
Setelah membuat kesepakatan dan membayar biaya sewa selama 2 hari, Ranti, melanjutkan sarapannya bersama Pak supir yang ternyata bernama Niko dan masih bujangan.
"Maaf mas Niko", saya kira kamu sudah menikah jadi saya panggil pak, kata Ranti. Niko menjawab, tidak apa-apa Nona Ranti, Bulan depan saya akan menikah, dengan salah satu karyawan disini.
oh selamat ya, semoga lancar hingga harinya. " Terimakasih Nona", jawab Niko
Maaf Nona, kalau boleh tau dalam rangka apa Nona ke Cirebon dan jauh-jauh dari Surabaya...
Mau ketemu teman mungkin sebentar lagi saya berangkat, saya mau ke Daerah Sumber, apa jauh gak dari sini..?
Kalau dari sini agak lumayan, kebetulan rumah ayah saya di Sumber Non, cuma saya kost di belakang hotel ini, kalau libur biasanya aku kesana.
Oh gitu, kebetulan ya, tapi sayang kamu nanti malam masuk kerja, kalau gak aku mau tolong kamu yang antar, kata Ranti.
Pagi ini calon istri saya libur, saya sama dia tinggal berdekatan, tepatnya kami sekompleks, hanya beda blok saja. Jawab Niko
Bisa gak aku minta tolong sama calonnya, untuk berangkat bareng dengan saya
Nanti aku tanya dia, sebentar Nona, jam kerjanya sudah selesai.
Nah itu dia calon saya, kata Niko
oh.. mba ini yang antar saya ke kamar tadi pas dari resepsionis.
Dek, sini dulu, panggil Niko ke calon istrinya yang namanya Seruni
Sini dek, ini kenalkan, namanya, Nona Ranti, tadi kamu yang antar nona Ranti ke kamarnya, ingat tidak..
ingatlah mas, dari tengah malam sampai pagi, hanya Nona Ranti tamu yang datang, jawab Seruni.
Nona Ranti mau ke daerah Sumber, dan minta tolong kalau Ade bisa bareng Nona Ranti pagi ini ? tanya Niko ke Seruni
Maaf Nona alamat yang mau didatangi daerahnya dan nama kompleks perumahan atau kampung, soalnya Sumber juga luas daerahnya.. kata Seruni
Ini alamatnya, Perumahan Bukit Sumber Indah, sambil menunjukkan alamat yang di tulisnya dari surat Bibi, Ranti memberikan alamatnya
Sejenak, Niko dan Seruni saling menatap dan melihat ke arah Ranti
Seruni terlihat serius menatap kearah Ranti, hingga Ranti di buat bingung
maaf kok kalian berdua diam, kalau gak bisa, tidak apa-apa, maaf sudah merepotkan, Ranti berdiri hendak pergi, namun di cegah Niko..
Sebentar Nona Ranti, apa benar Nona mau ke alamat ini dan apa tidak salah, tanya Niko ingin memperjelas
Ia apa kalian tahu tempatnya, selidik Ranti
Kami sangat tau, karena kebetulan kami tinggal di komplek itu juga, alamat yang tertulis disitu dekat dengan rumah saya Nona, kata Niko sambil melirik Seruni
Kalau begitu, tolong antar saya ke sana, kata Ranti semangat
tapi nona, kenapa Nona mau ke rumah itu, tanya Seruni yang ketakutan ketika membaca alamat yang tertera di kertas yang diberikan Ranti
Itu Rumah ibu saya, apa tidak boleh saya datang melihat rumah ibu saya, jawab Ranti dengan perasaan campur aduk...
Ya sudah kalau kalian tida bisa antar tidak apa-apa, saya pergi sendiri saja..
Bukan begitu Nona, maaf sebelumnya, tunggu sebentar saya ambil barang-barang saya dulu, kata Seruni yang sudah berkeringat walau lobby tersebut ber AC
Dalam pikiran Seruni, jika pemiliknya datang pasti, dia dan ibunya harus pindah dari rumah itu, bagaimana ini kami mau tinggal dimana..
Flashback on
5 Tahun yang lalu..
Sore menjelang magrib, ada seorang ibu dan seorang anak perempuan, sedang mencari kontrakan
Dan kebetulan rumah itu kosong, tapi masih terawat, baru sebulan oran yang sewa rumah itu pindahan, jadi nampak masih asri.
Wanita dan anak gadis itu adalah Seruni dan Widya mamanya, dan informasi dari tetangga rumah itu menunjukkan rumah yang bertanggung jawab atas rumah ibunya Ranti.
Akhirnya Seruni dan Widya mendatangi rumah Pak RT ( sekarang mantan), dan bertanya apakah rumah itu mau disewakan dan berapa perbulan??
Pak RT menjawab perbulan 400 ribu, dan tanpa bertele-tele, mereka sepakat, dan pindahlah Seruni dan mamanya, kerumah itu.
Namun setelah 6 bulan, pak RT melihat bahwa mamanya Seruni sudah mulai terlambat bayar, akhirnya Pak RT dan istri beserta anaknya berunding soal rumah ibunya Ranti.
