
Sejenak Jacob tersentak dari tidurnya untuk beberapa waktu saat dia merasakan sakit di dada sisi kiri nya.
"Uncle?"
Sebuah suara terdengar lirih dibalik telinga nya, bisa dia rasakan sebuah tangan menyentuh lembut ujung dada nya.
Laki-laki tua berkharisma itu Sejenak mencoba membiasakan bola mata nya pada silaunya lampu kamar yang ada di atas kepalanya itu untuk beberapa waktu.
Sejenak dia mencoba menarik perlahan nafasnya, rasa sakit jelas terasa di dada nya sejak awal, bisa dia rasakan sesuatu yang berat dan mengganjal seolah-olah memenuhi seluruh bagian dadanya.
"Apa ada yang terasa sakit?"
Erika bertanya pelan ke arah laki-laki itu, mencoba menahan gerakan Jacob agar tidak terlalu banyak menggeser tubuhnya ke sisi kiri dan kanan, dia khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada luka nya, mengingat betapa parah nya luka itu sebelum nya.
Sejenak Jacob mengerutkan keningnya, sambil membenahi posisi nya agar sedikit bersandar ke belakang kasur, dia baru sadar siapa yang ada dihadapan nya itu.
"Apa yang kamu lakukan disini, gadis kecil?"
Tanya laki-laki itu cepat.
Mendengar pertanyaan itu Erika menghela nafas nya pelan.
"Tentu saja tinggal di rumah ku sendiri uncle, apa lagi yang bisa aku lakukan? kecuali makan, tidur dan membaca beberapa buku-buku lawas"
Ucap Erika sambil mengembangkan senyumannya.
"Seharusnya aku yang bertanya pada laki-laki tua ini, apa yang terjadi pada uncle? aku menemukan uncle tergeletak di jalanan saat aku akan pergi ke diskotik bersama teman-teman ku"
Mendengar kata diskotik Jacob langsung terbelalak, dia seperti nya marah saat ini.
"Kamu pergi ke diskotik lagi? aku sudah bilang berhenti bermain-main ketempat seperti itu"
Erika terlihat mengembangkan senyuman.
"Aku hanya mengantar seorang teman lama yang berkunjung kemari"
"Kamu selalu punya banyak alasan untuk menjawab kata-kata uncle"
"Ckckckkck aku seperti sedang di marahi oleh seorang kekasih"
Goda Erika sambil terkekeh.
"Ya?"
Jacob mengerutkan alisnya.
Jacob Berusaha untuk sedikit memundurkan tubuhnya, dia jelas merasa cukup terganggu dengan gerakan refleks Erika yang bergerak melewati tubuhnya begitu saja, membiarkan aroma rambut khas nya menerjang Indra penciuman nya.
Shi..t.
Jacob mengumpat sambil menahan sakit didadanya, laki-laki itu memejamkan sejenak bola matanya.
Erika sejak dulu selalu seperti itu, bergerak kesana-kemari, melakukan banyak hal tanpa meminta persetujuan atau pendapat dirinya, terkadang memaksa nya untuk pergi kemanapun yang gadis itu sukai, bahkan berkali-kali gadis itu memeluk dan mencium nya dengan cara yang begitu hangat, berkata seolah-olah dia adalah daddy ke dua nya, tanpa gadis itu sadari sifatnya itu benar-benar mengganggu kehidupan Jacob.
"Tidak bisa kah kamu berjalan dari sisi kanan kekiri Lewat arah depan saja?"
Tanya jacob tiba-tiba, dia merasa terganggu karena tubuh mereka nyaris menempel dengan gerakan tiba-tiba.
"Ya?"
Erika bertanya sambil menghentikan gerakan nya, dia malah langsung duduk menghadap Jacob seperti tanpa dosa, sedikit dengan sengaja seolah-olah siap menggodanya tapi seperti biasa gadis itu tahu bagaimana membuat permainan tarik ulur untuk laki-laki itu.
"Aku hanya butuh mengambil handphone ku, bukankah terlalu ribet kalau aku harus berjalan memutar seperti ini?"
Erika bertanya sambil menggerakkan jari telunjuk dan jari tengah nya, seolah-olah membentuk kaki seseorang yang tengah berjalan tepat di dada Jacob.
"Itu melelahkan"
Setelah berkata begitu gadis itu mengedip kan sebelah matanya.
Jacob fikir.
Anak ini benar-benar!!!.
Erika meletakkan handphone nya ke atas kasur, lantas dengan cepat gadis itu mencoba menyentuh dada sebelah kiri laki-laki itu.
"Apa sakit? kita akan mengganti perban nya"
"Aku Fikir biarkan pelayan yang mengurusnya"
Jacob merasa Singkuh gadis itu mencoba meraba-raba dadanya.
"Aku sedikit tidak rela jika tubuh sixpack ini disentuh oleh perempuan lain"
Ucap Erika sambil mulai memaksa membuka baju laki-laki itu dengan cepat.
"What?"
Jacob bertanya sambil menatap dalam wajah perempuan yang ada di hadapannya itu.