
Mamih memeluk tubuh putranya erat-erat, air mata sedari tadi terus mengalir tidak tertahankan, tangannya mengelus rambut hitam legam putranya dengan pelan, memandangi putra sulung kebanggannya dengan penuh sayang.
“Cepat sadar Briyan” gumam Mamih dengan nada sendu, menciumi puncak kepala putranya bertubi-tubi, berharap dengan kasih sayangnya sang putra bisa kembali mengingat dunia, rasanya Mamih begitu tidak tahan kala harus melihat putranya terbaring diatas brankar rumah sakit dengan beberapa selang infus menggantung dari lengannya. Tidak seorang-pun Ibu yang tega melihat putranya menderita.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam waktu setempat, Mamih dan Papih masih dilingkupi rasa lelah, mereka baru saja tiba di siang menuju sore tadi, setelah kemarin sore mereka dikabari jika putranya harus masuk rumah sakit karena pingsan di sebuah Restoran, hingga kini putranya masih belum sadarkan diri, Briyan lebih memilih untuk tertidur dan meninggalkan masalah yang membelenggunya sejenak.
Brankar rumah sakit terasa dingin hingga ke tulang, Briyan mulai membuka matanya, mengerjap lalu kembali menajamkan penglihatannya, memulihkan kesadaran dari tidur panjangnya.
Briyan mengedarkan pandangan, lalu netranya menangkap sang Mamih tengah menatapnya dengan mata sendu juga bengkak, bisa Briyan duga seberapa lama Mamih menangisi dirinya, tak jauh darinya sang Papih juga tengah menungguinya, duduk disebuah kursi sofa berukuran kecil yang berada di pojokan, kedua tangan Papih terlipat di dada, wajahnya tak kalah sendu dari Mamih, pria dewasa itu rupanya menyimpan segudang masalah yang kini tengah menerpa keluarganya.
"Sudah sadar Bry?” Mamih tersenyum sumringah, segera meraih air mineral dari atas nakas lalu memberikannya pada putranya dengan lembut, Briyan mengangguk lalu menerima uluran air putih tersebut dari Mamih.
“Mamih dan Papih kapan datang?” tanyanya lemah.
“Tadi sore sayang, kemarin sore Om Hans sempat mengabari kalau kamu pingsan di restoran saat tengah bersamanya” Mamih menjelaskan, lalu duduk di kursi yang tersedia di samping brankar Briyan.
Ingatan Briyan kembali melayang pada kejadian kemarin siang, Om Hans! Ah ... pria itu tidak sejahat itu ternyata, kemarin saat langkahnya belum jauh dari Briyan, pria itu sempat melihat Briyan ambruk, dengan segera pria itu membawa Briyan ke rumah sakit, dan mengabari keluarganya, pria itu tidak bisa berlama-lama di negara tempat Briyan menuntut ilmu, Om Hans segera kembali ke negara tempatnya selama ini tinggal. Hanya Asha yang membuat pria itu rela mengorbankan waktu berharganya untuk memberikan peringatan pada Briyan, namun sayang ... caranya yang salah malah berakibat fatal bagi ingatan Briyan.
“Ya, kemarin Om Hans datang menemuiku” ingatan Briyan kembali menerawang, hatinya begitu sakit kala ingatannya tiba-tiba saja pulih, dia kini sudah mengingat semuanya!.
Alasan kenapa istrinya bersikap sedemikian rupa, Briyan mengutuki dirinya sendiri, bahwasannya selama ini begitu bodohnya Briyan karena telah membuat Asha semakin menderita, tidak ada hal yang saat ini Briyan khawatirkan selain daripada kebencian Asha terhadapnya.
Air mata Briyan seketika menetes, napasnya kembali memburu, Briyan diliputi penyesalan yang tiada akhir.
“Apa yang Om Hans katakan padamu?” Mamih mengusap air mata Briyan yang mengalir begitu saja.
“Briyan adalah pria yang jahat” isaknya sendu.
“Kamu tidak jahat, hanya saja kamu sedang lupa” Papih mendekat, mengusap kaki putranya sebagai bentuk dorongan semangat.
