
Jodoh ada di tangan Tuhan, dan karenaNYA setiap hamba akan diberikan beragam cerita indah dan kelam, perasaan berbunga namun tak jarang pula terhempas hampa, dan mereka sering menamainya cinta.
Seorang gadis terbangun dari tidur lelapnya saat mendengar suara alarm berbunyi nyaring tepat di dekat telinganya.
“Astaga! Masih ngantuk padahal” gadis tersebut menguap lebar mematikan alarmnya, menurunkan kakinya dengan mata masih mengerjap-ngerjap lucu. Rambut sebahunya terlihat begitu berantakan.
“Gendis, kamu sudah bangun?” tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, seorang perempuan paruh baya langsung menyembulkan kepalanya di sela pintu, membuat gadis yang masih terkatuk-katuk tersebut langsung menoleh dengan ekspresi kagetnya.
“Mah, bikin kaget aja” ujarnya dengan bibir mengerucut.
“Kamu kalau gak dibangunin biasanya ngebo banget” sang Ibu tersenyum, lalu menghampiri sang putri, mengecup keningnya lembut, lalu menangkup pipi chubbynya gemas.
“Aku pasang alarm tadi” Gendis melirik pada jam weker yang berada di atas nakas, sang Mamah tersenyum lalu mengangguk, akhir-akhir ini, putrinya terlihat begitu rajin bangun pagi, padahal sebelumnya gadisnya itu begitu sulit dibangunkan.
“Ayo mandi, shalat, terus sarapan” sang Mamah bangkit lalu bergegas meninggalkan kamar putrinya, namun alih-alih menuju kamar mandi, Gendis malah melompat menuju balkon kamarnya, dari sana dia bisa menghirup betapa segarnya udara pagi, dan ah! Bukan hanya itu, dia bisa melihat pemandangan yang jauh lebih indah dari sekedar fajar yang terlihat cantik kala pagi menjelang.
“Kok makin ganteng aja sih?” gadis itu menggumam dengan kaki menghentak lembut merasa gemas sekali dengan tingkahnya sendiri.
“Dia lagi apa ya?” Gendis berjinjit seolah tengah mengintip sesuatu.
“Aiiihhh dasar!” Gendis mengetuk kepalanya sendiri, merasa konyol sendiri, namun mata Gendis segera melebar saat pemandangan indah yang sedari tadi Ia intip, kini berwujud nyata di hadapannya.
“Ya ampun! Kak Ilham kok makin hari makin ganteng aja sih?” Gendis bergumam dengan mata terpaku pada seorang pria dengan wajah penuh dengan binar cahaya.
“Ya Allah, maksud doa-doaku selama ini, ya yang kaya gitu Ya Allah, shaleh, ganteng, pekerjaannya bagus, dewasa, baik banget lagiiii, ngertikan ya Allah, aku mau yang gitu” Gendis memekik senang.
“Eh eh, yah si Ganteng masuk rumah lagi” Gendis mengerucutkan bibirnya kecewa, kala melihat pria berkulit putih dengan peci hitam, baju koko, dan sarung tersebut malah masuk ke dalam rumahnya, tidak lupa dengan sajadah yang tersampir di bahu kanannya, malah membuatnya semakin terlihat tampan berkali lipat.
Bruk!
Astaga!
Gentis terhentak kala melihat sosok yang selama ini ingin dihindarinya, malah kini sedang menatapnya dari bawah sana, pria itu ... ish! Pria paling menyebalkan yang pernah Gendis kenal, ya memang tampan sih, sebelas dua belas sama pria tadi, tapi kan ... tetap saja berbeda, minusnya pria yang tengah berkacak pinggang sembari melotot ke arahnya itu adalah dia jenis pria jutek, dan sedikit menyebalkan.
“Apa lihat-lihat?” teriaknya kencang, membuat Gendis mengerjap, lalu segera berlari menuju kamarnya kembali, gadis itu mengumpat sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
***
Pagi ini, Gendis sarapan dengan tenang, di sana sudah ada Mamah dan Papah yang juga tengah melakukan kegiatan paginya bersama, sarapan bersama sembari bercanda tawa, seringkali Papah yang melemparkan candaan yang menurut Gendis begitu garing.
“Dis, sebelum berangkat sekolah, kamu coba anterin makanan ini ke rumah Tante Irma yah” Mamah menyodorkan sebuah toples pada Gendis yang tengah menggunakan sepatunya.
“Ish, Mamah aku udah kesiangan tahu, mana Asha minta berangkat bareng lagi” kadang, seringkali Gendis mengutuki sahabat satu-satunya itu, Asha seringkali bertingkah absurd hingga berakhir membuatnya dalam kesulitan, namun bagi Gendis Asha adalah sahabat terbaik yang dia miliki, dan Gendis berjanji, sampai kapanpun persahabatannya ini harus tetap abadi.
“Loh? Ya sudah kalau tidak mau nanti ...”
“Gendis mau!”
Dengan secepat kilat, tangan Gendis meraih sebuah toples yang masih berada di tangan sang Mamah, membuat Mamah geleng-geleng kepala karena tingkah putri semata wayangnya, dengan riang Gendis bernyanyi kecil, karena tahu bahwa mengantarkan makanan ke rumah Tante Irma akan membuatnya bertemu dengan si tampan.
