
Waktu berputar begitu cepat, hari ini dimana pengumuman Siapa yang menjadi Juara Nasional pada lulusan SMA tahun ini, dan hari ini kedua kakaknya Ranti akan ke Banyuwangi, dan seperti biasa Ranti mengantarkan kedua adiknya ke sekolah.
Saat baru keluar dari sekolah SD, Ranti melihat seorang anak sedang memulung di tempat sampah sekolah, melihat seorang anak sedang memulung membuat hati Ranti teringat saat Salma dan Armando, dengan tubuh kurus dan tidak terurus.
Ranti kemudian mendekati anak itu, dan memindai anak itu, ternyata anak ini yatim Piatu,. baru seminggu di tinggalkan sang ibu.
" Hei dek, siapa nama kamu dan dimana kamu tinggal? tanya Ranti berpura-pura.
" Nama saya Subekti, panggilan Bekti, saya tidak punya tempat tinggal tetap, sejak ibuku meninggal Minggu kemarin, tapi rumah ibu masih ada, siang ini saya harus pulang, karena ada tahlilan 7 hari ibu saya meninggal ", ucap Bekti yang berumur 13 tahun.
" Oh lalu di mana rumah ibumu, dan apa kamu tidak Sekolah sama sekali? tanya Ranti.
" Sekolah, tapi sudah mau berhenti, soalnya sudah 4 bulan tidak bayar SPP, apalagi ibu sudah meninggal, ayahku sudah menikah lagi sejak saya masih TK, dan tidak tahu dia dimana", ucap Bekti.
" jauh gak rumah ibumu dari sini, tanya Ranti.
" Tidak jauh, aku dalam perjalanan pulang hari ini sambil memulung, tinggal 2 gang lagi sampai, aku juga sekolah disini, 2 tahun lalu sebelum ibu saya sakit, Almarhum Cleaning Service di kantin, makanya saya masih dapat diskon 75 % untuk sekolah, ucap Bekti.
" Siapa nama Almarhumah ibumu? tanya Ranti.
" Namanya Fatma, ada apa kak? tanya Bekti.
" Tidak apa-apa, apa kamu memberitahukan ke pihak sekolah bahwa ibumu sudah meninggal? tanya Ranti.
" Tidak, saya tidak enak selama ibu sakit, pihak yayasan masih memberi tunjangan walau tidak banyak, tapi cukuplah untuk buat makan kami dan obat untuk ibu", ucap Bekti dengan jujur.
' Ya sudah ayo kita rumah kamu, dan mulai besok kamu masuk sekolah lagi, saya akan bayar seluruh biaya sekolah kamu hingga lulus SMA, dan jika kamu berprestasi kamu saya akan kuliahkan, 2 tahun lagi, akan ada universitas di Yayasan Bintang Timur, jadi nanti saat kamu lulus SMA, sudah bisa daftar kuliah, nama saya Ranti, apa kamu masih punya Saudara dari ibumu? tanya Ranti.
" Ada Bibiku, tapi mereka juga susah, bibi saya jualan gorengan di depan Rumahnya, dulu sempat buka warung, tapi sejak kebakaran, Bibi sudah kehabisan Modal, sedangkan Paman hanya guru honorer di sekolah kecil, jadi ya seperti itu, hanya cukup buat makan saja, anak mereka hanya satu, baru mau masuk SMP", jawab Bekti sambil jalan beriringan dengan Ranti.
" Jadi tanahnya kosong sekarang? tanya Ranti.
" Ia kosong, sejak kebakaran 3 bulan lalu, mereka tinggal di rumahku, ya lumayan buat bayar listrik dan Air, mereka melarang saya memulung, dan sedang berusaha kumpul uang agar aku bisa bayar SPP, bibi dan paman sangat baik, tapi tidak dengan kakaknya Ibuku yang tinggal di dekat Galaxy Mall, dia punya toko kelontong, sedangkan suaminya satpol PP, jadi hidup mereka lebih baik.
" selama ibu sakit mereka tak pernah datang, pas ibu meninggal dan setelah di makamkan, mereka langsung pulang, dan tak pernah ikut tahlilan", ucap Bekti.