“Hmh, Briyan lupa jika Briyan berhutang nyawa pada Asha” Briyan menangis tergugu, Mamih dan Papih segera memeluknya erat, mengelus kepala putranya dengan sayang, diam-diam Papih dan Mamih juga mengusap air matanya masing-masing.
“Kenapa Briyan bisa melupakan semuanya?” suara Briyan terdengar parau.
“Amnesia retrograde, kamu kehilangan ingatanmu saat kejadian mengerikan itu Briyan” Mamih menahan isakannya sekuat tenaga.
“Mamah dan Papah tertusuk pisau belati karena Briyan meminta pertolongan mereka” isak Briyan penuh dengan nada getir, sejuta penyesalan tersemat dalam kalimatnya.
“Briyan berhutang nyawa pada mereka, harusnya Briyan melindungi Asha, bukan membuatnya terluka” Briyan menangis sesenggukan.
“Sabar sayang, Mamih yakin Asha pasti mengerti” Mamih mengelus kepala putranya menenangkan.
“Dan mata ini, mata ini adalah mata dari Papah Asha, harusnya Briyan bisa menatap Asha dengan mata ini, bukan malah menyakitinya dengan melihat perempuan lain selain Asha” tubuh Briyan bergetar hebat, jiwanya terguncang, kepalanya kian sakit, hingga Briyan memutuskan untuk merebahkan tubuhnya, beberapa dokter kembali dipanggil oleh Papih, hingga mereka berdatangan dan kembali memeriksa kondisi Briyan, seorang dokter menyuntikan obat, hingga selang beberapa saat Briyan mulai tertidur dengan tenang, Mamih dan papih menghela napas dengan sangat berat, mereka paham jika mulai dari hari ini kehidupan putranya akan semakin sulit dan berat.
***
‘Aku melihat putriku di dorong oleh Briyan, anak itu terlihat tidak menyukai putriku yang berharga, padahal apa kurangnya putriku?
Putriku begitu sempurna, aku sedikit tidak menyukainya kala putriku diperlakukan semena-mena, namun putriku yang baik hati, selalu saja menempel padanya, ah ... andai aku bisa membuat putriku mengerti, jika aku tidak ingin melihatnya tersakiti.
Mereka masih kecil! Ya! Tentu saja, usia mereka masih kecil, mereka belum memahami apa itu arti saling menyayangi, namun ... bagiku, mau besar atau kecil, Asha tetaplah putriku yang berharga, berlianku yang harus kujaga.
Sebenarnya aku berniat ingin menjodohkan putriku kala mereka sudah dewasa nanti dengan Briyan, anak dari Agnes sahabatku, namun melihat perlakuannya yang tidak baik, haruskah aku tidak menyetujui usulan Agnes untuk menikahkan mereka suatu hari nanti?’
Asha menatap nanar tulisan sang Ibu, air matanya selalu saja berjatuhan kala membaca kalimat demi kalimat yang akan menjadi kenangan paling nyata dari sang Ibu mengenai dirinya, Asha melupakan sebagian kenangannya bersama kedua orangtuanya, Asha berusaha mengingat semuanya, namun kala hal itu dilakukan maka semua akan sangat menyakitkan bagi dirinya.
“dokter?”
Asha memanggil perempuan yang selama beberapa hari terakhir merawatnya, di kala dirasa Asha bisa ditinggal dan tidak harus didampingi dokter itu akan pergi dari Villa tempat tinggal Asha selama ini untuk menangani pasiennya yang lain, namun dokter akan lebih memprioritaskan kondisi Asha untuk saat ini, perempuan itu adalah dokter yang ditunjuk langsung dengan bayaran tidak murah oleh Om Hans, paman Asha.
“Ya, Asha?” dokter menghampiri Asha yang tengah duduk di sebuah kursi yang ada di balkon kamarnya, Asha menghirup udara segar yang berasal dari wangi teh yang menghampar luas. Pemandangan hijau itu seluas mata memandang, membuat fikiran Asha yang butuh kedamaian sedikit terobati.
Sekarang dokter itu berani memanggil Asha tanpa embel-embel Nona lagi, Asha mulai nyaman dengan sang dokter, hingga memintanya untuk menyapanya dengan namanya saja tanpa embel-embel apapun.
“Aku ingin membuka kunci dari ingatanku yang hilang”
“Apa?”