SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Tidak Akan Ku Biarkan!!!


Hening ...


Suasana itu mendominasi keadaan Asha dan Abim sekarang. Mereka tengah berada di dalam mobil Abim yang akan mengantarkan Asha menuju kediamannya.


Abimanyu masih sangat shock dan merasa tidak percaya jika status Asha kini adalah seorang janda, entah keadaan apa yang pernah Asha lalui dimasa lalu, Abim hanya bisa menerka-nerka.


Dulu, dulu sekali saat mereka tengah mengenyam pendidikan, diam-diam Abim sering memperhatikan Asha, gadis cantik yang selalu terlihat apa adanya, dengan segala ke bar-bar-an, juga segala prestasi, segala kebaikan pun segala keburukan yang Asha tunjukkan. Sejak saat itu Abim mengagumi sosok Asha dalam diam, doanya tak pernah berhenti terpanjat pada yang maha kuasa, berharap jika suatu hari nanti Abim akan bertemu kembali dengan Asha lalu berjodoh dengannya. Masalah perbedaan status sosial? Diam-diam Abim tengah memantaskan dirinya agar bisa setara dengan Asha yang notabenenya adalah anak dari orang kaya, meski kedua orangtuanya telah meninggal dunia. Jungkir balik, Abimanyu melakukan segala cara hanya karena ingin dianggap pantas bersanding dengan Asha.


Doanya terkabul, Abim kembali bertemu dengan Asha setelah sekian lama, namun ... ternyata Abim telah melewatkan banyak hal tentang Asha, hingga status Asha yang baru diketahuinya sekarang membuatnya sedikit ternganga, Asha sudah pernah dimiliki pria lain, mungkinkah sekarang hati Asha juga masih terpaut dengan pria lain? Masalahnya, bukan mudah melupakan hal yang pernah terpatri dalam hati, terlebih itu tentang cinta, hati, dan perasaan.


“Sha?” suara Abim memecah keheningan setelah sekian lama mereka terdiam.


“Ya?” Asha menoleh, memalingkan wajahnya yang sedari tadi fokus menatap jalanan.


“Hubungan kamu dengan mantanmu bagaimana?” Abim tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


Asha terdiam, andai Abim tahu jika mantannya adalah Briyan, pria yang kini satu kantor dengannya, setiap hari bertemu dan mengganggu hidup Asha, akankah Abim percaya?.


“Kurang baik, seperti kebanyakan orang, setelah hubungan halal terjalin lalu kemudian tercerai berai karena keadaan, maka semuanya tidak akan sama lagi, berantakan, hancur” Asha berbicara setengah menggumam, bayangan itu kembali saling berkelebat, membuat hati Asha kian tercekat.


“Oh, maaf sudah membuatmu mengingat hal yang seharusnya tidak kamu ingat” Abim bersungguh-sungguh.


“Tidak apa-apa” Asha menggeleng.


“Kamu ... pernah memiliki anak darinya?”


Pertanyaan Abim cukup membuat Asha terhenyak, bagaimanapun menjadi seorang Ibu adalah impian dari setiap wanita, tapi sayangnya hasil dari pernikahan Asha dan Briyan tidak menghasilkan apapun selain dendam dan air mata yang membuat hatinya terus bersengketa, apalagi anak? Bahkan sampai hari ini Asha masihlah seorang gadis. Miris!.


“Tidak” Asha menggeleng.


“Memang kenapa jika aku memiliki anak? Apa kamu tidak akan jadi menyukaiku?” Asha tersenyum canggung.


“Tidak, Sha ... boleh aku mengatakan sesuatu?” Abim menatap mata Asha dalam kala mobil kini sudah terparkir di halaman rumah Asha.


“Ya” Asha mengangguk.


“Aku mencintai kamu, sangat. Bukan baru hari ini, bukan baru saat kita bertemu beberapa bulan belakangan, tapi sejak dulu, sejak kita masih menggunakan seragam putih abu-abu” Abim jujur. Matanya menyiratkan kesungguhan dan ketulusan, Asha tersentuh, untuk pertama kalinya ada pria yang mengatakan cinta pada Asha dengan tatapan seteduh Abim.


“Tidak peduli, apapun masa lalumu Sha, aku sangat mencintai kamu, tidak peduli seberapa banyak rintangan yang harus aku lalui Sha, akan aku lewati, karena kamu tidak pernah tahu, seberjuang apa aku di masa lalu hanya agar aku bisa sepadan dengan kamu Sha” Abim masih menatap Asha dalam, membuat Asha kian terharu.


