
Bonchap 4
Waktu menunjukkan pukul empat pagi, sebentar lagi adzan subuh berkumandang, tapi diluar sana Mamah sudah heboh menggedor pintu, membuat Gendis yang masih sangat betah berlayar mengarungi mimpi indahnya mau tidak mau harus membuka matanya.
“Mamah berisik!” Gendis mengucek matanya, lalu berjalan sempoyongan menuju pintu.
“Apa Mah?” Gendis berkata hampir menangis karena kesal.
“Nih, Mamah minta tolong, coba kamu anterin tasbih punya Papah kamu ke masjid sebelah, Papah kamu kayaknya lupa” Mamah menyodorkan sebuah tasbih berwarna biru muda ke hadapan anaknya yang masih berwajah bantal.
“Mah!”
Oh! Yang benar saja, pintu kamar Gendis di gedor sepagi ini hanya karena Mamah memintanya untuk mengantarkan sebuah tasbih? Huuuaaa! Rasanya Gendis begitu ingin murka kepada Mamah.
“Cepet! Gak usah kebanyakan protes!” Mamah menjejalkan tasbih tersebut ke tangan anaknya, tidak mau tahu dengan raut sang putri yang sudah mencak-mencak tak karuan.
“Itu tasbih kesayangan Papah, kalau ketinggalan Papah suka kesal sendiri, kasihan kan Papah” sahut Mamah sembari menuruni anak tangga.
“Ya Allah ...” Gendis menghela napas kasar, lalu berjalan dengan ogah-ogahan keluar dari rumahnya menuju masjid yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.
Masjid tersebut terletak di tengah-tengah perumahan elite yang mereka tempati, merasakan betapa dinginnya udara subuh, Gendis memeluk tubuhnya sendiri, wajahnya sungguh sangat mengkhawatirkan, dengan mata masih memerah juga rambut yang acak-acakan, Gendis sudah seperti nyi kunti yang bangun kesiangan.
“Papah mana sih?” Gendis melongokan wajahnya, berjinjit-jinjit mencoba melihat Papah yang pasti kini sudah berada di dalam masjid.
“Duh malunyaaaa” Gendis kini baru menyadari kesalahannya, ternyata dia hanya mengenakan piyama tidurnya, untungnya piyama tidur yang dikenakan Gendis kini berupa celana panjang juga atasan tangan panjang, hanya rambutnya saja yang semrawut.
“Papah mana ya?” Gendis kembali melongokan wajahnya mengintip kedalam masjid yang transparan karena menggunakan kaca seluruhnya.
“Oh may gat!” Gendis memekik dengan tangan menutupi mulutnya sendiri. Matanya mengerjap pelan.
“Ini gak mungkin” Gendis menggelengkan kepalanya pelan, kala netranya menangkap sebuah pemandangan yang membuat hatinya terhenyak tak percaya.
“Itu Vidi kan?” Gendis bergumam, matanya masih asyik mengintip, seorang pria berwajah tampan mengenakan sarung, baju koko, juga peci hitam melekat diatas kepalanya, kini tengah bersiap untuk mengumandangkan adzan subuh. Mata Gendis melotot seketika.
“Gak! Gue pasti masih mimpi! Si Vidi kan cowok petakilan” Gendis bergumam menolak percaya, tapi kemudian rungunya mendengar suara yang teramat merdu dari suara adzan yang tengah dikumandangkan.
“I ini? Suara ini?”
Tidakkah Gendis salah mendengar? Suara ini adalah suara yang seringkali Gendis dengar kala di sepertiga malam selepas Gendis selesai nonton drakor.
“Gak! Suara itu pasti suara Kak Ilham! Gak mungkin suara si ...”
“Gendis? Lagi apa?”
Gendis mengerjapkan matanya berulang kali, tubuhnya memutar menatap sumber suara.
“Eh, Kak Ilham?” Gendis tersenyum malu-malu sembari menggaruk tengkuknya.
“Kamu lagi apa disini Dis?” Kak Ilham mengulangi pertanyaannya.
“Emh, itu, aku mau anterin tasbih ini sama Papah, tapi Papah gak ada, gak kelihatan” Gendis dengan gagap menjawab.
“Oh, itu, sini biar aku aja yang anterin” Ilham menengadahkan tangannya.
“Oh, oke, maaf repotin Kak” Gendis menyodorkan tasbih tersebut, lalu Ilham berpamitan untuk memasuki masjid, suara iqamah sudah terdengar, sekali lagi Gendis mengintip kedalam.
“What? Dia jadi imam?”