" Sudahlah, jangan dipikirkan, pikirkan saja hidupmu, anggap saja mereka bukan keluarga kamu lagi, percayalah semakin kamu menyalahkan mereka maka kamu tidak akan sukses, tetapi semakin kamu mengikhlaskan kepergian ibumu dan perlakuan kakak ibumu, yakinlah kami akan sukses", nasehat Ranti.
" Ini rumah saya, dan itu tanah kosong milik bibi saya, dan itu bibi saya lagi menggoreng tempe dan bakwan", ucap Bekti.
" Halo Bibi, Bekti pulang, maaf 2 hari ini Bekti tidak pulang", ucap Bekti.
" Sudahlah tidak apa-apa, yang penting kamu sudah pulang, dan besok kamu ke Sekolah bayar SPP kamu dan ikut Ujian, pamanmu sudah dapat Uangnya, jangan mulung lagi, lihat badanmu itu sudah kurus dan dekil, sana mandi dulu yang bersih dan ganti baju, setelah sarapan", ucap bibinya Bekti dengan penuh kehangatan.
" Ia bi, kenalkan ini kak Ranti, tadi ketemu di sekolahan Bintang Timur bagian SD, saat Bekti lagi kumpulkan kardus", ujar Bekti memperkenalkan Ranti.
" saya bibinya Subekti, adik almarhumah ibunya, bapaknya pergi sudah lama dan menikah lagi hingga kini tak pernah datang menjenguk Bekti", ucap bibinya.
" Tak usah dipikirkan orang yang tidak bertanggungjawab seperti itu, Kenalkan saya Ranti, pemilik sekolah bintang timur, dan soal sekolah Bekti, saya gratiskan hingga tamat SMA, dan jika dia berprestasi, saya akan beri dia beasiswa untuk kuliah", ujar Ranti.
" Terimakasih Nona Ranti, Ibunya Bekti dulu karyawan di sekolah anda, kami masih bersyukur, karena walaupun sakit dan tidak bisa bekerja, tapi yayasan tetap memberikan tunjangan buat almarhumah kakak saya, rencananya kami besok akan memberitahukan ke pihak yayasan agar tidak usah lagi mengirim uang tunjangan, karena kakak saya sudah tidak ada", ucap Bibinya Bekti.
" Nanti saya sampaikan, dan sebagai gantinya, biaya sekolah Bekti gratis hingga tamat SMA, jadi dia tidak perlu lagi memulung, dan untuk suami ibu, nanti saya coba lihat jika masih ada lowongan guru, nanti saya sampaikan agar memanggil suami ibu", ucap Ranti.
" Terimakasih Nona Ranti, suami saya memang berkeinginan menjadi Guru di Bintang Timur, dia S1 matematika, ucap bibinya Bekti.
" Baik Bu, saya coba tanyakan dulu, soalnya saya tidak mengurus karyawan secara langsung", ucap Ranti.
" Baik Nona, silahkan coba gorengan saya, ucap bibinya Bekti sambil menawarkan gorengan buatannya.
" Terimakasih Bu, berapa modal jika membuka warung kelontong, katanya dulu sempat usaha warung kelontong namun karena kebakaran hingga Bangkrut, ucap Ranti.
" Dulu pertama buka 30 juta, suami saya jual sawah di kampungnya, setelah 3 tahun berjalan, kebakaran akibat dari anaknya tetangga yang sedang main kembang api dan apinya dilempar ke tumpukan kardus dan kebakaran, tapi mereka tidak mau ganti rugi, Padahal rumah mereka kalau saya mau tutup jalan bisa, mereka lewat pas di tanah saya, mereka bangun rumah tidak menyisakan apapun, Makanya jika saya punya uang maka tanah yang didaur saya akan saya bangun hingga pas batas tanah milik saya,
Bukan dendam, tapi mereka sendiri tidak memikirkan bagaimana jika kami membangun, dia tidak menyisakan tanahnya, maka saya juga, Ucap bibinya Bekti.
" silahkan saja, itu hak kalian, dan benar kata ibu, jangan mengerti dengan orang yang tidak pengertian", ucap Ranti.
" ATM ini buat ibu, bangunlah rumah ibu, dan buatlah warung kelontong, tapi ibu harus merawat Bekti dengan baik, ucap Ranti.
" Terimakasih Nona Ranti, besok juga saya akan bangun rumah saya, ucap ibu itu.
