SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN

SISTEM KEKAYAAN : PERJALANAN SI MISKIN
Berkunjung


Dengan seketika gelang tangan itu melingkar di pergelangan tangan Noey, dan berubah bentuk menjadi sebuah Tato yang nantinya tidak bisa dilihat oleh orang lain.


" Noey silahkan berbicara melalui telepati kepada Rosemary", perintah Ranti.


" Halo Keponakan bibi yang cantik", ucap Noey.


" Halo Bibiku yang juga cantik dan baik hati, terimakasih sudah merawat Rory", jawab Rosemary.


" Akhirnya bibi tidak kesepian lagi, sekarang bibi bisa berbicara dengan keponakanku yang cantik ini", ucap Noey kegirangan.


" Terimakasih Mommy, Rory sangat sayang sama Mommy ", ucap Rosemary dengan wajah tersenyum bahagia.


" Sama-sama sayang, mommy rela lakukan apapun demi kebahagiaanmu, tapi sabar ya sayang, nanti setahun lagi Rory bisa keluar dari sini dan berjalan-jalan dengan Bibimu", ucap Ranti.


" Ia mommy, Rory akan sabar menunggunya, lagian disini juga sangat nyaman", ucap Rosemary.


" Apa Rory mau tidur dengan Mommy? tanya Ranti.


" Tapi Rory baru bangun, Rory ingin jalan-jalan di kebun saja bersama mommy", ucap Rosemary.


" Baiklah, ayo sayang, nanti kalau Rory sudah Besar, Rory bisa main ke kebun kapan saja Rory mau", ucap Ranti.


" Terimakasih mommy ", ucap Rosemary.


Tak terasa hari sudah pagi di dunia luar, Ranti mendengar pintu kamarnya ada yang mengetuk, Ranti pamit kepada putrinya dan keluar dari ruang dimensi dengan pakaian yang sudah rapi.


" Kakak ayo sarapan dan kita berangkat kesekolah", ucap Salma yang sudah rapi dengan seragamnya.


" Ayo sayang, maafkan kakak terlambat bangun", ucap Ranti.


" Belum terlambat kak, hanya biasanya kakak yang bangunin aku", ujar Salma.


" Kesayangan kakak, makin pintar dan juga cantik, tadi maaf kakak lagi mengurus Keponakan Salma sebentar", ucap Ranti.


" Jadi gak sabar menunggu keponakan Salma keluar dari Cincin kakak", ucap Salma.


" Ia sayang, kakak juga ingin segera Rosemary keluar, tapi mau bagaimana lagi", ucap Ranti.


Tiba di meja makan, mereka semua langsung memulai sarapan dan berbincang sedikit.


" Dek, Kakak sama kak Vanya hari ini mau ke Jakarta, ada urusan di kampus", ucap Darel.


" Kami juga Dek, sambung Renata dan Renita.


" Ia gak apa-apa, aku juga Minggu depan mau ke Jakarta, mau urus pendaftaran kuliah juga, dan sekaligus mau berkunjung ke Astra Internasional milikku, karena sejak aku beli 3 tahun lalu aku belum pernah kesana", ucap Ranti.


" Ia dek, pihak Astra sudah pernah menghubungi kakak, kapan katanya kamu ada waktu untuk berkunjung", ucap Vanya.


" Suruh Sasha datang kesana dan katakan, saya kesana hari Senin Minggu depan, agar mereka menyiapkan seluruh laporan keuangan selama 5 tahun terakhir", ucap Ranti.


" Baik Dek, hari ini jadwal Sasha datang berkunjung ke sana", ucap Vanya.


" Baik kalau begitu, dan tolong suruh Maureen, agar datang ke Kampus Nusa Unggul, cek diam-diam saja", ucap Ranti.


" Kalau Regina, suruh dia cek 3 gedung milikku, Emerald, Sapphire dan Rubby, Titip pesan, bahwa hari Senin depan juga saya mau bertemu dengan ketiga kepala pengelola gedung itu, di Mall Cempaka", ucap Ranti.


" Baik Dek, lanjut Vanya.


" Dek, kamu juga harus menghadiri acara penggalangan dana untuk amal, yang nantinya uangnya akan di jadikan dana darurat saat terjadi bencana di negara kita", ucap Vanya.


" Acaranya, diadakan oleh siapa dan kapan", ucap Ranti.


