
Gedung xxxxxxx
Pusat kota
Dilara Tampak bingung ketika semua orang membawa nya ke sebuah bangunan besar di pusat kota xxxxxxx, kubah mewah yang dia tidak tahu itu tempat apa.
Tapi tempat itu benar-benar terlihat begitu mewah,dia fikir apa yang akan mereka lakukan setelah ini?.
"Kita Kenapa kemari?"
Dia menoleh kearah Denish, menggenggam erat telapak tangan laki-laki itu.
Ketakutan jelas terpancar dibalik wajah cantik nya itu.
Meskipun dia tahu uncle Jo dan Hazel adalah keluarga nya, tapi bagi Dilara satu-satunya yang dia kenal hanya Denish, satu-satunya orang yang dia jadikan pegangan dan tempat berpijak selama ini hanya laki-laki itu.
Denish secepat kilat menyentuh wajah gadis itu, dia mencoba menatap dalam bola mata Dilara.
"Biarkan kami bicara sejenak"
Ucap Denish.
Semua orang tampak memberikan jarak, memberi waktu pada dua orang itu untuk saling bicara.
"Ini mungkin akan membingungkan untuk diri mu, tapi sebelum Kita melangkah kedalam aku akan memberitahukan kamu soal sesuatu"
Ucap Denish pelan, mencoba menatap dalam wajah gadis yang ada dihadapan nya itu.
Denish secara perlahan menyentuh pipi Dilara.
Mendapatkan sentuhan seperti itu seketika membuat gadis itu memejamkan bola matanya.
Sesuatu yang aneh terasa merayap di balik perasaan nya, jantung nya jelas berdetak begitu tidak beraturan, dia menyukainya, begitu lembut dan Hangat.
"Ini pernikahan kita"
Suara Denish tiba-tiba memenuhi pendengaran nya.
Eh?.
Seketika bola mata Dilara terbuka, gadis itu menatap Denish dengan pandangan yang cukup membingungkan.
Dia tidak begitu paham soal apa itu pernikahan, tapi bibi pelayan pernah berkata, menikah itu merupakan di mana dua orang yang saling menyukai mengikat janji setia, mereka akan berbagi kehidupan, berbagi soal banyak hal bersama, tinggal bersama bahkan......
Tidur bersama.
"Apa kakak mencintai ku?"
Dilara bertanya dengan nada ragu-ragu.
Bibi pelayan bilang pernikahan terjadi atas dasar cinta, tidak boleh ada rasa keterpaksaan didalam hati semua orang.
Sebab pernikahan bukan kisah main-main yang boleh di gunakan dua anak manusia.
Pernikahan hanya boleh di lakukan seumur hidup, mereka akan bertemu dengan Orang yang sama setiap hari dari pagi bertemu pagi, melewati banyak hal bersama, mencoba saling membiasakan diri, kebiasaan bisa jadi berubah, akan ada visi dan misi didalam nya, bahkan mereka akan punya rencana juga tujuan untuk masa depan mereka.
Juga akan ada anak-anak yang hadir diantara mereka ketika tuhan menghendaki nya.
"Aku bukan type laki-laki romantis yang pandai mengucapkan kata-kata indah, tapi kamu alasan ku satu-satunya bertahan hingga hari ini"
Ucap Denish pelan sambil terus menatap wajah gadis dihadapannya itu.
"Setelah pernikahan ini mungkin perjuangan kita masih akan berjalan panjang, ada banyak orang yang harus kita yakinkan, aku akan tetap bertahan meskipun nanti ada yang meminta nyawaku untuk mempertahankan perasaan ku pada mu"
Ucap Denish lagi.
Kata-kata terakhir Denish jelas membuat Dilara mengerutkan keningnya.
"Aku tidak mengerti?!"
Ucap Dilara pelan.
"Seiring berjalannya waktu kamu akan paham dengan sendirinya"
Setelah berkata begitu Denish tampak melepaskan tangan nya dari wajah Dilara, laki-laki itu mundur beberapa langkah lantas Denish mengulurkan tangan kanan nya, menatap gadis itu dengan bola mata berkaca-kaca.
"Aku akan tanyakan sekali lagi, Dilara... maukah kamu menikah dengan ku? melewati seluruh hari-hari bersama ku hingga kita menua dan mati bersama nantinya?"
Gadis itu tampak diam, menatap bola mata Denish dan telapak tangan hangat itu secara bergantian.
Sejenak keheningan tampak terjadi di antara mereka.
Dilara seolah-olah sedang berfikir soal jawaban nya saat ini.