SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN

SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN
Mantan sekelas


Terserah apa kata orang-orang, uang dari orang jahat itu mending kuberikan ke Panti asuhan saja, Ranti kemudian menghubungi Pak Pribadi untuk menanyakan berapa biaya pembangunan gedung sekolah dan panti Al Azhar.


" Halo Om, bagaimana desain dan berapa kira-kira anggaran nya, untuk panti asuhan Al Azhar" ? tanya Ranti.


" Desainnya belum selesai, tapi untuk anggarannya paling sekitar 250 milyar, itu sudah sampai mengisi ruangan kelas, Kantor dan keperluan Panti, serta perangkat CCTV, kalau kurang paling tidak sampai 10 milyar, ucap Pak Pribadi.


" Jadi kapan selesai desainnya, dan kapan mulai pembangunannya,tanya Ranti.


" Awal bulan sudah selesai dan Minggu kedua bulan depan sudah bisa mulai pembangunannya, ucap Pak Pribadi.


" Baiklah, tolong sesegera, saya harap tahun depan sudah bisa menerima murid, bagaimana, tanya Ranti


" Kayaknya belum bisa Nona Muda, takutnya jika kita bangun terburu-buru, nanti kualitasnya kurang baik", ucap pak Pribadi


" Oke baiklah, apakah direktur Ane tidak ada masalah dengan proyek ini, tanya Ranti


" Tidak ada Nona, kita sudah sepakat, proyek kecil atau besar harus di terima ketika di tunjuk, apalagi kita dengan PT Andalan Mas, melakukan kerjasama eksklusif,.ucap Pak Pribadi.


" Baiklah Om, Ranti tunggu perkembangannya, dan jika semua sudah beres dan akan memulai Pembangunannya", Ranti segera transfer uangnya, ucap Ranti.


" Oke Nona Muda, jawab Pak Pribadi.


Tak berapa lama Ranti dan Salma, sudah tiba di Rumah, mereka di sambut oleh Bu Likha.


Rumah terlihat sepi, Bu Likha melaporkan bahwa semuanya pada pergi jalan-jalan ke Mall Galaxy.


" Salma, kamu mandi dulu, abis itu kita makan, perintah Ranti


" Ia kak, jawab Salma.


Ranti juga langsung masuk kamar dan menuju ke kamar mandi.


Ranti menghubungi Bu Farida, menanyakan laporan keuangan Panti


" Halo Nak Ranti, laporan pengeluaran keuangan panti sudah ibu kirim ke email kamu, Ucap Bu Farida.


" Maaf saya belum sempat baca, tapi kira-kira saldo rekening Bank ada berapa lagi, tanya Ranti.


" Masih banyak, kiriman kamu saja yang Minggu ini belum tersentuh, saat ini sudah dengan yang kami kirim Minggu ini ada sekitar 300 milyar, rencananya mau di buatkan deposito berjangka agar ada pemasukan bunga dari bank per tahunnya, ucap Bu Farida.


" Besok undang Suster Diana, kita ketemu di Panti Asuhan Charity, jam 5 sore, juga pengurus Panti yang lain, ucap Ranti.


" Baik Nak Ranti, ibu segera hubungi Suster Diana, ucap Bu Farida.


" Terimakasih Bu, Ranti istirahat dulu, ucap Ranti dan menutup telpon.


" Kak ayo turun, ajak Salma ".


" Sekarang kok makin tambah manja, ucap Ranti ".


" Hehehehe, Salma juga gak tau, tapi perasaan Salma sangat ingin di perhatikan dan disayang kakak aja, ucap Salma jujur.


" Kamu itu, memangnya Salma takut kalau kakak, gak akan sayang lagi dengan Salma gitu", ucap Ranti


" Ia, Salma takut kakak terlalu sibuk dan mengabaikan Salma, apalagi kak Darel sekarang sudah di Jakarta, ucap Salma.


" Hehehehe, jangan kuatir sayang, kakak akan selalu berusaha ada untuk Salma dan Armando, ucap Ranti.


" Maaf Kalau Salma buat kakak repot, ucap Salma


" Kakak gak repot mengurus kalian berdua, justru kakak bahagia, dengan hadirnya kalian di hidup kakak, ucap Ranti.