Ranti melihat kondisi rumah tetangga yang memang tidak bisa lewat depan, karena sudah ada bangunan besar di depannya, dan akses mereka adalah halaman yang harusnya jadi dapur untuk rumahnya bibi Bekti.yang depannya adalah gang, nah akses gang itu pas tanah bibi Bekti, belakang dapur bibinya adalah tanah mereka si tetangga namun saat membangun kontrakan, di menghabiskan tanahnya, dia tidak berpikir bagaimana jika Dapur bibinya Bekti dibangun.
" Apa mereka memang tidak suka dengan ibu, tanya Ranti.
" Kalau hanya dengar sepihak, tetangga saya itu katanya membenci suamiku yang memberikan nilai jelek kepada anaknya, Padahal anaknya mereka tidak pernah kumpul tugas rumah, juga sering bolos, jadi wajar saat ulangan anaknya tidak bisa jawab, begitu kata tetangga yang lain, tapi saya gak mau ambil pusing, mereka diam saya juga diam", ucap bibinya Bekti.
" Ya sudah, segeralah bangun rumah ibu, saya mau juga mau lihat bagaimana tanggapan tetangga ibu, tapi ingat, ukuran tanah ibu harus sesuai Sertifikat", ujar Ranti.
" pasti Nona, tanah kami sudah sertifikat, itu berarti gambar dan ukuran tanah sudah sah dari pemerintah", ucap bibinya Bekti.
' Kalau begitu dia tidak berhak protes dan ibu juga bisa menggunakan tanah ibu sesuai ukuran tanah ibu, soal dia mau kemana-mana jangan ibu yang mikirin, dia sendiri gak mikir buat apa ibu yang mikirin, jika dia mau jalan, ya bongkar rumah kontrakannya sebagian untuk jalan dia", ucap Ranti.
" Ayo Bekti ikut saya, ajak Ranti
" Baik kak", ucap Bekti
" Kita ke sekolah dan membahas uang sekolah kamu, jadi pakai baju yang rapi", ucap Ranti.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, Bekti selesai berganti pakaian, mereka berdua pun berjalan kaki menuju sekolah Bintang Timur.
Ranti dan Bekti, menuju gedung khusus administrasi, dan lantai dua adalah perpustakaan umum.
Ketika Ranti masuk ke ruangan administrasi, semua pegawai langsung berdiri menyapa Ranti.
" Siswa atas nama Subekti, mendapat potongan 75 %, karena ibunya hingga saat ini masih tercatat sebagai karyawan, dan belum ada keterangan mengundurkan diri, tunggakannya 4 bulan, totalnya 600 ribu, dan untuk biaya ujian kenaikan kelas 250 ribu, jadi total semuanya sebesar 850 ribu", jawab admin keuangan.
" Ya sudah ini uang 850 ribu, sisanya kalian ambil saja untuk makan siang, dan kalian buatkan surat pembebasan biaya SPP atas namanya Subekti hingga lulus SMA, nanti suratnya titip ke sopir saya nanti saat adikku pulang sekolah, perintah Ranti.
" Baik Nona Muda, tapi mohon maaf Nona Muda, apa alasan menggratiskan siswa atas nama Subekti.
" Oh aku lupa, ibu dari Subekti yang merupakan karyawan kita,. sudah meninggal seminggu yang lalu, silahkan Berikan santunan, dan utus orang kerumahnya dsn bertemu dengan bibinya Subekti yang bertindak sebagai walinya" perintah Ranti.
" Baik Nona, kami benar-benar tidak tahu, rencananya awal bulan biasanya kami menitip ke Subekti gaji Ibunya, almarhumah kerja disini sangat berdedikasi, jadi ketua Yayasan yang dulu dan yang sekarang tetap memberikan gaji walau almarhumah tidak bisa bekerja", ucap mereka.
" Saya setuju jika memang karyawan yang berdedikasi masih kita perhatikan, tapi jangan disalahgunakan akan hal seperti ini.
Berikan gaji terakhir dan pesangon sesuai aturan pemerintah dan uang belasungkawa, serta sertifikat penghargaan dan ucapan terimakasih ", perintah Ranti.
" Baik Nona, semoga program ini bisa membuat seluruh karyawan merasa lebih perhatikan dan berdampak pada kinerja", ucap mereka.
