
" Justru kamu yang tidak mengenal dengan baik siapa Nona Muda Aisyah, dan maaf ya, saya memang pelayan di KFC, tapi saya bekerja sedangkan kamu hanya siswa yang mengandalkan kekayaan orangtuamu, berbeda dengan Nona Muda saya Aisyah, yang sudah memiliki usaha sendiri, namun tidak sombong seperti kamu", sengit Pelayan KFC Aisyah.
" Hahahaha, Aisyah punya usaha !, hahahaha kasihan kamu, jangan kira saya tidak tahu siapa Aisyah", balas siswa itu.
" Sudah bang jangan di ladeni, biarkan saja orang itu mau berbicara apapun", ucap Aisyah.
" Tapi Nona Muda, orang ini sungguh meremehkan anda, saya tidak terima jika anda di remehkan", jawab pelayan itu.
" Tidak apa-apa, terimakasih atas perhatiannya, silahkan kamu kembali ke Gerai, disini ada kakakku dan Nuril", perintah Aisyah.
Sementara di dalam ruangan, Ranti terlibat pembicaraan dengan Walikota.
Pak Walikota setuju dengan permintaan Ranti soal tanah 5 hektar yang akan di bangun Panti Asuhan dan Sekolah.
" Kami menyambut baik rencana Nona Ranti membangun Panti Asuhan dan sekolah di wilayah kami, untuk lahannya, anda bisa beli dari warga setempat", ucap Pak Walikota itu.
" Maaf Pak Walikota bukan saya ingin menyela, apa ada jaminan program tersebut bisa terealisasi, ucap ayah dari siswa sombong itu.
Dia sudah mengkonfirmasi pemilik SADB, memang memiliki nama yang sama dengan Ranti, tapi menurut teman-temannya, bahwa pemilik Bank SADB jarang bertemu dengan orang lain.
" Maaf Pak, saya percaya dengan kemampuan Nona Ranti dalam merealisasikan program tersebut, maka saya bersedia membantunya", ucap Pak Walikota.
" Paling hanya sekedar basa-basi agar dia bisa berbicara dengan anda Pak Walikota", ucap Pria itu.
" Tidak masalah buat saya, karena sebagai pemimpin saya akan menerima semua rencana yang disampaikan oleh siapapun, asalkan bersifat membangun, tinggal terealisasi atau tidak, toh tidak merugikan keuangan negara", ucap pak walikota bijaksana.
Ranti hanya tersenyum saja mendengar pria itu berdebat dengan Walikota.
" Kak Yoga tolong cek perusahaan orang ini, dan silahkan blacklist setelah dia selesai menyelesaikan tanggung jawabnya", pesan Ranti ke Yoga Setiadi.
" Baik dek, kebetulan Minggu depan perusahaan ini akan mengajukan pinjaman kembali", balas Yoga.
" Ya sudah, jangan di berikan di pinjaman sebelum dia bertobat", lanjut pesan Ranti.
" Baik Dek", jawab Yoga.
" Maaf Pak, memang anda orang yang sangat kaya, tapi apakah pernah anda berpikir untuk membantu orang miskin? tanya Ranti ke ayah siswa sombong itu.
" Saya selalu menyumbang, tapi harus benar-benar tepat sasaran", ucap itu.
" Baguslah, berarti anda orang yang dermawan, pantas usaha anda sangat lancar, tolong jika nanti anda bertemu dengan Direktur SADB, Yoga Setiadi, salam saja buat beliau", ucap Ranti.
" Baiklah, semoga dia mengenal dia mengenal anda Nona, karena pak Yoga Setiadi, bukan orang sembarangan", ucap laki-laki itu.
" Saya tau itu, kalau dia orang sembarangan, tidak mungkin di percayakan memimpin bank terbesar di Asia Tenggara, dan masuk daftar bank berpengaruh di Asia", ucap Ranti.
" Maaf Nona Ranti, saya permisi kembali ke kantor, ini kartu nama saya, saat anda sudah menemukan lahannya, silahkan hubungi staff saya", ucap Pak Walikota.
" Baik Pak, terimakasih dukungannya, saya akan menyelesaikan proyek itu sebelum bapak Selesai bertugas", ucap Ranti.