Pak RT juga tidak enak hati karena uang sewa sudah beberapa tahun tidak di ambil, tapi mereka tetap menyimpannya.
Keluarga pak RT, mengambil keputusan sepihak dan menolong seruni dan ibunya, dan pak RT mendatangi Rumah yang di tempati, Seruni dan ibunya, lalu mereka berbicara
Bu Widya, sejujurnya Rumah ini bukan rumah saya, tetangga yang sudah lama tinggal di blok ini semua juga tau siapa pemilik rumah ini.
Kami sekeluarga telah bersepakat, bahwa Bu Widya dan Seruni boleh tinggal di rumah ini, sampai pemiliknya datang.
Tapi, Bu Widya harus bertanggung jawab penuh soal tagihan listrik PLN dan PDAM, juga wajib merawat rumah ini.
Terakhir tolong baca surat perjanjian ini, disini sudah say tulis kewajiban ibu Widya, jadi anggap uang sewa rumah sebagai upah ibu merawat rumah ini.
jika sudah jelas silahkan tanda tangan sudah saya tempelkan materai 3000, bagaimana Bu Widya.
Baik Pak, saya setuju dan terimakasih sudah percaya sama kami.
Dan mulai saat itulah Widya dan Seruni lebih nyaman tinggal di rumah ibunya Ranti, dan mereka merawat rumah itu dengan baik, bahkan terlihat lebih rapi dan asri, banyak yang mengira itu rumah mereka..
Flashback of
Dalam kebingungannya, Seruni Seruni menelpon ibunya bahwa dia akan pulang pagi ini, ibunya hanya menjawab " hati-hati" di perjalanan
Niko menenangkan Seruni, " kamu tenang saja, sebelum berangkat kamu bicara jujur saja sama Nona Ranti, siapa tahu dia bisa memberi kelonggaran waktu untuk kalian tinggal sebelum, kalian dapat tempat yang baru, tenang nanti mas bantu bicara sama Nona Ranti.
Baik mas terimakasih, ya sudah ayo kembali ke hotel, ajak Seruni
Ranti yang sudah mengambil Ransel, sudah menunggu pasangan calon pengantin itu datang
Sambil menikmati Roti panggang pesanannya, datanglah kedua calon pengantin itu dan berbarengan dengan pemilik mobil yang disewa Ranti.
Pemilik mobil yang mengenal Niko memanggilnya, Bro Niko mobilnya sudah di parkiran dan ini kuncinya STNK.
Niko menjawab, bro Rudi nona ini yang menyewanya, maaf ini Nona Ranti, dan Nona Ranti, ini Rudi pemilik perusahaan rental, yang sudah lama bekerja sama dengan hotel ini.
Ranti hanya menjawab, saya Ranti, silahkan cek ini KTP dan SIM dan saya tinggalkan sebagai jaminan KTP saya sesuai SOP, silahkan di terima
setelah menerima KTP Ranti, Rudi pun pergi meninggalkan kunci mobil dan STNK.
Mba Seruni apa sudah siap, tapi tunggu sebentar saya masih makan dan minum teh, bagaimana kalau kalian berdua pesan juga aku yang traktir.
Gak usah Nona, dan boleh saya berbicara dengan Nona perihal rumah yang akan Nona Ranti datangi, kata Seruni.
Silahkan waktu saya juga masih banyak jadi santai saja, bicaralah jangan sungkan, tapi lebih enak sambil minum teh dan makan Roti..
Mau tidak mau Seruni dan Niko memesan Roti panggang dan teh, setelah pesanan datang, Ranti berkata sekarang bicaralah dan mohon jangan bertele-tele, biar aku gak bingung
Nona Ranti, sebelumnya saya minta maaf soal tadi di saat nona sarapan dan menunjukkan alamat rumah yang akan di datangi Nona.
Sejujurnya, ibuku dan saya yang tinggal di rumah yang akan di datangi Nona Ranti, dan kami sudah tinggal di rumah itu sudah 5 Tahun dan kami hanya membayar sewa selama 6 bulan dan biaya sewa waktu sebesar 400 ribu, dan kami bayarkan ke pak RT tetangga rumah nona Ranti, sekarang beliau sudah mantan RT, karena sudah Tua.
Saya minta tolong, kasih kami waktu buat mencari tempat tinggal, sebelum nona Ranti tempati, maaf nona kalau saya tidak sopan.
Saya pikir kamu mau ngomong apa, jangan banyak pikir yang aneh-aneh, nanti kamu batal nikah karena banyak pikiran, sudah santai saja, dan nikmati makanannya dan kita berangkat.
Seruni dan Niko mendengar tanggapan santai dari Ranti kebingungan, tapi disisi lain ada perasaan tenang.
Mbak Seruni, sebentar saya angkat telpon dulu, " Ya mba Dewi, apa ada masalah, ternyata yang menelpon Dewi yang anaknya menderita gizi buruk.
Dewi tidak ada masalah, hanya mau laporan kalau anak saya kata dokter, anak saya besok atau Senin sudah boleh pulang dan rawat jalan.
