
Briyan mengepalkan tangannya kuat, kala mendengar cerita dari adiknya, dan melihat sendiri bukti-buktinya.
“Asha lagi ngobrol berdua sama cowok di kafe Kak, dia selingkuhin Kakak, dia tertawa berdua dengan pacar barunya itu, sementara Kakak? Lihat Kakak sekarang! Keadaan Kakak kacau balau mencarinya” Bintang bercerita dengan penuh semangat dan provokasi.
“Kamu tinggalin Kakak sendiri” pinta Briyan dengan mengeratkan rahangnya.
“Tapi Kak ...” Bintang masih belum puas menjadi kompor bagi Kakaknya, gadis itu sedari awal tidak menyukai kehadiran Asha, Bintang tidak suka ketika Mamih dan Papih menunjukkan kasih sayangnya pada Asha, Bintang terlalu takut kehilangan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya, usia Bintang sudah enam belas tahun, tapi gadis itu begitu kekanakan dengan segala pemikiran dangkal juga rasa cemburunya yang berlebihan.
“Kamu keluar, Kakak mau sendiri” ucap Briyan tegas, tidak ingin dibantah. Membuat Bintang keluar dari kamar Kakaknya dengan wajah kesal.
“Sha, begini yang kamu bilang sangat mencintaiku?” Briyan menggeram dengan kesal sembari memandangi foto bahagia Asha bersama Vidi tadi, yang sudah dikirim adiknya ke ponselnya.
‘Bry ... aku sedang berada di mall, di kafe tempat kita suka nongkrong dulu, mau datang kesini?’
Sebuah pesan menghampiri ponsel Briyan yang masih di genggamnya, Briyan menghela napas berat kala mendapatkan pesan tersebut, pesan itu berasal dari Raisya, mantan kekasihnya. Setelah kejadian beberapa waktu lalu mereka memutuskan untuk menjadi sahabat, keduanya sudah berada di tanah air, dan mereka pernah beberapa kali bertukar kabar hanya untuk menanyakan keadaan masing-masing.
Beruntunglah, setelah kepulangannya ke tanah air Raisya kembali melanjutkan pendidikannya di jurusan yang dia impikan, sementara Briyan malah menunda pendidikannya demi untuk mengejar cinta Asha istri kecilnya.
‘Yah ... aku datang’
Balasan Briyan jelas membuat perempuan di ujung sana melompat senang, Raisya begitu merindukan Briyan. Sahabat? Bagaimana mungkin Raisya sepenuhnya merelakan Briyan sebagai sahabat? Cinta itu masih bersarang nyata dalam dadanya, hanya saja Raisya berusaha ikhlas untuk melepaskan cinta yang dirajutnya dari semasa SMA. Memilih untuk diam-diam menyimpan rasa itu, lalu tidak mengatakannya pada siapapun, pertemuan dengan embel-embel sahabat adalah hal paling logis yang pernah ada, sambil menyelam minum air, bisa kembali bertemu dengan Briyan sekaligus mengobati rindunya, namun tidak akan ketara sebagai pelakor, karena ada kata sahabat untuk menaungi pertemuan mereka.
***
“Bry ... apa kabar?” Raisya tersenyum ceria kala tangannya menjabat tangan Briyan yang terasa dingin, tatapan pria dihadapannya begitu kaku, juga datar.
“Baik” Briyan menganggukan kepalanya, lantas pria tampan itu mendaratkan bokongnya di sebuah kursi di hadapan Raisya.
“Syukurlah kalau kamu sudah sembuh dan sudah baik” Raisya terlihat lega, wajahnya kian cerah dan berbinar.
“Gimana sama study kamu?” Raisya kembali bertanya, sementara itu tangannya menyodorkan sebuah minuman yang sebelumnya sudah dipesan Raisya. Minuman kesukaan Briyan.
“Aku menundanya untuk semester ini, semoga semester depan aku bisa melanjutkan studiku” Briyan menyeruput minumannya.
“Semoga kamu bisa meraih mimpi-mimpi kamu Bry” Raisya tersenyum tulus, tangan lembutnya meraih tangan Briyan yang berada di atas meja.
