
Saat Erika mulai menarik perban di tubuh Jacob laki-laki itu hanya bisa menahan nafasnya, gadis kecil itu bergerak melepaskan perban dari depan dada nya, mendekati diri seolah-olah sedang memeluk nya dengan memutar perban di punggung bahu belakang nya, mundur lagi memutar perban lantas maju lagi melepaskan perban ke belakang nya.
Terkadang tubuh dan dada gadis itu terasa bergesek dengan dada nya, aroma rambut Erika tercium begitu lembut dibalik hidung nya.
Gerakan itu dilakukan berulang-ulang hingga membuat laki-laki itu benar-benar mencoba menahan nafasnya untuk waktu yang begitu lama.
Gerakan Erika yang mundur dan menempel ke dada nya cukup membuat diri nya pusing Secara tiba-tiba.
"Apa kamu sedang berusaha untuk menggoda ku?"
Laki-laki itu bertanya sambil mengerutkan keningnya.
Dia terpaksa bertanya karena merasa risih dan terganggu dengan keadaan itu, dia benar-benar merasa tidak nyaman dengan semua nya.
Jika dulu Erika sering melakukan nya karena bagi nya gadis itu masih anak-anak, menempel dan terus mengikuti nya, memeluk atau bahkan mencium nya, tapi sekarang dia tidak bisa lagi menganggap gadis itu anak-anak.
Ada terlalu banyak yang berubah dari gadis itu sekarang, bahkan dari ujung kaki hingga ke ujung rambut nya jelas telah menyatakan gadis itu dewasa dan matang sesuai waktu nya.
Dada penuh berisi, wajah matang, tubuh yang bukan lagi milik anak-anak.
Yah realita nya Dia bukan anak-anak dimasa kemarin lagi, bahkan jika di buahi Erika jelas sudah bisa menciptakan anak sendiri bersama pasangan nya.
Dan itu sangat mengganggu bagi Jacob ketika gadis itu bersikap seolah-olah diri nya anak-anak yang sama seperti di masa kemarin.
"Ya?"
Erika menghentikan gerakan nya, gadis itu kembali duduk dihadapan nya.
"Aku fikir uncle harus cepat-cepat mencari gadis yang baik hati untuk menikahi Uncle, saat seorang laki-laki mulai merasa terganggu dengan gerakan seorang gadis dewasa, itu artinya uncle sudah berada pada mode waspada"
Erika bicara sambil menekan kan kata Mode waspada, bisa dia lihat ada kabut gairah di bola mata laki-laki itu.
Setelah berkata begitu Erika tampak terkekeh geli.
"Aku fikir terdengar Tidak lucu jika uncle berfikir gerakan ku yang seperti tadi di anggap menggoda"
Lanjut Erika lantas menyelesaikan membuka perban terakhir nya, gadis itu kembali menempelkan tubuh mereka, melepaskan perban di belakang nya, sengaja membuat gerakan lamban agar laki-laki itu merasakan apa nama nya menahan hasrat hingga setengah mati.
Dia suka melakukan nya.
Itu seperti permainan tarik ulur.
Mendengar ucapan Erika Seketika membuat Jacob sedikit tidak enak, wajah nya langsung memerah, dia mencoba memejamkan sejenak mata nya saat posisi Erika seolah-olah memeluk nya.
Bisa jadi Erika memang membantu nya dan tidak berfikir untuk menggoda nya.
Dia benar-benar sudah gila saat menanyakan hal seperti tadi pada gadis kecil itu.
Sejenak Erika menyentuh lembut dada Jacob, Seketika laki-laki itu membuka bola mata nya.
Luka di dada laki-laki itu membuat Erika menghela panjang nafasnya
"Uncle butuh seseorang yang bisa merawat uncle dari ujung kaki hingga ke ujung kepala uncle, seseorang yang baik bukan seperti Mommy ku"
Ucap Erika pelan mulai membersihkan luka di dada laki-laki itu.
Mendengar ucapan Erika, Jacob mengerutkan keningnya
"Aku tidak pernah jatuh cinta pada Mommy mu, kami hanya terbiasa berteman sejak kecil, dia sudah seperti adik ku"
Ucap Jacob cepat.
"Benarkah? tapi aku fikir hubungan kalian terlihat tidak biasa-biasa saja?!"
Ucap Erika sambil menatap dalam bola mata laki-laki itu.
Jacob masih terus mengerutkan keningnya, dia Fikir apakah gadis itu terganggu dengan kehadiran nya di rumah mereka selama ini.
"Apa kamu merasa tidak nyaman dengan kehadiran uncle di antara kalian?"
Tanya laki-laki itu pelan.
Erika terlihat diam sejenak.
"Mungkin lebih tepatnya aku cemburu"
Jawab nya sambil terus menelisik bola mata laki-laki itu.
Setelah berkata begitu Erika langsung mengalihkan pandangannya, gadis itu beranjak berjalan ke sisi kanan berusaha mencari kotak P3K di sana.
"Ya?"
Jacob semakin mengerutkan keningnya, dia sedikit terkejut mendengar ucapan gadis itu.