" Acaranya diadakan oleh pemerintah, lewat kementerian sosial, undangannya baru datang kemarin sore kata Sasha, tempatnya di Puri Agung hotel Sahid Jaya Jakarta, hari Minggu jam 8 malam", ucap Vanya.


" Baiklah, saya akan datang, nanti saya hubungi Rendi, Hino Nakata dan juga Pak Jusuf Maulana, apa kak Vanya juga? tanya Ranti.


" Kalau di ajak, kakak juga mau ikut", ucap Vanya.


" Ya sudah, kakak temani saya kalau begitu". ucap Ranti.


" Coba hari Sabtu, Salma juga mau ikut, siapa tahu bisa ketemu dengan Menteri", ucap Salma.


" Sabar, nanti kakak pertemukan Salma dengan semua Menteri", ucap Ranti.


" Hehehehe, hanya bercanda kak", ucap Salma.


" Ya sudah ayo kita berangkat ke sekolah, nanti kita terlambat", ucap Ranti dan beranjak dari kursinya.


Di perjalanan, mereka bertiga, Ranti, Salma dan Armando, hanya berbincang seadanya.


" Tuan, Ayahnya Nona Nana, mantan karyawan Astra, di pabrik perakitan motor Honda, dan hingga saat ini, uang belasungkawa dan tunjangan Kematian dari perusahaan, tidak diserahkan oleh manajemen pabrik itu", lapor Aplikasi Mata Dewa.


" Baiklah, telusuri seluruh staf manajamen di sana, walaupun Astra hanya memiliki 50% saham, tapi saya masih bisa bertindak", tegas Ranti.


" Baik Tuan", balas Aplikasi Mata Dewa.


Tak lama kemudian mereka tiba di pelataran parkir Sekolah Dasar Bintang Timur, Security segera mengarahkan mobil Ranti ke parkiran khusus, di samping mobil milik Kepsek Indarwati.


Dan seperti biasa, Ranti akan mengantar kedua adiknya hingga di pintu kelasnya, saat ini Yati akan datang saat mengantar makanan saat istirahat, dan menunggu hingga Salma dan Armando pulang sekolah.


Yati sendiri, telah di berikan ruangan sendiri, agar dia bisa mengerjakan tugas-tugas Kampusnya, para guru dan pegawai tidak ada yang berani menyapanya dengan tidak sopan.


" Selamat pagi Salma, Armando dan kakak Ranti yang selalu cantik", sapa Mora.


" Pagi juga Mora, kenapa kesekolah masih pakai mobil Raize, kenapa gak pakai mobil yang kakak berikan kepadamu", tanya Ranti.


" Kata ayah kemahalan jika di bawah ke sekolah, mobil itu khusus buat jalan-jalan, kata Ayah", jawab Mora.


" Oh gitu, kakak kira kamu tidak suka", ucap Ranti


" Hehehehe siapa yang gak mau dengan mobil bagus seperti itu", ucap Mora.


" Ya sudah, kalian belajar baik-baik ya", ucap Ranti.


" Ia kak", jawab Salma dan Mora.


Selesai dari ruangan Salma, Ranti mengantar Armando ke kelasnya.


Mereka disapa oleh teman-teman Armando, termasuk Meichan Limenda yang mulai hari ini sudah sekelas dengan Armando.


" Meichan, bagiamana dengan sikap kakakmu itu", tanya Ranti.


" Kakakku sudah bertobat kak Ranti, dia setiap pagi yang mengantarkan Meichan kesekolah baru dia berangkat kerja, nanti pulang sekolah juga nanti kakakku yang menjemputku, kecuali dia banyak pekerjaan baru sopir yang jemput", ucap Meichan Limenda dengan jujur.


" Baguslah, berarti kakak Meichan, bukan orang sombong, hanya salah jalan saja, kak Ranti senang mendengarnya, Meichan juga, harus membantu kakakmu dengan rajin belajar, agar dia bisa bangga dengan Meichan", ucap Ranti.


" Terimakasih kak Ranti, kakak sekarang jarang keluar rumah untuk hal yang tidak jelas, dia pulang kerja hanya menemani saya belajar atau nonton TV, juga menyelesaikan pekerjaannya jika masih ada yang belum selesai", ucap Meichan Limenda.


