
Sejam berada diruang tunggu akhirnya, para penumpang sudah diperbolehkan untuk menaiki pesawat, Ranti yang baru pertama kali naik pesawat agak merasa gugup.
Ranti masih bersikap tenang, dan ketika pesawat mulai take off, Ranti hampir - hampir tidak bernapas, itulah pengalaman pertama bagi siapa saja yang baru pertama kali naik pesawat, pikirnya
Sekitar satu jam lebih pesawat mengudara akhirnya pesawat bisa landing dengan selamat di bandara Adi Sucipto Yogyakarta.
Ranti langsung menggunakan kacamata Quantum untu mencari hotel dan dia menemukan di daerah Malioboro tepatnya dekat mall Yogyakarta.
Ranti memindai semua area untuk mencari petunjuk. Setelah melakukan check in, Ranti diarahkan ke kamar, Ranti hanya mencuci muka dan keluar dari kamar.
Saat keluar kamar tiba-tiba perutnya mulai minta untuk diisi, selesai mengisi perut sambil membawa Ransel, Ranti mulai menyusuri jalanan, tiap gadis yang kira - kira berusia 18 tahun di pindai dengan dengan mata semesta, namun dia belum mendapatkan informasi apapun.
Dia teringat dengan pak Haris, kemudian dia menelpon dan menanyakan ciri-ciri dari anak bibinya.
Pak Haris hanya mengatakan kalau anak-anak bibinya hidup jauh dari kata cukup. Ranti menanyakan apakah pak Haris memiliki foto mereka tapi lagi-lagi dia mengatakan tidak memilikinya.
setelah menutup telpon Ranti, mencoba berjalan kearah pasar, karena mungkin sudah sore jadi pasarnya sepi, besok pagi saja kembali kesini.
Semakin Sore jalanan semakin rame, dengan yang agak lambat sambil memindai gadis-gadis muda, namun hasilnya masih sama. Dan dia memutuskan untuk kembali ke hotel.
Setiba di hotel Ranti langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri serta berganti pakaian. di rasa sudah rapi, ia kembali ke jalanan dan kali ini kearah barat dia melewati berbagai warung makan dan angkringan, matanya tertuju pada 2 gadis yang wajahnya sangat mirip dan sedang berjualan kacang rebus.
Dua gadis itu mendorong gerobak, dan Ranti pura-pura melewati mereka dan dia memindai punggung mereka dan ternyata walau agak samar gambarnya, jelas terlihat mirip dengan gambar miliknya.
Sebelum ke dua gadis itu, Ranti melihat salah satu gadis itu terlihat capek dan benar saja, ketika Ranti memfokuskan mata semesta, dia melihat ginjal salah satu gadis itu sudah rusak.
Ranti mendekat dan bertanya, " berapa harganya jika beli 1 liter", gadis yang memegang ukuran 1 liter menjawab 15 ribu. Ranti tidak menawar dan membelinya.
kedua gadis itu tidak langsung pergi, melainkan masih duduk di bangku taman dan terlihat dia memegang tangan yang di panggil adik.
Ranti yang tidak hampir menahan kesedihannya, tetap berusaha untuk menahannya dan berkata, kayaknya adikmu sedang sakit?
Ia , adikku memang sakit, tapi dia maksa ikut untuk jualan. kata sang kakak
setiap hari kalian jualan kacang rebus, tanya Ranti
ia, setiap malam dan kalau pagi hingga siang saya bantu tetangga jualan sarapan pagi, ya lumayan dapat makan gratis dan uang 20 ribu.
Pulang rumah istirahat dan mulai merebus kacang, begitu setiap hari. lanjutnya
Emang kalian tinggal sama siapa, Ranti mencoba lebih dalam.
