
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Apa! Harus di operasi Caesar?" seru Elvino yang menemui Dokter Maya dalam ruangannya. Sedangkan Adelia ditemani oleh Nyonya Risa dan Tante Mona. Kedua wanita itu langsung datang ke rumah sakit saat mendengar bahwa Adelia akan melahirkan.
"Iya, benar Tuan Muda, bila harus menunggu lagi. Ini sangat membahayakan nyawa keduanya, karena air ketubannya ternyata sudah kering. Sama seperti ketakutan yang Tim dokter jelaskan pada, Anda." jawab dokter muda itu yang menjadi dokter kandungan Adelia sejak awal gadis itu hampir keguguran.
"Ka--kalau begitu baiklah! Ta--tapi izinkan Saya untuk menemaninya." El tergagap ketika mendengar penjelasan Dokter Maya. Walaupun penjelasannya secara singkat, tapi Elvino sudah tahu keadaan istri dan anaknya yang dalam kata. Lagi tidak baik-baik saja.
"Kalau begitu ayo kita lakukan persiapan operasinya. Anda boleh menemani Nona Adelia. Asalkan bisa kuat dan tidak mengaggu Tim dokter yang mengoperasi istri Anda." kata wanita itu karena mereka semua tahu seperti apa Elvino mencintai istrinya.
Selama Tuan Arka di rawat, mereka selalu menyaksikan kemesraan yang El lakukan untuk Adelia. Jadi dari sanalah mereka semua tahu.
"Iya, Saya tidak akan mengaggu kalian. Tapi Dokter sendiri kan yang akan mengoperasinya?" tanya si tampan sambil berjalan keluar bersama Dokter Maya.
"Saya sendiri yang akan menjadi pemimpin untuk operasi calon pewaris Wijaya berikutnya, Tuan Muda. Tolong do'akan saja, semoga ketakutan kita tidak terjadi dan supaya operasinya juga berjalan dengan lancar." dokter muda itu tersenyum kecil. Sebagai bentuk penyemangat nya agar Elvino bisa tenang dan mempercayakan semuanya pada para dokter.
"Oke, Saya sangat percaya bahwa Dokter Maya, bisa menolong istri Saya dan Elvino junior dengan selamat." El pun juga ikut tersenyum kecil.
Ada rasa takut dan bahagia yang dia rasakan saat ini. Takutnya bila istri dan anaknya kenapa-kenapa. Namun, juga bahagia karena akan bertemu dengan buah hati yang selalu mereka nantikan selama ini.
"Kalau begitu cepat Anda urus semua berkas-berkas yang harus Anda tanda tangani. Saya juga akan mengurus yang lainnya." setelah itu dokter muda tersebut pergi kearah ruangan operasi untuk menemui rekan kerjanya yang sudah siap.
Lalu Elvino pergi mengurus surat-surat yang akan dia tanda tangani. Sebagai suami pasien, sebagai bentuk perjanjian apabila terjadinya hal yang tidak pernah diinginkan oleh siapapun.
Semua keluarga, tentu ingin setiap operasi berjalan lancar. Namun, apabila sudah takdir, maka tidak akan ada manusia yang mengetahui hal tersebut.
Hampir lima belas menit kemudian, si tampan Elvino sudah selesai dan dia langsung berjalan mendekati istrinya yang ternyata sudah di bawa keluar dari ruang bersalin menuju ruang operasi.
"Sayang," seru Elvino mengenggam tangan istrinya sambil berjalan mengikuti brankar di mana sang istri terbaring merasakan kesakitan.
"El... perutku sakit sekali," rintih Adelia yang wajahnya terlihat sangat pucat.
"Elvino, kamu harus kuat, Nak. Jangan berhenti berdo'a. Istri dan anakmu pasti akan baik-baik saja." seru Nyonya Risa dan Tante Mona ikut berjalan di samping para Dokter yang mendorong brankar.
"Maaf, kalian semua hanya boleh menunggu di sini." ucap Dokter laki-laki yang akan membius Adelia. Sebelum operasi dilakukan.
"Sayang, yang kuat ya," ucap Nyonya Risa dan Tante Mona memberi semangat sebelum Adelia masuk kedalam ruang khusus untuk di bius.