" Ya sudah ya, kakak mau berangkat kerja sekarang, nanti kalau kalian ada waktu, datang main kerumah kakak, nanti kakak suruh masak Lobster untuk kalian", ucap Ranti.


" Hehehehe, tapi kami mau makan daging Wagyu kak Ranti", ucap Milkha.


" Oke, nanti kakak siapkan juga, asal kasih tau dulu kapan kalian akan datang", ucap Ranti.


" Milkha kamu itu ngomong apa sama Nona Muda Ranti", ucap ibunya yang belum pulang mengantar Milkha.


" Tidak apa-apa Bu, saya memang memiliki ternak sapi Wagyu, nanti saya suruh pelayan dirumah agar membungkusnya dan biar Milkha bawa pulang, jangan sungkan-sungkan, mereka masih anak-anak", ucap Ranti


Ibunya Milkha seketika tersenyum bahagia dan bangga, akan kesopanan Ranti dan cara berpikirnya.


" Terimakasih Nona Muda",ucap Ibunya Milkha.


" Sama-sama Bu, kedua adikku jarang dekat dengan siapapun, jadi merekalah teman baik adikku Armando, tolong jangan jauhkan Milkha dari adikku, saya senang mereka bisa berteman", lanjut Ranti.


" Tapi suami saya selalu mewanti-wanti agar jaga kesopanan terhadap, siapa saja, apalagi kepada Nona Muda dan keluarganya", ucap ibunya Milkha.


" Tidak akan nona Muda", jawab ibunya Milkha dengan cepat.


" Baiklah Bu, saya undur diri dulu karena mau ke kantor Yayasan", ucap Ranti dan langsung beranjak.


" Mama Milkha, yang tadi itu siapa, sepertinya ibu sangat menghormatinya", tanya seorang wali murid yang juga kenal ibunya Milkha.


" Tadi itu saya lagi ngobrol dengan kakaknya teman anak saya", jawab ibunya Milkha.


" Lalu kenapa mama Milkha memanggilnya Nona Muda, anak masih ingusan begitu sampai membuat anda terlihat sangat menghormatinya", lanjut orangtua murid itu.


" Dia pemilik Tunggal sekolah dan Yayasan Bintang Timur", jawab Ibunya Milkha.


" hahahaha, anak kecil seperti itu kamu bilang pemilik Yayasan Bintang Timur yang besar ini, jangan bercanda Bu", ucap Ibu itu.


" Terserah ibu saja, nama gadis itu adalah Ranti Putri, siapa tahu suami ibu pernah mendengarnya, ibu bersyukur bisa melihatnya, karena sangat banyak pengusaha yang hanya tau namanya saja, tapi tidak pernah bertemu langsung dengannya", jawab ibunya Milkha dengan santai dan beranjak juga dari situ.


Ibunya Milkha kesal dengan dengan ibu itu yang meremehkan Ranti, yang sudah dianggapnya sebagai malaikat penolong perusahaan suaminya, juga perusahaan teman-temannya, yaitu berkat proyek dan pinjaman lunak dari perusahan Ranti.


" Dasar orang bodoh, anak kecil dia sebut sebagai pemilik Yayasan Bintang Timur ini", ucap ibu itu ngedumel.


Setiba di pelataran kantor Yayasan Bintang Timur, Ranti di kejutkan dengan telponnya yang berdering, dan ternyata dari Aisyah.


" Ada apa dek, kenapa gak belajar, malah menelpon kakak", ucap Ranti.


" Bu Kepsek melaporkan bahwa pembangunan seluruh sarana dan prasarana yang bantu oleh kakak semuanya sudah beres, ayah juga sudah mengatakannya, dan rencananya besok jam 10 pagi akan di adakan peresmian, dan juga nanti di hadiri oleh Kepala Dinas dan wali kota Cilegon", ujar Aisyah.


" Baiklah besok kakak akan datang, lalu bagaimana dengan Paman Lomban kamu, apakah dia juga sudah di beritahukan", ucap Ranti.


" Sudah kak, Besok Paman akan hadir bersama staffnya, juga Bibi katanya mau hadir", jawab Aisyah.


" Baguslah kalau Bibimu juga mau ikut, kakak senang mendengarnya, ajak juga ayah dan ibumu", ucap Ranti.


" Pasti kak, kan Ayah sebagai Ketua Pembangunan", ucap Aisyah.