Kami tinggal berdua saja, ayah dan ibuku sudah meninggal, keluarga kami disini juga susah jadi ya mau gimana lagi, masih untung ada yang bisa kami buat.
oh ya maaf, perkenalkan nama saya Ranti Putri, kalau kamu
Aku Renata dan dia adikku Renita, ngomong- ngomong, kamu bukan asli Jogja ya tanya Renata
Ia saya tinggal di Surabaya dan baru tiba tadi sore dan ini kali pertama saya kesini dan rencana hari Sabtu Lusa saya kembali ke Surabaya.
Maaf Ranti, saya mau keliling lagi, ini masih banyak. kata Renata yang melihat kacangnya masih belum setengah yang laku.
Kalau saya beli semuanya kira - kira berapa semuanya ? tanya Ranti
Kalau kamu mau 400 ribu, tapi apakah kamu bisa menghabiskannya, tanya Renata bingung
Ranti menjawab, Kamu bungkus saja dan bagikan ke siapa saja secara gratis, katakan kepada mereka bahwa malam ini ada yang traktir, itu saja.
Baiklah, adik tolong bantu kakak ukur setengah literan nanti kakak yang keliling membagikan kepada pelanggan setia kita, nanti jika ada lebih baru kita bagikan ke siapa saja.
Dengan cekatan kedua kakak beradik itu mengukur dan membungkus kacang rebusnya, setelah dirasa cukup sang kakak, mulai berkeliling.
Tepat jam 20.30 WIB, mereka selesai, Ranti membayar 1juta dan mengajak mereka makan, mereka menolak dengan alasan uang yang di berikan sudah sangat banyak, Ranti memaksa dan akhirnya mereka menerimanya.
Sambil menikmati makanan, mereka ngobrol.
Renata, boleh tau gak rumah kamu dimana ? tanya Ranti
Rumahku dekat sini, disana kelihatan dari sini di belakang warung nasi Padang itu. kata Renata
Boleh aku kerumah kalian, kata Ranti
Boleh kali ini Renita yang menjawab.
Tapi maaf rumah kami hanya gubuk tua, peninggalan kakekku, sambung Renita
Selesai mereka makan, Renita mengajak kakaknya pulang dan Ranti mengikuti mereka.
Sebelum mereka sampai rumah, Renata mampir ke warung sekedar beli Teh, gula dan satu pak nugget ayam makanan favorit Renita.
Dari warung itu, mereka memasuki gang dan ternyata benar Rumah mereka sudah sangat Tua.
Mari Ranti, maaf rumah kami seperti ini. Renita bersuara
gak apa-apa, dulu saya tinggal di panti asuhan, jadi sangat paham dengan hidup yang sudah. kata Ranti
Kalian masih lumayan tinggal berdua, aku anak tunggal, jadi ketika keluargaku tidak ada ya aku sendirian, hanya saja waktu di panti aku bertemu dengan empat orang yang saat ini menjadi kakak angkat, nasib kami sama dan sama -sama tinggal di Panti. Tapi sudah sebulan kami berlima tinggal sendiri. Ranti curhat
Apa kamu masih sekolah Ranti, tanya Renata
Aku dan keempat kakakku semuanya masih sekolah dan kami semua menerima beasiswa jalur prestasi. dan ini mereka, Ranti mengaktifkan Handphone dan menunjukkan ke mereka berdua.
Apa ini dirumah kalian, tanya Renata
Ia itu rumah kami, kalau kalian mau ikut ke Surabaya, kalian bisa tinggal dengan saya.
Renata merespon dengan ketawa kecil, kamu Ranti ngajak kita gak kira-kira, ke candi Borobudur saja aku tidak pernah, apalagi ke Surabaya, sambil senyum malu Renita menjawab.
Boleh tau nama lengkap kalian berdua..
Renita langsung berubah wajahnya, dan rasa aneh, dan perasaan curiga mulai hinggap di pikiran nya
Nama lengkap ku Ranti Putri SETIAWAN, ayahku Adriansyah Setiawan. Dan jika benar firasatku kalian anak bibiku, Nindya Pratiwi Setiawan, apa benar itu nama ibu kalian.