Gendis kian tidak percaya dengan penglihatannya.
***
“Haiii Dis”
Gendis menyeka keringat yang mengalir di dahinya dengan handuk kecil yang menyampir di bahunya, pagi ini Gendis tengah berlari pagi di taman komplek seorang diri.
“Lo masih patah hati?” tanyanya dengan gaya tengil.
Gendis menatapnya dalam, pria ini ... beberapa hari lalu dia mengatakan satu kata yang mungkin sulit Gendis pahami, dan tadi subuh pria ini sudah membuat Gendis tersadar dari segala praduganya. Tidak! Bukan Kak Ilham yang memikatnya dengan suara merdu yang sering terdengar dari masjid sana, namun suara Vidi? Pria tampan yang kini berdiri menjulang di hadapannya.
Oh! Gendis nyaris tidak percaya, jika bukan matanya sendiri yang melihatnya, dari segi penampilan antara Kak Ilham dan Vidi adalah dua hal yang berbeda.
Kak Ilham identik dengan pria alim hingga membuat Gendis terpesona akan segala tingkahnya, dan Vidi? Pria berpenampilan urakan dan petakilan, tapi ternyata ...
“Gue gak patah hati” Gendis menyangkal, meski hatinya masih sedikit nyeri.
“Masa sih?” nah kan? Sikap usilnya sudah mulai kembali.
“Ngomong-ngomong, tadi subuh Gue lihat Lo ada di masjid” Gendis melemparkan obrolan.
“Hmh? Terus? Ada yang salah?”
“Gak, Gue cuman gak nyangka aja sih? Kok bisa?” Gendis bergumam.
“Kenapa gak nyangka? Karena selama ini Lo selalu nilai orang dari penampilan, iya kan?” Vidi menodong Gendis sebuah pertanyaan yang tidak bisa Gendis sangkal.
“Selama ini semua orang selalu fokus pada Kak Ilham, Kak Ilham yang berpenampilan layaknya pria alim, Kak Ilham yang santun, Kak Ilham yang gentleman, Kak Ilham yang baik hati, Kak Ilham yang ...”
“Yah ... Gue akuin, Gue memang lebih tertarik pada Kak Ilham dibanding Lo”
Gendis memotong ucapan Ilham sarkas.
“Gak heran, dengan semua yang Kak Ilham punya, perempuan manapun bisa Kak Ilham gaet, kayaknya semua perempuan akan selalu jatuh pada pesonanya, termasuk perempuan yang sedari awal Gue suka” Vidi menatap langit cerah pagi ini, matanya menerawang jauh kesana.
“Hah? Emang siapa cewek yang Lo suka?” Gendis bertanya penasaran.
“Lo”
“Hah?”
Gendis mengerjapkan matanya dengan jawaban spontan dari Vidi, tunggu apa telinga Gendis sedang tersumbat sesuatu?.
“Gue suka sama Lo, dari dulu, dari semenjak kita pindah ke depan rumah Lo, Gue suka sama Lo, tapi Lo gak pernah lihat itu, yang Lo lihat selama ini hanya semua tentang Kak Ilham” Vidi mengatakannya dengan nada getir.
“Vidi ... Lo?” Gendis sungguh menolak percaya dengan apa yang dia dengar. Gadis itu masih meragukan pendengarannya.
“Gue udah berjuang keras memperbaiki diri, hanya untuk menarik perhatian Lo, tapi kenapa mata Lo selalu tertuju pada pria lain? Ah! Sialnya pria lain itu adalah Kakak Gue sendiri” Vidi tersenyum getir.
Oh! Gendis tidak pernah menyangka, jika selama ini pria disampingnya ini ternyata menyukainya? Bahkan melakukan banyak perjuangan untuk berubah hanya untuk bisa dilirik olehnya?
Pikiran Gendis kembali flashback pada masa lalu, mengingat betapa sesungguhnya Vidi selalu ada disisinya, bahkan disaat dia kesulitan sekalipun.
“Kenapa sih Dis? Lo gak suka Gue aja?” Vidi berucap pasrah, membuat Gendis terkekeh geli sendiri.
“Yang bilang gak suka sama Lo siapa sih?”
“Hah? Gendis? Lo suka juga sama Gue”
Gendis tertawa melihat ekspresi Vidi yang menurutnya terlalu berlebihan.
“Gendis serius?”
“Yiiihhhaaaaa!!”
Vidi melompat ke udara sebagai bentuk dari euforia rasa bahagianya, vidi terlalu bahagia saat netranya melihat Gendis tengah mengangguk pelan, lantas menunduk malu-malu.
END