
Pusat Kota
22.10 PM
Malam
Sejenak Dilara tersentak dari tidur lelapnya ketika dia merasakan sesuatu menyentuh lembut Wajah nya.
Tidak tahu Kenapa seluruh tubuhnya terasa begitu berat dan lelah, kepalanya terasa sedikit pusing dan dia harus membiasakan bola mata untuk terbuka secara perlahan.
Seolah-olah tubuhnya baru saja Bekerja begitu banyak hingga membuat dirinya merasa kelelahan dan kepayahan.
Saat gadis itu membuka bola matanya, bisa dia rasakan ada begitu banyak sekali cahaya lampu yang menerpa wajah nya dan menembus bola mata indah nya, dia Fikir ini bukan dirumah nya.
Secara perlahan Dilara berusaha untuk membenahi posisi duduknya, dia baru sadar jika kini dia berada di dalam mobil tepat disamping Denish.
Dan saat Dilara menyadari pemandangan di depannya seketika gadis cantik itu tercekat, dia langsung membulat kan bola matanya.
Dia seolah-olah berada di dunia asing, dunia baru yang sama sekali tidak dia kenal.
Bangunan tinggi yang membelah langit ada dimana-mana, jutaan lampu warna warni menyilaukan bola matanya, gambar-gambar wanita cantik dan laki-laki tampan ada di setiap jalan, ada papan-papan besar memenuhi jalanan, jutaan kendaraan yang bahkan berlalu lalang.
Dia fikir dia ada di mana sekarang?.
Apa dia sudah mati dan hidup di syurga?.
Ini kali pertama dia melihat dunia aneh yang begitu indah luar biasa.
Bahkan kendaraan mereka harus merangkak perlahan menyeruak di jalanan agar bisa lewat bergantian menembus jalanan.
Benar-benar dunia asing yang belum pernah dia temui didalam seumur hidupnya.
"Kak?"
Dilara langsung menoleh ke arah Denish, dia panik dan takut, dia benar-benar tidak paham ada dimana saat ini.
Bahkan bisa dia lihat ada banyak jembatan penghubung atau tempat lautan Manusia berhenti dengan berbagai macan ekspresi, berbagai macam wajah dengan pakaian luar biasa berbeda-beda.
Seolah-olah dari hutan dia melompat ke dunia aneh yang benar-benar membuat dia kehilangan kata-kata.
"Ini dimana?"
Dia takut semua orang yang melihat mereka akan menyakiti Denish.
Alih-alih menjawab, laki-laki itu malah menggenggam balik telapak tangan nya, dia berkata.
"Ini akan jadi rumah baru kita, kota tempat berbaur terbaik kita dengan identitas baru, kamu akan terbiasa hidup disini dan melupakan masa lalu bersama"
Ucap Denish sambil mengembangkan senyuman nya.
Seketika Dilara membeku, ini kali pertama dia melihat laki-laki dihadapan nya itu tersenyum.
Dia terlihat begitu tampan dibalik bola mata gadis itu.
Denish tersenyum didalam seumur hidup nya, laki-laki itu benar-benar tersenyum.
Senyuman itu membuat jantung nya ingin melompat keluar secara tiba-tiba.
"Kita ada dimana?"
Tanya Dilara pelan dengan raut wajah bingung nya.
Denish menyentuh lembut wajah gadis itu, kemudian laki-laki itu berkata.
"Pusat kota,kita akan tiba di rumah dalam beberapa menit kedepan, sejenak lagi dengan kehidupan baru kita, aku, kamu dan masa depan kita"
Setelah berkata begitu Denish melepaskan tangan nya dari wajah cantik yang kebingungan itu.
laki-laki itu terus fokus pada stir mobilnya.
Yah aku, kamu dan masa depan kita.
Gumam Denish pelan.
Dia tidak peduli lagi dengan urusan lainnya, yang dia tahu mereka akan hidup dengan cara mereka, dia ingjn Dilara menjadi gadis yang hidup ditempat selayaknya.
Dia tahu ini akan sulit, tapi dia yakin Dilara akan terbiasa dengan suasana baru disekitar nya, gadis itu akan berbaur dengan mudah pada akhirnya.
Mungkin dia bisa membayangkan Konsekuensi nya, satu hari Dilara bisa terpengaruh pada pergaulan baru yang gemerlap dan menyilaukan mata, akan ada banyak orang baru dan teman baru yang akan membuat gadis itu tertarik.
Karena itu Denish telah merencanakan sesuatu yang lain untuk terus membuat Dilara berada di samping nya, bukan karena dia serakah,tapi Karena baginya Dilara satu-satunya orang yang membuat dia nekat melakukan banyak hal untuk memberontak pada semua orang.