SENGKETA HATI

SENGKETA HATI
Surat Cerai


Asha tengah berdiri lesu, tatapannya kosong, menatap jauh pada rintik air hujan yang kini menimpa air danau yang airnya terlihat jernih, tetes air dari dedaunan di sekitar berjatuhan, jemari tangannya lantas mengikuti pola abstrak pada jendela kaca dihadapannya, bahkan semesta saja seperti tidak mendukung dirinya yang ingin mencari ketenangan, karena sejatinya dimanapun Asha berada, hatinya tetap terpaut pada satu nama yang tidak bisa Ia lupakan.


“Aku benci rasa ini” bibirnya berucap kelu.


Dalam khayalnya, kala Asha berdiri dalam hening, akan ada seseorang yang memeluk perutnya dari belakang, menciumi tengkuknya, menempel erat pada tubuhnya, tertawa bersama, menghabiskan waktu bersama, lalu mulai merangkai masa depan indah bersama.


Wajah Asha terlihat penuh harap, namun ... kadang Asha lupa, jika yang menentukan takdir tentu saja bukan manusia, masih ada sang pemilik hati, maha pembolak-balik rasa yang akan terus mengujinya lewat rasa.


“Kenapa rasa itu harus ada untukmu Briyan?” Asha kembali bergumam, kini tetes air matanya mengalir menganak sungai, layaknya tetesan air langit yang turun membasahi bumi, bahkan sejak berjam-jam yang lalu, hawa dingin mulai menyerang tubuh Asha, meskipun gadis itu menggunakan mantel tebal, tetap saja rasanya begitu dingin.


Kilat tiba-tiba saja menyambar dan cahayanya memantul pada kaca di hadapan Asha, dengan segera gadis itu menutup tirai panjang, lalu berjalan menuju ranjang, tangannya meraih sebuah amplop yang berada di atas nakas, tangannya masih saja bergetar hebat kala akan membuka isi dari amplop tersebut.


“Harus secepat inikah kita berpisah Briyan?”


“Aku tidak tahu, kenapa hatiku masih sesakit ini, rasanya lebih sakit saat aku melihatmu mencurangiku”


Asha kembali menyimpan surat tersebut di atas nakas, pandangannya mengabur, hancur sudah pertahanannya, air mata saling berlomba keluar dari pelupuk matanya seolah berlomba dengan derasnya air hujan di luar sana, kertas itu ikut basah. Tidak! Dari awal Asha tidak menginginkan sebuah perpisahan, berpisah dengan orang yang paling dicintainya adalah sebuah ketakutan terbesar bagi seorang Berliana Asha.


“Aku benci kebohongan! Aku benci ditinggalkan! Aku ingin menjauh darimu! Tapi kenapa hatiku sakit!!?” Asha memukul-mukul dadanya kencang, tangisnya meluap.


Tangannya segera meraih beberapa butir obat yang berada dalam laci nakas, menenggaknya dalam sekali tenggakan, tubuh Asha bergetar hebat, keringat dingin mulai menjalar. Nyatanya ingin mencari ketenangan di Villa almarhum kedua orang tuanya adalah sebuah kamuflase, Asha hanya rindu Briyan.


***


“Bry ... ayo makan,” Mamih masih membujuk putra sulungnya yang enggan makan ataupun minum sedari kemarin.


“Briyan gak laper Mih” Briyan menggelengkan kepalanya, lantas kembali membaringkan tubuhnya.


“Bry ...” Mamih masih berusaha untuk terus membujuk.


“Den ...” Briyan membuka selimut yang tengah menutupi tubuhnya, melirik pada asisten rumah tangga yang kini tengah berdiri diambang pintu selepas mengetuk pintu kamarnya.


“Kenapa Bi?” Mamih berdiri, lalu menghampiri Asisten rumah tangga tersebut.


“Ada surat untuk Den Briyan” Bibi tersenyum, lalu menyerahkan surat tersebut, latas perempuan tua itu segera beranjak pergi meninggalkan anak dan Ibu yang terlihat kebingungan tersebut.


“Surat dari siapa Mih?” Briyan bangun dari tidurnya, lantas segera merebut surat yang sebelumnya terlihat di sembunyikan Mamih, wajah Mamih terlihat begitu pucat, takut akan reaksi Briyan selanjutnya.


