SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN

SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN
Penyakit Katarak


Tiga hari sudah berlalu, kasus laki-laki jahat bernama Alan juga sudah telah terungkap dan kini seluruh perusahaan Jingga sudah kembali kepadanya, dan mereka memutuskan berdamai, polisi juga tidak bisa bicara apa-apa.


Akan tetapi Jingga tidak bodoh dia mengajukan syarat agar rumahnya di kembalikan dan 25% saham dari Alan dalam bentuk uang, mau tidak mau Alan setuju, kalau tidak silahkan masuk penjara.


Mereka boleh berdamai, tapi Ranti tidak sebaik Jingga dalam kasus ini, maka Ranti mengambil sikap akan menghukum Alan dengan caranya sendiri.


Sedangkan kasus pejabat yang korupsi dan menerima suap, mereka sudah dalam tahap sidang putusan, begitu juga 5 pengusaha yang memberikan suap, mereka juga sedang menunggu putusan pengadilan.


Tapi dalam kasus Pejabat, Ranti menang banyak, dia menang triliunan, sedangkan kasus Alan, Ranti mengembalikan sebanyak 100 triliun kepada Jingga.


Saat ini Ranti tengah berada di kantor yayasan miliknya, dia sedang mengurus 7 bidang tanah yang akan jual kepadanya dan 1 bidang tanah tanah tukar guling.


Kedudukan lahan itu berada persis di samping kompleks sekolah SD, jika kedelapan bidang tanah itu deal, maka tinggal 1 lahan yang belum menjadi miliknya, dsn lahan itu yang paling besar, sekitar 3 hektar.


Total jika membeli ke 7 lahan itu, Ranti harus mengeluarkan uang 500 milyar, tapi karena lahan itu sebagian untuk Panti Asuhan, maka Ranti menggunakan uang rampasan dari pengusaha.


" Baiklah bapak - bapak, bagaimana dengan harga yang kami tawarkan, daripada tanah itu kosong dan sudah bertahun-tahun tidak ada yang mau membelinya" ujar Ranti.


" Bisakah Nona Muda menambahkan sedikit saja dari penawaran anda Nona", tawar salah satu penjual tanah.


" Baiklah saya bersedia, dengan catatan, tanah itu tidak dalam agunan bank, jika tidak silahkan keluarkan sertifikatnya dan kita buat perjanjian jual beli, dan akta Jual beli, karena saya akan segera melakukan balik Nama", ujar Ranti.


" Semua lahan bersih Nona Muda, silahkan periksa sertifikat kami dan silahkan cek keasliannya", ujar mereka.


Setelah Ranti mendapat konfirmasi dari kantor BPN Surabaya, bahwa semua lahan itu memang benar milik dari nama yang tertera dalam sertifikat, maka Ranti segera membayarnya.


Selesai mengurus lahan, dia hanya menunggu 7 hari kemudian untuk melakukan serah terima dan 7 hari kemudian lahan tersebut sah atas namanya.


Dengan segera Ranti menghubungi Pak pribadi agar Segera mengeksekusi lahan tersebut untuk di bangun gedung Panti Asuhan.


Target Ranti adalah 500 anak, dan akan di kelola secara modern dengan fasilitas lengkap, tentunya akan melebihi panti yang dia bantu.


Waktu berjalan terasa begitu cepat, kini sudah sebulan setelah pembelian lahan itu, dan proyek sudah dalam tahap pembersihan lahan, bangunan - bangunan liar sudah bongkar, alat-alat berat sudah bekerja.


Sistem tak banyak memberi tugas kepada Ranti, apalagi saat ini Ranti sudah kelas 12, hanya saja Ranti wajib berbuat baik dan akumulasinya setiap bulan Ranti akan mendapatkan, PS, PP dan Poin Pengabdian, juga uang Tunai.


Saat ini Ranti sedang mengurus Panti Asuhan Agape, terkait ada sebuah lahan yang akhirnya mau menjualnya dan sudah di beli oleh Suster Diana.


Ranti datang kesana juga bertujuan memberikan Serum Pembersih dan Kekebalan Tubuh yang dibuat sendiri oleh Ranti, walau berbeda 2 level dari Serum yang diberikan oleh sistem, tapi minimal mampu membersihkan sekitar 80% tubuh dan kebal terhadap virus 80%.


