah ratu di hatimu, jangan jangan pernah macam-macam karena aku adalah penguasanya." Adel tersenyum mendengar ucapan dari orang-orang yang lagi berada disekitar suaminya.


📱 Elvino : "Elvino junior kemana? Apakah masih tidur?" sekarang menanyakan putranya lagi.


📱 Adelia : "Iya, Eza masih tidur. Oya, apakah kamu sudah selesai? Kenapa sudah menelepon?"


📱 Elvino : "Belum, ini baru pemotretan sebentar. Setelah ini akan lanjut lagi. Oya, apakah mama dan Tante Mona sudah datang?" obrolan sepele bagi orang lain. Namun, sangat berarti bagi Adelia dan Elvino.


Mereka berdua sudah biasa berbagi cerita, suka maupun duka. Saling menguatkan satu sama lain. Seperti itulah rumah tangga yang mereka jalani.


Sehingga hubungan yang tadinya hanya seperti degan musuh. Lama kelamaan malah menjadi saling bergantungan. Saling membutuhkan.


📱 Adelia : "Mama sama Tante Mona sudah datang, sekarang mereka lagi membuat makanan. Tapi aku tidak tahu lagi membuat makanan apa, karena kami belum keluar kamar." jawab Adel yang tidak bisa berjalan semaunya karena ada si Baby Eza yang harus dia temani.


📱 Elvino : "Oh, yasudah! Tidak apa-apa! Aku hanya khawatir padamu ya tidak ada teman selain mbak Asih." El bicara sambil berjalan kearah sofa.


📱 Elvino : "Sayang, sudah dulu, ya. Aku mau melakukan pemotretan lagi. Nanti setelah selesai aku akan langsung pulang." ucap El langsung menutup teleponnya.


"Tuan Muda, sepertinya Anda sangat mencintai Nona Adelia." ucap Patrik yang pernah bertemu Adel beberapa kali.


"Tentu saja, jika tidak cinta, maka aku tidak akan menjadikan dia istri sekaligus ibu dari anakku." jawab Elvino dengan tersenyum sumringah. Menjabarkan betapa dia mencintai sang istri dan bahagia dengan pernikahannya.


"Mari kita lanjutkan, jika cepat selesai Saya akan pulang ke rumah." ajaknya berdiri lagi. Namun, sebelum itu El sudah meminum air mineral yang sudah disediakan oleh Sekertaris Demian khusus untuknya.


"Baiklah! Mari kita lanjutkan lagi," kata Patrik mulai ikut berdiri bersama Tim nya. Sesuai prediksinya waktu pertama kali memotret El sebagai model.


Apabila produk Perusahaan Wijaya group sampai laku di pasaran. Maka dia sebagai fotografer akan banyak menerima job dari perusahaan lain.


Akan tetapi produk perusahaan Wijaya group bukan hanya sekedar laku. Tapi pada hari pertama promosi diluncurkan. Langsung meledak dipasaran sampai ke pasar mancanegara.


"Lima, empat, tiga, dua, satu! Mulai!" ucap Patrik kembali memberikan aba-aba. Lalu setelahnya Elvino pun mulai berpose yang akan menarik konsumen untuk membeli produknya.


Hampir satu jam setelahnya, pemotretan sudah selesai dan waktunya si tampan Elvino kembali ke ruang kerjanya. Untuk melihat dua belas dokumen yang dikatakan oleh Sekertaris Demian.


"Tuan El, tunggu sebentar!" ucap wanita yang merupakan partner El menjadi model.


"Iya, ada yang bisa Saya bantu?" El yang sudah bersiap-siap mau keluar dari ruangan itu pun langsung berhenti di tempatnya berdiri.


"Eum... apakah untuk merayakan keberhasilan ini. Kita bisa makan siang bersama Sekertaris Demian?" tanya Alisa yang El tebak pasti sudah jatuh hati padanya.


"Mohon maaf, Saya tidak bisa karena sudah ada janji sama istri Saya di rumah." tolak El dengan cara halus.


Mantan pacarnya saja sudah lebih dari dua lusin. Jadi mana mungkin masalah sepele seperti ini dia tidak tahu. Kan sangat tidak mungkin.


"Oh, ya sudah, tidak apa-apa," jawab gadis itu tersenyum canggung. Tadi Alisa juga sudah tahu akan ditolak. Jadi hanya ingin mencoba keberuntungan saja.


"Iya, maaf!" imbuh Elvino langsung meninggalkan tempat itu diikuti sekertaris pribadinya.


"Demian, tugas mu dan Aldo, cari model yang tepat untuk mengantikan aku. Setelah hari ini aku tidak akan menjadi model lagi."


"Apa! Tapi kenapa, Tuan Muda?" tanya Sekertaris Demian heran karena menurutnya daripada memakai jasa model lain, alangkah lebih baik Elvino saja yang menjadi modelnya. Begitulah pemikiran sekertaris muda itu.


"Sekarang Perusahaan Wijaya group tidak mengalami masalah keuangan lagi. Jadi karena semuanya sudah berjalan stabil. Aku ingin mengurus perusahaan saja, tidak menjadi model produk kita juga," jawab El sudah melangkah masuk kedalam ruangan kerjanya.


"Lagian, aku tidak ingin ambil resiko. Yaitu bila wanita yang menyukaiku semakin banyak dan... model kita, dia sepertinya selalu memperhatikan aku. Aku takut bila tiba-tiba diperkosa olehnya." seloroh El dan membuat Sekertaris Demian tersedak air minum yang dia ambilnya dari dalam lemari pendingin.


Uhuuk!


Uhuuk!


"Demian, kamu kenapa? Apakah kamu pernah diperkosa oleh seseorang?" tanya Elvino tanpa dosa bahwa dialah penyebab Sekertaris Demian tersedak air minum.


Uhuuk!


Uhuuk!


"Eum... bu--bukan!" seru si sekertaris itu menatap El dengan tajam.


"Ada apa?" El tergelak dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Brengsek! Aku mana pernah diperkosa oleh seseorang," jawab pemuda itu akhirnya tidak mengunakan bahasa formal lagi karena sejatinya memang seperti itu.


"Haa... ha... akhirnya kamu menyerah juga." El merebahkan tubuhnya di atas sofa seraya melonggarkan dasi dari lehernya.


"El, apakah kamu serius ingin dicarikan model baru?" tanya Sekertaris Demian kembali serius. Namun, tidak mengunakan embel-embel kata tuan muda.


"Tentu saja, tolong carikan penganti nya, karena aku ingin fokus pada perusahaan dan keluargaku saja. Bila aku terus-terusan menjadi model, maka Alisa akan tergila-gila padaku dan ini tidak baik buat rumah tanggaku dan Adelia." ungkap Elvino.


Itulah alasannya ingin mencari model lain saja untuk mengantikan dirinya. Bagi El sekarang kebahagiaan Adelia dan putranya adalah yang nomor satu.


Makanya dia tidak ingin menyakiti hati sang istri. Walaupun Elvino tidak akan mengkhianati cintanya, tetap saja Adelia akan cemburu bila melihat dia bermesraan dengan gadis lain.


"Baiklah, nanti setelah makan siang aku akan mengajak Aldo mencari model untuk mengantikan dirimu." setelah mendengar alasan tuan mudanya. Sekertaris Demian pun juga menyetujui keputusan Elvino untuk mengundurkan diri dari model.


Sebab sejatinya orang berumah tangga memang seperti itu. Harus saling mengerti. Bukannya hanya ingin dimengerti saja.


... BERSAMBUNG... ...