
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
Tiga bulan sudah berlalu. Hubungan Arya dan Raya semakin hari semakin menunjukan keseriusan dari keduanya. Setelah pertemuan antara Elvino dan Arya.
Pasangan muda-mudi itu lebih sering lagi pergi bersama. Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan bahwa Arya mendekati Raya hanya untuk membalas kematian kakaknya pada Elvino.
Sedangkan orang-orang Wijaya juga tidak bisa menemukan hal janggal dari pemuda itu. Apa yang Arya katakan memanglah benar. Pemuda itu tidak berbohong tentang keluarga, pekerjaan dan keseriusannya terhadap Raya.
Sehingga Elvino yang tadinya mencurigai Arya sekarang tidak lagi, karena Arya bukan sepertinya yang merupakan playboy memiliki pacar banyak dan suka bergonta-ganti pasangan.
Justru di kampus Arya terkenal dengan kebaikan dan juga kepintarannya. Tidak pernah dekat dengan gadis manapun selain Raya. Belum lagi sifatnya yang romantis membuat Elvino percaya untuk melepaskan adiknya pada pemuda itu.
Malam ini adalah acara pertunangan keduanya. Soalnya Arya kembali lagi menemui Elvino dan menyampaikan niat baiknya untuk menikahi Raya dengan alasan kedua orang tuanya ingin Arya segera menikah.
Apalagi mantan playboy cap kampak juga mengetahui seperti apa kedua orang tua Arya menyayangi adiknya, karena mereka sudah pernah kehilangan anak perempuan. Jadi bagitu Arya membawa seorang gadis cantik dan baik seperti Raya. Tentu saja kedua orang tua pemuda itu langsung menyukainya.
Selama tiga bulan ini. Hampir setiap Minggu mami Arya mengirimkan kue atau masakan lainya untuk Raya dan keluarganya. Jadi bukan hanya hubungan Arya dan Raya saja yang terjalin baik. Akan tetapi juga hubungan para orang tua mereka.
Bahkan Elvino beserta istri dan anaknya juga pernah menjenguk orang tua Arya yang memang masih sakit. Hanya bisa duduk di kursi roda. Tapi masih bisa berbicara walaupun tidak seperti orang sehat pada umumnya.
"El, apakah semuanya sudah disiapkan?" tanya Tuan Arka pada putra sulungnya yang baru keluar dari kamarnya bersama si tampan Eza.
"Sudah, Papa tenang saja dan tinggal duduk manis bersama Paman Abraham dan Paman Hasan." jawab Elvino karena dia sudah menugaskan Aldo dan Sekertaris Demian untuk mempersiapkan semuanya.
"Syukurlah! Papa takut ada yang kurang," keluh Tuan Arka yang sangat bahagia karena akhirnya Putri bungsu mereka menemukan pria yang sangat baik dan menyayangi Raya.
Begitulah menurut pandangan keluarga Wijaya mereka semua memang sangat menyukai kepribadian Arya. Pemuda itu sangat mudah berbaur dengan keluarga Raya.
Jadi sudah pasti selalu meninggalkan kesan baik bagi orang yang menilainya dari luar Bahkan Elvino sendiri pun sudah terkecoh oleh pemuda itu.
"Santai saja, Pa. Kita ini keluarga mempelai wanita. Jadi yang seharusnya khawatir bila ada kekurangan itu adalah keluarga Arya, karena dia yang akan melamar Raya," ucap Elvino tersenyum melihat kekhawatiran sang ayah.
"El benar, Ar! Kita ini keluarga perempuan. Jadi yang penting sudah menyiapkan tempat dan juga sambutan seperti mana pada acara lamaran ditempat orang lain." imbuh Abraham seraya menepuk pelan pundak Tuan Arka untuk menenangkan sahabat sekaligus mantan bosnya itu.
"Saya dulu saat kalian mau datang melamar Adel juga merasakan hal yang sama. Apalagi kami hanya keluarga kecil, rasanya sangat takut karena menyambut seadanya dengan apa yang kami miliki." timpal Paman Hasan ikut tersenyum kecil mengingat masa lalu.