"Mama, Tante. Tolong do'akan Adelia dan anak kami," pinta si tampan menatap ke-dua wanita yang menjadi orang tua baginya dan sang istri.
"Tentu, Nak! Tanpa kamu pinta, tentu kami akan mendo'akan yang terbaik buat istrimu." jawab mereka serempak.
"Kamu kuat, pasti bisa melewati semua ini, El. Kamu adalah pahlawan keluarga kita. Pasti akan bisa memberikan dukungan untuk istrimu." sambung Tuan Arka dan Paman Hasan yang juga ikut menyusul para istri mereka.
Sedangkan Raya dan anak-anak Paman Hasan lagi sekolah. Belum pulang, karena sekarang masih menunjukkan pukul dua siang.
"Iya, Pa, Paman... tolong do'akan Adel dan anak kami," ucap El tersenyum kecil. Lalu dia pun masuk bersama Tim dokter dan perawat.
"Kakak... hari ini putri kalian mau melahirkan. Tolong do'akan, agar Adel dan cucu kita baik-baik saja." Doa Paman Hasan melihat keponakannya yang sudah hilang dibalik pintu yang sudah ditutup rapat.
Mereka semua hanya bisa duduk menunggu di depan pintu ruangan operasi. Saling berdo'a dan menguatkan satu sama lainya.
Sementara itu, di dalam ruangan yang terasa mulai mencekam. Padahal operasi belum dilakukan. Elvino terus menggenggam tangan istrinya.
Di sertai mengucapkan kata-kata cintanya untuk membuat istrinya bisa kuat menahan rasa sakit mau melahirkan buah hati mereka.
"Auh... sa--sakit sekali, Dok." rintih Adelia saat merasakan jarum bius menembus kulitnya.
"Tidak apa-apa, Nona. Tahan ya, nanti saat sudah melihat si buah hati. Rasa sakitnya akan tergantikan." jawab Dokter Maya tersenyum bahwa menunjukkan pada Adelia jika semuanya baik-baik saja.
Padahal di hati mereka lagi merasa was-was. Takutnya keadaan Adelia tiba-tiba drob, ataupun bayinya yang telah minum air ketuban.
"Sayang, yang kuat ya," satu tangan El mengelus kepala istrinya yang mengeluarkan keringat gara-gara menahan rasa sakitnya. Padahal ruangan tersebut ada AC nya.
"Iya, aku akan kuat demi anak kita." Adelia yang tidak ingin menambah rasa cemas sang suami. Memaksakan untuk tersenyum. Hal sama pula yang dilakukan oleh Elvino.
Intinya mereka sama-sama saling menguatkan. Namun, yang paling merasakan ketakutan adalah Elvino, karena dia sangat takut terjadi sesuatu. Seperti kecemasan para dokter.
"Dok, sudah selesai." kata Dokter yang bertugas membius saja, karena untuk bagian bedah adalah Dokter Maya di bantu rekan dokter terbaik lainya.
"Tunggu lima menit lagi, jangan sampai Nona merasakan sakit. jawab Dokter Maya yang sudah memakai perlengkapan baju operasi. Pakaian yang telah disterilkan untuk mereka semua, termasuk Elvino sendiri.
"Sayang, kamu jangan merasa cemas, ya, ada aku bersamamu. Aku tidak akan membiarkan kamu melewati semuanya sendiri." ucap Elvino melihat para dokter sudah bersiap-siap. Membuat dia yang merasa khawatir dan takut sendiri.
Tidak bisa membayangkan bahwa perut mulus istrinya akan di belah untuk mengeluarkan anaknya. Si calon pewaris Wijaya berikutnya yang belum diketahui jenis kelaminnya laki-laki ataupun perempuan.
"Eum... terima kasih," lirih Adel mulai tidak merasakan apa-apa lagi dibagian tubuh bawahnya.
"Tuan Muda, saat kami sudah melakukan operasi. Anda tidak boleh melihat kearah bawah. Cukup tatap wajah Nona Adelia yang sangat cantik." ucap Dokter Maya kembali mengingatkan.
Padahal sudah ada tabir pembatasan dari bagian dada Adel dan perutnya. Namun, takutnya Elvino tiba-tiba melihat apa yang mereka lakukan di bawah sana.