" Baiklah, saya akan tunggu berita baiknya", jawab singkat Pak Walikota dan segera naik ke mobil dinasnya dan berlalu.
" Nona Ranti, apa hubungan kamu dengan salah satu siswi disini yang menantang anak saya adu mahal harga mobil", ucap Pria itu.
" Hahahaha, maaf Pak, dia adik angkat saya, dan yang benarnya adalah anak anda yang meremehkan adik saya, yang membawa mobil Mercedes Benz GLE Class, tentunya lebih murah dari mobil Lamborghini Urus milik anak bapak, namun asal anda tahu, saya membelikan adik saya, Koenigsegg Gemera dan Aston Martin Vanquish super GT, dari dua mobil itu saja anakmu sudah kalah.
Tapi dia menantang saya adu mahal mobil dengan anda, asal anda tahu, saya terima tantangan anak anda, silahkan kita ke parkiran, apakah Rolls-Royce Phantom milikmu lebih mahal atau mobil saya, dan maaf, harga mobil anda hampir setara dengan Koenigsegg Gemera milik adik saya.
Dan sangat jelas, Rolls-Royce Phantom kamu itu, tidak bisa mengalahkan mobilku, saya saja punya Rolls-Royce Cullinan Klassen, Bugatti Chiron standard dan Bugatti Chiron super sport, serta Lamborghini Sian Roadster, tapi buat apa pamer, namun saat ini saya tidak ingin adik saya di remehkan oleh manusia seperti kamu dan anakmu", ucap Ranti dengan nada tegas.
" Hahahaha, Nona Ranti, berbicara saja, semua orang juga bisa, buktikan jika mobil anda lebih mahal dari saya", ucap Pria itu.
" Anda ternyata berpikiran sempit, apa kamu tidak sadar jika mobil kamu saja sudah kalah dengan mobil Koenigsegg Gemera adik saya, apa kamu juga tidak nonton berita, bahwa di Indonesia kedatangan mobil Koenigsegg Gemera 4 unit, Jesko 10 unit dan 1 unit Koenigsegg Trevita", ucap Ranti
" Hahahaha, saya tahu itu, tapi bukan berarti semua mobil itu adalah milik anda, biasalah 1 unit untuk 1 keluarga", ejek pria itu.
" Hahahaha, baiklah dan kebetulan saya membawa mobil Koenigsegg Trevita milik saya, dan ini kuncinya serta STNK nya, juga ini SIM saya", ucap Ranti sambil menunjukkan semuanya.
Tampang pria itu langsung pucat, dan saat mereka tiba di parkiran, Ranti memanggil Aisyah.
" Ada apa kak, adik lagi bantu beresin piring untuk di bawa pulang", ucap Aisyah.
" Mana STNK mobil Gemera, Aston Martin dan SIM kamu", ujar Ranti.
" ini kak, ada di dompetku", jawab Aisyah dan langsung mengeluarkan STNK kedua mobil itu dan SIM nya.
Tapi mata pria itu tak sengaja melihat melihat Black Card Centurion dan Paladium Card dari JP Morgan, didalam dompet Asiyah.
" Ini Pak silahkan lihat dan buktikan, apakah mobil itu, mobil keluarga atau milik sendiri-sendiri", tegas Ranti.
" Tadi anakmu berkata, bahwa mobil adik saya salah mobil sewaan, nah apakah menurut anda kedua mobil kami ini adalah mobil sewaan", lanjut Ranti dengan nada menekan.
" Terakhir saya kasih tau anda, seluruh aset perusahaan anda, mampu saya bayar dalam tempo kurang dari 3 jam, tapi buat apa, sebentar lagi perusahan anda akan jatuh, jadi buat apa saya membelinya, saya pemilik tunggal SADB dan IDB, serta Tri Link Finance Indonesia, RPS Group Company dan ARSA Group seluruh perusahaan saya bertengger di 20 besar perusahaan terbaik di Indonesia, lantas perusahan kamu berada di urutan ke berapa", teman Ranti.
" Baiklah, buktikan jika anda benar-benar pemilik SADB", tantang pria itu.
" Baiklah, kali ini saya ikut permainan bodoh ini, saya yang menelpon Pak Yoga Setiadi atau anda", tanya Ranti.