"Paman, terima kasih Paman dan keluarga yang lainnya. Mau menerima Elvino sebagai menantu. Walaupun sebetulnya kalian ingin membunuhku," ucap Elvino pada paman dari istrinya yang sudah dianggap sebagaimana ayah sendiri.
"Paman juga berterima kasih karena kamu sudah menjadi suami yang bertanggung jawab pada Adelia, Nak. Paman menerima mu karena tahu jika kamu sebetulnya adalah pemuda yang baik."jawab pria setengah baya itu tersenyum seraya mengangkat Eza keatas pangkuannya.
"Tuan Muda, diluar Arya dan keluarganya sudah datang," ucap Sekertaris Demian memberikan laporan.
Acara lamaran tersebut memang tidak ada kedatangan orang lain. Terkecuali keluarga Wijaya semuanya, karena mereka adalah keluarga besar. Namun, tetap saja acaranya sangat mewah.
Setelah kurang lebih dua tahun lalu acara pernikahan Elvino. Malam ini di rumah itu kembali lagi mengadakan acara.
"Iya, aku akan menyambut kedatangan mereka dan kamu temani aku," jawab Elvino pada sekretaris pribadinya itu. Lalu dia pun menoleh lagi ke arah papanya dan keluarga yang lain.
"Papa dan Paman, maupun Om tunggu disini saja. Biarkan aku yang menyambut mereka. Kasihan Paman Yuda bila terlalu lama menyambutnya diluar." ucap Elvino karena dia tahu jika papi dari calon adik iparnya tidak bisa berjalan.
"Iya, pergilah! Kami semua akan menunggu disini." jawab para orang tua yang sangat senang melihat tingkah lucu Eza yang semakin pintar saja.
"Selamat malam, Om, Tante," sambut El pada kedua orang tua Arya. "Selamat datang Paman, Bibi. Mari silahkan masuk," ajak si tampan Elvino pada rombongan tersebut yang berjumlah sekitar sepuluh orang.
Memang tidak banyak yang diundang, soalnya acara malam ini hanya acara lamaran saja. Sedangkan untuk acara pernikahannya. Sudah pasti akan diadakan di hotel bintang lima milik keluarga Wijaya. Namun, semua itu akan dirundingkan terlebih dahulu pada Arya dan Raya.
Sebab mereka berdua lah yang akan menjalani pernikahan tersebut. Apabila keduanya sudah siap, tentu pertunangan pun tidak akan lama.
"Iya, terima kasih, Nak," jawab Tuan Yuda setelah bersalaman dengan Elvino. Sekarang kondisi beliau sudah semakin membaik setelah Raya sering datang ke rumah mereka.
Jadi rasa bersalah dan kehilangan pada putrinya sedikit terobati, karena Raya adalah gadis yang sangat ramah dan selalu ceria. Sehingga keceriaan itu menular pada orang-orang disekitarnya.
"Eum... Arya mana?" El yang belum melihat sosok calon adik iparnya langsung saja bertanya. Sebelum mereka masuk ke dalam rumah.
"Dia masih dalam perjalanan. Mungkin sebentar lagi akan datang soalnya saat kami berangkat dia lagi berbicara dengan temannya." Jawab Fanya ibunya Arya yang menjawab.
"Oh! Ya sudah kalau begitu mari kita masuk saja nanti biarkan Arya yang menyusul masuk. Dia sudah biasa datang sendirian," ajak Elvino masuk sambil mendorong kursi roda Tuan Yuda.
*
Sementara itu, di dalam perjalanan menuju rumah kediaman keluarga Wijaya.
"Ar, berapa lama kamu mau bertunangan dengan Raya?" tanya Afdhal sambil memperhatikan jalanan di depan.
"Jika bisa aku ingin besok pagi kami menikah. Aku malas terlalu lama menjalani sandiwara ini," jawab Arya yang terlihat semakin tampan dengan jas yang dia pilih bersama Raya.
