
Dilara jelas tidak mau, dia terus mundur dan menggelengkan kepalanya, menatap wajah laki-laki dihadapan nya itu dengan pelupuk mata yang penuh oleh air mata.
Melihat ekspresi Dilara jelas membuat Denish harus ekstra sabar dan cepat untuk membujuk gadis itu, dia tengah berpacu dengan waktu.
Jika mereka terlalu lama mengulur waktu, dia takut orang-orang akan tiba lebih dulu ditempat itu untuk mendapatkan mereka.
Mereka pada akhirnya akan terpisah.
Laki-laki itu secepat kilat menyambar tubuh Dilara, dia menggenggam kedua belah pipi gadis itu sambil menatap bola matanya.
"Percaya pada ku, kita akan baik-baik saja"
Mendengar ucapan Denish gadis itu mulai mengeluarkan suara tangisan nya, dia jelas menangis sesenggukan.
"Mommy akan menghukum mu, Mommy akan membunuh mu, dia bilang dia tidak akan mengizinkan kita bertemu jika Mommy melihat kita melarikan diri sekali lagi"
Ucap gadis itu cepat sambil terisak, dia menggenggam erat telapak tangan dengan jutaan kekhawatiran.
Dia tidak mau itu terjadi, tidak mau sama sekali. Dia tidak butuh kebebasan yang ditawarkan, hidup seperti itu dalam seumur hidup nya juga tidak apa-apa, asalkan Denish baik-baik saja itu sudah cukup baginya.
"Percayalah pada ku ini akan baik-baik saja, jika kita tidak pergi sekarang mereka akan memisahkan kita"
Ini kali pertama Denish banyak bicara pada Dilara, dia cukup bingung untuk bergerak merayu anak tersebut.
"Aku mohon sekali ini saja dengarkan aku, jika kita tidak segera pergi, maka kita benar-benar akan dipisahkan"
Laki-laki itu secepat kilat mencoba menarik lengan Dilara.
Tapi gadis itu sama sekali tidak mempercayai ucapan nya.
Bola mata Denish terus melirik kearah depan, dia fikir menyakinkan gadis ini jelas akan sangat sulit, satu-satunya cara dengan membuat Dilara kehilangan sejenak kesadaran nya.
Dia benar-benar terpaksa melakukan nya.
Laki-laki itu secara perlahan memeluk Dilara yang terus menatap nya dalam ketakutan, tidak ingin pergi dan takut hal buruk terjadi pada mereka.
Tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba sesuatu yang menyakitkan ditancapkan Denish ke lengan belakang nya, Denish terus memeluk dirinya sambil berbisik Begitu lembut.
Pandangan nya mulai mengabur, tubuh nya terasa begitu lemas dan rasa kantuk jelas Menghantam dirinya.
Secara perlahan tubuhnya merosot begitu saja, tapi Denish dengan cekatan meraih tubuh Dilara, mengangkat nya dalam keadaan masih terluka parah, membawa gadis itu masuk kedalam mobil nya.
Tidak...kak... bagaimana jika Mommy menemukan kita?.
********
Ketika semua orang mulai memecah barisan, mencoba masuk secara perlahan menuju ke arah dalam rumah kaca tersebut bak anggota NYPD yang akan menangkap sang tersangka utama.
Orang-orang berpakaian serba hitam dengan beberapa senjata ditangan mereka terus memeriksa satu persatu ruangan tersebut.
Membuka satu persatu pintu dan mencoba mencari jejak yang tersisa Disana namun rupanya NIHIL, mereka tidak mendapati satu makhluk hidup pun yang tinggal di tempat itu.
Setelah memecah tugas dan barisan, mereka masuk ke ruang tengah sambil menggelengkan kepala mereka.
Menandakan pencarian mereka yang cukup sia-sia, mereka memilih mundur secara cepat ketika salah satu teman memberikan instruksi dari balik earphone mereka masing-masing.
"Lawan bergerak mendekat dalam radius 100 meter"
Secepat kilat mereka bergerak keluar, meninggalkan rumah kaca tersebut tanpa banyak bicara.
Dalam beberapa waktu setelah mereka keluar, satu kelompok orang-orang dengan beberapa kendaraan mulai turun dan ikut menyeruak masuk, sama seperti tim sebelumnya, mereka melakukan pencarian sia-sia.
"Brengsek"
Terdengar umpatan dibalik bibir seseorang.
Laki-laki dengan pakaian serba hitam dan berwajah seram terlihat mulai mencoba menghubungi seseorang.
"Kita kehilangan bocah itu, aku fikir bocah sialan itu pasti bergerak mendahului kita"
Ucap laki-laki itu cepat sambil mengeratkan rahangnya.