“Gendis! Jangan lupa bawa lagi toplesnya, itu toples merek bupperware kesayangan Mamah, jangan sampai ketinggalan!”
Teriakan Mamah tidak dihiraukan oleh Gendis, dengan semangat Gendis malah berlari menyebrangi jalanan.
“Assalamu’alaikum” suara Gendis melengking dengan nada ceria.
“Duh ... kok gak di bukain sih?” Gendis mulai menggerutu kala sudah berkali-kali berteriak namun pintu tak kunjung terbuka.
“Apa Gue balik lagi aja ya?”
Krieettt ...
“Ngapain Lo? Pagi-pagi udah ngerusuh di rumah orang?” haiisshh! Gendis sungguh ingin segera menghilang saja dari hadapan manusia aneh satu ini.
“Eh! Gue gak rusuh ya! Lo aja yang gak denger waktu Gue ketokin pintu ...” Gendis siap mengoceh panjang lebar, namun segera matanya melirik pada arah telunjuk pria di hadapannya.
“Mata Lo rusak?” tanyanya dengan alis menukik tajam, membuat Gendis melengos kesal.
“Siapa Di?” suara lembut itu menyihir Gendis yang bersiap mencak-mencak karena kesal, lalu dalam sekejap mata, mata Gendis yang tadinya penuh amarah kini menjadi berbinar ceria.
“Haiii Kak Ilham ...” Gendis melambaikan tangannya pada pria tampan yang kini tengah tersenyum padanya, mengabaikan pria yang tadi sempat membuat tensinya naik begitu saja, seketika dunia menjadi hening terasa hanya milik mereka berdua, yang lain hanya ngontrak.
“Dis? Are you oke?” tanpa Gendis sadari kini tangan dengan kulit kuning langsat itu tengah melambai di hadapannya.
“Wangi” ucap Gendis dengan tatapan penuh khayalan, baginya wujud pria tampan ini terlalu sempurna, hingga sayang jika dilewatkan begitu saja.
“Dis? Kamu gak apa-apa?” pertanyaan itu kembali hanya lewat di telinganya.
“Dasar cewek Gila!” seketika mata Gendis mengerjap kala mendengar suara kurcaci yang tengah mencaci seorang princess yang tengah hidup bahagia dengan pangerannya.
“Eh! Apa maksud L ... eh, maksud kamu apa Vidi?” seketika Gendis yang setadinya mau mengumpat, segera melembutkan nada suaranya, demi menarik perhatian Kak Ilham yang sedari tadi hanya tertawa melihat tingkah absurdnya.
“Kamu mau ketemu Mamih?” tanya Ilham dengan menatap Gendis dalam, membuat Gendis makin salah tingkah dibuatnya.
“Hah? Eh? Enggak kok, aku mau ketemu Kakak” ucapnya gagap.
“O ya? Ada apa?” tanyanya kian lembut, membuat Gendis kian terpana.
“Halah, caper!” lagi-lagi Gendis mengerjap dengan umpatan si kurcaci perusak suasana.
“Ini buat Kak Ilham” Gendis menyodorkan kotak makanan yang sedari tadi masih di genggamnya, tersenyum dengan menunduk malu-malu, khas ABG yang tengah jatuh cinta, membuat pria disampingnya berdecak malas, namun tidak diabaikan oleh Gendis.
“O ya?” Ilham menggaruk tengkuknya bingung.
“I iya” Gendis mengangguk yakin, melupakan perintah sang Mama.
“Oke, terimakasih” Ilham menerimanya dengan senyuman lembutnya.
Gendis mengangguk gagap, menatap kepergian sang pujaan yang tengah melangkahkan kakinya menuju mobilnya, bersiap berangkat bekerja.
“Gila! Kak Ilham makin ganteng aja dengan setelan kerjanya, ya Allah ngerti kan? Maksud dari doa-doaku selama ini?” Gendis bergumam dengan senyuman tidak jelasnya.
“Dasar halu!”
Gendis mengerjap kala mendengar umpatan dari sampingnya, dengan langkah tidak peduli, Gendis meninggalkan pria yang tengah mengeratkan giginya itu dengan bersenandung riang.
“Sudah Dis?” pertanyaan Mamah membuat Gendis terpaku, Gendis mengangguk ragu.
“Sudah Di terima sama Tante Irma langsung?” Gendis kembali mengerjapkan matanya, gawat!
“Di dalam toples itu ada bahan kue yang nantinya mau kita buat untuk Ibu-Ibu pengajian kompleks”
“What? Bahan kue?” mata Gendis melebar tak percaya.
“Ya, oh ya mana Bupperware Mama, kamu gak lupa buat bawa lagi kan? Soalnya kalau udah nyangkut di rumah tetangga suka gak balik lagi, Mamah sayang banget sama Bupperwarenya” tangan Mamah menengadah.
“Bupperware Mamah ... ketinggalan” suara Gendis melemah.
“Yak! Gendis!!!!”