"Aku harap kamu tidak akan menyesali semuanya, Ar. Ingatlah Raya adalah gadis yang sangat baik. Jujur aku sangat kasihan padanya yang kamu bohongi." ungkap Afdhal jujur.
"Lagian Elvino juga orangnya baik. Semua orang memiliki masa lalu, alangkah lebih baiknya kamu mengikhlaskan semuanya." meskipun perkataannya tidak pernah didengar oleh Arya. Namun, pemuda tersebut selalu menasehati sahabatnya itu.
"Ck, jika kita selalu memaafkan orang yang salah, maka penjara pasti kosong," decak Arya cuek. "Aku tidak akan pernah menyesalinya, karena aku sudah membuang jauh segala rasa sukaku pada Raya. Yaitu semenjak mengetahui bahwa dia adalah adik Elvino." lanjut Raya lagi.
Akan tetapi karena dia bersahabat baik dengan Arya sejak mereka masih kecil. Jadinya juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Elvino.
"Aku ingin Elvino merasakan seperti apa penderitaan keluargaku disaat kehilangan orang yang kita sayangi. Aku ingin melihat seperti apa mereka menderita setelah kehilangan Raya. Lagian apa yang aku lakukan bukan karena salahku, akan tetapi atas perbuatan Elvino sendiri. Jadi sudah pasti Mak Author akan memaafkan aku."
Gumam Arya degan helaan nafas dalam-dalam. Agar membuat keyakinan balas dendamnya berjalan tanpa ada keraguan.
"Kita sudah sampai, ayo keluar," ajak Afdhal sudah mematikan mesin mobilnya.
"Kata orang, Ar. Bila kita mau tunangan atau saat pernikahan akan merasakan gugup. Tapi pasti sekarang kamu tidak merasakan hal itu, karena kamu tidak mencintai Raya, yang ada di hatimu hanyalah dendam." lanjutnya memilih keluar dari mobil lebih dulu.
Sedangkan Arya yang mendengarnya hanya terdiam tidak bicara sepatah katapun. Ada sekitar dua menit setelahnya barulah dia keluar dari mobil.
"Kamu kenapa lama sekali? Jangan bilang kamu gugup, Ar? Karena itu bukan pertanda baik untukmu," goda Afdhal yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Arya.
"Jangan sembarang bicara," tegur Arya yang hanya membuat sahabatnya tersenyum mengikutinya berjalan masuk.
"Ar, ternyata rumahnya sangat besar, ya. Aku kira tidak sebesar ini rumahnya," bisik Afdhal karena dia memang baru pertama kali datang ke rumah itu.
Akan tetapi bila ke rumah Elvino dia sudah dua kali. Yaitu saat mengantarkan Raya karena Arya tidak bisa.
"Iya, memang sangat besar. Tapi aku sudah bilang pada mereka. Bahwa setelah kami menikah, Raya akan aku bawa tinggal bersamaku."
"Apakah diizinkan?"
"Diizinkan, tapi nanti Elvino dan keluarganya akan pindah ke sini. Soalnya keadaan Om Arka juga sudah tidak sehat." jawab Arya yang sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang.
Sebelum menyampaikan niatnya untuk melamar Raya. Pemuda itu telah membicarakan masalah tempat tinggal terlebih dahulu. Agar dia bisa bebas untuk menyakiti gadis itu.
Namun, bila mereka tinggal serumah dengan mertuanya. Mana mungkin Arya berani melakukan hal tersebut. Bisa-bisa Elvino akan menghabisi nyawanya.
"Setelah malam ini, kamu bukan memangil Om Arka lagi. Tapi Papa Arka, sama seperti Raya," ke-dua pemuda itu saling mengobrol dengan suara nyaris seperti orang berbisik.
"Selamat malam semuanya," ucap Arya begitu mereka tiba di ruang tengah rumah mewah itu yang sudah dirias seindah mungkin.
"Selamat malam juga, akhirnya kalian berdua sudah datang. Ayo silahkan duduk!" jawab Tuan Arka menyambut hangat calon menantunya.