" Oke, nanti Sore tunggu paket dari kakak untuk Ayah dan ibumu serta Paman dan Bibimu, jadi suruh mereka datang kios mengambil paketnya", ujar Ranti.


" Baik kak, tapi besok boleh gak aku kesekolah bawa mobil Koenigsegg Gemera atau Aston Martin Vanquish", tanya Aisyah.


" Mau pamer ya", ucap Ranti.


" Bukan itu tujuannya, disekolah Aisyah ada anak sombong yang membawa mobil juga, dan dia memaksa Aisyah agar jangan parkir di parkiran milik Aisyah, alasannya mobil Mercedes Benz GLE Class milikku tidak semahal mobil Lamborghini Urus miliknya", ujar Aisyah.


" Baiklah, Aisyah bawa saja Koenigsegg Gemera nanti kakak bawa mobil kakak Koenigsegg Trevita, biar dia tahu dengan siapa dia berhadapan", ucap Ranti.


" Terimakasih kak, katanya keluarganya dia adalah anak orang terkaya di Banten", ucap Aisyah.


" Ya sudah, sampai ketemu besok pagi", ucap Ranti.


" Baik Kak, kakak jangan lupa makan, nanti kakak sakit", ucap Aisyah.


" Terimakasih adikku sayang", jawab Ranti.


Setelah menutup telponnya, Aisyah langsung ke kantor Kepala Sekolah dan melaporkan bahwa Ranti akan hadir.


Sementara di kantor Yayasan Bintang Timur, Ranti mengadakan rapat darurat, dan membicarakan perihal Ranti akan membuat sekolah dan Panti Asuhan Bintang Timur di seluruh Provinsi Indonesia dan nanti tetap kantor pusat berada di Surabaya.


Mereka yang mendengar rencana Ranti terkesima dengan rencana besar tersebut.


Ranti juga berencana akan membuat gedung Yayasan, dan merekrut karyawan, bukan hanya itu saja, Ranti juga berencana membangun beberapa Universitas, yang tentunya dengan biaya terjangkau.


Selesai rapat di kantor Yayasan, Ranti pergi ke gedung Panti Asuhan Bintang Timur Charity, terlihat gedungnya sudah masuk tahap finishing, dan barang-barang kebutuhan Panti sudah sudah mulai berdatangan.


Berbagai fasilitas di bangun di area panti agar anak-anak bisa lebih betah dan bersemangat.


Ranti sangat senang melihat pembangunan gedung Panti Asuhan itu, walau luas lahan terbatas, tapi nampak terlihat luas karena bagusnya desain.


Kemudian Ranti pergi ke sekolah Elite miliknya yang sudah mulai kegiatan belajar mengajar, kini murid yang terdaftar telah berjumlah 500 orang, dari berbagai tingkatan, bisa di katakan sebuah permulaan yang bagus.


Padahal untuk bisa masuk ke sekolah Elite milik Ranti terbilang sangat mahal, dengan fasilitas belajar Inggris gratis dan berbagai fasilitas yang sangat baik, termasuk makan siang yang gizinya sudah diatur.


" Selamat datang Nona Muda", sapa Sandrina yang di percayakan untuk menjadi direktur di sekolah itu.


" Terimakasih Sandrina, bagaimana perkembangan sekolah kita, apakah guru-guru kita semuanya sudah sesuai dengan standard kita atau bagaimana? tanya Ranti


" Sudah Tuan, guru-guru minimal S1 dengan nilai yang bagus, karena memang di sesuaikan dengan gaji yang kita berikan", jawab Sandrina.


" Bagus, terus pantau perkembangan guru kita, jika ada yang memiliki potensi yang bagus, segera tawarkan beasiswa untuk S2, agar rencana kedepan bisa lebih baik dengan seluruh wali kelas harus S2, ucap Ranti.


" Sudah kami jalankan sesuai Aplikasi standardisasi yang di berikan Nona Muda.


" Bagus, saya senang mendengarnya, saya ingin 5 tahun kedepan, sekolah kita ini, masuk daftar 10 sekolah terbaik di Indonesia", ucap Ranti.


" Baik Nona Muda, kami akan bekerja lebih giat, agar target tersebut bisa tercapai", ucap Sandrina.


" Baca setiap peluang yang ada, bentuk kegiatan ekstrakurikuler yang mumpuni, baik akademik maupun non akademik, agar kita mampu tampil di ajang apapun, dengan begitu sekolah kita bisa terkenal", ujar Ranti.