Renata dan Renita, terlihat ketakutan, mereka mengingat surat yang ditinggalkan ibu mereka, agar berhati-hati jika ada yang menggunakan nama belakang Setiawan dan menyebut nama ibu mereka.
Renita menjawab, maaf kami tidak tahu nama ibu kami, sedari kecil kami di sini bersama kakekku, kata Renata.
Ranti tak menyerah, Dia melepaskan jaketnya dan mengangkat kaosnya dan terlihat simbol keluarga SETIAWAN, namu dia dengan lingkaran Biru, dan Ranti berkata, kalian berdua juga memilikinya namu lingkaran kalian warna hijau. kata Ranti kepada mereka
Menurut buku peninggalan ayahku, mengatakan bahwa kakek memilki 3 orang anak ;
- Ferdiansyah Setiawan, anak pertama
- Adriansyah Setiawan, anak kedua
- Nindya Pratiwi Setiawan, anak ketiga
Simbol keluarga SETIAWAN, gambar dan model yang sama, hanya berbeda pada garis lingkaran luar. Anak pertama, garis lingkaran merah, anak kedua biru dan anak ketiga warna hijau.
Maaf Ranti, kami tidak mengerti, apa yang kamu bicarakan.
Jangan takut, kita bersaudara namun kalian berhati-hati dengan jika bertemu dengan logo yang sama dan berwarna merah. kata Ranti
Aku saksi saat rumahku diserang paman Ferdiansyah. Kalian dengar omongan orang yang tau Kadus kejahatan paman Ferdiansyah. tegas Ranti.
Haris yang belum tidur mengangkat telepon dan berbicara, Ranti sengaja memasang airbud nya ke mereka berdua agar mereka mendengar dengan jelas.
Renata dan Renita mendengar dengan hati - hati, penjelasan Haris, walau hanya sedikit yang Haris ketahui, tapi justru ia mengetahui bagian penting persoalan keluarga SETIAWAN.
Dengan bahasa yang lugas, Haris berusaha meyakinkan Renata dan Renita, soal keluarga mereka, namun mereka masih berkeras hati menyangkalnya.
Aku kesini ingin membantu kalian berdua, terutama Renita yang saat ini butuh pengobatan ginjalnya, jika aku tidak salah, dokter sudah menyarankan agar di operasi pengangkatan Ginjal yang rusak. kata Ranti
Mereka terkejut, darimana Ranti tahu penyakit Renita.
Ranti melanjutkan, jika kalian menolak mengakui keluarga ibumu tidak apa-apa, tapi tolong hapus tanda yang ada punggung kalian berdua.
Dan jika suatu saat saya bertemu dengan ibu kalian, maka saya tidak akan memberitahukan kepada kalian, jika ibumu masih ada.
Dan juga bagaimana mungkin ibumu akan tahu kalian, mungkin disaat ibumu di temukan nanti, pasti Renita sudah menghadap Tuhan karena ginjalnya. ancam Ranti.
Jika kalian percaya kepadaku, besok aku akan mengobati Renita dan kita kalian bisa hidup lebih baik, bahkan sangat baik ! lanjut Ranti meyakinkan
Terakhir, jika orang tua kita memang sudah tidak ada minimal kita bertiga bisa hidup lebih baik, dan terserah kalian mau tinggal dimana, mau ikut aku ke Surabaya atau kalian mau tinggal disini.
Jika kalian mau tinggal disini dan dirumah ini, aku pastikan rumah ini akan ku renovasi atau bangun ulang. tolong percayalah, Ranti sudah mulai tak bisa menahan diri
tinggal kalian kakak-kakakku yang sedarah dengan aku. aku ingin kalian menjalani hidup senang dan bahagia, kalian hanya pantas takut sama, Paman Ferdiansyah Setiawan, dialah yang menghancurkan hidup kita.
Tapi semua tergantung kalian mau percaya atau tidak, jika memang kalian tidak mempercayai ceritaku, kalian jangan kuatir aku janji tidak akan pernah datang lagi mengganggu kehidupan kalian.