“Apa ini? Surat dari pengadilan?” mata Briyan membulat sempurna kala tangannya berhasil membuka isi dari surat tersebut.


“Asha menggugat cerai Briyan Mih?” Briyan menatap Mamih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Sayang ...” Mamih bergerak hendak memeluk Briyan, namun Briyan malah memundurkan tubuhnya, menghindari sentuhan Mamih.


“Nak ...”


“Mamih sudah tahu ini? Sejak kapan? Kenapa Mamih tidak bilang?” Mamih hanya bisa menggelengkan kepalanya, hatinya pilu melihat kondisi sang putra.


“Mamih ...”


“Asha minta pisah dari Briyan, bukankah dulu Asha bilang sangat mencintai Briyan Mih?” Briyan kembali menatap Mamih dengan tatapan nanar, membuat Mamih tidak kuatdan langsung menangis sesenggukan.


“Bry ...”


“Bagaimana mungkin?” Briyan masih tidak mempercayai semua keadaan yang ada.


“Aku akan mempersulit semuanya Sha, lihat saja!” Briyan bertekad, tangannya membulat sempurna, rahangnya mengerat, giginya gemelatuk.


“Kamu tidak bisa berpisah dariku” lagi, gumaman itu terdengar pilu.


“Bry ... kamu harus ikhlas nak” Mamih mengingatkan, memeluk putranya, yang kini hanya menatap ke arah pintu kamar dengan tatapan kosong.


“Asha mungkin ingin mencari kebahagiaannya sendiri” Mamih terisak.


“Dan kamu juga harus mencari bahagiamu sendiri.”


“Briyan akan bahagia jika Asha mau hidup bahagia bersama Briyan Mih” Briyan bertekad.


“Sayang ...” Mamih hanya bisa terisak pilu, tubuhnya memeluk tubuh Briyan yang bergetar hebat, jemari tangannya mengusap tubuh putranya dengan lembut, berusaha mentransfer energi positif pada Briyan.


***


“Sha, kamu bilang kamu mencintaiku Sha” Briyan menangis tersedu sembari memeluk baju pemberian Asha, baju pertama hasil rancangan Asha untuk Briyan, masih jauh dari kata rapi, dulu Briyan sama sekali tidak menyukainya, namun kini ... Briyan menciumi baju tersebut sepanjang waktu, memakainya kemana-mana meski baju tersebut sudah kekecilan di tubuhnya yang beranjak dewasa.


“Sha, aku menyesal dengan semua yang terjadi, aku mohon kamu kembali, kamu dimana Sha?” Briyan memejamkan matanya erat, nomor Asha sudah tidak bisa dihubungi, dan kini semua keluarga seolah bungkam, mereka mengaku tidak mengetahui keberadaan Asha, semesta sangat mempermainkan Briyan sekarang, hidupnya jungkir balik menjadi kacau balau tak beraturan.


Briyan membuka matanya, lalu segera berdiri, meraih kunci mobil yang berada di atas nakas, lalu berlari melewati anak tangga, menuju keluar rumah dan bergegas mengendarai mobilnya, pergi mengabaikan teriakan Mamih yang meneriakan namanya.


“Sha ... aku tahu, kamu pasti disana!”


***


Mobil yang dikendarai Briyan itu berhenti di sebuah halaman luas di depan sebuah Villa yang berdiri dengan megahnya, Briyan tersenyum miris kala melihat mobil Asha juga terparkir di sana, Briyan mendengus kesal kala berulang kali Briyan kesana namun Asha tidak ada di tempat, dan kini Briyan yakin jika Asha ada di dalam sana, hujan masih rintik-rintik, cuaca dingin membuat tubuh merinding dan Briyan merasakan itu. Berjam-jam menyetir hingga malam menggelap membuatnya juga sedikit lelah.


“Aku yakin kamu ada di dalam sana Sha”


Briyan tersenyum misterius, langkah kakinya tegak menuju arah pintu utama, tangannya mulai terangkat untuk mengetuk pintu dihadapannya.


Tok!


Tok!


Tok!


Briyan masih menunggu seseorang membukakan pintu, tubuhnya sudah bersiap menyongsong orang yang akan membukakan pintu yang diyakini adalah istrinya.


Dor!


Dor!


Dor!


Ketukan itu kini berubah menjadi sebuah gedoran, kesal tidak kunjung dibukakan pintu akhirnya Briyan menendang pintu tersebut dengan brutal.