Tak hanya itu, Ranti juga memberikan Pill Kecerdasan yang dia buat sendiri, tongkatnya juga hanya berbeda 3 level lebih rendah dari pemberian Sistem, yang sudah tahap Genius.


" Nak Ranti, besok hari Sabtu, nanti Suster akan berikan kepada mereka yang baru datang, ujar Suster Diana.


" Ia bagus itu pas libur, jadi terganggu dengan sekolah mereka", ujar Ranti.


" Oh ia Nak, nanti Suster mau dirikan sekolah, apa Pak pribadi masih bisa membantu dalam konstruksi, soalnya dia sekarang pegang 2 Mega Proyek kamu dan juga Panti Asuhan Al Azhar dan universitas, sambil finishing sekolah Elite kamu, ujar Suster Diana.


" Suster Diana tenang saja, kan dia bisa tunjuk kontraktor lain, namun dia bawa pengawasan Pak Pribadi, jadi soal kualitas jangan diragukan", ujar Ranti.


" Terimakasih Nak, maafkan Suster, karena selalu saja merepotkan kamu",ujar Suster Diana.


" Tolong Suster Diana jangan bilang seperti itu, sedih saya Ranti mendengar kalau Suster bicara kata "merepotkan", ujar Ranti.


" Bagaimana kamu tidak repot setiap ada masalah pasti kamu datang membantu Suster", ujar Suster Diana.


" Kebaikan Suster, tak sanggup aku dan saudara - saudaraku bayar, walaupun uang kami setinggi gunung Bromo, keringat dan kasih sayang Suster sangat tak terhingga, jika kakak-kakakku mendengar omongan Suster ini, Pasti seluruh kakak-kakakku akan sedih", buat Suster tidak ada kata kami capek atau rugi, percayalah bahwa kami sangat menyayangi Suster ", ujar Ranti sambil memeluk Suster Diana.


" Tidak sia-sia Suster menjaga kalian. dan mengasuh kalian, sudah ratusan yang suster urus, tapi tak satupun dari mereka datang sekedar melihat Suster, dan justru kalian yang terakhir Suster sayangi yang selalu memperhatikan Suster", ujar Suster Diana.


" Jangan bersedih karena mereka, kalau ada yang hidup susah itu wajar, mereka tidak bisa datang, tapi kalau hidup kecukupan itu berarti mereka kacang lupa kulit", ujar Ranti.


" Selain kalian yang Suster paling sayang, masih ada 2 orang lagi yang sangat suster sayang, mereka pergi sebelum Vanya datang, suster ingin minta tolong sama kamu, berikanlah Pill kamu untuk mereka, mereka sepasang suami-istri, sekarang mereka mengalami katarak, kasihan hidup mereka", ujar Suster Diana.


" Dimana mereka tinggal, tanya Ranti


" Mereka tinggal di dekat Pabrik Sabun kamu, setiap Minggu suster selalu, bawakan mereka makanan dan juga uang buat 2 anaknya sekolah", ujar Suster Diana.


" Mumpung masih siang ayo kita kesana, bagaimana Suster ? tanya Ranti.


" Suster ajak asisten dulu, biar kalau kemalaman, dia bisa ganti Suster menyetir mobil", ujar Suster Diana sambil memanggil Purwati asistennya.


" Kenapa Suster baru kasih tau sekarang", tanya Ranti.


" Suster baru temukan mereka bulan lalu di lampu merah saat mereka mengemis untuk biaya operasi", ujar Suster Diana.


" Apa Suster sudah membawa mereka ke rumah sakit?" tanya Ranti.


" Sudah beberapa kali Suster membawa mereka untuk check up dan sudah booking bulan depan untuk operasi, Masing-masing 150 juta, dan Suster sudah bayar DP 10%, tadi saat kamu berikan Pill, baru suster ingat kalau kamu ada Pill mujarab", ujar Suster.


" Ya sudah, mereka pasti sembuh, dan nanti pekerjakan mereka disini sementara, jika Panti Asuhan saya sudah selesai, mereka kerja di tempatku, dan Suster yang jadi Penasehat di Panti Asuhan saya, sesuai jabatan suster di Yayasan Bintang Timur, sebagai Penasehat, Ujar Ranti.


" Ia, nanti suster didik mereka bagaimana mengelola Panti Asuhan secara baik dan Benar", Ujar Suster Diana.


" Baiklah kalau begitu, Rencananya nama Panti Asuhan ku adalah Bintang Timur Charity", bagaimana menurut Suster? tanya Ranti.