"Terima kasih, Om," jawab Arya sopan seperti biasanya. Lalu setelah dia dan Afdhal menyalami tangan keluarga Raya. Mereka berdua pun duduk sambil menunggu kedatangan Raya yang masih berada didalam kamarnya.
"Kenapa aku menjadi gugup, sih? Sial! Ini semua pasti gara-gara perkataan Afdhal tadi." ucap Arya mulai merasakan tidak tenang setelah duduk menunggu kedatangan gadis yang dia pinang.
Sekitar sepuluh menit setelah acara sambutan di mulai. Barulah Raya dipanggil untuk turun dari lantai atas karena kamarnya berada dilantai dua.
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki Raya yang didampingi oleh Sisil sepupunya. Namun, setelah beberapa meter dari Arya. Gadis itupun meninggalkan Raya untuk berjalan sendiri kearah Arya.
Sehingga membuat Arya menoleh kearah sumber suara. Begitu pula dengan yang lainya.
"Cantik sekali! Apakah karena dia tidak pernah tampil dengan make up dan riasan lainya. Jadi Raya terlihat sangat berbeda malam ini." gumam Arya begitu melihat kekasihnya yang terlihat semakin cantik.
"Eza, coba lihat Onty Raya terlihat sangat cantik. Bukan seperti Onty yang selalu mengganggu mu lagi." ucap El berbicara pada Eza putranya.
"Tentu saja sangat cantik! Onty siapa dulu," Raya yang digoda oleh kakaknya langsung menampilkan wajahnya seperti mana seorang model.
"Ck, salah! Siapa dulu kakaknya, itu baru benar" decak Elvino yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Tante Anita karena bisa-bisanya kedua keponakannya bergurau saat ada acara penting seperti saat ini.
"El, diamlah! Biarkan Paman Abraham bicara dulu," ucap Tante Anita menegur Elvino karena jika Raya hanya membalas candaan dari kakaknya saja.
"Iya, Tan, maaf," cicit Elvino langsung diam. Sedangkan Raya sudah duduk hadapan Arya dengan jantung berdegup kencang.
"Arya, Raya, Apakah kalian berdua benar-benar serius ingin melanjutkan hubungan ini ke jenjang pernikahan?" tanya Paman Abraham yang mewakili keluarga mempelai wanita karena Raya sudah seperti putrinya sendiri.
"Benar Paman, kami berdua serius ingin melanjutkan hubungan kami sampai ke jenjang pernikahan," jawab mereka serempak karena sebelum ini. Keduanya telah diajarkan jawaban atas setiap pertanyaan yang akan dilontarkan, sebelum mereka bertukar cincin tunangan sebagai pengikat satu sama lain.
"Baiklah, jika kalian benar-benar serius, maka sekarang waktunya untuk melakukan menyematkan cincin kejari manis masing-masing." ucap beliau lagi yang disaksikan oleh semua orang yang hadir di sana.
"Untuk yang pertama dilakukan oleh Arya," ujar Paman Abraham. "Arya ayo ambil cincin nya dan pasangkan pada jari manis Raya. Sebagai tanda bahwa dia adalah milikmu." dengan perasaan tidak menentu Arya pun menuruti mengambil cincin yang ada di atas meja, lalu disematkan pada jari manis Raya.
"Nah sekarang bergantian, Raya yang menyematkan pasangan cincinnya pada jari manis Arya. Dengan begini apabila ada laki-laki ataupun perempuan yang ingin dekati kalian, maka mereka akan melihat cincin tersebut." lanjut Paman Abraham senyum mengembang di wajahnya.
Sama seperti Arya, Raya pun mengambil cincin tersebut dengan perasaan tidak menentu. Lalu dia pasangkan pada jari manis Arya yang terus menatap wajahnya sejak tadi. Seakan-akan mata pemuda itu tidak bisa berkedip lagi.
"Duh, Arya kenapa terus menatap padaku. Aku kan jadi malu apabila terus ditatap seperti ini." gumam Raya yang malah merasa tidak nyaman dengan tatapan Arya.
...BERSAMBUNG......