
Rumah sakit Utama
Del Piero hospital
Pusat kota
Ozvit tampak langsung berdiri begitu pintu ruangan operasi terbuka, beberapa dokter terlihat keluar dari sana, satu dokter terlihat berdiri di ambang pintu ruangan tersebut sambil melepaskan masker nya, kedua tangan dokter tersebut masuk kedalam kantong pakaian nya.
"Bagaimana?"
Ozvit bertanya dengan tidak sabaran, ingin tahu bagaimana keadaan sang istri nya itu.
Sang dokter tampak menganggukkan pelan kepalanya, tidak ingin beraksi berlebihan, takut melebarkan senyuman nya bakal disangka mengejek atau di anggap bersalah oleh laki-laki dihadapan nya itu.
Bergerak dan bertindak sembarangan dihadapan Ozvit jelas bukan hal yang baik, mereka tahu temperamental laki-laki itu tidak lah baik, sebab salah sedikit saja nyawa mereka bisa melayang.
"nyonya baik-baik saja, kita akan memindahkan Nyonya muda ke ruangan khusus keluarga Hurairah, efek obat biusnya masih bekerja, kemungkinan akan terbangun dalam beberapa waktu kedepan"
Ucap dokter tersebut.
Mendengar ucapan laki-laki dihadapan nya itu cukup membuat Ozvit merasa begitu lega, dia fikir itu artinya Hazel baik-baik saja.
Sang Daddy tampak menepuk-nepuk punggung nya, sedangkan nenek tua Del Piero mengangguk-angguk kan kepalanya dengan cepat, sebuah senyuman mengambang di balik wajah nya.
"Apakah kondisi rahim nya baik-baik saja?"
Wanita tua itu terlihat begitu khawatir.
"Semua baik-baik saja, nyonya"
Mendengar ucapan dokter tersebut wanita tua itu menarik lega nafasnya.
Wanita tua itu jelas bersedih karena dia kehilangan harapan menimang Cicit di tahun ini, tapi melihat ekspresi Ozvit yang begitu mengkhawatirkan hazel, laki-laki yang dia tahu betul karakter buruk nya soal perempuan itu bisa menangis karena seorang Hazel cukup membuat dirinya lega.
Dia fikir itu berarti dia tidak perlu mengkhawatir kan soal apapun, hubungan dua cucu mantu nya itu pasti baik-baik saja, mereka bisa membuat nya lagi nanti dikala kondisi kesehatan Hazel sudah membaik.
Ketika para dokter dan perawat memindah kan hazel menuju ke kamar VVIP, mereka secepat kilat ikut pergi dan masuk kesana, melihat harap-harap cemas wajah pucat yang tertidur lelap itu dengan jutaan rasa sedih yang menghantam.
Setelah para dokter menempatkan posisi terbaik untuk Hazel dan selesai pada tugas mereka, mereka dengan cepat meninggalkan keluarga itu.
Sejak awal masuk kedalam ruangan tersebut, Ozvit bahkan tidak melepas kan pandangan nya sedikit pun dari sang istri, laki-laki itu terus duduk disisi kanan Hazel sambil terus menggenggam erat telapak tangan Hazel untuk waktu yang begitu lama.
Dia begitu mengkhawatirkan perempuan itu, takut jika-jika hal-hal buruk terjadi. Menyesali soal buah hati mereka jelas begitu menyesakkan apalagi jika dia harus menyesali soal sang istri juga.
Ozvit benar-benar merasa gagal menjadi suami yang bisa melindungi istri nya dan juga buah hati mereka untuk saat ini.
Entah pukul berapa hari ini ketika Ozvit tanpa sengaja terlelap disisi Hazel, tiba-tiba dia bisa merasakan tangan lembut perempuan itu bergerak perlahan dari tidur lelapnya.
Hazel membukakan bola mata nya secara perlahan, mencoba membiasakan bola matanya untuk beberapa waktu terhadap suasana dihadapan nya itu.
Perempuan itu terlihat mengerutkan keningnya, menoleh kearah sisi kanan nya dengan gerakan perlahan, bisa dia lihat samar-samar wajah sang suami yang mulai mendekati nya, awalnya masih belum begitu jelas hingga akhirnya benar-benar terlihat dengan begitu jelas.
Ozvit menyentuh lembut wajahnya, tangan kokoh dan besar itu mengelus lembut pipi kanan nya.
Hazel memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu, menikmati sentuhan hangat yang belakangan menjadi candu untuk dirinya.
"Apakah ada yang sakit?"
Laki-laki itu bertanya begitu lembut, membiarkan sang istri menikmati telapak tangan kokoh nya yang terus bergesek ke pipi halus tersebut.
Hazel mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya, dia fikir seharusnya dia masih berada di gudang tua, mengejar langkah penembak yang mencoba menembak Denish dikala laki-laki itu mencoba melindungi suaminya.
Seketika ingatan soal mereka terjatuh ditangga menghantam kepalanya, Hazel ingat soal sesuatu, dia dengan cepat meraba perut nya, dia merasa sesuatu yang nyeri dan sakit terasa dibawah sana.
Rumah sakit?.
Dia fikir apa dia telah kehilangan sesuatu didalam sana.
Melihat ekspresi panik Hazel yang mencoba menyentuh perut nya sendiri seketika membuat Ozvit menelan salivanya.
"Sayang?"
Ozvit bertanya dengan suara bergetar.
Hazel langsung menatap dalam bola mata nya.
"Apakah aku kehilangan dirinya?"
Bibir Hazel Tampak bergetar, bola matanya terlihat berkaca-kaca, seketika dia berfikir mereka benar-benar kehilangan nya.
Rasanya perut dan dibawah sana menjadi aneh, dia baru saja memeriksa keadaan nya kemarin, 2 garis merah dari benda pipih berwarna putih itu terlihat begitu imut dan indah dibalik bola matanya pagi kemarin.
Dia fikir akan memberitahukan berita baik itu pada sang suami dikala dia menyiapkan sesi makan malam bersama nantinya.
Melihat ekspresi Hazel seketika Ozvit memeluk erat tubuh perempuan lemah itu, laki-laki itu berbisik lirih dibalik tangisan tertahan nya.
"Maafkan aku yang gagal melindungi nya"
Mendengar ucapan itu persis seperti mendengar petir di pagi hari yang cerah tanpa hujan atau angin sama sekali, begitu sakit, sangat menyakitkan untuk diri Hazel.
Seketika perempuan itu menangis, meraung dan terdengar begitu pilu, memecah keheningan pagi indah dimana para seisi alam semesta tengah menikmati keindahan nya.