Suami Kejam Yang Terlahir Kembali "Balas Dendam Sang Suami"

Suami Kejam Yang Terlahir Kembali "Balas Dendam Sang Suami"
Gadis lain di tengah hutan Pinggiran kota


Tengah hutan pinggiran kota xxxxxxx


02.10 AM


dini hari



Denish berjalan dengan langkah terseok-seok menuju ke salah rumah dengan desain serba kaca yang berada tidak Jauh lagi dihadapan nya, darah segar mengalir dari arah Punggung nya.


Dia terbatuk-batuk Sejenak sambil menahan sakit, kaki dan tangan kirinya mulai terasa sulit untuk digerakkan saat ini.


Bahkan nafas nya sudah mulai sulit untuk di tarik atau di buang dari rongga pernafasan nya, dia fikir mungkin tidak lama lagi dia akan tumbang atau bahkan mati.


Begitu dia tiba di pintu depan rumah kaca tersebut, seketika dia membuka pintu rumah itu dengan Secara paksa.


Brakkkkkkk


Denish berusaha untuk masuk masih dengan nafas tersengal-sengal.


Seorang gadis seketika tercekat, menolah kearah depan sambil menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya.


"Kak?"


Gadis itu secepat kilat meraih tubuh laki-laki itu.


"Kamu tidak apa-apa?"


Dia bertanya panik, saat menyadari tubuh laki-laki dihadapan nya itu telah dipenuhi oleh darah, seketika gadis itu menangis tanpa berani mengeluarkan suaranya.


"Dilara"


Denish bicara sedikit lirih, masih bisa menatap wajah cantik dihadapan nya itu sejenak hingga akhirnya dia menutup bola mata nya secara perlahan.


"Kak...kak..?"


Gadis yang dipanggil Dilara itu tampak mengguncang-guncang tubuh laki-laki itu untuk beberapa waktu.


*******


Tengah hutan pinggiran kota xxxxxxx


Di keesokan harinya.


21.20 PM


Malam


Setelah semalaman menjaga laki-laki itu bahkan bertemu pagi hingga ke malam nya lagi, Denish belum juga bangun dari tidur nya.


Dia fikir seharusnya Denish baik-baik saja, menurut ilmu pengobatan yang dia pelajari sejak kecil dari buku-buku yang diberikan Denish pada nya sejak dia berusaha entah berapa tahun dulu dia tidak tahu, mengobati luka parah seperti itu sudah cukup baik dan seharusnya luka yang dialami Denish sudah baik-baik saja.


Tapi meskipun dia sudah membalut luka nya dan mengobati nya dengan seluruh kemampuan nya, laki-laki itu nyatanya belum tersadar dari pingsannya.


Dia tidak tahu harus membawa Denish kemana, dia tidak pernah tahu jalan keluar dari hutan tersebut, bahkan tidak tahu bagaimana cara mengendarai mobil atau motor yang di sediakan di garasi sebelah yang dititipkan Denish beberapa Minggu yang lalu.


Sejak masih anak-anak, dia tinggal di tempat ini dengan beberapa pengetahuan dalam menggunakan alat-alat modern didapur saja, dia hanya tinggal ditempat ini bersama bibi pelayan yang baru saja meninggal karena sakit 2 hari yang lalu yang diberikan oleh Mommy Denish dimasa lalu.


Tidak ada alat komunikasi, tidak ada televisi, tidak ada radio atau Bahkan penduduk lain yang bisa dia jadikan teman bergaul.


Mommy Denish selalu memperlakukan dirinya dengan cara buruk, satu-satunya orang yang memperlakukan dirinya dengan baik hanya bibi pelayan yang mengabdi dan merawat nya.


Denish tidak bisa dia bilang baik tapi tidak juga bisa dia bilang tidak baik, laki-laki itu begitu dingin dan datar setiap kali bertemu dengan nya.


Meskipun tidak baik karena dia sering mendengar laki-laki itu bicara kasar melalui benda pipih yang mereka bilang itu adalah handphone, memarahi pelayan di rumah nya tanpa alasan atau bahkan membuat dia ketakutan karena tatapan matanya yang begitu tajam bak elang ketika marah dengan orang-orang suruhan Mommy nya yang ingin berbuat tidak-tidak padanya, tapi terkadang ketika laki-laki itu datang dia akan membawakan nya banyak buku-buku pelajaran, memberikan nya buku soal ilmu kedokteran, membawakan nya buku-buku resep makanan yang begitu dia sukai, membelikan nya peralatan canggih ditempat tinggal nya, mengajarkan dirinya cara menggunakan peralatan elektronik canggih tersebut bahkan mengajarkan dirinya bagaimana cara memainkan piano yang ada di ruang tengah.


Meskipun tidak pernah tersenyum kearahnya, terkadang pernah membentak nya karena kesal melihat kebodohan nya, tapi laki-laki itu terkadang menyentuh lembut ujung kepalanya tanpa Sebab setiap kali setelah Mommy Denish memarahi nya, laki-laki itu bahkan akan berkata jangan menangis dan semua pasti baik-baik saja, atau bahkan laki-laki itu akan bertanya pada nya.


Apakah kamu ingin pergi dari sini?.


Dilara ingin sekali pergi dari sana.


Dulu, dulu sekali laki-laki itu pernah mencoba membawanya keluar dari tempat itu, tapi saat Mommy Denish mengetahui nya, laki-laki itu hampir mati di siksa.


Dia digantung, di pukul bahkan di cekik dengan cara yang begitu mengerikan.


Karena itu Dilara bersumpah tidak akan pernah keluar dari sana meskipun orang-orang memaksanya, dia tidak ingin Denish terluka seperti di masa kemarin lagi.


Tapi hari ini tiba-tiba dia mendapati laki-laki ini pulang dengan membàwa luka ditubuhnya, Denish nyaris sekarat.


Satu-satunya orang yang dia miliki saat ini hanya Denish, Dilara fikir jika sesuatu yang buruk terjadi pada laki-laki itu, bagaimana dengan dirinya.


Sejenak Dilara tersentak dari tidurnya ketika samar-samar dia mendengar Denish mulai mengigau dalam tidurnya.


"Kak...kak...?"


Gadis itu jelas panik.


Laki-laki terus mengigau tidak jelas, bisa dia lihat tubuh laki-laki itu tiba-tiba menggigil.


"Kak... jangan membuat ku takut"


Dilara jelas panik, seketika air matanya tumpah tanpa bisa dia hentikan.