
Penjara xxxxxxx
Pinggiran kota
Ozvit melangkahkan kakinya secara perlahan menuju ke tempat gelap dan pengap dihadapan nya itu, suara langkah sepatu yang saling bersahutan antara sepatu dia dan sang sipir terdengar memenuhi tiap ruangan ber jeruji besi tersebut.
Bola mata Ozvit terlihat menatap ke arah depan dengan pandangan yang begitu datar dan dingin tanpa berniat menoleh ke sisi kiri dan kanannya.
Hingga akhirnya sang sipir menghentikan langkahnya di sebuah jeruji besi berukuran sempit dan pengap, laki-laki itu membiarkan Ozvit untuk bicara dengan sang penghuni nya.
"10 menit, tidak lebih"
Ucap laki-laki bertubuh besar itu pada Ozvit.
Sebenarnya pengunjung hanya boleh bertemu di luar sana, ada ruangan khusus untuk para narapidana bertemu dengan anggota keluarga nya, namun karena permintaan Ozvit untuk menemui yang bersangkutan langsung didalam akhirnya mereka menyetujui nya.
Seseorang didalam jeruji besi itu tampak berjalan mendekati Ozvit, bola matanya cukup terbelalak saat sadar siapa yang ada dihadapan nya saat ini.
"Halo bibi"
Ucap Ozvit sambil menaikkan ujung bibirnya.
"Kau berani-beraninya datang kemari?"
Beria bicara dengan suara tinggi nya, dia benci melihat sosok laki-laki dihadapan nya itu, baginya Ozvit seolah-olah penghancur kebahagiaan nya, jika tidak ada Mommy Ozvit, maka dia pasti berhasil melakukan Rencana nya dimasa lalu.
"Bahkan dipenjara pun tidak membuat kamu berubah, Bi"
Ucap Ozvit sambil menatap dalam bola mata wanita yang pernah mengisi kehidupan Daddy nya dan semua orang di rumah mereka.
Mendengar ucapan Ozvit, Beria tertawa terkekeh.
"Kau menceramahi ku, huh?"
Dengus wanita itu cepat.
Alih-alih mendengar kan ucapan Beria, Ozvit berkata.
"Kau tahu? apa penyakit paling mengerikan dalam kehidupan manusia?"
"Penyakit hati "
Ucap Ozvit sambil menatap tajam ke arah Beria,
"Tidakkah kau tahu? penyakit hati dapat membawa manusia pada perbuatan maksiat juga dosa, Penyakit ini bisa menyesatkan seorang Muslim dan menjauhkannya dari Allah"
"Sakitnya hati merupakan kerusakan yang menimpanya, yang merusak pandangan dan keinginannya terhadap kebenaran. Seseorang yang berpenyakit hati tidak melihat kebenaran sebagai kebenaran"
Ucap Ozvit pada Beria.
Karena sesungguhnya hati diciptakan oleh Allah untuk membawa kebahagiaan sekaligus kebinasaan pada manusia. Rasulullah SAW bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh kalian terdapat segumpal daging; bila ia baik, maka akan baik seluruh badannya. Namun bila ia rusak, akan rusak pula semua tubuhnya. Ingatlah, itu adalah hati. [Muttafaq ‘alaih].
Mendengar ucapan Ozvit Beria Tampak menelan salivanya.
"Kau tahu? Daddy ku dan aku bukanlah orang yang serakah, kami tahu bagaimana membagi hak dengan adil di dalam keluarga, seandainya kau meminta hak Denish dengan cara baik-baik, maka kami pasti akan memberikan nya"
"Bahkan Daddy ku mencintaimu dengan baik, memperlakukan mu dengan baik, juga menerima mu dengan baik, lalu sebenarnya apa lagi yang kau cari daripada semua yang telah kamu dapatkan sejauh ini?"
Beria sejenak mematung, dia jelas berfikir sejauh ini sebenarnya apa yang dia inginkan?.
"Tidak bisa menjawab nya?"
Tanya Ozvit kemudian.
"Ambisi' "
Ucap Ozvit pelan.
"diartikan sebagai “keinginan (has.rat, naf.su) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu yang kau inginkan lainnya"
"Sayang nya ambisi mu melenceng hingga mengorbankan banyak orang yang tidak bersalah. Bahkan Tanpa kamu sadari, ambisi mu menyeret kamu pada persoalan yang menyengsarakan kehidupan mu sendiri dikemudian hari seperti hari ini"
Seketika Beria lagi-lagi menelan salivanya.