" Terimakasih kak, Salma beruntung bisa menjadi adik dari kakak yang sangat baik, ucap Salma.


" Kaka hanya minta, jangan pernah kecewakan kasih sayang kakak, ucap Ranti.


" Tidak akan, balas Salma".


Dari arah pintu masuk, terdengar orangtua dan kakak-kakak Ranti sudah pulang.


" Kalian sudah lama sampai, tanya Monicha.


" Sudah sejam, kata Ranti.


" Princes, mommy dan Dady, mau ke Jogja, lihat rumah si kembar, sekaligus antar bibimu kesana, bagaimana? tanya Monicha.


" Tapi jangan lama-lama, dan hati-hati ucap Ranti.


" Dek, Kami boleh pakai pesawat kamu, ucap Si kembar


" Pakai saja, pesawat itu aku buat kita, bukan buat orang lain, ucap Ranti.


" Ade terbaik sedunia, kakak jadi makin sayang, ucap Renita ".


" kalian semua juga kakak terbaik sedunia, jadi kalau mau pake pesawat ngomong saja, kalau aku lagi sibuk ngomong sama Rendi, atau aku belikan kalian satu mau gak, ucap Ranti.


" Gak usah, ucap si kembar".


" Tenang saja, aku dapat jatah pesawat pribadi dari perusahaan pembuat pesawat Jet Pribadi, di Amerika, aku sudah membeli 80 % saham perusahaan mereka, ucap Ranti santai.


" Princes, kamu beli berapa dolar Amerika saham mereka, tanya Adriansyah.


" Tahun lalu aku beli senilai 250 milyar dollar, sudah dengan pabrik suku cadang, dan perusahaan jasa maintenance pesawat, ucap Ranti.


" Baiklah, Ucap Adriansyah.


Saat ini, mereka telah berada di perjalanan menuju, Bandara Juanda.


Selesai mengantar mereka semua, Ranti bersama Salma, Armando dan Rindu kembali ke rumah, Mercy dan Friska, ikut Darel ke Jakarta untuk beberapa hari, itu juga Ranti suruh mereka agar refreshing setelah selesai ujian Nasional.


Apalagi, Mercy dan Friska, rencananya mau kuliah di Universitas Airlangga, alasannya, mereka tidak ingin Ranti jauh-jauh dari saudara-saudara nya


Ditempat yang berbeda, Vanya beserta kedua orang tua angkatnya, serta kedua paman dan bibinya, Supomo dan istrinya, sudah tiba di batu Malang, mereka hadir untuk menghadiri acara salah satu saudara mereka, tapi bukan saudara kandung dari Elok.


Ketika mereka tiba, banyak yang terpana dengan mobil Alphard yang di kendarai oleh Vanya.


Ketika mereka berlima turun dari mobil, mereka lebih terkejut dengan pakaian dan perhiasan yang mereka gunakan, walaupun brand lokal, tapi kualitasnya sangat baik, dan tentunya memiliki harga yang cukup mahal.


Mereka menjadi pusat perhatian di acara nikahan saudara mereka, sangat berbeda dengan 4 saudara Elok yang berpenampilan sangat sederhana, padahal untuk kurang orang sekampung, Pakaian mereka sudah cukup mahal.


mereka menatap Vanya yang semakin cantik dan terurus, untuk kalangan gadis muda mereka tertarik dengan tas Hermes dan ikat pinggang kulit dari Hermes, serta perhiasan, dan paling menjadi perhatian justru iPhone 14 Promax miliknya.


Penampilan mereka sepadan dengan harta yang mereka miliki saat ini, pekerjaan yang bagus, gaji Gunadi saja sekita 20 juta, untuk Supomo 15 juta, cukup buat biaya hidup mereka sebulan.


Setelah selesai acara, salah satu Paman Vanya menegurnya.


" Vanya, maafkan Paman dan Bibi yang sudah menyakiti kamu dan orang tua mu, ucapnya.


" Aku sudah melupakannya, lagian untuk apa aku mengingatnya, semuanya sudah tidak penting, kalian bukan saudaraku, jadi maaf aku tidak memiliki Paman seperti kamu, jadi tolong, jangan dekat-dekat dengan saya, ucap Vanya dengan sinis.


