
💝💝💝💝💝💝
...HAPPY READING......
.
.
"Selamat malam, Pa, selamat malam, Ma, malam Adek," ucap El dan Adelia secara bersamaan. Mereka berjalan saling menggenggam tangan masing-masing. Sangat terlihat rona kebahagiaan di wajah keduanya.
"Malam juga, jawab mereka yang di sapa. Sambil menatap kearah pasangan yang lagi dimabuk cinta.
Adelia dengan cinta pertamanya begitu pula Elvino. Meskipun pacarnya seperti kecambah kacang hijau. Tetap saja dia tidak ada mencintai para mantannya.
"Wah, sepertinya ada yang sudah takluk sama cintanya kak Elvino nih," tawa Raya karena saking polosnya Adelia. Dia bercerita pada adik dan mertuanya jika Elvino sudah mengungkapkan perasaan padanya sejak dua bulan lalu.
"Iya dong! Masa iya kakak nggak ada sukses-suksesnya. Kuliah nunggak dua tahun, kerja di perusahaan papa satu bulan gagal. Sampai nggak dapat gaji. Lalu tragis banget kalau menaklukkan hati kakak iparmu tidak bisa juga," El tersenyum menatap istrinya.
Dia benar-benar merasa bahagia bisa mendapatkan Adelia sebagai pendamping hidupnya.
"Pa, sepertinya kita harus merayakan bersatunya cinta mereka," timpal Nyonya Risa tak kalah bahagianya.
"Atur-atur saja, papa ada banyak pekerjaan. Asalkan jangan siang acaranya." jawab Tuan Arka yang sama bahagianya mendengar Adelia sudah menerima putranya.
Soalnya perubahan Elvino adalah karena kehadiran menantu dan cucunya. Jika bukan karena itu, mungkin sampai saat ini anaknya akan tetap menjadi tukang mabuk-mabukan dan playboy cap kampak.
"Baiklah! Kalau begitu Mama mau ke rumah Mona sama Hasan. Mereka harus tahu dan merayakan berita bahagia ini," Nyonya Risa pun mulai mengisi piring buat anak dan suaminya.
Sedangkan Adel hanya mengisi untuk dia dan Elvino saja. Hal yang tidak sengaja mereka lakukan saat di Apartemen, yang akhirnya menjadi terbiasa. Setiap mau makan, Elvino selalu menunggu istrinya yang mengisi piring buat dirinya.
"El, nanti setelah makan jagan dulu kembali ke atas. Papa ingin berbicara di ruang kerja," ucap Tuan Arka sebelum menyantap makan malamnya.
"Huem, iya," Elvino menjawab singkat karena dia dan papanya tidak terlalu dekat.
Akhirnya keluarga Wijaya yang terdiri lima orang itupun mulai makan dengan diam. Tidak banyak bicara karena sudah kebiasaan keluarga mereka.
Sampai sekitar dua puluh menit kemudian. Tuan Arka sudah selesai lebih dulu, tidak lama setelahnya barulah Elvino. Dia lambat karena membantu mengiris daging untuk istrinya.
"Sayang, aku ke ruang kerja papa ya, kamu selesaikan makamnya. Ada mama sama Adek juga." ucap Elvino mengelus sayang kepala istrinya.
"Cie, cie! Mama, kita yang ngontrak diam aja," goda Raya setelah mendengar Elvino menyebut kakak iparnya dengan sebutan sayang.
"Iya, pergilah! Nanti aku akan menunggu di ruang keluarga." jawab Adel mengangguk mengerti.
Cup!
"Makan yang banyak," sebelum pergi Elvino mengecup pucuk kepala istrinya. Sehingga membuat Adel terus digoda oleh Raya.
Tok!
Tok!
"Masuk!" jawab singkat oleh Tuan Arka, dari dalam ruang kerjanya yang terletak di bali tangga arah naik ke lantai dua.
"El, ayo duduklah!" titah beliau berdiri dari kursi kerjanya menuju ke arah sofa agar bisa berbicara dengan nyaman.
Selama Elvino bekerja di perusahaan Wijaya. Ini adalah yang ke-dua kalinya dia dipanggil oleh sang ayah dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Duduklah! Ada hal yang ingin Papa katakan padamu. Cuma yang jelas semuanya bersangkutan dengan perusahaan Wijaya," tutur Tuan Arka ikut duduk bersama sang putra.