Oh, bagus itu, mba Dewi ke administrasi dan tanyakan, total biaya, dan jika masih kurang segera kasih tau saya, dan pastikan Mba Dede bayi RS hari apa, biar nanti kakakku yang datang jemput oke, saya lagi di Cirebon hari Selasa baru pulang.
baik Non, nanti saya kabari lagi.
mbak Seruni ayo berangkat, hari sudah makin siang kasian juga kamu yang semalam bergadang.
Mas Niko Ade pulang dulu ya, maaf Ade belum sempat masak makan siangnya, kata Seruni ke Niko
Sudah gak apa-apa, kamu tenang dan jangan berpikir terlalu jauh.. balas Niko
Mereka berdua menuju parkiran dan naik ke mobil dan mesin menyala dan berangkat, sebetulnya Ranti agak gugup juga karena baru sekarang menyetir mobil, tapi saat pegang setir dan mulai menyalakan mesin, Ranti merasa sudah menyatu dengan mobil, jadi sudah tidak masalah lagi...
mba Seruni, kenapa dari tadi diam saja, apa kepikiran nanti saya bakal tinggal dimana kalau saya suruh pindah..
Sejujurnya ia Nona, maklum saya sudah sangat nyaman tinggal dirumah itu.
Ya sudah kalau nyaman silahkan tinggal, tapi saya mau ketemu dengan pak RT yang dulu ibu dan bibi saya titipkan rumah. Dan mohon maaf jika mereka butuh rumah itu maka mba Seruni wajib pindah, dan soal tenggang waktu pasti saya akan bantu, jadi jangan kuatir.
Dalam hati seruni ada secercah harapan, karena selama ini Pak RT tidak pernah meminta kami untuk pindah, karena ke dua anaknya sudah sukses, jadi otomatis mereka juga sudah punya rumah, yang jadi persoalan hanya salah satu keponakan Pak RT yang tiba-tiba 2 hari kemarin datang kerumah dan meminta ibu saya pindah.
Ranti fokus menyetir sambil melihat peta dan sesekali bertanya ke Seruni jalannya, selebihnya mereka ngobrol justru tepatnya tanggal beberapa hari pernikahan mereka, dan soal makanan khas Cirebon
Ranti mengatakan, nanti jika Seruni tidak capek, maka Seruni kembali ke Cirebon lagi dan istirahat, karena Ranti ingin jalan- jalan nanti malam.
bagaimana masih kuat gak, kamu balik lagi bareng saya kembali ke Cirebon, " bisa Non", jawab Seruni
karena jalanan sepi 1jam kemudian mereka tiba di depan kompleks perumahan, ada bayangan samar si kepala Ranti melihat gapura kompleks perumahan itu.
Nona belok ke kanan 2 blok lagi sampai, setelah mendengar arahan seruni akhirnya mereka sampai, kembali bayangan samar muncul di kepala Ranti, pas Turun mobil dia terpaku dan termenung sejenak melihat rumahnya..
Non ayo masuk, sudah sampai malah diam, maaf kalau kami kurang merawat rumah Nona, maklum kami hanya tinggal berdua, ayah saya entah kemana.
Seruni begitu masuk ruang tamu, langsung memanggil ibunya, Bu ada tamu, tolong layani tamu dulu saya mau ke Pak RT sebelah.
Seruni keluar dari rumah dan pergi ke rumah pak RT (mantan), dan kebetulan Pak RT ada dirumah
Pak RT, syukurlah pak RT ada dirumah, itu dirumah, anak pemilik rumah datang..
" Yang benar kamu", jangan sembarangan kamu ngomong, laki-laki atau perempuan dan siapa namanya..
Perempuan pak, kisaran umur 17 atau 18 karena dia sudah punya KTP dan SIM, namanya Ranti, makanya pak RT datang dan pastikan sendiri.
Ya sudah ayo, saya panggil istri saya dulu, Bu... Bu, panggil RT ke istrinya, " ya pak ibu lagi cuci piring, ada apa teriak-teriak...
Mari kita ke tempat Bu Widya dan seruni, katanya anaknya Bu Monicha Herdiani, Pemilik rumah sebelah datang ayo Bu...
Saat pak RT dan istrinya masuk ke dalam rumah, Ranti merasa mengenal mereka, walau tetap samar tapi kelihatannya familiar, pak RT bertanya..
Maaf saya adalah yang bertanggung jawab atas rumah ini, dan Ade ini namanya siapa, kalau boleh saya tau..
Namanya saya Ranti Putri Setiawan dan ibu saya Monicha Herdiani, serta bibi pengasuh saya dulu namanya Suratmi, nama suaminya saya lupa. saya sekarang tinggal di Surabaya dan ini SIM saya dan ini surat dari bibi saya sebelum dia meninggalkan saya, ke Jakarta mencari suaminya.
Pak RT menerima dan membaca semua dokumen yang ada, serta foto mereka Ranti dan ibunya, di foto kedua Ranti bersama paman dan bibi, juga latar belakang foto nya diambil dirumah itu.
Di belakang foto tertulis tanggal saat foto itu di ambil