" Baik Nona Muda, jawab Sandrina.


Ranti berkeliling mengecek semuanya, termasuk ruang makan siswa, dari SD hingga SMA.


Kemudian dia mengecek ruang Guru, dari SD hingga SMA, semuanya terlihat sangat mewah dan tertata dengan rapi.


Selepas dari Ruang guru dia berkunjung ke kelas-kelas yang sudah digunakan untuk proses belajar mengajar.


Perpustakaan juga tak luput dari pengecekan Ranti, dengan buku yang berjumlah ribuan judul dan dikelola dengan sangat modern, bahkan para siswa bisa meminjam buku secara online, yang nantinya ada petugas yang akan mengantarkan ke kelas siswa yang meminjamnya.


Selesai meninjau sekolah Elite miliknya, Ranti kemudian keluar dari sekolah itu, dia menuju ke Panti Asuhan Al Azhar, dia juga ingin mengecek sudah sampai dimana perkembangan pembangunan gedung Panti Asuhan itu dan juga sekolahnya.


Hanya berkendara selama 40 menit Ranti sudah tiba disana. Dia disambut oleh Gema, Yudi dan Kinan, beserta Pak Faturahman dan istrinya.


" Selamat datang Ranti, bagaimana kabarmu? tanya Gema.


" Baik-baik saja, seperti yang kamu lihat, saya kesini ingin melihat perkembangan pembangunan gedung Panti Asuhan dan Sekolah.


" Pembangunan berjalan lancar, tinggal penataan interior dan pemasangan fasilitas - fasilitas pendukung sesuai rencana dari kamu", ucap Gema.


" Baguslah, nanti jika semua sudah selesai, maka segera bongkar gedung ini, agar lahan parkir dan taman akan semakin indah saat ada tamu yang datang", perintah Ranti.


" Baik Nona, mushallah sudah selesai 100%, untuk gedung Panti Asuhan, akan di tempati 2 bulan lagi, sedangkan untuk gedung sekolah, tahun ajaran nanti sudah bisa merekrut murid, untuk klinik juga sudah rampung dan alat-alatnya, bukan depan sudah mulai di pasang, Minggu depan mobil ambulance akan di kirim kesini", lapor Istrinya pak Faturrahman.


" Bagus itu Bu, lalu ijin operasional sekolah apakah sudah selesai? tanya Ranti.


" Sudah Nona, bahkan untuk ijin menjalankan Panti Asuhan, sudah selesai di perbarui, serta pembentukan Yayasannya sudah selesai dan ijinnya juga sudah selesai", ucap Bu Faturrahman.


" Syukurlah, dan jika ada uang lebih dari pembangunan semuanya, silahkan uang tersebut di masukkan sebagai kas untuk penjagaan jika kedepannya ada kebutuhan renovasi, jangan di gunakan untuk hal lain uang tersebut", tegas Ranti.


" Baik Nona, kami juga memohon kehadiran Nona Ranti dan keluarga saat peresmian gedung baru dan pelantikkan pengurusan Yayasan", ucap Pak Faturahman penuh harap.


" Atur saja jadwalnya kapan, dan kirim ke saya, dan kalau bisa acaranya di gelar saat hari libur, agar kami semua bisa hadir", ucap Ranti sambil memberi saran.


Lebih dari 1 jam mengecek Panti Asuhan Al Azhar dan berbincang-bincang dengan Gema, Yudi dan Kiran.


Ketiga orang teman Ranti itu, kini terlihat semakin percaya diri, apalagi mereka sekarang tidak lagi kekurangan uang.


" Ranti, boleh gak kami membeli mobil untuk ke kampus, apalagi saat hari hujan", tanya Kinan.


" Beli saja, tapi ingat jangan untuk pamer, saya tetap ingin melihat ketiga sahabat ku yang rendah hati", ucap Ranti sambil merangkul Gema dan Kinan.


" Kami gak bakal lupa dengan asal kami, lagian kamu saja yang sudah sangat kaya, tetap seperti ini, lalu apakah pantas kami menyombongkan diri", ucap Gema.


" Ya sudah, beli saja mobil sesuai kebutuhan kalian, dan nanti jika mobilnya sudah datang kalian lapor saya, kalian juga ingat beli mobil di Dealer Grace", ucap Ranti.