" Baguslah kalau kamu mengerti, ingat baik-baik, dilihat dari apapun, aku tidak hubungannya dengan kalian, sudah begitu, kalian juga tidak pernah menerima saya, jadi istilah Paman itu memang di tidak berlaku, aku pun tidak punya hutang Budi sekecil apapun dari kalian, sudah sana temani istri kamu, ucap Vanya dengan kasar.


Tamu undangan yang paham dengan masalahnya, hanya maklum, karena memang keluarga Mereka yang tidak mengakui Vanya.


Elok dan Supomo, di dekati saudara kandung mereka, tapi Elok hanya menjaga etika saja, apapun yang mereka utarakan dia hanya menjawab dengan singkat, berbeda dengan Supomo yang masih menanggapi obrolan mereka.


" Dek apa kamu masih marah dengan kami, ucap kakak perempuan kedua Elok.


" Tidak, hanya malas saja". jawab Elok


" Mas, apa segitunya Elok membenci kami, ucap kakak perempuan kedua itu ke Supomo".


" Jangan bahas masalah yang sudah terjadi", ini bukan di rumah kalian, ucap Supomo.


" Ya sudah, nanti mampir kerumah kami ya Mas, ucap mereka.


" Tidak, saya sudah berjanji tidak akan datang kerumah kalian barang selangkah pun, ucap Supomo.


" maafkan kami mas, ucap mereka".


" Kalian sudah ku maafkan, tapi situasinya sudah berbeda, kami juga sudah tidak memiliki hak apapun di dalam keluarga ini, jadi biarlah seperti ini, kita jalani hidup masing-masing, kalian berempat, sedangkan saya hanya dengan Elok saja, lagi pula kalian lebih memiliki banyak harta dari dari kami, ucap Supomo menyindir.


Elok hanya sibuk dengan handphone, saat Supomo ngobrol dengan adik-adiknya, dia asik ngobrol lewat WA dengan Bram yang berada di Papua.


" Elok jadi kamu memang sudah tidak menganggap kami saudaramu, tanya mereka.


" Kalian tetap saudara ku, tapi saya mengikuti omongan kalian, jangan mencari kalian selama Vanya masih ada sisiku, aku menghargai kalian, makanya aku turuti permintaan kalian, apa kalian lupa, tanya Elok.


" Lupakan soal itu, kami berjanji akan menerima Vanya sebagai keponakan kami, ucap mereka.


"apa benar begitu, atau karena kalian tahu di sekarang sudah sangat kaya dan memiliki adik yang sangat kaya, kenapa tidak dari dulu" ? tanya Elok dan langsung membungkam mulut mereka.


" Kami sudah menyadarinya betapa kami sangat menyayanginya, ucap mereka, yang mencoba merayu Elok.


' Tanya saja ke Vanya, apa dia masih menganggap kalian saudaranya, ucap Elok.


" Kenapa harus Vanya yang membuat keputusan, kamu orangtuanya? ucap mereka.


" Dia berhak menentukan siapa yang dia suka dan hormati, jadi itu hak dia, toh Vanya juga tak pernah merugikan kalian, jadi untuk apa juga dia menganggap kalian, ucap Elok.


" Mas, acarnya sudah selesai belum, kalau sudah kita pulang yuk, ucap elok ke Supomo.


Belum sempat Supomo menjawab, terdengar suara Vanya, memanggil mereka, untuk segera salaman dengan pengantin.


Saudara kandung Elok, hanya terdiam saat melihat Elok dan Supomo berjalan ke arah pasangan mereka dan naik ke pelaminan untuk bersalaman.


" Mas, kayaknya Elok dan mas Supomo sudah tidak menghargai kita, ucap salah satu kakak perempuan Elok".


" Terus mau gimana lagi, semua sudah terlambat, apalagi mereka sudah hidup dengan sangat berkecukupan, ucap kakak laki-laki ketiga Elok.


" Yang nas dengar saat ke kantor RPS Multidana Finance, Vanya salah satu pemilik dari perusahaan itu, Vanya saja sudah masuk daftar wanita muda terkaya di Indonesia, ujarnya.


" Kata siapa mas, tanya saudara Elok yang lain.


" Lihat foto - foto Vanya, dia lagi pimpin rapat di salah satu Gedung milik adiknya di Jakarta, juga video singkat dia lagi di dalam Pesawat Jet Pribadi, milik Perusahaan mereka.