" Nama yang bagus, Suster senang mendengarnya, tujuannya jelas, kamu ingin selalu mengingat darimana kamu berasal", tebak Suster Diana.


" Benar sekali, dan Charity adalah nama yang di tentukan oleh suster, benar gak? tanya Ranti.


" Hahahaha, itu benar suster yang menamainya Charity", ujar Suster Diana.


Setelah menunggu Purwati bersiap, akhirnya mereka berangkat dengan mobil masing-masing.


Hanya butuh 45 menit mereka tiba di sebuah rumah yang jauh di katakan rumah, sedih hati Ranti saat melihat sepasang suami istri lagi ngobrol di depan rumah mereka, padahal umur mereka masih muda.


" Kami baik-baik saja, kecuali mata yang masih seperti ini, ujar Josua.


" Mana Sam dan Evra, tanya Suster Diana.


" Mereka lagi didalam, lagi ngerjain tugas sekolah, mereka sudah kelas 6 jadi mereka sibuk belajar", ujar Debora.


" Baguslah, Suster bawa seseorang yang juga dulu sama seperti kalian besar di Panti Asuhan Charity, namanya Ranti, dia anak terakhir yang Suster urus, dan sekarang dia akan membantu menyembuhkan penyakit kalian, Namanya Ranti Putri ", ujar Suster.


" Oh gitu, kami hanya mendengar terakhir suster mengambil yang namanya Rindu", balas Josua.


" Benar sekali, tapi saat Ranti datang, Rindu dan yang lain menyukainya, jadi sekalian saja Suster mengambilnya", jawab Suster Diana.


" syukurlah, kedepan suster pasti banyak yang akan menjaga Suster ", ujar Debora.


" Halo adik Ranti, biarpun kita tidak pernah hidup bersama di Panti, tapi semua yang di asuh oleh Suster Diana secara langsung, akan otomatis menjadi saudara, kita sama-sama di rawat oleh ibu yang sama, tapi maafkan kakak yang tidak pernah menjenguk kalian semua", ujar Josua.


" Halo juga kak Josua dan kak Debora, senang berjumpa dengan kalian, aku Ranti Putri, kakak- kakak selalu memanggil ku dengan Bontot, karena saya anak terakhir sekaligus umur paling muda, sekarang masih 17 tahun, beda 8 bulan dengan kak Rindu", Ujar Ranti.


" Lalu gimana kabar Panti Asuhan Charity sehari-hari sekarang, apalagi suster sudah tidak disana? tanya Debora.


" Adik sudah hampir 3 tahun tidak tinggal di Panti Asuhan Charity lagi, kami berlima tinggal sendiri, hanya saja tetap masih berhubungan dengan Bu Farida yang sekarang jadi ketua Panti", Jawab Ranti.


" Jangan bilang kalian keluar karena Bu Yanti yang mengompori Bu Farida", ujar Josua.


" Masalah itu sudah lewat, Bu Yanti sudah tidak ada urusan di Panti Asuhan Charity, sedangkan Bu Farida sudah berubah dan jadi orang yang sangat baik, tapi tetap suster Diana yang terbaik", ujar Ranti.


" Tapi maaf kak, sudah berapa lama kalian mengidap katarak? tanya Ranti.


" Sudah 2 tahun, tapi karena tidak ada biaya, ya kami pasrah saja, beruntung kami bisa di temukan oleh Suster, jadi setiap Minggu kami bisa check up, ujar Josua.


" Baiklah, saya akan coba membantu menyembuhkan kalian, tapi kalian harus menahan sakitnya, dan mata kalian akan terasa sangat panas panas, jadi bertahanlah dan jaga kesadaran kalian berdua", ujar Ranti.


" Purwati tolong buatkan Air panas, nanti masukkan kedalam drum penampung air agar mereka berdua bisa berendam nantinya, Perintah Ranti.


" Baik Nona Muda, ujar Purwati.


Ranti segera membaringkan Josua dan Debora dan memberikan Pill Surgawi, dan menyuruh mereka untuk segera menelannya.


* Tuan nanti setelah selesai mereka mandi, Tuan harus meneteskan air surgawi ke mata mereka dan berikan mereka masing-masing 12 tetes, untuk pemakaian pagi sebelum jam 6 dan Sore sebelum 6, selama 6 hari", ujar Rose.