"Iya, kalian tidak perlu khawatir. Saya tidak akan pekerjaan kalian." jawab Elvino menganggukkan kepalanya.
Lalu tidak menunggu lama operasi Adelia pun langsung dilakukan tempatnya adalah pukul dua lewat tujuh belas menit. Elvino mendengar seorang perawat menyebutkan jam sebelum pembedahan dilakukan.
Meskipun orangnya banyak, tapi di dalam ruangan tersebut terasa sangat mencekam. Soalnya mereka tidak ada yang berbicara dan yang bekerja hanya tangan dengan mata menatap lekat kearah perut Adelia.
"Sayang... kuat, ya. Kamu pasti bisa." ucap Elvino degan suara kecilnya.
Wanita itu sudah tidak merasakan sakit ataupun mules mau melahirkan lagi, karena separuh dari bagian bawah tubuhnya sudah di bius total.
Cup!
Si tampan Elvino mengecup kening istrinya.
"Tentu aku akan selalu ada untukmu dan buah hati kita. Aku sangat mencintaimu," El terus saja mengungkapkan rasa cintanya yang tidak akan pernah habis. Justru semakin hari semakin membesar.
"Aku juga sangat mencintaimu, suamiku. Terima kasih!" jawab Adelia yang tiba-tiba matanya meredup seperti orang kantuk.
Sehingga membuat Elvino mencoba memangilnya dengan perasaan khawatir.
"Sayang, sayang! Apakah kamu baik-baik saja?" ucap Elvino tentu membuat Tim dokter yang di pimpin oleh Dokter Maya langsung melakukan sesuatu.
"Dokter, tekanan darahnya tiba-tiba turun." seru dokter wanita yang bertugas memantau tekanan darah pasien.
"Apa! Kenapa tiba-tiba sekali." seru Dokter Maya yang tetap saja kaget. Walaupun mereka sudah tahu apa penyebabnya dan secepat apa proses penurunan darah pasien.
"Tuan Muda, terus ajak nona muda bicara. Panggil terus namanya, karena kami akan menyelamatkan bayinya terlebih dahulu." perintah salah satu dokter yang ikut membantu Dokter Maya.
"Ba--baik," Elvino tergagap karena tanpa sengaja matanya melihat kearah bawah. Meskipun dia tidak melihat bagian perut istrinya. Tapi tetap saja rasa takut langsung membuat El semakin khawatir pada keadaan sang istri.
"Sayang, ayo bangunlah! Buka matamu. Demi aku, demi anak kita. Aku mohon." ucap Elvino di tepi telinga sang istri yang sudah tidak sadarkan diri. Padahal Adelia tidak dibius total.
Untung saja para Dokter telah menyiapkan stok darah, sebelum melakukan operasi terhadap Adelia, karena dugaan tersebut memang sudah mereka prediksi.
"Dokter Maya..." seru si dokter yang melihat bayinya tidak ada pergerakan sama sekali.
"Dok---"
"Tidak apa-apa! Si tampan Elvino junior akan baik-baik saja." sela Dokter Maya mengangkat bayi kecil yang terlihat sangat tampan. padahal tubuhnya masih dilumuri oleh darah.
"Tidak ada suara dan pergerakan," seru para dokter karena biasanya si bayi akan langsung menangis saat diangkat oleh dokter yang membantunya untuk lahir ke dunia.
"Sayang, ayo bangunlah! Apakah kamu tidak kasihan pada ibumu." ucap Dokter Maya yang membuat Elvino semakin menangis. Dia menggenggam erat tangan sang istri dan mengelus kepalanya.
Ya, saat para dokter berkata bahwa putranya tidak ada pergerakan. Dia langsung menagis karena takut anaknya tidak bisa diselamatkan karena seperti dugaan takut telah meminum air ketuban.
"Anakku... Papa mohon, Nak. Tolong bagunlah. Hanya kalian berdua yang membuat Papa bisa melewati semuanya. Bukannya---"
Belum selesai Elvino berdo'a di dalam hatinya. Suara sang buah hati sudah memenuhi ruang operasi.
Ooeee!
Ooee!
"Dokter, bayinya..." kata rekan, Dokter Maya karena melihat bayinya sudah bergerak dan juga menangis kencang. Pertanda bahwa bayi tersebut masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.
