
“Katakan pada Briyan, dimana Asha sekarang Mih?” dengan napas tersenggal Briyan bertanya pada Mamih yang tengah menyelonjorkan kakinya di atas kasur.
Mengerutkan keningnya dalam, Mamih menatap Briyan dengan tatapan aneh.
“Bagaimana mungkin Mamih tahu, bukankah sedari pulang dari luar negri Mamih hanya di rumah?” Mamih berkata dengan sedikit kesal juga khawatir, bagaimanapun Asha adalah menantu kesayangannya, dimana sekarang keberadaannya Mamih tidak tahu, dan sekarang Mamih menjadi cemas dibuatnya.
“Jangan bohongi Briyan lagi Mih, Briyan tahu Mamih yang menyembunyikan Asha kan?” Briyan berkata dengan nada tinggi, membuat Mamih mendelik tidak suka.
“Apa? Kenapa Mamih harus menyembunyikan Asha, sejak saat Asha berangkat menyusulmu, dan melihatmu berselingkuh, Mamih sudah tidak tahu lagi kabar Asha! Harusnya kamu yang tahu dia dimana, kan kamu suaminya” Mamih tak kalah terpancing emosinya, rasa lelah membuatnya merasa kalap pada putra sulungnya.
“Terus Asha dimana Mih? Tadi, penjaga Villa bilang, Mamih yang nyuruh dia buat beresin Villa keluarga Asha, terus kenapa sekarang Mamih bilang gak tahu?” tubuh Briyan luruh dilantai, air matanya mulai mengembang lalu berjatuhan, sekarang kemana dia harus mencari Asha.
“Briyan ...” Mamih bangkit lalu membantu putranya untuk duduk di pinggir ranjang, mengelus kepala putranya dengan sayang, hingga Briyan menjatuhkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Mamih, tangis pria itu pecah seketika.
“Briyan lelah Mih” ucapnya pilu.
“Briyan tidak tahu, jika cerita sebenarnya seperti itu” ucap Briyan dalam isakannya, Mamih ikut menangis, air mata seorang Ibu yang melihat anaknya terluka, air mata Mamih berderai.
“Dalam cinta itu dibutuhkan ketulusan Bri” ucap Mamih sendu.
“Cinta juga tentang sebuah keikhlasan, jika kamu ikhlas mencintai Asha, maka kamu tidak perlu tahu semua pengorbanan Asha dan keluarganya kamu akan tetap mencintainya, mungkin saja pada dasarnya hati kamu memang tidak mencintai Asha, maafkan Mamih Bri, semua ini salah Mamih, Mamih yang udah paksa kamu untuk mencintai Asha, Mamih tidak menyadari ternyata hati putra Mamih begitu terluka, maafin Mamih sayang” Mamih menangis tergugu, menyesali perbuatannya. Namun, apa yang dia lakukan sungguh diluar kendalinya, semua bagai dilema yang sulit dipecahkan. Maju atau mundur Mamih akan mendapatkan masalah yang sama.
“Sekarang Briyan baru sadar Mih, Briyan rindu suara Asha, perhatian Asha, kebaikan Asha, Briyan rindu kala Asha mengejar-ngejar Briyan, hidup Briyan sepi waktu Asha sudah tidak menghubungi Briyan lagi, Briyan jatuh cinta pada Asha Mih” Briyan mengungkapkan isi hatinya untuk pertama kalinya, bagaimana mungkin seorang Briyan cowok cool dan datar juga sedikit arogan, kini tengah menangis tersedu karena seorang Berliana Asha.
“Semua yang ditakdirkan harus menjadi milik kita, maka akan kembali pada kita, dan semua yang ditakdirkan bukan menjadi milik kita maka akan hilang dari hidup kita, jika Asha sungguh jodoh sejatimu, maka Asha akan kembali padamu Bri” Mamih mengelus puncak kepala putranya dengan lembut, hati seorang Ibu yang begitu lembut sungguh tidak tahan melihat putranya terluka.
“Bagaimana jika Asha bukan jodoh Briyan?” Briyan mendongak menatap sang Mamih yang masih meneteskan air mata.
