Suami Kejam Yang Terlahir Kembali "Balas Dendam Sang Suami"

Suami Kejam Yang Terlahir Kembali "Balas Dendam Sang Suami"
Rahasia dibalik hati sang pendiam


Masih di Tengah hutan


Pinggiran kota xxxxxxx


Keesokan harinya


Ditengah derasnya suara air hujan pagi yang mengguyur atap dan seluruh sisi rumah kaca tersebut, menampilkan dua sosok manusia yang masih terlelap didalam tidur panjang mereka sejak semalam.



Ditengah dinginnya semilir angin pagi bercampur hawa dingin dari tiap tetesan hujan yang melanda dan menumpahkan buliran nya ke bumi semakin membuat dua anak manusia tersebut larut kedalam tidur lelap mereka.


Alih-alih beringsut bangun, rasa lelah yang mendera Dilara memaksa bola mata gadis itu semakin terpejam dengan sempurna.


Dia semakin menenggelamkan tubuhnya ke dalam mimpi indah nya yang begitu panjang dan manis.


Selimut seolah-olah menjadi tempat paling hangat untuk dirinya saat ini.


Dilara meraba-raba disekitar nya, mencoba mencari selimut untuk menghangatkan tubuh nya yang terasa dingin.


Karena masih di bawah alam sadarnya, gadis menghentikan gerakan tangannya lantas kembali terlelap dalam tidur panjang nya.


Denish sejenak mengerutkan keningnya saat dia merasa sesuatu menjalar disekitar bagian bahunya, laki-laki itu seketika membuka bola mata nya.


Cukup terkejut saat sadar siapa yang ada dihadapan nya.


Dia melihat posisi dirinya dan Dilara untuk beberapa waktu, tangan kirinya berasa di bawah pinggang Dilara, sedangkan tangan kanannya memeluk pinggang kiri Dilara.


Bola mata itu sejenak menelusuri wajah lelap dihadapan nya itu untuk beberapa waktu


Seulas senyuman tiba-tiba mengembang di balik bibir laki-laki itu.



...Hanya visual...


...(Bayangkan ini Denish dan Dilara yah makk🤭)...


Apa dia harus memungkiri kenyataan? dia tidak pernah tersenyum dihadapan semua orang, bahkan tidak pernah tersenyum dihadapan Dilara, tapi diam-diam kadang dia mengulas senyuman ketika melihat wajah polos dihadapan nya itu bertanya cukup sering soal banyak hal, Dilara gadis cerewet yang begitu ceria.


Satu-satunya orang yang membuat dia sering berfikir soal meneruskan hidup adalah gadis dihadapannya itu ketika dia mulai menyerah dengan keadaan.


Gadis itu berkata, selama dirinya sering datang mengunjungi Dilara, itu sudah lebih dari cukup.


Karena itu sejak dulu dia selalu datang membawa berbagai macam buku sebagai alasan untuk mengunjungi gadis itu, mengajarkan permainan piano agar mereka bisa duduk berdua, melirik wajah indah itu untuk waktu yang lama atau bahkan Pura-pura marah hanya demi melihat ekspresi gadis itu berubah-ubah dihadapan nya.


Meskipun sangat minim sekali bicara, bahkan nyaris tidak pernah bicara, ada satu Pertanyaan yang sering Denish tanyakan pada Dilara.


"Apa kamu bahagia?"


Dia ingin gadis itu bahagia dan baik-baik saja meskipun berada di luar jangkauan semua orang.


Dia ingin melindungi nya tapi dia tidak memiliki kemampuan itu sama sekali.


Sambil mengembangkan senyuman Indah nya sambil menampakkan susunan barisan gigi putihnya gadis itu akan menjawab.


"Aku begitu bahagia, selama ada kakak di samping ku itu sudah membuat ku bahagia"


Sejenak Danish menelusuri wajah cantik itu untuk beberapa waktu, secara perlahan dia memajukan wajahnya, dengan gerakan begitu lembut dia menautkan bibir nya pada bibir indah itu untuk beberapa waktu.


Seketika Dilara menggeliat dari tidurnya, dia tersentak karena merasa ada yang menyentuh bibirnya.


Bola mata gadis itu terbuka perlahan dan menyadari jika Denish sudah terbangun dari tidurnya.


Dia menyadari posisi mereka, dengan refleks Dilara langsung beringsut dari posisi tidurnya.


"Kakak baik-baik saja? apa masih terasa sakit?"


Tanyanya cepat sambil berusaha turun dari kasur nya, memutar jalan untuk melihat punggung laki-laki itu.


Sejak dulu memang selalu seperti itu, Denish jarang sekali menjawab pertanyaan nya, hanya menghela nafasnya, diam lantas membuang pandangan nya.


Sambil menghela pelan nafasnya Dilara menekukkan wajahnya, dia fikir..


Kan...?! dia lagi-lagi seperti itu.


Ucapnya pelan didalam hatinya.


Tangan nya kini Mulai bergerak memeriksa luka di punggung laki-laki itu.


Rasanya dia ingin sekali memeluk punggung kokoh namun memiliki hati serapuh buliran salju pertama di musim dingin itu.