Suami Kejam Yang Terlahir Kembali "Balas Dendam Sang Suami"

Suami Kejam Yang Terlahir Kembali "Balas Dendam Sang Suami"
Lembut dan manis


Dilara bingung dengan respon tubuh nya yang tiba-tiba meremang, dia fikir ini aneh dan sedikit memalukan.


Wajahnya seketika memerah saat ini.


Dia mencoba membuang pandangannya.


Setelah laki-laki itu meletakkan kalung itu dileher nya , Laki-laki itu secara perlahan menyentuh mainan nya.


"Dia memang indah"


Denish bicara sambil membawa Dilara menuju ke arah kaca besar yang ada di sisi kiri kamar tersebut.


Sejenak Dilara menatap pantulan dirinya dan Denish didepan cermin itu, dia fikir dia baru tahu laki-laki itu pandai memuji.


Yang dia ketahui selama ini jika Laki-laki itu begitu kaku dan sedikit pendiam selama ini, tapi rupanya semakin dia mengenal Denish dia semakin tahu betapa hangatnya laki-laki itu.


"Kamu tidak suka?"


Denish bertanya sambil sedikit mengerutkan keningnya.


Dikata buru-buru menggelengkan kepalanya.


"Aku suka, ini begitu indah"


Jawab gadis itu cepat sambil mengembangkan senyuman nya, dia menyentuh mainan kalung nya dengan bola mata berbinar-binar.


Denish menyentuh lembut ujung kepala, membiarkan Dilara menikmati keindahan yang ada dileher nya.


Laki-laki itu kemudian berjalan menuju ke walk in closed, mencoba mencari pakaian ganti miliknya dengan cepat.


"Kak"


Ucap Dilara pelan, gadis itu menoleh cepat kearah Denish, tapi wajah nya langsung memerah saat sadar laki-laki itu tengah berganti pakaian.


"Ada apa?"


Denish bertanya sambil melirik ke arah Dilara.


Dia Baru selesai menggunakan celananya, dengan gerakan cepat laki-laki itu menggunakan baju kaos nya.


"Jika aku merindukan kak Hazel, aku Bagaimana cara bertemu dengan nya?"


Tanya Dilara pelan.


"Kita akan pergi ke toko besok, membeli handphone untuk kalian agar bisa berkomunikasi dengan mudah"


Jawab Denish Lantas meletakkan handuk mandi nya yang mendominasi berwarna putih ke atas kursi di sudut kamar tersebut.


"Handphone?"


Dilara mengerutkan keningnya.


Dia Fikir itu mungkin benda pipih aneh yang selalu dibawa oleh Denish.


"Sebentar"


Denish bicara mendekati majas, dia meraih sesuatu di dalam laci.


Laki-laki itu meraih handphone dari sana, berjalan mendekati Dilara lantas membawa gadis itu agar duduk ke pinggir kasur bersama.


Dilara duduk di atas kasur secara perlahan, Denish tampak duduk disamping Dilara, laki-laki itu membiarkan kedua tangan nya berada di kedua bahu Dilara.


Memeluk nya sambil mengajarkan nya bagaimana membuka handphone dan cara dasar lainnya.


Ucap Denish pelan, membiarkan kedua tangan Dilara meraih handphone tersebut


"Coba buka dari sini"


Laki-laki itu mengajarkan Dilara untuk menyalakan handphone nya.


Dengan ragu-ragu gadis itu mengikuti perintah dan instruksi Denish.


"Gerakkan kemari"


Ucap Denish lagi.


Dilara memperhatikan gerak-gerik tangan Denish, seperti anak-anak yang dapat mainan baru, dia benar-benar di buat penasaran akan benda indah dihadapan nya.


"Kita coba untuk berfoto lebih dulu"


Bisik Denish pelan.


"Bisa?"


Dilara langsung menoleh ke arah Denish.


"Bisa, sebentar"


laki-laki itu kembali menggerakkan handphone nya, membuka bagian kamera lantas menyalakan nya.


"Tersenyumlah"


Bisik Denish lagi.


"Dia benar mengeluarkan gambar kita"


Dilara Tampak terpana dengan apa yang dia lihat.


"Bersiap Dan kamu bisa menekan tombol ini untuk menangkap gambar nya"


Ucap Denish lagi.


"Hanya begitu? tekan yang ini?"


Tanya Dilara pelan.


"Hmmm aku akan mengambil gambar pertama kita"


Setelah berkata begitu Denish tampak bersiap.


"Lihat aku"


"Ya?"


Dilara menuruti ucapan Denish.


Begitu dia menoleh, bibir nya dengan lembut menyatu dengan bibir Danish, terdengar suara klikkk dari arah handphone tersebut dan sebuah cahaya yang menerpa wajah mereka.


Eh?.


Seketika Dilara terkejut dengan tindakan Denish, dia mematung saat merasakan lembut dan manis nya bibir itu menyatu pada bibirnya.


Seketika wajah Dilara memerah karena malu, dia memejamkan perlahan bola matanya.