"Ada apa, Pa? Sepertinya serius sekali. Apakah Elvino sudah melakukan kesalahan lagi?" tanya calon ayah dengan duduk tenang.
"Huem, tentu saja. Jika masalah banyak pacar, papa tidak pernah tertarik, karena satu istri saja tidak habis-habis." seloroh Tuan Arka yang sangat suka menyingung anaknya.
"Huh! Sabar-sabar! Biar anak El nggak mirip sama Papa," jawab El tidak akan mudah tersinggung pada ucapan ayahnya.
Asalkan papanya tidak marah-marah dihadapan Adelia. Maka Elvino tidak pernah menentang.
Tuan Arka yang mendengar jawaban Elvino hanya tersenyum kecil. Rasanya beliau sudah tidak sabar untuk menimang cucunya.
"El, apa kamu sering melihat Pak Pram pergi keruangan Radit?" tanya Tuan Arka langsung berbicara dengan serius.
"Pak Pram bukan sering ke ruangan Radit Pa. Tapi El sudah berapa kali melihat dia bertemu sama Pak Rehan." jawab Elvino jujur apa adanya.
"Di mana kamu bertemu dengannya? Apakah di saat jam kantor atau setelah pulangnya?" seru Tuan Arka menata putranya dengan serius.
"Saat jam kantor juga ada. Ketika El pulang dari kampus. Tapi pas El masuk bekerja dan bertanya padanya. Dia tidak mengakui sudah bertemu Pak Rehan. Apakah ada yang mereka sembunyikan dari Papa?" sekarang bergantian Elvino yang bertanya.
"Tidak, tidak ada! Hanya saja papa mencurigai Pak Pram yang sudah membocorkan beberapa produk terbaru kita pada perusahaan xx."
"Kenapa bisa seperti itu, Pa? Apakah misalnya jika sudah ada yang bocor seperti itu. Akan berakibat fatal pada perusahaan Wijaya?"
"Iya, tentu saja karena dengan begitu perusahaan yang membeli salinan dari produk kita akan mendapat keuntungan besar. Sedangkan perusahaan Wijaya akan mengalami kerugian lebih besar lagi." terdengar Tuan Arka menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskan kasar.
"Selain Pak Pram, apakah Papa ada mencurigai orang lain? Soalnya jika sedang bekerja. Pak Pram adalah orang yang sangat bagus. Tapi entah jika di belakang. El hanya pernah melihat dia bertemu dengan Pak Rehan saja." ucap Elvino sambil memperhatikan raut wajah papanya yang terlihat lelah dan banyak beban pikiran.
"Untuk sejauh ini belum ada, tapi yang jelas ada pengkhianat di perusahaan kita. Jadi kamu bekerjalah dengan benar sambil perhatikan Pak Pram." jawab beliau sudah berdiri dari tempat duduknya karena ingin melanjutkan pekerjaan yang sudah tertunda.
"Sekarang kamu sudah boleh keluar dan kembalilah ke atas bersama istrimu," titahnya lagi karena tahu bahwa menantunya selalu tidur tepat waktu.
"Iya, kalau begitu Elvino permisi dulu. Jika ada yang bisa El kerjakan, papa bilang saja," si tampan pun akhirnya pergi dari sana degan banyak pertanyaan.
"Papa sepertinya sedang banyak masalah. Apakah yang dikatakannya benar, bahwa Pak Pram melakukan sesuatu pada perusahaan? Tapi apa mungkin dia musuh dalam selimut?" gumam Elvino sambil menuju ke ruang keluarga.
"Sayang, ada apa, Nak? Apakah ada pekerjaan yang sangat serius di Perusahaan?" tanya Nyonya Risa. Begitu melihat kedatangan putranya.
"Tidak ada, Ma. Memangnya Mama tahu darimana kalau lagi ada masalah di perusahaan?"
"Bukan dari mana-mana, Mama hanya menebak saja. Soalnya sekarang jika lagi berada di rumah. Maka papa kalian lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam ruangan kerja." jawab Nyonya Risa yang mengira jika anak dan suaminya sedang membahas masalah yang serius.
"Makanya Mama bertanya," jelas beliau lagi yang langsung membuat El terdiam.
BERSAMBUNG