" Katanya anda pemilik Bank SADB itu, silahkan anda yang menelepon, kalau benar anda pemiliknya pasti Pak Direktur Yoga akan mengangkat telpon dari anda", ucap pria itu.
" Baiklah, silahkan anda lihat nomor telponnya dan saya akan video call dengannya", ucap Ranti dan langsung menghubungi Yoga.
" Halo Kak Yoga, apa kakak mengenal orang ini, ucap Ranti sambil mengarahkan kamera handphonenya ke ayah siswa sombong itu.
Dan seketika tubuhnya gemetaran, saat melihat wajah Yoga.
" Hahahaha, kakak mengenalnya, dia akan mengajukan pinjaman modal kerja untuk proyeknya, dan jika adik tidak menyetujuinya, maka kami semua akan menuruti apa kata pemilik Perusahaan", jawab Yoga.
" Jangan di berikan sepeserpun ! tegas Ranti.
" Baik adikku yang cantik, ya sudah kakak.mau lanjut ralat dengan klien dari Perusahaan Indonesia juga, dia mendapatkan rekomendasi dari kedua orang yang paling adik sayang", ucap Yoga.
" Ya sudah, salam buat kakak ipar, maaf jika aku merepotkan kakak, dan sampaikan permohonan maaf sama Direktur perusahaan itu,.karena mengganggu rapat kalian", ucap Ranti.
" Maaf Nona Muda, saya tidak berani menerima permohonan maaf dari anda", sambung Direktur perusahaan yang mengajukan pinjaman atas rekomendasi orangtua Ranti.
' Baiklah, silahkan lanjutkan rapat kalian, saya setuju dengan permohonan mereka, sekarang atur saja mekanisme pembayaran pengembalian utang", ucap Ranti.
" Terimakasih Nona Muda, saya berjanji akan mengembalikan semuanya sesuai aturan perusahaan anda", ucap Direktur itu.
" Oke, saya mau selesaikan urusan saya dulu", jawab Ranti dan mematikan Handphonenya.
" Bagaimana Pak, apa saya berbohong atau sekedar bermimpi di siang bolong", ucap Ranti dan beranjak meninggalkan pria itu yang masih terpaku memikirkan nasib perusahaannya.
" Aisyah ayo pulang, kakak sore ini mau kembali ke Surabaya", ucap Ranti.
" Baik kak", ucap Aisyah.
" Tidak usah, ayo kamu juga ikut saya, kamu itu bukan pembantu saya", ucap Aisyah.
" Tapi kan, kamu yang gaji saya", ucap Nuril merasa tidak enak.
" Nuril tolong jangan membantah perintah adik saya, apa kamu lupa jika dia ngambek", ucap Ranti.
" Hehehehe ia Nona Muda, bisa tambah repot saya", ucap Nuril dengan cepat.
" Nah itu kamu sudah tahu, seorang ayo ikut kami", ajak Ranti.
" Baik Nona Muda", jawab Nuril.
" Terimakasih Tuhan, terimakasih sudah memberikan aku bos yang sangat baik hati, sertai lah mereka sebagaimana engkau menyertai hamba mu ini", Doa Nuril dalam hatinya.
" Hey Aisyah kenapa buru-buru pulang, apa sudah waktunya mengembalikan mobil sewaan kamu itu", ucap siswa sombong itu.
Dan saat dia berpaling, dia melihat ayahnya yang masih terdiam seperti orang kehilangan nyawanya.
" Ayah, ayo kita pulang, ngapain kita berbicara dengan orang-orang yang tidak selevel dengan kita", ucap Siswa itu.
" Gara-gara kamu, perusahaan ayah akan Bangkrut, apa kamu tidak siapa kakaknya siswi yang kamu hina itu dan bahkan menantang kakaknya", bentak pria itu yang sadar saat di panggil pulang anaknya.
" Memangnya siapa dia, paling mereka hanya orang yang tidak terima dengan hidup mereka yang miskin", ucap siswa itu.
Plak plak plak
Terdengar suara tamparan yang sangat keras.
" Ayah kenapa saya di tampar, apa yang terjadi sebenarnya ayah", ucap siswa itu sambil menahan sakit di pipinya.