" Harus seperti itu, yang rajin dan setia harus di berikan penghargaan, tapi bagi yang tidak setia dan tidak mematuhi aturan, pasti saya pecat, artinya lalai. bekerja disini bukan tergantung pada kami, tetapi tergantung pada diri kalian masing-masing, jika mau selamanya bekerja disini, silahkan ikut aturannya dan jika tidak mau, maka silahkan angkat kaki secara teratur sebelum ada tindakan dari pihak Yayasan ", ucap Ranti.
Selesai mengurus administrasi Subekti, Ranti mengajak Subekti toko handphone, Ranti membelikan Bekti dan bibi serta Pamannya handphone Reno 8 Pro 5 G, dan 2 unit tablet.
Setelah itu Ranti mengantarkan Bekti kerumahnya, namun sebelum Bekti turun Ranti memberikannya 2 ATM berisi uang sebesar 15 milyar deposito dan 5 milyar untuk dia jajan dan biaya hidup, Ranti memberikan Pill penambah Kecerdasan.
" Bekti, saya harap kamu tidak boros, jika kamu bisa menggunakan uang ini dengan bijak, maka kelak hidupmu tidak lagi kesusahan, tapi jika kamu salah mempergunakan uang ini, maka saya tidak akan pernah membantu mu lagi, ucap Ranti.
" Baik Kak, saya akan gunakan uang ini dengan baik, saya akan fokus belajar, terimakasih kak", ucap Bekti.
" saya akan ingat dengan kata-kata kamu, ya sudah saya pergi dulu, dan besok kamu sudah harus masuk sekolah", ucap Ranti dsn langsung meninggalkan rumah Bekti dan perigi menuju ke kantor Pak Pribadi.
Sementara di sekolah telah heboh di ruang guru SMA, bahwa Ranti menjadi Juara Nasional dengan nilai tertinggi dan Nomor 2 adalah Rindu dengan nilai hampir sempurna, sedangkan Tiara berada di nomor 6.
Pihak Kementrian pendidikan pusat hingga provinsi Jawa Timur terkejut bahwa 3 siswa dari sekolah Bintang Timur masuk 10 besar, dalam sekejap Sekolah Bintang Timur menjadi top,
Kepala Sekolah Bintang Timur, Bu Michelle teringat akan omongan Ranti, bahwa dia akan menjadi Juara Nasional.
Akan tetapi berita kemenangan Ranti, menjadikan identitas aslinya tersebar, karena dalam pengumuman itu, jelas tertulis nama lengkap dari Ranti, Yaitu Ranti Putri Setiawan.
Dua Keluarga besar terkejut mendengar Namanya, Keluarga Ferdiansyah Setiawan dan keluarga Pradipta.
Ferdiansyah segera memerintahkan orang-orangnya agar segera mendatangi sekolah Bintang Timur untuk mengkonfirmasi data pribadi Ranti.
Begitu juga dengan keluarga Pradipta, tapi mereka meminta bantuan Nikson Pradipta yang mendatangi Sekolah Bintang Timur.
Sedangkan Adriansyah dan Monicha hanya tersenyum bahagia, dan langsung menelpon Ranti.
" Terimakasih Dady dan mommy, Princes persembahkan buat kalian berdua, 3 tahun lalu Princes juara 3 umum se-Indonesia dan juara 1 propinsi Jawa Timur', ujar Ranti.
" Kamu hebat Nak, day dan mommy semakin bangga punya Princes", ucap Adriansyah.
" Princess juga menjadi putri kalian, ucap Ranti.
" Bahkan Rindu, putri Dady dan mommy juga masuk peringatkan 2 nasional, Tiara juga walau hanya peringkat 6, tapi itu sudah pencapaian yang luar biasa bagi sekolah milikmu', Adriansyah.
" Ia Dady, tapi maaf Princes lagi di jalan mau ke Kantor ayahnya Tiara dan mau ke proyek Pembangunan Kota Terpadu", ucap Ranti.
" Baiklah, hati- hati di jalan, dan Princes mau hadiah apa ? tanya Adriansyah.
" Hanya ingin di Masakin Mommy saja", ucap Ranti.
" Baiklah, nanti jika mommy ke Surabaya atau Princes ke Jakarta", ucap Monicha.