" Kata anak- anak gadis tadi, harga tas Vanya bernilai 200 juta, ikat pinggangnya 15 juta, sedangkan handphone nya saja 20 jutaan, ucap kakak perempuan Elok.


" Sudahlah, kita yang salah, kita yang tidak pernah menerima Vanya, dan lihatlah mas Supomo, kata Tristan dulu sepulang dari rumah, adiiknya memberikan Supomo, uang 25 milyar, rumah dan mobil, begitu juga kedua anaknya masing 10 milyar.


Mereka saja di berikan sebanyak itu bagaimana dengan Vanya dan orangtuanya, pokoknya kita yang salah, dan tidak akan pernah bisa kita di anggap oleh Vanya, ucap Kakak ketiga Elok.


Kembali ke Ranti.


Saat ini Ranti tengah berada di Mall Pakuwon, dia bersama Salma, Rindu, Armando dan Salma.


Mereka berempat berbelanja beberapa pakaian dan sepatu.


Secara tak sengaja Ranti bertemu dengan beberapa teman sewaktu di SMP Budi Luhur.


" Wah ada anak Panti Asuhan, ejek mereka.


Ranti tak menanggapi ocehan mereka, lalu seorang laki-laki, mendekat dan ingin menarik Ranti, tapi sayang malah rak sepatu yang di tariknya, untung saja tidak roboh.


" Hey anak Panti, jangan berpura-pura ingin membeli sepatu disini, apa kamu gak tau harga paling murah sepatu disini", ucap laki-laki itu.


" Lalu apa hanya kalian yang mampu membeli sepatu disini, masih terima uang jajan dari orangtua saja sudah belagu, ucap Ranti.


" Wajarlah, orang tua kami punya perusahaan, dan teman yang lain orangtuanya punya jabatan tinggi di Perusahaan - perusahaan besar, jadi wajar dong kita di berikan jajan dengan jumlah banyak, ujarnya dengan sombong.


" Oh jadi Ayahmu si pemilik perusahaan ekspor impor ikan dan Udang, ucap Ranti


" Pintar juga kamu, kamu tau juga soal perusahaan Ayahku, jadi bagaimana menurutmu, ujarnya


" Biasa saja, tapi masih lebih dari mereka bertiga, yang ayahnya hanya seorang direktur di perusahaan milik orang lain, jawab Ranti.


" Toh gajinya besar, daripada kamu, tinggal di panti asuhan, beruntung saja kamu pintar dan mendapatkan hadiah begitu banyak, tapi tidak sebanding dengan harta kami, ujar gadis itu dengan sombongnya.


" baguslah, ujar Ranti.


" Kakak, Salma sudah dapat sepatu yang aku suka, teriak Salma.


Anak-anak sombong yang melihat sepatu yang di pegang Salma terkejut, secara harga sepatu 25 juta


" Ya sudah panggil kakak Ita pelayan agar membantumu dan ini bawa kasih ke kak Ita, ucap Ranti sambil memberikan kartu Mandiri World Elite, ke Salma.


" Hehehehe, tidak usah kak pakai kartu Salma saja, ujar Salma sambil mengambil Kartu yang sama dari dompet Hermes nya.


Mata mereka berempat lebih melotot, melihat dompet dan kartu Salma.


" Gila anak kecil membawa Dompet Hermes edisi terbatas, dan Kartu ATM Mandiri World Elite, ayahku saja hampir tidak bisa mengurus kartu seperti itu", batin seorang anak yang sombong.


Tak berapa lama, Salma sudah kembali membawa belanjaan nya dan menunjukkan ke kakaknya.


" Tolong bantuin dong masukkan kartu Salma ke dalam dompet, ucap Salma, meminta tolong kepada Ranti.


Ranti membuka dompetnya, yang didalamnya terdapat 2 kartu lagi dan sejumlah uang pecahan seratus dan 50 ribuan, juga sebuah buku cek.


Mantan teman sekelas Ranti sudah senyap, tak mampu lagi mengejek Ranti.


" Dek kamu gak jadi belanja, tanya Rindu


" Tolong ambilkan 3 celana dan 6 Kaos olahraga, ucap Ranti ke Rindu.


Ranti membalas ejekan mereka dengan sangat elegan, tak ada niat Ranti untuk berbuat lebih.