" Oke baik, terimakasih Rose", balas Ranti.


" Apakah mereka boleh di berikan Pill Regenerasi Fisik dan Jaringan Sel", tanya Ranti.


" Tidak perlu lagi, karena sudah di atasi oleh Pill surgawi, berikan saja mereka Pill Kecerdasan buatan Tuan dan juga buat 2 anak mereka berikan Serum Pembersih dan Kekebalan Tubuh buatan Tuan serta Pill kecerdasan, ujar Rose


" Baiklah, akan kuberikan", Ujar Ranti


Ranti asik ngobrol, sedangkan sepasang istri sedang berteriak kesakitan, tapi walaupun asik ngobrol, Ranti tetap fokus mengedarkan energi positif buat 2 orang itu.


Proses kali ini agak panjang, biasanya 30 menit, sekarang do perkirakan 45 menit, teriakan terus bergema, untung Ranti sudah memblokir suara mereka agar tidak menarik perhatian warga sekitar.


sudah 30 Menit Josua dan Debora berteriak, mata mereka terlihat sudah sangat merah dan mengeluarkan cairan bening kental, Ranti kaget melihatnya, karena saat ini dia memberikan Pill untuk sakit di mata, tapi dia yakin bahwa mereka pasti sembuh.


Ranti juga sampai berkeringat karena lumayan menguras energinya, namun dia tidak menyerah, teriakan kedua orang itu kini mulai mereda, dan perlahan-lahan tak terdengar lagi suara mereka.


Hampir 20 menit kedua orang itu tertidur, akhirnya mereka sadar tapi Ranti belum mengijinkan mereka untuk membuka matanya, tunggu sekitar 10 menit lagi.


Kemudian setelah selesai bicara Ranti membersihkan daerah sekitar mata dan kelopaknya dengan Air surgawi.


" Bagaimana rasanya apa masih hangat atau tidak?' tanya Ranti.


" sudah sejuk saat basah barusan, Ujar keduanya".


" Sekarang bukalah perlahan-lahan dan jangan di kucek jika masih agak kabur, bukalah dan rileks", ujar Ranti.


Josua dan Debora, mendadak jantungnya berdebar-debar, apalagi mereka sudah 2 tahun mata mereka hanya bisa melihat seperti bayangan saja.


Saat mata mereka terbuka, benar kata Ranti, mereka melihat tapi masih agak buram, namun lama-kelamaan sudah mulai terang, dan makin jelas.


" Rose adakah kaca mata netral untuk melindungi mata selama seminggu ini ? tanya Ranti.


* Ada Tuan, 50 Poin Pengabdian, harganya, kacamata itu bisa mereka pakai selamanya, sarankan kepada mereka jika nanti memiliki handphone, harap menggunakan kaca mata itu, untuk 3 bulan awal setelah sembuh", ujar Ranti.


" Terimakasih informasinya, dan tolong Masukkan kedalam ranselku, 2 kacamatanya itu", ujar Ranti.


Setelah hampir 5 menit, mata mereka benar-benar sudah bisa minat dengan normal.


" Ya sudah berendam dulu 2x nanti baru mandi seperti biasa, harap matanya jangan sampai kena sabun", ujar Ranti.


Mereka berdua di suruh berendam selama 10 menit untuk pertama dan kedua, dan saat yang kedua, Ranti menyuruh agar airnya diberikan air Surgawi.


Setengah jam menunggu sepasang suami istri itu, akhirnya mereka keluar dari kamar mandi mereka yang langsung terhubung dengan ruang tamu.


Josua dan Debora begitu bahagia, kini mereka bisa melihat Ranti dan juga Suster Diana, sedangkan anak-anak mereka tak berhenti menangis Bahagia melihat orangtuanya sudah bisa melihat mereka lagi.


" Ayah, bunda apa sudah bisa melihat kami dengan jelas? tanya Sam.


" Sudah sayang ayah dan bunda sudah bisa minat Sam yang ganteng dan Evra yang cantik, jawab Debora.


" Rose tukarkan 400 Poin Pengabdian untuk kebaikan, dan buatkan 4 ATM buat mereka berempat.


* Tuan untuk kali ini, karena melihat mereka masih sama-sama di besarkan di Panti Asuhan Charity, maka suami istri itu boleh tuan menukar Poin dengan batas maksimal per orang 1000 poin Pengabdian untuk kebaikan", ujar Rose.