* Tuan, Keluarga Ferdiansyah, Setiawan telah mengirim orang untuk mengkonfirmasi data Nona, keluarga Pradipta juga meminta Tuan Nikson Pradipta agar datang kesekolah Bintang Timur untuk mendapatkan informasi pribadi Anda Tuan. Rose menyarankan agar kedua orangtua Tuan dan Tuan sendiri agar memberitahukan bahwa Tuan dan kedua orangtua Tuan masih hidup", ujar Rose.
" Baiklah Rose, kasihan juga Kakek, Ranti juga sudah sangat ingin bertemu dengan kakek Pradipta", Ucap Ranti, sambil menghubungi Orangtuanya.
" Halo Princes, ada apa sayang? tanya Monicha.
" Mommy, ada baiknya sekarang kita bertemu dengan Kakek dan keluarga yang lain, kasihan Paman Nikson yang merasa bersalah berbohong kepada kakek orang yang sangat Paman Nikson sayang", Ucap Ranti.
" Tapi nanti Ferdiansyah akan mengganggumu dan keluarga mommy yang lain? ucap Monicha.
" Mommy tenang saja, semua sudah Princes perhitungkan, Ferdiansyah sekarang sudah mengirim orang ke Surabaya untuk mencari tahu keberadaan Princes, begitu kakek sudah meminta Paman Nikson untuk datang ke sekolah Princes, orang-orang Princes akan menutup data pribadiku, percayalah aku bisa menghancurkan Ferdiansyah Setiawan hanya dalam hitungan 1 jam, kecuali Aquila yang hingga hari ini tidak setuju dengan tindakan Ferdiansyah Setiawan, kedua anaknya Aquino dan Aquinas, sudah setahun lebih aku tangkap dan berada dalam tahanan pribadi ku, begitu juga keluarga Atmajaya mertua Ferdiansyah Setiawan, jadi Tolong datang kerumah kakek, mumpung kakek masih Sehat ", ucap Ranti.
" Apa kamu juga akan ikut Bertemu dengan kakekmu? tanya Monicha.
" Pasti datang tentukan saja harinya asal jangan hari Sabtu ini, karena Princes ada pertemuan dengan Pemkab Lampung Selatan", jawab Ranti.
" Bagaimana kalau hari Minggu Saja, tapi hati ini mommy akan dan Daddy akan berkunjung ke rumah kakekmu, tolong hubungi paman kamu Nikson dan suruh dia telpon mommy sekarang", ujar Monicha.
" Baik mom", jawab Ranti dan mematikan handphonenya dan menghubungi Pamannya Nikson Pradipta.
" Halo keponakan Paman tercantik, ada apa ? tanya Nikson.
" Paman sudah lihat berita soal peraih Juara umum tingkat Nasional pada lulusan SMA tahun ini? tanya Ranti basa-basi.
" Sudah, bahkan kakek mu sudah memerintahkan paman mencari tahu soal kamu lewat bintang timur, tapi tenang saja, paman dan bibimu beserta kedua kakak sepupumu tidak bicara sebelum kamu mengijinkan kami bicara, tidak apa-apa jika kelak kakek mu memarahi Paman", ucap Nikson.
" Maafkan Ranti yang sudah membuat paman berbohong pada kakek, Ranti tahu Paman di posisi sulit, mommy minta Nomor telpon Kakek, dan Paman diminta agar menghubungi mommy sekarang", ucap Ranti.
" Baiklah sayang paman akan menghubunginya sekarang, tapi barusan Bibimu dan Aubrey meminta kamu datang berkunjung ke rumah, Bibimu sangat kangen dengan kamu, apalagi sekarang Aubrey sudah kamu pekerjakan menjadi Direktur di Tunjungan Plaza, jadi dia kesepian kalau kami semua berangkat bekerja, paman mohon kalau kamu ada waktu datanglah jenguk Bibimu", ucap Nikson dengan lembut.
" Ia Paman nanti kerumah Paman, dan kalau Bibi juga mau ketemu dengan Ranti, datang saja kerumahku, bila perlu nginap beberapa hari, karena kalau malam pasti aku di rumah dan pagi kita bisa sarapan bersama", ucap Ranti.
" Baiklah, sekarang Paman telpon mommy kamu dulu nanti dia kelamaan menunggu, bisa-bisa paman di semprotnya", ucap Nikson.