" Mulai sekarang kamu ke sekolah naik motor saja, di belikan mobil, hanya membuat kamu makin tambah begadulan", ucap ayah siswa sombong itu.
Di pelabuhan Merak mobil Ranti dan Aisyah kembali menjadi perhatian banyak orang.
" Kakak, renovasi Panti Asuhan yang Aisyah tunjukkan waktu itu sudah mau selesai, bagaimana kalau kita kesana", ajak Aisyah.
" Boleh juga itu, ya sudah kita kesana tapi mampir dulu ke rumah kamu, kakak mau ganti baju juga mau ganti mobil", ucap Ranti
Tiba di rumah Aisyah, mereka berdua segera berganti pakaian, kemudian kembali ke parkiran dan berangkat menuju ke Panti Asuhan yang pernah di bantu Ranti, Aisyah sendiri setiap bulan akan datang memberikan sumbangan, apalagi saat dia menjadi kaya raya.
Setelah berkendara 30 menit dari rumah Aisyah, tibalah mereka di Panti Asuhan Insan Mulia.
Dari gerbang masuk mereka melihat anak-anak yang sedang duduk di pendopo dan sedang bermain.
Kembali Ranti mengenang masa kecilnya saat masih di panti asuhan Charity, pengalaman 10 tahun disana membuat dia jadi lebih gampang tersentuh saat melihat anak-anak kecil yang ditinggalkan oleh orangtua mereka.
" Selamat datang Nak Aisyah dan Nona Ranti, mari silahkan masuk, terimakasih atas bantuannya, kini bangunan Panti Asuhan kami sudah lebih baik, dan tinggal pembangunan pagar saja, serta AC untuk kamar-kamar dan kantor, katanya Minggu depan akan di kirim dan di pasang, setelah baru bapak dan ibu akan mengganti seluruh kasur yang ada", ucap Pak Abdurahman, sebagai kepala Panti Asuhan.
" Bagus itu, tolong gunakan uang yang saya berikan dengan baik, namun apa yang sudah saya rencanakan, jangan ada yang terlewatkan", tegas Ranti.
" Tidak, Nona Ranti, karena semua sudah saya catat dan saya pesan, bahkan saya mencari merek yang Nona Ranti sarankan", ucap Pak Abdurahman sambil menunjukkan daftar catatan pesanannya.
" Saya senang melihatnya, karena saya ingin mereka disini merasa nyaman dan semangat dalam mengikuti kegiatan, dan maaf saya tidak mau melihat mereka berada di jalan untuk meminta-minta, bapak dan pengurus Panti Asuhan ini, setelah semuanya beres, maka saya akan memberikan dana abadi.
Artinya, dana tersebut berada di rekening deposito, jadi tiap tahun bisa di ambil bunganya, dan percayalah, bunganya akan cukup untuk biaya setahunya", ucap Ranti.
" Terimakasih Nona, tapi bolehkah kami mendirikan usaha, seperti beternak lele atau ayam kampung, kebetulan lahan kami juga masih luas, dan kami berkeinginan membuka minimarket atau warung sembako", ucap Pak Abdurahman.
" Silahkan saja, asal bisa mendapatkan pemasukkan untuk Panti Asuhan, ambil ATM ini, didalamnya terdapat 25 milyar untuk modal usaha, tapi jika memang lahannya masih luas, saya harapkan bapak membuat membuat sekolah", ucap Ranti.
" ini lahan pribadi saya, kami berencana memang ingin membangun sekolah dan juga Yayasan, jadi jika Yayasan punya Modal, maka tanah di belakang panti itu, saya ingin menjualnya kepada yayasan, agar kelak keturunan saya tidak memperebutkannya", Ucap Pak Abdurahman.
' Luasnya berapa meter dan apa suratnya lengkap? tanya Ranti.
" Suratnya lengkap, luasnya ada 7 hektar, dan menghadap ke jalan besar, sangat strategis untuk di bangun sekolah", ucap pak Abdurahman.
" Bagaimana kalau saya yang beli dan hibahkan kepada Yayasan, saat Yayasan anda sudah selesai", bagaimana? tanya Ranti.
" Tidak apa-apa Nona Ranti, saya jual dengan harga 35 milyar saja, bagiamana? tanya Abdurahman.
" Anak bapak ada berapa orang? tanya Ranti.