Briyan segera menjauhkan tangannya dari tangan Raisya, rasanya begitu aneh, rasanya terhadap Raisya sudah berubah seratus persen, kini ada rasa yang sulit dijabarkan, Briyan marah kala melihat Asha bersama pria lain, dan Briyan merasa tengah mengkhianati Asha kala tangannya disentuh oleh Raisya. Bolehkan Briyan menyimpulkan jika dia sebetulnya sudah mencintai Asha? Yah ... hati Briyan menyimpulkan rasa itu dengan sendirinya.
“Lalu? Bagaimana hubunganmu dengan Asha?” Raisya memberanikan diri untuk bertanya, netranya menatap Briyan, mengamati perubahan mimik wajah Briyan.
“Rumit” jawab Briyan sekenanya.
Hingga tidak terasa waktu berlalu, cukup lama keduanya berbincang, untuk sesaat Briyan melupakan rasa kesalnya terhadap Asha, karena gadis itu masih saja kukuh dengan pendiriannya untuk tidak lagi bersama Briyan.
“Aku pulang duluan Bry ...” dirasa waktu sudah terlalu sore, Raisya memutuskan untuk berpamitan pada Briyan.
“Maaf ... aku tidak bisa mengantarmu” Briyan berdiri untuk mengantarkan kepergian Asha.
“Tak apa” Raisya menggeleng, lalu berlalu meninggalkan Briyan yang kembali duduk di kursinya, memilih untuk kembali merenungi dirinya di kafe tersebut, Briyan kembali memesan segelas minuman.
“Menjijikan!” tiba-tiba saja sosok pria yang selama ini ingin Briyan hindari muncul di hadapannya.
“Om Hans?” Briyan memelototkan matanya, merasa kaget dengan kehadiran Om Hans yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya dengan ponsel di tangannya yang ditunjukkan pada Briyan.
“Om Hans salah paham” Briyan menggeleng, kala melihat fotonya yang terlihat tengah bergenggaman tangan dengan Raisya.
“Dia Raisya, pacar kamu waktu di luar negeri sana, rupanya kalian masih menjalin hubungan terlarang itu, pantas saja Asha sangat membencimu jika begini” Om Hans memanggutkan kepalanya berulang kali, pertanda mengerti.
“Om!” Briyan berdiri hendak melayangkan protesnya.
“Terlambat! Permudah perceraian kalian! Dan itu akan membuat Asha menjadi lebih baik lagi” mata Om Hans menerawang keadaan Asha di rumahnya, sedari kepergian Briyan dari rumahnya, Asha kembali mengamuk dan hampir kembali bunuh diri jika Om Hans tidak pandai menenangkannya, Om Hans diminta untuk menebus resep di apotik tadi dan mampir dulu ke mall untuk membelikan Asha makanan favoritnya, tidak disangka dia bertemu Briyan yang tengah mengobrol dengan Raisya, hingga membuat kesalah fahaman ini terjadi.
“Aku tidak akan menceraikan Asha!” ucap Briyan dengan tegas.
“Hmh! Egois!”
Om Hans berlalu meninggalkan Briyan seorang diri dengan wajah sinisnya.
***
Briyan merasa dunia sungguh tidak berpihak lagi padanya, banyak hal yang sudah dia lakukan namun selalu berakhir dengan penyesalan, berakhir dengan kekecewaan, membuat Briyan merasa frustasi sendiri.
Kepalanya menerka-nerka bagaimana jadinya jika Asha sungguh menceraikannya? Briyan tidak tahu akan seruntuh apa dunianya nanti.
Bertekad kuat! Briyan akan mempertahankan Asha, dan akan mempersulit perceraian mereka jika Asha tetap ngotot dengan keinginannya.
Merasa begitu stress Briyan memutar mobilnya pada sebuah tempat yang selama ini selalu di hindarinya. Sebuah tempat yang selalu ramai ketika malam tiba, sebuah tempat yang menyuguhkan lampu kerlap-kerlip dengan pemandangan indah bagi sebagian pria yang hanya mencari kehangatan di atas ranjang. Briyan pikir di tempat ini dia bisa menghilangkan segala kemelut di hatinya. Setidaknya itu yang teman-temannya katakan kala di luar negri dulu.
Ini adalah pertama kalinya Briyan akan menginjakkan kakinya di tempat haram tersebut.
“Sha! Aku harus apa?” Briyan memukul setirnya kala sekelebat bayangan Asha melintas di benaknya, mengerucutkan bibir untuk melarang Briyan mendatangi tempat aneh menurutnya.