“Maka kalian tidak akan bisa bersama” Mamih menghela napas berat, sulit baginya mengatakan kata-kata pahit tersebut, tapi tidak ada jalan lain, Briyan harus mengerti tentang arti kehilangan agar dia tidak lagi menyia-nyiakan orang-orang yang tulus padanya. Ini pelajaran paling penting untuk kehidupan Briyan.
“Briyan menyesal Mih”
“Jodoh itu rahasia Allah, kita tidak bisa memaksakan kehendak”
***
Asha kini sedang duduk di salah satu kursi restoran yang didatanginya, di hadapannya telah duduk seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai pengacara keluarganya.
“Apa Nona Asha yakin?” tanya dengan raut tenang.
“Tentu saja” Asha mengangguk yakin.
“Apa alasan Nona?” pengacara tersebut kembali bertanya dengan tenang, menatap wajah Asha yang terlihat begitu kacau balau.
“Haruskah ku katakan alasannya? Bukankah tugasmu adalah membereskan masalah di keluargaku?” mental Asha yang masih lemah mudah terpancing dan mudah emosi, matanya menatap nyalang penuh amarah, napasnya masih memburu.
“Ya, tapi setidaknya saya harus tahu kenapa anda memilih berpisah, bukankah di awal anda yang menginginkan pernikahan ini?” pengacara tersebut mencoba untuk berbicara lagi dengan Asha, menghadapi Asha gadis labil yang memiliki gangguan mental memang butuh kesabaran yang ekstra.
“Ya, sebelum aku tahu jika dia adalah pembunuh dari kedua orangtuaku” jawab Asha, dalam setiap nadanya mengandung amarah yang sulit diluapkan, hingga Asha hanya bisa menggenggam setiap amarahnya dalam dada. Matanya menyimpan banyak luka, namun Asha hanya bisa menumpahkan tangisnya kala dia sendiri.
“Sebentar Nona, Briyan tidak membunuh kedua orangtua Anda, Briyan dan juga Anda hanyalah korban” pengacara tersebut memberikan pengertian pada Asha.
“Jika lelaki brengsek itu tidak berlari karena menghindariku, jika dia tidak egois, jika dia tidak meminta tolong pada kedua orangtuaku, maka mungkin sekarang Mamah dan Papah akan tetap berada di sampingku, aku tidak akan menderita hidup sendirian, aku juga tidak akan haus kasih sayang mereka, aku tidak akan menikah dini dengan pria itu, dan aku tidak akan dikhianati!” napas Asha tersenggal, gadis itu memegangi dadanya kuat, rasa sakitnya kian menjalar, nadanya meninggi, membuat orang-orang yang berada di sekitarnya memperhatikan keduanya.
“Nona, anda sedang emosi, sebaiknya Anda memikirkan kembali keputusan Anda” pengacara menghela napas berat, clientnya kali ini adalah remaja yang masih berusia belasan, jelas segala keputusannya terkesan begitu labil, buru-buru, juga penuh emosi. Pengacara hanya tidak ingin di akhir nanti ada sebuah penyesalan bagi clientnya tersebut.
“Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, proses segera!” Asha bangkit, lalu meninggalkan tempat tersebut dengan emosi yang masih membuncah, langkahnya di percepat, hingga dia menabrak siapa saja yang berpapasan dengannya, Asha tidak peduli bahkan ketika orang-orang yang ditabraknya meneriakinya.
***
“Bi, Asha di mana?”
Briyan kembali mendatangi rumah megah Asha, setelah tadi sempat tertidur beberapa saat di pangkuan Mamih, pria itu tidak menyerah, kala kesadarannya kembali, pria itu hanya membersihkan diri, lalu segera kembali menemui Asha, namun Briyan kembali harus menelan kekecewaan, karena Asha ternyata tidak ada di tempat.
“Bibi tidak tahu Den” Bi Inah menggeleng, karena memang sesungguhnya Bi Inah tidak tahu Asha pergi kemana.
“Bi, please kasih tahu Briyan, dimana Asha? Briyan janji, Briyan akan minta maaf pada Asha, dan akan memperbaiki semuanya, Briyan janji akan membahagiakan Asha Bi, kasih tahu Briyan sekarang Bi” mata Briyan penuh dengan keputusasaan.
“Maaf Den, tapi Bibi sungguh tidak tahu dimana Non Asha” Bi Inah kembali menggeleng, meninggalkan Briyan seorang diri yang masih mematung menatap kosong dengan hampa.