"Iya," jawab singkat Dokter Maya. Seraya membawa bayi laki-laki tersebut berjalan mendekati dada Adelia. Lalu meletakkannya di atas dada sang ibu muda yang belum sadar.
"Tuan Muda, bayinya laki-laki, sesuai prediksi, Anda. Tapi dia akan di bawa keluar lebih dulu karena tugas kami belum selesai untuk menyelamatkan nona muda." ucap si dokter karena mereka tidak banyak waktu untuk membiarkan bayi Elvino menempal pada dada ibunya.
"I--iya, lakukanlah!" jawab Elvino.
Lalu dengan tangan sedikit gemetar, saat menyentuh kepala putranya yang masih berlumuran darah. Mendengar tangisan si buah hati. Membuat si tampan Elvino semakin menangis karena keadaan istrinya belum tahu akan seperti apa.
"Sayang... bagunlah! Anak kita laki-laki, kamu pasti akan tersenyum saat melihatnya." gumam Elvino yang hanya bisa berusaha kuat. Agar dia tidak di suruh keluarga dari ruangan operasi.
Setelah si bayi dibersihkan, salah satu dokter pun membawa bayi tersebut keluar dari ruangan operasi. Sedangkan di dalam para Tim dokter pun masih melanjutkan upaya untuk menolong Adelia.
Mereka bekerjasama dengan sangat baik. tanpa ada perintah pun sudah tahu tugasnya masing-masing.
"Bagaimana? Apakah semuanya sudah mulai stabil?" tanya Dokter Maya yang mulia melakukan penjahitan pada perut Adelia. Yaitu bekas mereka mengeluarkan bayinya.
"Sudah, Dok. Untung saja semuanya sudah kita persiapkan sebelum melakukan operasi, jadi kekhawatiran tersebut bisa dihindari." jawab dokter yang ditanya.
"Baiklah, mari kita selesaikan operasinya. Agar Nona Adelia bisa di bawa keluar dari sini." kata Dokter Maya sebagai pemimpin operasinya berlangsung.
Elvino yang mendengar pun mulai merasakan lega. Setelah mendengar para dokter mengatakan jika istrinya baik-baik saja, karena segala kemungkinan buruk telah dipersiapkan oleh dokter terbaik yang ada rumah sakit tersebut.
Intinya semua itu telah di antisipasi meskipun belum bisa dipastikan berjalan sesuai rencana, karena meskipun telah berantisipasi sejak awal. Apabila tubuh pasiennya tidak memungkinkan. Kegagalan pun tetap akan terjadi.
Hampir tiga puluh menit kemudian, operasi pun selesai dan para dokter tersebut langsung membersihkan kembali tubuh Adelia. Sekalian memakai pakaian bersih khusus rumah sakit Hospital Center.
"Tuan Muda, selamat operasi kita berjalan dengan sangat lancar. Selamat juga atas kelahiran Elvino Junior. Ternyata tebakan Anda benar-benar tidak meleset. Bahwa istri Anda, hamil anak laki-laki." Dokter Maya menjabat tangan Elvino seraya tersenyum bahagia.
"Iya, Saya sangat berterima kasih pada Anda, Dokter Maya. Semua ini berkat bantuan Anda yang menyiapkannya dengan sangat matang." Elvino pun balas tersenyum bahagia selagi menunggu para Dokter yang lainnya menindak lanjuti mengurus istrinya.
Agar saat keluar dari ruangan operasi. Adelia bisa istirahat dalam keadaan bersih. Tidak ada meninggalkan bekas noda darah sedikitpun, ataupun hal lainnya. Cukup di bagian perut, yaitu bekas operasi Caesar saja.
"Kalau begitu kita sama-sama mengucapkan terima kasih, Tuan Muda, karena apabila tidak saling percaya dan dukungan dari keluarga. Maka kami Tim dokter pun ragu untuk melakukan tindakan lanjutan bila hal yang tidak diinginkan sampai terjadi.
"Tapi Dok, berapa lama istri Saya baru akan sadar kembali?"
"Tidak akan lama, mungkin sore ini, atau paling lambat malam jam delapan. Dia pasti sudah sadar." jawab Dokter Maya yang sudah tidak memakai pakaian saat mereka melakukan operasi lagi.
...BERSAMBUNG......