" Ada 4 orang, semuanya sudah menikah, dan anak saya bungsu, ikut saya mengurus Panti Asuhan, apalagi dia sekarang sudah di tinggalkan suaminya nikah lagi di Jakarta, dan memiliki anak 2", ucap Pak Abdurahman.
" Terus, ketiga anak bapak kerja apa? tanya Ranti.
" Mereka 2 orang PNS di kecamatan, 1 orang lagi Polisi, anak yang bungsu saya yang saat ini bersama saya, dia memang sakit saat masih kuliah, dan akhirnya, kemudian menikah, dan punya anak kembar, yang saat ini baru berumur 2,5 tahun, dia ingin meneruskan atau mau kuliah lagi walau dari awal, toh umurnya baru 25 tahun katanya, makanya bapak dan ibu ingin menjual tanah itu dan bagikan buat mereka", ucap pak Abdurahman.
" Tapi maaf sebelumnya, apa anak bungsu bapak dan saudara-saudaranya akur atau tidak? tanya Ranti.
" Sejujurnya, keempat anak kami memang tidak akur, ketiga kakaknya si bungsu merasa tidak memiliki adik, maaf ini sebenarnya masalah keluarga kami, tapi bapak dan ibu tidak malu menceritakannya
Hanya si bungsu yang mau membantu bapak dan ibu mengurus Panti Asuhan ini, jujur saja, ketiga anak kami sangat menginginkan tanya itu di jual, dan hasilnya bagi ke mereka saja", ucap Pak Abdurahman sendu.
" Bagikanlah, telpon anak-anak bapak dan suruh berkumpul, saya mau mereka tanda tangan dalam akta jual beli, agar tidak ada masalah di kemudian hari, saya bayar 35 milyar,
Bapak bagikan saja 30 milyar itu masing-masing 10 milyar kepada ketiga anak bapak, dan anggaplah, buat bapak dan di bungsu hanya kebagian 5 milyar, dan jangan kuatir soal kehidupan bapak dan ibu, serta anak bungsu Bapak dan ibu.
Percayalah, setelah mereka menerima uang itu, pasti mereka akan membuang kalian bertiga, namun jangan kuatir, kehidupan bapak dan ibu dan di bungsu akan jauh lebih baik setelah mereka Pergi,
" Saya tidaj mengijinkan mereka melangkah setapak pun di Panti Asuhan Insan Mulia ini dan sekolah yang akan di bangun", tegas Ranti.
" Kami ikut omongan anda Nona", ucap suami istri paruh bayah itu.
Ranti memindai, bahwa ketiga anak mereka memang sangat jahat, tapi tidak apa-apa mereka di berikan uang hasil penjualan tanah itu, toh mereka memang anak-anak dari pak Abdurahman.
Dua jam kemudian, ketiga anak Pak Abdurahman itu telah tiba, dengan menggunakan mobil sejuta umat.
" Halo ayah, apa benar sudah ada yang akan membeli tanah kita? tanya anak tertua Pak Abdurahman.
" Sudah, ini Nona Ranti, kakaknya Nak Aisyah", Ucap pak Abdurahman.
" Bukannya dia anaknya si Antara, Preman pelabuhan yang katanya sudah bertobat", ucap anak ketiganya yang polisi.
" Ia itu ayah saya, dan ayah saya memang sudah bertobat sejak menikah dengan ibu saya", jawab Aisyah tegas.
" Ia, itu benar, kakakmu si Anjas adalah teman sekelas, si penyakitan dan bodoh ini", ucap anak ketiga yang polisi itu, sambil menunjuk adiknya.
" Maaf itu masalah kalian, sekarang saya ingin bertanya kepada kalian bertiga, berapa harga tanah itu? tanya Ranti kepada ketiga orang itu.
" Saya sebagai anak tertua memberikan harga 40 milyar, tapi pembayarannya harus mengikuti aturan kami, yaitu, transfer kepada kami bertiga masing-masing 10 milyar dan 10 Milyar nya buat orangtua kami saja, buat masa tuanya sama si penyakitan itu", ujar anak tertua pak Abdurahman.
" Bagaimana pak Abdurahman, apa bapak setuju dengan omongan mereka? tanya Ranti.