Kalian mau hidup susah atau lebih susah dari sekarang ini, itu bukan urusan ku, buat apa jauh-jauh kesini dan hanya mendapatkan keegoisan kalian.
Aku mengorbankan sekolah ku hanya untuk mencari kalian dan harapanku kita bisa sama-sama sebagai keluarga.
aku tanya sekali lagi apa di punggung kalian apakah ada tato seperti saya atau tidak, jika tidak ! tolong perlihatkan punggung kalian
Renata dan Renita, mulai goyah, bukan karena apa yang di tawarkan Ranti, tapi mereka juga kepingin bertemu dengan keluarga ibunya.
Kami tinggal dirumah ini dari usia 2 tahun dan tak pernah melihat ibu kami lagi. Kami hanya mendapat peninggalan surat dan kalung liontin, gelang giok dan cincin giok, kata Renata mulai luluh.
Apa bentuknya seperti ini, dalam surat ibu benda ini hanya ada 3 tiga pasang, 2 berada di kalian dan 1 berada di samaku. kalian tau benda ini pemberian ayah saya disaat kalian lahir dan yang aku pakai juga di berikan ayahku saat aku lahir. apakah kalian sudah percaya aku saudaramu..
Maafkan kami, umur kami 18 tahun, kamu umur berapa?
Aku 15 tahun, jadi aku panggil kakak dan kalian panggil adik.
Renita keluar dari kamar dan menunjukkan barang peninggalan ibunya.
Dan Ranti juga menunjukkan barang yang sama miliknya.
Pada akhirnya mereka berpelukan dan menangis bahagia. kakak berdua malam ini ikut aku ke hotel dan besok pagi aku akan mengobati Renita dan kakak Renata, kakak Renata terkena radang paru-paru, walaupun baru stadium awal. Atau malam ini saja aku obati. kalian berdua, toh waktunya hanya 30 menit dan di hotel ada air hangat, biar besok kita bisa jalan-jalan ke Candi Borobudur.
Baiklah Ranti, kakak ikut bagaimana menurut kamu baik.
Ya sudah ayo bungkus baju ganti, buat mam ini saja, besok kita jalan-jalan ada baju buat kakak berdua.
Renata dan Renita, terlihat bahagia karena akhirnya mereka bertemu saudara nya. Namun mereka belum memutuskan untuk tetap tinggal Jogja atau ikut Ranti ke Surabaya
Taksi datang dan mereka meluncur ke ke hotel, 20 menit kemudian mereka tiba di hotel, Ranti memesan kamar satu lagi untuk Renata dan Renita.
Setelah sampai di kamar Renata dan Renita, Ranti menyuruh mereka agar bersiap, dan yang pertama adalah Renita, Ranti terlebih dahulu menjelaskan proses pengobatan yang nanti akan sangat menyakitkan, Renita menjawab, " Aku sudah siap "
Renita hanya menggunakan pakaian dalam dan berbaring, Ranti meminta Renata agar tenang.
Setelah Renita hendak berbaring di dalam bathtub, Ranti meminta Renita agar menelan pil surgawi tersebut.
5 menit berlalu, pil mulai bekerja dan Tampak wajah Renita mulai berubah, tubuhnya mulai bergetar secara perlahan, memasuki menit ke sepuluh getaran semakin kencang, Renita mulai berteriak-teriak namun tetap berusaha untuk bertahan...
Keringat bercampur cairan dan cairan berwarna hitam pekat mulai menyebarkan bau yang lumayan Renata hampir muntah
Menit ke 25, getaran tubuhnya sudah reda dan diganti rasa hangat, dan pingsan
Renata yang melihat Renita pingsan jadi kuatir, namun Ranti menjelaskan tunggu 3 menit lagi dia sadar, Renata tolong atur suhu air. dan akhirnya Renita sadar
Renita kaget karena banyaknya cairan berwarna hitam pekat yang lengket di kulitnya.
Renita berdiri dari bathtub dan menuju ke shower, ketika air hangat mengguyur, Renita merasa ada yang berbeda...