Saat Asha terpuruk dan merasa sendiri, ternyata jauh di luar sana ada seseorang yang diam-diam bermunajat hanya karena ingin hidup berdampingan dengannya, Asha sangat bersyukur untuk itu.


“Ada banyak hal yang kamu belum tahu tentang aku Bim” Asha kembali menepis perasaan mellow-nya, tak ingin terlalu larut dengan kelembutan yang Abim tawarkan.


“Apapun, katakan padaku Sha, aku akan menerimanya” Abim berkata dengan ketulusan sepenuh hati.


“Tapi dengan satu syarat” Abim tak ingin kalah.


“Apa?”


“Biarkan aku terus berjuang untuk terus memantaskan diri, agar bisa terus bersamamu”


***


“Selamat pagiiii ...”


Suasana hati seseorang memang bisa mengubah segalanya, hati Asha yang tengah berbunga dengan mood yang begitu baik, kini gadis itu tengah menyapa siapa saja yang berpapasan dengannya, dengan sekotak makanan yang setia berada di tangannya, penampilan Asha pagi ini terlihat begitu cantik, memancarkan pesona tiada tara, hingga membuat beberapa pria sulit berkedip, senyum sumringah menghiasi bibir mungilnya, Asha terlihat begitu bahagia.


“Pagiiii ...” sapa karyawan Asha yang kini tengah bersiap membuka butik-nya, Asha tersenyum setelah menyapa lalu menaiki tangga untuk menyambangi ruangannya sendiri.


“Selamat pagi Bu Asha”


“Pagi Fik” Asha membalas sapaan Taufik, karyawan Briyan yang kebetulan baru membuat coffee di pantry, membuat pria berambut keriting itu mengernyit heran, biasanya Asha terlihat judes dan jutek jika disapa.


“Wooaaahhh, apa mentari pagi hari ini terbit dari sebelah timur?” gumam Taufik sembari berdecak heran.


“Ada apa?” tiba-tiba suara bariton dibelakangnya mengagetkan Taufik yang tengah memperhatikan punggung Asha yang kini sudah menghilang dibalik pintu ruangan kerjanya.


“Bu Asha terlihat aneh pagi ini, begitu menyeramkan” Taufik bergidik ngeri, lalu pria dengan jaket kulit hitam itu bergidik ngeri sendiri.


“Menyeramkan?” laki-laki yang kini ikutan berdiri dengan bingung-pun ikut garuk kepala.


“Bos Ganteng, tadi Ibu Asha tersenyum lembut dengan ceria, lalu menjawab sapaan saya, tidakkah itu mengerikan?” Taufik kembali bergidik.


“Hah? Ku kira ada apa” pria yang disapa Bos Ganteng itu berdecak kesal, bersiap melanjutkan langkah menuju ruangan kerja Asha yang sudah biasa disambanginya.


“Bos Ganteng, sebaiknya jangan kesana, apalagi memberikan bekal itu” Taufik menunjuk kotak makanan yang kini tengah dijinjing oleh atasannya tersebut.


“Kenapa?” si Bos Ganteng terlihat tidak terima.


“Tadi, Bu Asha sudah membawa kotak bekal yang lebih besar, karena kotak makannya transparan, saya bisa prediksi jika makanan itu terlihat sangat lezat” Taufik menjelaskan, membuat si Bos Ganteng seketika merubah panorama wajahnya, terlihat kesal juga penasaran.


“Apakah mungkin itu makanan untuk kekasihnya? Sungguh, orang yang tengah jatuh cinta memang ajaib, hhiiyyy ...” Taufik bergidik, meninggalkan sosok Briyan yang selalu di panggil Bos Ganteng oleh karyawannya.


Seketika Briyan termangu, apakah benar apa yang dikatakan Taufik barusan? Bagaimana mungkin? Lagipula siapa yang akan menjadi kekasih Asha, jangan sampai dia lebih tampan dari Briyan. Tiba-tiba saja rasa cemburu merajai hatinya. Briyan mengepalkan tangannya erat, hingga kotak makanan yang ada di tangannya ikut bergetar. Terguncang.


“Asha? Punya kekasih? Tidak akan ku biarkan!”


Tekadnya begitu kuat dengan kepalan tangan juga rahang yang mengeras.